
Keynand duduk di singgasananya dengan keadaan lesu. Lara hati dan lelah juga Otak. Dia memijit sendiri Kepalanya yang terasa pening. Tadi saat meeting berjam-jam dia berhasil memfokuskan diri. Kini saat sendiri rasa bersalah itu seakan memburunya agar segera meminta maaf.
"Benarkah kamu pindah Qia? Di mana saya harus mencari keberadaan kamu? Alamat Rizqy saja saya tidak tahu apalagi Desa tempat Habibah tinggal. Saya benar-benar kehilangan jejak," lirih Keynand mengajak keheningan mengobrol.
Puas mencurahkan perasaannya, Keynand memejamkan mata tak berarti tidur. Dia hanya ingin mendapatkan rasa tenang agar bisa berpikir apa yang harus di lakukan.
Beberapa menit menikmati ketenangan. Samar-samar dia melihat bayang wajah seseorang dengan di hiasi berwarna putih.
"Astaghfirullah penampakan," pekik Keynand. Dia mengelus Jantungnya yang berdebar lebih kencang. Untung saja kursinya yang sedikit bergeser sehingga ia tidak sampai terjungkal.
Hihihihihihihi
Hahahahahaha.
Terdengar suara tawa yang berbeda. Suara yang mengerikan dan tawa yang renyah.
Dengan berani Keynand mengamati Sosok putih yang berdiri tepat di hadapannya dengan tawa mengerikan. Setelah menyadari siapa sosok itu, dengan gerakan cepat dia melempar buku tebal untuk meyakinkan bahwa sosok di hadapannya bukanlah Makhluk dari dunia lain.
Brak
Lemparan yang cepat ternyata tak kalah cepat dari Sosok itu.
Hihihihihihi
"Enggak kena wek enggak kena wek."
Tawa mengerikan kembali menggema di akhiri dengan kalimat mengolok. Sosok itu berhasil menghindar membuat Keynand kian kesal.
"Adlyyyyyy."
Kemudian terdengar teriakan begitu kencangnya membuat sosok itu seketika menutup Kuping dengan erat.
"Duh Pak Bos yang lembut dong! Suaranya bikin telinga saya kemeng," sahut Sosok itu yang ternyata Sang Sekretaris.
"Kamu juga ngapain berubah jadi huka-huka bikin Jantung saya lari maraton, capek!" keluh Keynand sembari menenangkan diri dari kaget. Bukan takut sama cerita mistis hanya terkejut dengan Adly yang tiba-tiba muncul tepat di hadapannya dengan kostum berwarna serba putih sambil melotot pula. Siapa yang tidak kaget, coba?.
"Terus kamu juga kemana kamu gadaikan sopan santun itu. Bukannya ketuk Pintu dan mengucapkan salam, terus dengan enggak ada akhlaknya nakut-nakutin. Hampir saja copot Jantung ini. Untung saja saya enggak latah seperti Abang Reynand."
Keynand mengomeli Adly dengan kekesalan bertingkat-tingkat. Tanpa sadar dia membocorkan rahasia Reynand yang belum diketahui orang lain.
"Madha? Abang Reynand latah?"
Mendengar pertanyaan itu membuat Keynand tersadar dari apa yang di ucapkannya. Dengan cepat langsung menggelengkan Kepala untuk membantah itu semua.
"Jangan mengalihkan pembahasan. Apa kamu kira saya akan membiarkan keusilan itu terus akan berlanjut."
__ADS_1
"Enggak sengaja bilang ya? Keceplosan ya Pak Bos. Apa yang terjadi kira-kira pada Pak Bos kalau Abang Reynand tahu kalau Pak Bos tanpa sengaja memberitahu pada orang lain tentang rahasia Abang Reynand. ...!"
". ... makanya diam, anggap saja kamu tidak pernah mendengar apapun dari saya." Dengan cepat Keynand memotong pembicaraan Adly dan memperingatkannya agar tutup mulut dan telinga.
"Tutup mulut ya? Gampang itu," sahut Adly santai. Dia lantas duduk pada Kursi yang beradu pandang dengan Keynand. Koki itu masih saja menggunakan kostumnya yang serba putih tanpa rasa bersalah. Ada senyum ceria pada wajah berparas timur tengah itu.
"Bukannya merasa bersalah karena ngerjain saya terus ini malah senyam senyum. Coba jelaskan di mana kamu gadaikan sopan santun itu. Bener-bener enggak punya akhlak." Keynand kembali mengomeli Adly.
"Pak Bos ngomel melulu. Omelannya bikin Emak-emak kalah saing. Apa enggak takut tuh diprotes sama Emak-emak karena merasa kesaing?" Adly dengan santainya menimpali omelan Direkturnya dengan membawa nama Emak-emak pula.
"Lagian sopan santun itu enggak bisa di gadaikan. Emang sih sopan santun itu suatu sikap yang sangat berharga dan bernilai tinggi jika di ibaratkan mungkin nilainya setara dengan nilai berlian yang termahal malah lebih mahal, makanya mana mungkin saya gadaikan apalagi saya hilangkan. Tadi itu kami sudah ketuk Pintu dan mengucapkan salam berulang-ulang tapi karena Pak Bosnya tidak menjawab, akhirnya saya putuskan untuk masuk saja. Takutnya Pak Bos pingsan di dalam, karena itulah buru-buru masuk. Eh Pak Bos ternyata emang sedang tidak menyadarkan diri."
Adly menjelaskan dengan sejelas-jelasnya mengenai kehadirannya yang tiba-tiba saja sudah berada di ruang kerja Keynand.
"Terus kenapa kepikiran untuk ngerjain saya? Berani sekali?" Tanya Keynand sambil menatap Adly dengan sorot menghunus Pedang.
"Semumpung ada kesempatan terus saya juga sedang mempraktekkan ajaran Pak Boss. Kalau Saya berhasil Pak Boss juga yang senang, kan?" Adly menjawab dengan santai pertanyaan itu. Ada senyum simpul tersungging pada bibirnya.
Keynand tak bisa berkata-kata. Sumber kejahilan berasal dari dirinya, sedangkan Sang Sekretaris dan orang terdekat ikut seperti apa yang di contohkan. Ibarat virus yang menyebar dan ternyata mereka tertular juga.
"Benar tadi kamu mengetuk Pintu dan mengucapkan salam? Saya tidak budeg lo? Jangan membela diri dari kealfaan kamu?" Tanya Keynand tak percaya. Dia tadi hanya memejamkan mata bukan ketiduran apalagi pingsan. Hanya saja pikirannya yang seakan tak sadar.
"Kok enggak percaya, sih? Kalau ingin percaya tanya saja sama Abang Boss. Orang saya masuk sama Abang Boss, kok!"
"Iya, emangnya ada Abang Boss yang lain?"
Keynand buru-buru menggelengkan Kepala.
"Mati aku, tadi enggak sengaja membocorkan rahasia Abang Reynand. Kamu sih enggak ngasik tahu kalau Abang Reynand di sini juga," bisik Keynand takut ucapannya di dengar oleh Reynand.
"Pinginnnya sih ngasik tahu, bukannya Pak Boss yang nyerocos tak henti-henti membuat saya tak ingat, deh!"
Jawaban Adly membuat Keynand lesu. Dia dengan cepat mengarahkan pandangan ke arah Sosok yang sedang duduk pada Sofa tamu. Dengan penuh wibawa Reynand mengangguk tanpa ekspresi, Datar dan dingin.
Melihat Reynand yang ada di ruangan itu juga menambah kekagetan Keynand. Dia ingat tadi tanpa sengaja memberitahu rahasia Kakaknya itu. Berarti sedari awal dia menyimak pembicaraannya dengan Adly.
Tuhkan! Reynand yang serius ikut mengerjainnya juga.
"Ya Tuhan ada penampakan yang lebih dingin dari makhluk tak terlihat," guman Keynand pelan. Jujur saja dia terkejut dengan keberadaan Reynand. Bukan karena takut dengan Kakaknya itu, tapi hukumannya yang rasanya tidak enak.
Adly kembali mengukir tawa menyaksikan keterkejutan yang di nampakkan oleh Keynand.
"Elu tahu, kan kesalahannya? Sekarang berdiri dan angkat Kaki satu terus kedua tangannya tarik Kupingnya dengan di silang. Sekarang jalankan," ucap Reynand dengan nada dingin. Sebenarnya ada senyum tipis tak kentara terbentuk pada bibirnya itu.
"Ah senang rasanya ngerjain adik yang bandel ini. Siapa suruh bongkar rahasia saya," lanjutnya setelah menyaksikan dengan patuh Keynand menjalankan hukumannya.
__ADS_1
Sementara Adly berusaha menahan tawanya dengan menutup mulutnya. Taplak Meja berwarna putih yang digunakan menutup Kepala itu dimanfaatkan juga. Dia tidak mau juga terkena hukuman dengan sikapnya yang tak baik.
Tadi sempat-sempatnya mendapatkan ide untuk mengerjain Keynand yang asyik tenggelam dalam lamunannya. Awalnya dia kira Keynand tertidur karena tak membalas salamnya. Tapi ternyata Direktunya itu sedang memikirkan sesuatu atau sedang berada dalam lamunan membuat keusilannya itu timbul juga. Semumpung dia menggunakan Kemeja putih dan ada taplak meja berwarna Putih. Sukses juga aksinya apalagi di dukung oleh Reynand.
"Abang? Enggak ada hukuman lain?" Tanya Keynand bernegosiasi.
"Ada lari keliling Hotel Ardiaz lima kali atau jalan jongkok mengelilingi lapangan sepuluh kali. Jadi kamu mau pilih yang mana?" Tanya Reynand santai.
"Kejam banget?" Sungut Keynand kesal. Dia berkeluh kesah dengan hukuman yang diterima.
"Kok kejam, sih? Bagus itu memberikan pembelajaran kepada kita. Dulu waktu SD saya sama Lika dan teman-teman lain pernah di hukum oleh Guru. Kita disuruh jalan jongkok keliling Lapangan hanya gara-gara nonton layar tancep. Kita enggak protes, enggak ngeluh apalagi ngadu sama orang tua. Namanya kita salah iya jalanin hukumannya." Adly ikut menimpali keluh kesah dari Keynand.
"Tuh denger, jalanin saja biar elu tambah seger setelah ini ceritakan ada apa dengan Keynand," imbuh Reynand dengan serius.
Setelah mendengarkan perkataan itu, Keynand dengan cepat menyudahi hukuman. Dia baru tersadar ini bagian dari skenario untuk mengerjainnya. Dia tahu Reynand tidak mungkin akan mempermasalahkan rahasianya yang diketahui orang lain.
Mereka menyudahi bercandanya. Kini Reynand dan Adly fokus mendengar masalah yang sedang di hadapi oleh Keynand. Berhadapan dengan Reynand, Keynand memang tidak bisa menutupi apapun. Tidak ada rahasia di antara dua bersaudara itu. Pun begitu dengan Adly, salah satu sahabat yang dipercayainya sehingga tidak sungkan menceritakan masalahnya.
Setelah cerita itu berakhir. Kini hanya keheningan yang terasa. Masing-masing sibuk dengan pikirannya. Reynand terlihat fokus dengan pikirannya, terlihat dari keningnya yang mengkerut. Begitu juga dengan Adly yang terlihat fokus menemukan benang merah dari cerita Keynand.
"Kamu serius mikir atau pura-pura mikir?" tanya Keynand berbisik.
"Seriuslah, makanya jangan diganggu, nih? Tadi hampir saja ketemu eh di tanya jadi lari, kan!" jawab Adly kembali fokus.
Keynand melirik Reynand yang masih saja diam. Tumben Kakaknya itu tidak langsung mengemukakan pendaparnya.
"Sepertinya ada niat terselubung," ucap Reynand setelah lama terdiam.
"Nah itu yang ada dalam pikiran saya juga?" timpal Adly yang membuat Keynand menjitak Kepala itu. Adly meringis menahan kesakitan.
"Nyontek aja kerjaannya?" ucap Keynand kemudian setelah berhasil membuat Adly meringis.
"Yeeee siapa yang nyontek. Ini murni pikiran saya," sahut Adly kesal.
"Begini lo! Pak Boss itu, kan seorang Pengusaha. Direktur dari Hotel Ardiaz. Sementara Rizqy, dari ceritanya saja sepertinya dia juga bukan orang sembarangan. Kalau kalian bersatu akan membentuk suatu kekuatan yang besar. Makanya, mereka menjadikan Gadis yang bernama Qia itu sebagai sasaran agar kalian salah faham. Nah berhasil, kan?" Adly melanjutkan bantahan dengan mengurai apa yang dipikirkannya.
Reynand mengganggukkan Kepala mendukung pernyataan Adly.
"Mungkin ini karena perasaan tidak suka dengan kedekatan kamu dengan Qia sehingga memanfaatkan masa lalu Qia yang pernah di rawat. Disisi lain juga saya menduga ada rencana lain juga yang entah itu apa." Reynand menambahkan penjelasan.
"Betul, perkiraan saya juga seperti itu. Ada rencana dalam rencana. Sebenarnya dia bekerja untuk siapa?" sambung Adly.
"Maksudnya?"
Bersambung.
__ADS_1