
Rizqy sangat tergoda dan tidak sanggup menahan diri dari hasrat tatkala melihat kemolekan Sang Isteri. Seketika lelahnya lenyap berganti dengan binar-binar rindu dipelupuk mata yang ingin segera ditumpahkan.
"Mas," panggil Habibah lembut sedikit manja menggoda.
Rizqy tersadar, dia menyambut tangan Habibah lalu menautkan jari-jari pada sela jari-jari Sang Isteri.
"Ada apa? Tumben bertingkah manja dan menggoda seperti ini?" tanya Rizqy heran. Dia menoel hidung mancung itu gemas.
"Entahlah, aku juga bingung. Yang jelas aku menginginkan Mas Rizqy dan ingin menguasai Mas Rizqy sepenuhnya. Aku ingin melakukan sesuatu yang berbeda dari biasanya," jawab Habibah sambil menuntun Suaminya ke arah Meja makan.
Rizqy kembali merasa surprise dengan hidangan yang tersedia di sana. Lelaki berperawakan tinggi tegap itu terheran-heran dengan apa yang sedang terjadi saat ini, di tambah dengan sikap Habibah yang tidak seperti biasanya. Manis dan manja, sedikit genit nan menggoda. Sejujurnya Rizqy sangat suka.
Dia menatap Habibah dengan dipenuhi tanya. Namun segera diabaikan tatkala melihat paras ayu dan senyum manisnya. Bukankah apa yang tersaji di depan mata lebih menggunggah, dari tanya yang terbersit di benak, ada apa ini?
Ciptakan suasana yang berbeda, tidak seperti biasanya agar hubungan antara pasangan Suami Isteri tidak berakhir membosankan.
Habibah teringat dengan sebuah artikel yang di bacanya. Perselingkuhan terjadi kemungkinan karena dua hal 'bosan dan penasaran'. Mungkin ada benarnya. Terkadang kita bosan dengan rutinitas yang monoton dan begitu-begitu saja setiap harinya. Dan dalam waktu persamaan karena bosan itu, hadir rasa penasaran dengan sesuatu yang baru muncul seketika. Kita tertarik dengan seseorang yang terlihat berbeda dengan pasangan kita sendiri. Sebab rasa penasaran itu membuat kita tergoda menjadi ingin tahu. Setelahnya, awalnya mungkin benar, tapi jika ditelisik dan di sadari sejatinya itu semua tidak sesuai dengan ekspektasi yang diangankan dalam benak. Rasanya sama saja, bahkan mungkin lebih indah dengan pasangan halal yang sama-sama telah berjuang melalui suka dan duka.
Habibah merasakan rasa takut, jikalau Sang Suami bosan dengan dirinya, apalagi hingga saat ini belum dianugerahkan keturunan, karenanya membuatnya sangat resah.
Meskipun janji setia terucap dengan tulus, namun siapa yang menjamin jika komitmen itu akan tetap teguh, bisa saja terkalahkan oleh keinginan yang tidak tercapai yakni memiliki keturunan.
Ikhtiar dan doa, dua hal itu yang sedang diupayakan Wanita pemilik mata cokelat itu.
"Terima kasih," ucap Rizqy tulus.
Habibah tersenyum manis diiringi anggukan sebagai jawaban.
Usai makan, Habibah menuntun Sang Suami ke Peraduan dan tentu saja menawarkan kehangatan di sana.
Dawai asmara kini mengalun indah bersama suara alam yang saling sahut menyahut menambah romantisnya Suasana.
Sepasang kekasih halal itu saling meresapi rasa. Berbagi desah dan peluh menghapus resah. Keduanya larut dalam buaian sentuhan yang saling merasai menjadi satu. Tak ada penolakan dan tak ada pula keterpaksaan. Seketika ego melebur bersama kehangatan yang berhasil terengkuh hingga terbang ke langit yang penuh dengan keindahan nyata.
__ADS_1
Keduanya berhasil menyulam asa berhiaskan cinta yang rekat erat.
Rizqy menyentuh lembut dan keduanya seakan terbang melayang mengawai langit bersama ribuan kupu-kupu menggelitik geli.
Nikmat. Keduanya tak mendustakannya, bahkan senyum pun merekah karenanya.
Malam kian berlalu. Sejenak pasangan Suami Isteri mengunci diri dalam binar-binar cinta yang menyapa melalui sorot mata.
Cup
Rizqy mengakhiri dengan sebuah kecupan panjang di kening Sang Isteri.
Selimut yang tergeletak mengenaskan dia ambil kembali lalu menyelimuti tubuh polos Habibah. Ia pun ikut menelusup masuk menyembunyikan tubuhnya yang sudah terekspos dengan jelas.
Malu. Itu yang nampak pada wajah Habibah tatkala mengingat betapa agresifnya dia. Segera dia menyembunyikan diri lalu memejamkan mata ingin secepatnya terbuai dalam mimpi setelah doa terucap.
Rizqy tersenyum melihat tingkah Kekasih hatinya. Tak ini terjebak dalam pesona Habibah yang bisa membangkitkan keinginan lagi, ia memutuskan memejamkan mata sembari memeluk bidadarinya itu.
Rizqy melantunkan doa yang panjang di dalam hati dengan khusuk. Selepas harapannya terucap, dia benar-benar terlelap dalam mimpi.
Malam pun kian berlalu menuju ke sepertiga malam. Habibah membuka mata dengan berusaha menutup mulut agar suara menguapnya tidak terdengar. Selepas itu menyibak selimut, sebelumnya beranjak, dia menatap Rizqy yang damai dalam tidur.
Dia tersenyum cerah lalu menutup wajahnya menahan malu, karena seketika mengingat dawai-dawai asmara yang mengalun merdu tidak seperti biasanya. Sungguh indah terasa.
Tak ingin ingatan membuatnya kian malu, Habibah gegas beranjak menuju kamar mandi. Beberapa menit berlalu, terdengar pintu di buka dan Habibah muncul dari baliknya dengan wajah segar tersapu air wudu. Habibah meraih mukena lalu mengunakannya. Kemudian menggelar sajadah.
Sunyi. Pujian-pujian kepada Sang Pencipta terucap dengan khusuk. Lantunan itu terus menggema dengan lirih di sunyinya malam yang begitu sangat hening dan damai. Habibah melanjutkan ibadahnya dengan melantunkan doa, berusaha mengetuk pintu langit berharap apa yang menjadi hajatnya akah terkabulkan. Dia hanya ingin memiliki keturunan.
Habibah larut dalam doa diiringi bulir-bulir bening yang semakin merembes.
Sedih, belumlah beranjak pergi, meskipun senyum tetap tersungging mengelabui pandangan mata yang melihat. Sesungguhnya ada resah yang berusaha di sembunyikan dengan sekuat tenaga agar tidak mudah terbaca.
Habibah semakin tenggelam dalam isak tangis, bersama doa yang tak putus.
__ADS_1
Tak menyadari, tangan kekar terulur menghapus derasnya air mata. Rizqy ikut bermunajat melangitkan doa agar apa yang menjadi keinginan Sang Isteri segera Tuhan kabulkan.
Habibah mendongak menatap manik teduh di sampingnya. Ada senyum yang terukir bersama bahasa kalbu yang memintanya tetap bersabar dan tidak berhenti berharap.
"Mas."
Habibah menenggelam diri dalam pelukan Rizqy yang berbalutkan Koko putih.
"Kamu boleh menangis, asalkan tangisan itu tidak menjadikan dirimu kian meratapi nasib. Sebaliknya, tangisan itu menjadikanmu kian yakin, bahwa akan ada hari bahagia pada saatnya."
Rizqy menghibur Sang Isteri dengan kata-kata penyemangat yang dirinya sendiri tak meragukan itu. Dia yakin kebahagian akan ada dan datang pada hari yang kini dia tunggu kedatangannya.
Habibah semakin memperelat pelukan bersama tangisan yang berusaha di redamnya.
Disepertiga malam, bersama tangisan dan harapan pasangan itu sekuat tenaga menegarkan hati dan menebalkan keyakinan bahwa kebahagiaan akan segera mendatanginya dalam bentuk anugerah yang tidak terkira nilainya.
Bukankah Tuhan akan senantiasa mengabulkan segala doa dari hambanya yang memohon.
***
Keynand merasakan keanehan hari ini, beberapa kali tanpa sengaja menggigit lidahnya. Dia tidak mempercayai perkataan Bi Narsih yang mengatakan adanya seseorang yang menyebut namanya dalam pembicaraan. Dia lebih berpikir logis, bahwa apa yang terjadi lebih disebabkan oleh ketidak hati-hatiannya semata. Bukan di sebabkan oleh ghibah yang dengan senang hati menyebut namanya.
Memilih tak peduli, meskipun menggigit lidah tidak berbahaya, tapi itu cukup membuatnya kesakitan luar biasa karenanya.
Keynand masih saja tidak mengerti, untung saja kebingungan itu berlangsung tidak lama berkat kehadiran Enah bersama sesuatu di tangannya.
"Pak Keynand, saya sudah mendapatkan penawarnya," ucap Enah pelan takut suaranya terdengar oleh telinga orang lain yang mungkin saja sedang mempertajam pendengarannya.
"Kamu mendapatkannya dari siapa? Apa kamu yakin ini adalah obat?" tanya Keynand, sejujurnya ada keraguan dalam hatinya, dan pastinya dia harus meningkatkan kewaspadaan. Dia tidak mau begitu saja percaya, meskipun Baby Sitter itu terlihat baik.
"Insyaa Allah. Oh ya dia tidak menyebut namanya, sepertinya identitasnya tidak ingin diketahui oleh orang lain," jawab Enah jujur. Tidak ada kebohongan yang nampak di sepasang mata berbingkai kaca mata itu. Enah sangat pandai menyembunyikan kegelisahan jika saja Keynand mencurigainya. Padahal dia sangat mengetahui dari mana penawar itu berasal dan tidak ingin Keynand tahu bahwa Qia-lah yang memberikannya.
Bersambung.
__ADS_1