Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
73


__ADS_3

Bulan berganti.


Keynand benar-benar melaksanakan misinya. Dia kini berperan sebagai Mahasiswa dan kembali ke Kampus. Sedangkan pekerjaannya untuk sementara waktu diambil alih kepemimpinannya oleh Reynand.


Duda itu melangkah dengan pasti menuju salah satu Universitas terbaik di Daerah ini. Gayanya seperti Mahasiswa pada umumnya yang tampil keren dan cool.


"Seriusan mau jadi Mahasiswa gadungan?" tanya Riski tak percaya dengan inisiatif Keynand.


Keynand menganggukkan Kepala. Dia sudah mantap mendekati Rizqia dengan cara gadungan ini. Jika dia terang-terangan, kemungkinan besar Gadis itu akan menghindar. Keynand ingin Gadis incarannya itu akan terkesan dengan perjuangannya.


Riski pasrah saja. Hanya dukungan yang patut diberikan kepada Keynand.


"Semoga berhasil, bang! kalau begitu saya mau ke kelas dulu." Riski beranjak dari kursi kerjanya. Saat ini mereka bertemu di ruang Dosen. Rekan-rekan kerja Riski mengira kalau Keynand adalah seorang Mahasiswa sehingga mereka tidak bertanya akan kedatangan Pria itu.


Keynand ikut bangun dari duduknya lalu membututi Riski yang berjalan menuju kelas.


"Hari ini Qia ada kuliah dengan mbak Julaekha. Jangan sampai mbak Julaekha mengenali Abang," ucap Riski saat mereka berdua berjalan sejajar.


"Benarkah? Saya pikir Qia mengambil mata kuliah yang kamu pegang. Ternyata bukan ya?" tanya Keynand sedikit lesu.


"Kenapa? Takut ketahuan, ya? Lasingan kenapa melakukan hal yang konyol? Sekarang jadi khawatir gini, kan?" ucap Riski diakhiri dengan kekehan. Pemuda itu menggelengkan kepala tak habis pikir dengan ide cemerlang dari Ipar Kakaknya itu.


"Lasingan, Qia itu sangat sulit untuk ditemukan, sama artinya menemukan kata 'lasingan' itu di KBBI, tidak ada artinya disana," sahut Keynand asal.


Riski juga tidak bisa menjelaskan secara baku apa arti 'Lasingan' yang merupakan bahasa Daerah. Mungkin maksudnya sama dengan kata 'Lagian' dalam bahasa nasional.


"Iya, iya hanya bisa ditemukan di habibatnya."


Riski menunjukkan keberadaan Gadis yang di maksud. Rizqia saat ini sedang berjalan menuju kelas. Jilbab panjangnya menjuntai mengikuti gerak Kaki sang penggunanya.


"Anggun," ucap Keynand tak sadar memuji.


Riski menempelkan tangannya pada Jantung Keynand. Aneh! Tidak ada getaran yang menggebu terasa di sana.


Jika Habibah Rosy yang lewat, apa mungkin detaknya akan berbeda? Ada detak lebih kencang, selaras dengan hati yang bahagia. Mengapa Riski memikirkan sejauh itu perihal detak jantung Keynand.


Riski menggelengkan Kepala tak percaya dengan hal ini. Dia ingin meraba hati Duda itu, tapi terasa tak ada. Mungkin saat ini yang dilakukan oleh Keynand hanya ingin menunjukkan rasa penasarannya.


"Tidak ada rasa, aing!" batinnya.


"Kar, hati Keynand masih tertambat pada Habibah Rosy." Batin itu menjawab. Riski sibuk dengan kata hatinya yang mengajak bicara.


"Apaan, sih? Entar pikiran mahasiswa kamu menjurus ke arah yang negatif. Gara-gara kelakuanmu ini." Keynand menghempaskan tangan Riski yang menempel pada dadanya yang mempesona.


"Benar, terkadang pikiran kita menyeret ke arah yang menyesatkan. Itu terjadi karena adanya nafsu yang mengendalikan. Itulah fungsinya diberi akal agar kita bisa mengetahui bagaimana caranya mengendalikan pikiran negatif itu," sahut Riski dengan bijak.


"Pastikan tujuan Abang saat ini tidak menyakitinya," lanjut Riski. Dia menepuk bahu Keynand.


Riski sadar, tidak ada ketertarikan yang ditunjukkan oleh Keynand kepada Gadis yang bernama Rizqia. Hanya karena Gadis itu pantas menjadi Ibu sambung Raski yang menyebabkan keinginan itu ada.


Keynand hanya mengangguk. Apa salahnya mendapatkan Gadis itu jika Raski bahagia memiliki Ibu sambung sepertinya? Kebahagiaan Raski yang ingin diperjuangkan, bukan lagi hatinya.


Ke depannya, dia tidak tahu dengan hatinya. Bisa jadi akan mendapatkan desiran itu seiring waktu kebersamaan. Entahlah!.


Riski menuju kelasnya, sedangkan Keynand mengarahkan langkah menuju ruang yang dimasuki oleh Rizqia.


"Hai, boleh kenalan? Saya Key," sapa Keynand sembari mengulurkan tangannya. Dia saat ini duduk di hadapan Rizqia yang tengah asyik membaca Modulnya.


Rizqia tidak langsung menyambut uluran tangan Pria di hadapannya. Dia mendongakkan wajahnya menatap wajah Keynand yang tersenyum.


"Anda, bukan mahasiswa, kan?" ucap Rizqia kemudian membalas tegur sapa Keynand.


"Saya mahasiswa pindahan," sangkal Keynand. Dia tidak ingin penyamarannya langsung terbongkar.


Rizqia terlihat menghela nafas. Gadis itu menatap Keynand dengan tajam. Mata besar itu cukup mampu menggentarkan hati Pria yang melihatnya.


Aneh! Tidak dengan Keynand. Walaupun di akui mata bulat besar itu sangat mempesona di hiasi bulu mata lentik nan rimbun.


"Pindahan dari mana? Bukannya anda sudah lulus beberapa tahun yang lalu. Saya mengenali anda? Mana mungkin lupa dengan Tukang selingkuh," sahut Rizqia datar. Meskipun biasa saja namun terkandung emosional di sana.


Deg


Keynand menyerah. Baru sehari penyamarannya tercium juga. Tidak menyangka Gadis di hadapannya sangat jeli.


"Saya akan menjelaskannya," ucap Keynand kemudian ketika sadar Rizqia mengenalinya. Keynand terdiam sesaat untuk memikirkan apa yang seharusnya diucapkannya.

__ADS_1


"Waktu anda sudah habis," ucap Rizqia kemudian seiring munculnya seorang Wanita muda di balik pintu.


"Saya Duda mati," ucap Keynand bersamaan dengan ucapan salam menggema.


Pria itu masih sempat melihat keterkejutan pada wajah Rizqia sebelum membalikkan badannya menghadap ke depan.


Perkuliahan berlangsung. Julaekha Syarifah dengan antusiasnya menjelaskan Ekonomi Micro yang kini sedang mereka pelajari.


"Saya tidak berbohong."


Keynand menulis pada selembar kertas lalu memberikan kepada Rizqia.


"Mau tidak mau saya harus percaya. Tujuan anda kesini untuk mendekati Ibu Julaekha Syarifah, kan? jangan dekati saya."


Rizqia mengembalikan kertas itu.


Keynand membacanya dengan perasaan entah. Kemudian dia mulai menulis dengan singkat.


"Tujuan saya yaitu kamu."


Rizqia membacanya dengan sedikit mengerutkan dahinya. Dia kemudian menulis cukup banyak tanda tanya.


"Why????????????"


Keynand tersenyum. Baginya pertanyaan Rizqia menimbulkan rasa ingin tahunya. Dia akan mengatakan yang sebenarnya.


"Raski membutuhkan Sosok Ibu seperti kamu. Bagi saya kamulah yang terpilih dari beberapa Wanita yang saya kenal."


"MENIKAHLAH DENGAN KU."


Kalimat panjang tertulis di lembar kertas itu di akhiri dengan kalimat permohonan. Kalimat itu cukup tegas dan terlihat memaksa.


Mata bulat besar itu membeliak tak percaya dengan apa yang di tulis oleh Keynand. Rizqia terdiam tak membalas keinginan Keynand. Gadis itu memilih mengabaikan dan kembali fokus dengan ilmu yang disampaikan oleh Dosennya.


Sementara Keynand menunggu kertas itu dengan gelisah. Cukup lama dia menunggu, tapi tidak ada tanda kertas itu akan kembali ke tangannya.


Dia membalikkan badannya sedikit untuk melihat apa yang dilakukan Rizqia. Gadis itu nampak serius menulis sesuatu yang penting.


Perkiraan Keynand yang ditulis Rizqia bukan balasan lagi. Terbukti kertas itu tidak ada lagi di hadapannya. Raib entah kemana.


Keynand menghela nafas berat. Helaan tak lega itu menyadarkannya bahwa Rizqia telah menolaknya.


"Masih ada hari besok bukan? Dan sekarang simaklah hati itu dulu seperti apa maunya?" batin Keynand dengan pandangan fokus pada layar.


***


"Belum nyerah juga?" tanya Riski.


Keesokan harinya Keynand kembali ke Kampus. Saat ini mereka sedang duduk di Kantin Kampus di temani secangkir Kopi hitam khas Daerah ini.


"Tidak ada kata menyerah bagi seorang Keynand," sahutnya terdengar yakin.


Riski tersenyum menanggapi semangat Duda tampan ini. Dia pikir Keynand akan mudah mendapatkan keinginannya. Ternyata pikirannya keliru. Tidak semua apa yang diinginkannya bisa diraih. Ada kalanya akan gagal, itulah yang mungkin akan terjadi dengan keinginannya kali ini.


"Diamnya Qia bukan berarti menolak. Dia hanya sedang memikirkan ini. Kecuali kalau dia mengatakan tidak baru jalan itu tertutup. Meskipun itu saya akan berusaha mendobraknya bagaimana pun caranya."


Kata-kata Keynand terdengar sangat gigih. Sepertinya dia tidak mau menyerah begitu saja. Kebahagiaan anak satu-satunya harus di perjuangkan.


Dia sanggup hidup menyendiri, akan tetapi Raski tidak mungkin terus bergantung kepada Lika. Itu sebabnya Keynand ingin Rizqia-lah menjadi pengganti Mendiang Isterinya.


"Saya ke kelas dulu," ucap Riski berpamitan.


Kopinya sudah habis diminumnya begitu juga dengan Keynand tengah menyeruput Kopi terakhirnya.


"Ayok kita bareng, hari ini Qia kuliah apa?" tanya Keynand saat mereka berjalan menuju kelas.


Riski menggeleng sebagai jawaban dan mengedikkan bahunya tanda tak mengetahui.


"Coba cari tahu Ki," ucap Keynand. Dia menunjukkan harapan agar Pemuda itu mau membantunya.


"Baiklah, saya tidak tega dengan wajah memelas yang Abang tunjukkan." Riski pada akhirnya bersedia membantu. Dia melihat Jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Masih ada waktu," ucap Riski. Langkahnya dia arahkan ke ruang Akademik. Sementara Keynand tanpa di minta mengikuti langkah Dosen muda itu.


Sesampainya di sana, perjuangannya ternyata sia-sia. Admin yang mengelola data Mahasiswa ternyata tidak masuk.

__ADS_1


Keynand hanya mengangguk menanggapi informasi yang di dapatkannya. Riski di sisinya menepuk bahu untuk memberikan semangat.


"Saya akan menemukannya," ucap Keynand membentuk senyum tak menyerah.


"Benar-benar pejuang cinta yang tangguh." Setelah berucap, Riski dan Keynand meninggalkan ruang tersebut.


Riski masuk ke kelasnya sementara Keynand melangkahkan Kaki untuk mencari keberadaan Rizqia. Dia memasuki kelas perkelas untuk mencari keberadaan Mahasiswi manis itu.


Namun Sosok yang di cari tidak kunjung di temukan.


"Apa mungkin hari ini Qia tidak ada jadwal ya? Susah banget mendapat informasi tentang Gadis itu. Nomor Handphone dan alamat rumahnya pun saya tidak dapat," batin Keynand lesu.


Dia duduk pada Kursi di kelas yang terakhir dia masuki.


"Mas, Mahasiswa pindahan ya? Tumben saya lihat?" sapa seorang Mahasiswi.


Keynand menganggukkan Kepalanya. Dia melihat senyum ramah itu pada wajah Mahasiswi yang menyapanya. Mata sayu dengan wajah yang terlihat pucat dan lelah.


"Kenalkan saya Rin," ucapnya sembari menangkupkan tangannya.


Keynand melakukan hal sama sambil menyebut namanya.


"Apa ini Mahasiswi yang menjadi pujaan hati Riski?" batin Keynand bertanya.


Dia menelisik wajah lelah itu yang menyembunyikan pesonanya. Riski pernah bercerita bahwa dia tengah mengagumi Seorang Mahasiswi.


Sosok yang kuat dan tak kalah dengan keadaan. Seorang Wanita yang hebat dengan segala penderitaan hidupnya. Dia di ceraikan oleh orang tua dari Suaminya sehari setelah melewati malam Pengantin. Hanya sehari dia melalui biduk rumah tangga setelahnya dia menjanda dengan membawa kehamilannya.


Kini dia tengah mengandung. Meskipun begitu tak menyurutkan niatnya untuk belajar. Keynand juga dengar dari Riski bahwa Wanita itu menafkahi hidupnya dengan berjualan Sayur keliling.


Gadis belia yang menikmati getirnya hidup. Dan memilih tetap melangkah tak ingin putus asa.


"Rin kenal dengan Baiq Rizqia Anggeraini?" tanya Keynand tak menyia-nyiakan kesempatan.


"Mbak Qia? Kenal kok!" jawab Rin antusias.


Wanita ini mengenal Rizqia dan memanggil dengan sebutan mbak. Memang benar, sepertinya Rizqia lebih tua sekitar dua tahun dari umur Wanita di Sampingnya.


"Rin tahu alamat rumahnya?" tanya Keynand.


Rin terdiam. Dia sibuk memperhatikan Keynand dan menimbang sesuatu. Dia tidak mau begitu saja mempercayai orang yang baru di kenalnya, apalagi ini menyangkut privasi Rizqia.


"Tenang saja saya tidak berniat jahat. Kita berdua saling kenal hanya saja saya lupa menanyakan alamat rumahnya. Jika tidak percaya tanyakan saja sama Pak Hamizan Riski." Keynand berusaha meyakinkan Rin agar mempercayainya.


"Kenapa saya harus menanyakan hal ini kepada Pak Hamiz?" tanya Rin kemudian.


"Agar Rin percaya kalau saya tidak berniat jahat. Maaf saya berpikiran kalau kamu berhusnudzon kepada saya," sahut Keynand berusaha merebut kepercayaan Rin.


"Saya tidak husnudzon. Mohon maaf jika sikap saya tidak berkenan, saya hanya perlu waspada."


Keynand mengangguk mengerti.


Rupanya setelah mengalami pahitnya kehidupan dan keluarga Mantan Suami tidak mempercayainya, membuat Rin membangun kehati-hatiannya.


"Mohon maaf saya tidak bisa memberikan alamat Mbak Qia tanpa persetujuan darinya," lanjut Rin menolak memberitahu alamat temannya itu.


Keynand menghela nafas berat. Sangat sulit ternyata mendekati Rizqia. Wanita bernama Rin sepertinya memegang teguh etika pergaulan.


Usai berbicara Rin meminta izin untuk minum. Apa mungkin karena hamil menyebabkan Wanita ini gampang haus? Itu yang dipikirkan oleh Keynand.


"Saya mohon Rin," pinta Keynand sekali lagi meminta. Kali ini dia memohon dengan wajah memelas.


Rin terlihat menghela nafas dengan menampilkan raut bingung.


Saat mereka sibuk berbicara, seketika itu Dosen yang mereka tunggu masuk ke kelas.


"Cari di perumahan Taman Indah," ucap Rin kemudian. Dia tidak tega melihat wajah memelas Keynand. Rin menghela nafas dengan wajah gusar. Rasa bersalah itu tiba-tiba menghampiri sanubarinya. Bukan tanpa sebab, dia satu-satunya teman yang dipercaya oleh Rizqia. Kepada dirinya Rizqia mau berbagi kisah hidup yang tidak kalah pahit dengan derita yang dialaminya.


Rin berusaha menenangkan diri dan mengatakan bahwa Rizqia akan memaklumi ini. Lagipula dia tidak memberikan alamat dengan lengkap. Tidak mungkin juga Keynand akan berkata jujur kalau dia mendapatkan alamat Rizqia dari Rin. Rin melegakan hatinya dengan berpikiran seperti itu.


"Terima kasih," ucap Keynand terlihat bahagia.


Rin hanya mengangguk dengan senyum ramahnya.


"Maaf permisi Pak, saya salah Dosen," ucap Keynand dengan sopannya. Dia meninggalkan kelas diiringi pasang mata yang menyorot keheranan.

__ADS_1


"Mahasiswa kok rabun!"


Bersambung.


__ADS_2