
"Beneran Kak Rizqy pindah tugas?" tanya Rizqia yang tengah sibuk membantu Rizqy mengepak barang-barang yang akan di bawa.
"Nggih Dende! Udah lihat sendiri Surat Keputusannya, kan?" sahut Rizqy dengan senyum cerah.
"Tega banget, ini mah sudah menyalahi aturan. Kak Rizqy tidak melakukan kesalahan apapun, malah Kak Rizqy mendapatkan penghargaan sebagai Pegawai berprestasi. Kok malah di copot jabatannya terus di buang begitu saja ke Pelosok Desa. Enggak habis pikir Qia," sahut Rizqia panjang lebar. Dia menghentikan aktivitas kemudian mengarahkan pandangan ke Sosok Rizqy yang tengah sibuk menaruh barang-barangnya pada sebuah Kardus. Tidak ada kekecewaan yang diperlihatkan oleh Rizqy. Kakaknya itu berhasil menyembunyikan seperti apa hatinya yang mungkin saja menyimpan amarah dengan ketidak adilan ini. Pembawaannya yang tenang membuat orang mengira Pria di hadapannya akan selalu baik-baik saja.
"Namanya juga kekuasaan, Dek! Untuk mewujudkan ambisi harus ada orang lain yang di korbankan. Siapa pun pasti akan terkena sikut," ucap Rizqy memberikan pengertian kepada Adiknya agar bersabar menerima apapun.
"Lagi pula Kak Rizqy bahagia, kok di tugaskan di tempat baru. Setidaknya akan tinggal bersama Isteri tercinta di Desa. Ini yang Kak Rizqy inginkan sebenarnya. Bukan mengejar posisi, melainkan mengejar kebahagiaan bersama keluarga," lanjut Rizqy berucap dengan mata berbinar-binar. Dia tidak perlu lagi memikirkan cara untuk melindungi Habibah Rosy dan juga mendatanginya secara bersembunyi. Kini pikirannya sudah berkumpul menjadi satu bersama Sang Isteri dan tidak ada lagi bercerai berai yang selama ini di rasakan.
"Tetap saja tidak adil, kak! Kakak di dzolimi namanya. Memangnya kesalahan Kakak, apa?" tanya Rizqia penasaran dengan musibah yang menimpa Kakaknya.
"Seingat Kakak, tidak pernah melakukan kesalahan fatal. Palingan hanya beberapa kali terlambat ke Kantor terus kadang pulang cepat pada hari Jum'at biar cepat nyempe di rumah Kakak Ipar kamu. Kangen soalnya." Usai menjelaskan Rizqy tertawa lebar melihat Rizqia menyimak bagian terakhir dari kalimatnya. Bersama ketidak percayaan bergabung di pelupuk mata seakan ingin berdemo.
"Bohong! Kakak pasti menyembunyikan sesuatu, jelaskan, kak."
Nahkan! Rizqy sudah menduga. Adiknya itu pasti tidak percaya dengan jawaban yang mengada-ngada. Kalau alasannya cuma terlambat. Itu sesuatu yang tidak masuk akal. Hukumannya bukan di copot Jabatannya dan di buang di Pelosok Desa melainkan di potong Penghasilan tambahannya. Kakaknya itu telah membohonginya untuk menutupi kejadian yang sebenarnya.
"Kak Rizqy tidak berbohong, dek. Apapun yang menimpa Kak Rizqy sekarang, itu sudah menjadi bagian dari alur hidup. Kita harus menerima dan menjalaninya dengan baik. Kamu harus percaya dengan Kakak kamu yang Ganteng ini, di mana pun berada akan tetap Ganteng dan mempesona," jawab Rizqy dengan di akhiri kekehan riang.
"Aok uah aneh-Iya sudahlah" Terucap kalimat pasrah yang sering di ucapkan oleh seseorang untuk menerima keadaan. Percuma memaksa Kakaknya berterus terang karena dia tahu akan berakhir sia-sia.
"Gitu, dong!" Balas Rizqy lega, karena tak harus berkata jujur.
"Hidup itu harus bermanfaat untuk orang lain, bukan begitu, kan? Kakak rasa di tempat kerja yang baru, Kak Rizqy bisa belajar dan berbagi ilmu bersama mereka. Di sanalah mungkin saja pikiran Kakak semakin berkembang," lanjut Rizqy membuka pikiran adiknya.
"Iya Kak, Qia akan mendukung apapun yang Kak Rizqy lakukan, jika itu berhubungan dengan pengabdian. Tapi Kak, Qia boleh ikut ke Desa, ya?" Sahut Rizqia berusaha menerima meskipun di dalam hati ada rasa menjanggal. Dia tidak terima sama sekali dengan perlakuan semena-mena dari mereka yang memiliki kekuasaan tertinggi. Namun bisa apa, selain hanya bersabar.
"Loh! bukannya kamu masih ujian semesteran?" tanya Rizqy tidak langsung mengiyakan keinginan adiknya itu.
"Tinggal besok saja, terus libur, deh! Boleh ya Kak?" Jawab Rizqia dengan diiringi wajah memelas.
"Boleh kalau emang enggak ada kuliah lagi."
Jawaban dari Rizqy membuat Rizqia berceloteh riang. Dia tidak sabar ingin menikmati liburan di Desa. Pastinya sangat seru dan berkesan.
"Kita berangkat besok sore saja setelah kamu selesai ujian. Soalnya kakak juga mau berpamitan sama teman-teman di Kantor lama," ucap Rizqy memberitahu. Rizqia menanggapi dengan anggukan dan terbentuk senyum manis mengisyaratkan betapa bahagianya dia bisa berkunjung ke Desa Kakak Iparnya.
Kata kakaknya, jarak Sekolah SMA tempat kerja yang baru tidak terlalu jauh dari Desa tempat tinggal Habibah. Kurang lebih sekitar 30 menit bebas hambatan. Hal itulah menyebabkan Rizqy sangat bahagia dengan kepindahannya. Ini solusi yang diberikan Tuhan untuknya agar dekat dengan Sang Isteri. Dia bisa bekerja dan mengamalkan ilmunya dan tentu saja Habibah Rosy bisa meraih cita-citanya.
Selesai mengepak, keduanya beristirahat sembari menikmati minuman dan juga makanan ringan yang di bawa oleh Rizqia.
"Apa kamu enggak apa-apa Kakak tinggal?" tanya Rizqy. Sebenarnya ada kekhawatiran meninggalkan adiknya. Sangat berat, mengingat apa yang pernah di alami oleh Rizqia. Dialah satu-satunya keluarga yang dia punya. Memiliki Ayah, seakan tidak memiliki Ayah. Gadis bernama Baiq Rizqia Anggeraini benar-benar hilang dalam ingatan Ayah kandungnya sendiri. Beliau lupa kalau memiliki anak Gadis satu-satunya itu.
__ADS_1
Rizqia terkekeh dengan perkataan Kakaknya yang sangat mengkhawatirkannya. Kakaknya itu masih saja menganggapnnya anak kecil yang tidak bisa apa-apa dan masih menyembunyikannya di balik punggung.
"Kenapa? Apa Kakak mengira Qia masih takut sama suara Tokek?" tanya Rizqia menjawab pertanyaan Rizqy dengan pertanyaan pula.
"Kamu sudah tidak takut lagi, ya? Alhamdulillah berarti Kak Rizqy tenang membiarkan kamu hidup mandiri," ucap Rizqy terdengar lega.
"Bukankah selama ini Qia sudah mandiri, kak! Bisa mandi sendiri." Rizqia bergurau selanjutnya terdengar suara tawanya yang renyah.
Keduanya larut dalam obrolan dan tak mengindahkan malam yang semakin larut.
"Dek, belum ngantuk?" tanya Rizqy menyadari sudah terlalu lama mereka mengobrol dan malam pun terasa hening menandakan semua Insan sudah beristirahat.
Rizqia menggeleng karena memang rasa kantuk itu belum mendatanginya. Yang ada dia semakin melek.
"Kenapa, kak?" Rizqia bertanya sembari memperhatikan tingkah Kakaknya yang mulai memperhatikan Handphone. Gadis berparas mawar itu tersenyum merekah. Dia mengerti, Kakaknya pasti sedang merindu.
"Hoaaaaaam. Qia mulai ngantuk sekarang," ucapnya berbohong. Dia bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju kamarnya.
Melihat Adiknya sudah masuk kamarnya, barulah Rizqy memanggil Sang Isteri yang mungkin saja sedang menantinya di seberang sana.
Selanjutnya kedua Insan yang sedang kasmaran itu larut dalam obrolan mesra. Mereka saling bercerita dan meluapkan rasa rindu karena beberapa hari tak bertemu.
Rizqia yang mengintip ikut merasakan bahagia melihat wajah cerah Kakaknya tatkala mendengar suara pujaan hatinya. Dia mendoakan agar rumah tangga kakaknya senantiasa baik-baik saja dan mereka berdua bisa menjaga cinta dan kesetiaan itu hingga menua bersama sampai ke JannahNya.
"Wahai hati, lepaskan diri dari kesakitan yang pernah kamu alami. Saat ini kamu masih terbelenggu oleh masa lalu itu, bukan? Sampai kapan akan terus begini? Sementara waktu tidak akan mampu menyembuhkan luka itu. Dia hanya sebagai saksi apa yang pernah menimpamu dan seperti apa hari-hari yang pernah kamu lewati. Hanya dirimu yang bisa melakukan. Cukup, kamu menyiksa diri. Saatnya kamu berbenah diri."
***
Pagi menjelang.
Rizqi sampai Kantor tepat waktu. Dia mengikuti Apel dan tidak lupa melakukan absen secara online.
Selesai Apel, beberapa orang menyapanya lalu memberikan semangat kepadanya. Dia menanggapi dengan senyum ramah tak terlihat kekecewaan di pelupuk matanya.
Sangat di sayangkan, Pegawai cerdas dan berkepribadian baik sepertinya harus menerima ketidak adilan ini. Pimpinannya sangat terkejut menerima khabar ini. Saat ini beliau masih berada di luar Daerah. Sementara Sekretaris Dinasnya bingung mencari orang yang akan menggantikan Rizqy sebagai Pejabat Komitmen. Karena tidak sembarangan Pegawai boleh memangku Jabatan itu. Dia harus memiliki kompetensi di bidang Pengadaan barang/jasa dengan di buktikan sertifikat keahlian Pengadaan barang/jasa dan di nyatakan lulus saat mengikuti ujian tersebut.
Rizqy kini sudah berada di ruang kerjanya. Saat ini dia sedang merapikan barang-barangnya dan hanya menyisakan dokumen-dokumen penting yang berhubungan dengan tugasnya.
Selesai mengepak barang-barangnya, dia memanggil seluruh Stafnya agar berkumpul di ruang kerja yang sebentar lagi dia tinggalkan.
Rizqy mengucapkan permintaan maaf atas segala kesalahan yang tidak sengaja dilakukan sekaligus berterima kasih atas dedikasi rekan-rekannya dalam melaksanakan tugas selama ini.
"Maaf ya, jika saya sering kagetin mbak-mbak dengan membawa Tikus mainan, Ular mainan dan kecoak mainan. Saya juga pernah kagetin Ibu Lila dengan petasan pok pok. Saya minta maaf ya Bu!" ucap Rizqy menghaturkan permohonan maafnya. Dia memang di kenal usil dan sering kali mengagetkan para stafnya.
__ADS_1
Kata mereka, jika sudah masuk menjadi keluarga Seksi Pelatihan, siap-siap menjadi tidak waras karena kegesrekan para warganya. Bosnya saja usil, para Stafnya ikut usil. Mereka sangat kompak untuk melakukan keusilan di saat-saat tertentu.
Ibu Lila, salah satu rekannya yang sering kali menerima keusilannya terlihat menggangguk lemah. Ada kesedihan pada raut wajahnya karena kehilangan Atasan langsung sebaik Rizqy.
Bukan dia saja melainkan seluruh Stafnya dipastikan akan kehilangan Sosok Pemimpin yang baik dan mengerti keadaan mereka.
"Pak jangan lupakan kita, ya?" ucap seorang Stafnya yang terbilang masih muda.
"Kita itu siapa?" tanya Rizqy serius.
"Ih Bapak ini mulai, dah?" sahut Gadis itu sebal.
"Hahahaha becanda. Pasti saya akan ingat kalian semua kecuali kalau saya amnesia, iya harap maklum saja jika itu terjadi," ucap Rizqy santai.
"Apa Pak Rizqy berencana untuk amnesia?"
"Gampang ngobatinnya, kita makan bakso di Wididaw langsung deh ingat kembali."
"Iya, iya semumpung mangkoknya baru saja di beli. Kita perawanin dulu masak ditinggal gitu aja? Kasian nelangsa entar."
"Boleh, kan ada yang talangin dulu. Silahkan Ibu Ayu ada Cash Bon, kan?"
"Pak Bos ini malu-maluin Tim Pelatihan saja. Masak mau isiin mangkok harus Cash Bon. Kita ambil uangnya saja, ya?"
"Emang ada?"
"Ada di Counter."
"Iya sudah ayok berangkat."
"Terus bagaimana dengan ruangan. Nanti di cariin mau bilang apa."
"Tenang, entar Pak Sekdis kita sogok dengan semangkok Bakso Widadaw. Mantap, kan?"
Celotehan-celotehan itu menggema di ruang kerja Rizqy. Yang semula sedih dengan kepindahan Bosnya, seketika itu ceria lagi karena Rizqy berhasil menyegarkan suasana.
Benar saja, saat jam istirahat mereka langsung menuju ke salah satu Warung Bakso yang menjadi tempat favorit mereka. Saat bersamaan pula Rizqy memberikan amplop terakhir dari Perjalanan Dinas yang berhasil di sisihkan.
Rizqy meninggalkan Kantor tempat dia di lahirkan dan juga di besarkan sebagai Pegawai. Terlihat kesedihan pada raut wajah rekan-rekannya saat melepaskannya menuju ke tempat tugas yang baru.
(Aku bisa mengembalikan posisimu Rizqy Anggara asalkan kamu mau kembali menjadi Kekasihku dan hidup bersama-sama lagi seperti dulu. Jika kamu setuju, kita diam-diam saja)
Rizqy tersenyum mendapatkan pesan dari Wina Winata. Dia membalas dengan cepat agar Wanita itu bertambah senang.
__ADS_1
(Tawaran menarik. ....)
Bersambung.