
"Ya Tuhan kenapa senyum itu mirip sekali dengan Qia. Ayolah Keynand berpikir waraslah. Enah bukanlah Qia, jelas-jelas mereka berdua bukanlah orang yang sama. Mungkin karena rindu kepada Qia sehingga melihat Enah seakan melihatmu Qia."
Keynand sibuk dengan pikiran yang mulai gelisah semenjak pertemuannya dengan Qia. Apalagi ditambah kehadiran Baby Sitter yang sangat mirip dengan Gadis yang di cintainya itu. Jika saja kulit Enah seputih kulit milik Qia, maka keduanya akan susah dibedakan.
Keynand menikmati perjalanan panjang menuju ke Mentaram. Bukan tidak ada alasan kenapa tiba-tiba saat ini menjelma menjadi budak cinta. Mau saja menuruti perintah Sang Isteri dan memilih merepotkan dirinya, semua itu tidak lain hanya ingin mengambil kesempatan menemui Qia. Meskipun hanya melihatnya dari kejauhan cukup untuknya jika saja Gadis itu tidak mau menerima kehadirannya.
Lama berkendara Keynand akhirnya sampai di Jalan Raden Fattah. Dia tidak langsung menghampiri Sang Isteri yang saat ini menunggunya dengan menahan kekesalan.
Dia menghentikan laju Mobilnya lalu keluar melangkah menuju arah Pintu masuk dengan dada berdebar-debar. Keynand berhenti sejenak di halaman rumah tempat dulu sering sekali menikmati senja tatkala dia mengunjungi Kekasih hatinya itu.
Seketika ingatannya tertuju pada hari itu.
"Melong, Abang ingin berbicara serius," ucap Keynand serius sembari menatap wajah Gadisnya yang sedang menunduk.
Terlihat wajah Qia merona mendapatkan tatapan penuh cinta dari pemilik mata berwarna Cokelat itu.
"Duh Jantung aye mpot-mpotan di tatap seperti itu, Bang. Bisa kagak nur mata cokelat Abang diredupin dikit, silau aye tapi enggak ape-ape sih aye suka," ucap Qia dengan dialek Betawi yang amburadul. Dia menutup wajahnya karena merasa malu dengan kejujurannya itu.
Hahahaha
Keynand tertawa lebar. Ingin rasanya mencubit Pipi Bakbao yang menawan itu saking gemasnya. Tapi sayangnya, Qia hanya boleh di pandang dan tidak boleh di sentuh untuk saat ini.
"Abang gemas pingin nyubit Pipi Qia, please kasik sedikit saja yeee, kilat kok!" Pinta Keynand memohon. Tak tahan rasanya ingin segera membelai pipi mulus itu sekaligus menguyel-uyelnya untuk menyalurkan rasa gemasnya.
"Abang mau tangannya di Gunting, belum boleh lo!" Qia menolak dengan ekspresi mempelototi Keynand.
'Semakin menggemaskan saja kamu Qia.' Batin Keynand menahan diri.
"Nyaaaak, aye pingin nikaaaah. Apa kagak bisa sekarang aja, aye pingin banget nyubit tu Pipi," sambung Keynand dengan mimik serius. Tak tahan rasanya jika dekat-dekat dengan Kekasih hatinya itu, rasanya dia ingin khilaf.
"Sabar Bang, aye sabar kok nunggu tahun depan." Qia menyahuti kekonyolan Calon Suaminya dengan diiringi senyum sumringah. Kemudian dia tertawa renyah melihat raut Keynand yang pasrah penuh drama.
"Ah tadi mau ngomong apa, Bang? Lupa ya?" Qia mengalihkan pembicaraan. Dia mempertanyakan apa yang sebenarnya ingin di sampaikan oleh Keynand di awal pembicaraan mereka berdua.
__ADS_1
"Aye cuma pingin bilang, Ikan Hiu makan tomat."
Qia mengernyitkan dahinya heran dengan perkataan Keynand yang ambigu. Sejurus kemudian dia tersenyum tipis menyadari bahwa Keynand sedang melancarkan rayuan gombalannya.
"Emangnya Hiu doyan Tomat ya Bang? Baru dengar aye nih!" Tanya Qia berpura-pura polos.
"Suka, nah itu kamu kagak Up to date," jawab Keynand ikut berpura-pura lugu.
"Di dalam laut ada Petani tomat ya Bang? Kaya mereka kalau pas mahal-mahalnya, jadi pingin cod ke Ikan Hiu biar kaya aye," sahut Qia bersemangat dengan wajah riang tercetak di sana.
Keynand mengetuk Kepala yang di tutupi jilbab itu saking gemasnya. Hanya itu yang bisa dilakukannya untuk menyentuh Gadisnya itu. Selanjutnya dia mengelus lembut pucuk Kepala itu dengan sayang.
"Sakit ya? Maaf, Abang gemes. Abang sebenarnya pingin berpantun Melong. Seharusnya bilang cakep bukannya malah nanya Hiu suka makan tomat atau kagak. Kok enggak faham maksudnya Abang?"
Qia terkekeh melihat Keynand yang cemberut. Sedangkan Keynand tetap memasang wajah cemberutnya dengan merasakan gemuruh yang menerjang dadanya. Ada desir-desir indah mengalir dalam nadinya lalu berkumpul membentuk sebuah rasa yang di sebut cinta. Semua ini berkumpul pada ruang segumpal daging yang di sebut hati. Qialah bertahta di sana bersama bidadari syurga miliknya yang terlebih dahulu menempatkan diri di sana.
"Abang kok bengong?"
"Eh iya, Abang terlalu asyik menikmati senyum manis di wajahmu Melong," ucap Keynand mulai ngengombal.
Qia terpaku sesaat. Hatinya berdebar kencang mendengarkan gombalan receh yang dipastikan gombalan itu di dengar dari orang lain.
"Apa boleh saya bahagia, Bang? Hati ini kata boy band cenat cenut. Duh pingin rasanya berjingkrak-jingkrak heboh tapi itu dia saya malu untuk mengekspresikannya. Ah hatiku mendadak jumpalitat."
Hati Qia menutup wajahnya satu tangannya sementara tangannya memegang dadanya berdetak berirama cinta. Dia sungguh malu dengan apa yang dirasakan hatinya.
"Abang, gombalannya sungguh receh tapi hati ini menyukainya," sambungnya berkata jujur.
"Udang di makan Ikan Hiu. Bang, I Love you to."
Keynand tersipu malu dengan balasan pantun yang berikan oleh Kekasih hatinya. Dia menatap wajah cantik itu dengan lekat lalu tanpa diperintah Lelaki itu berguling-guling mengekspresikan kebahagiaan.
"Yes yes yes. Cintaku bersemi di hatimu. Qia, Abang bahagia dengan sangat. Kau membuat diri ini berguling-guling senang," ucap Keynand diiringi tubuhnya berguling-guling di rerumputan. Duda tampan itu mendadak malu dengan segala tingkahnya yang konyol. Tak peduli yang penting hatinya bahagia.
__ADS_1
Sementara pujaan hatinya tertawa lepas menyukai segala tingkah laku Sang Calon Suami yang sama sekali tak menjaga imagenya. Mendadak Keynand menjadi anak kecil yang sangat bahagia di beri Permen yang diyakini membuat gigi nyut-nyutan.
Sedangkan rumput sungguh naas dirinya karena harus terinjak dan menerima beban berat dari tubuh pria itu pada dirinya yang mudah koyak. Rela meskipun nyilu di ujung pucuk yang penting mereka bahagia. Seandainya nih orang mengerti bahasaku, aku ingin meminta ganti rugi banyak untuk perawatan kecantikanku. Tapi sayangnya meskipun dia bertanya aku tidak akan bisa menjawab karena yang aku bisa lakukan hanya bergoyang. Seandainya kalian mengerti perasaanku.
Keynand tersentak dari lamunan yang panjang tatkala seseorang menyapanya.
"Cari siapa, Mas?"
Keynand membalas sapaan Wanita paruh baya itu dengan senyuman ramah.
"Saya mencari alamat rumah teman namanya Qia. Kalau berdasarkan alamat yang saya dapat sih benar rumahnya yang ini," jawab Keynand dengan sopan.
"Oh mbak Qia. Iya benar ini rumahnya tapi mbak Qia udah tidak tinggal di sini semenjak dia sakit. Ibu denger-denger sih mbak Qia ikut sama Kakaknya."
Jawaban Wanita paruh baya itu membuat Keynand lesu. Dia mendapatkan informasi yang sama yang diberikan oleh informannya bahwa Gadisnya itu tidak lagi tinggal di rumah tempat Keynand sering mengunjunginya saat mereka masih bersama.
"Kamu sudah kembali ke Kota ini, tapi mengapa abang selalu kehilangan jejakmu. Apa kamu pindah Qia? Dan tidak ingin tinggal di rumah ini. Apa kamu ingin melupakan kenangan kebersamaan kita dulu sehingga kamu enggan menjejakkan kakimu di rumah ini lagi?"
Keynand dirundung kecewa. Dia menatap sekali lagi rumah yang di dalamnya menyimpan sejuta kenangan akan kebersamaannya dengan Qia dulu.
"Rin, mungkin saja dia tahu di mana Qia berada. Iya bisa jadi mereka berdua sudah bertemu dan dia tahu di mana Qia tinggal sekarang." Keynand membatin.
Keynand lantas menghubungi nomor Rin yang masih di simpannya. Nomor itu tersambung tapi usahanya tak membuahkan hasil, ternyata Rin belum bertemu dengan Qia. Bisa dipastikan Wanita itu tidak mengetahui keberadaan Qia. Atau mungkin saja Rin sebenarnya tahu, tapi merahasiakan ini atas permintaan Qia.
Keynand semakin frustasi. Sementara rasa rindu itu semakin memburunya agar menghasilkan pertemuan. Keynand ingin menghubungi Hamiz, tapi dia ragu. Pasalnya Hamiz tidak akan pernah mau membocorkan apapun tentang Qia. Pemuda itu pasti akan menceramahinya sepanjang jalan kenangan dan mengultimatumnya agar tidak lagi mengusik Gadis bermata melong itu. Jadi akan percuma bertanya kepada Hamiz. Dia tidak ingin merusak hubungannya yang kini sudah semakin membaik semenjak kekecewaan yang di rasakan Hamiz karena dirinya menikahi Julaekha.
"Aaaaargh."
Keynand ingin berteriak sekuat tenaga, namun hanya mampu menjerit di dalam hati. Dia hanya berhasil menenggelamkan kepala pada bundaran Mobilnya untuk meluapkan segala gundah di hati.
Sementara Qia, Gadis itu melihat keberadaan Keynand di hadapannya. Dia hanya bisa melihat punggung itu yang melangkah menjauh dengan pasti meninggalkannya. Dia berusaha tersenyum, tapi terlihat getir. Tegar, itulah yang ingin dia peluk sehingga bisa berdampingan dengan luka yang kian terasa. Kata orang dia harus berdamai dengan kenyataan, meskipun terasa pahit. Itu lebih baik dari pada harus meratapi yang bisa menahan langkah. Hidup harus berlanjut bukan? Walaupun tidak bersama dia yang menguasai hati.
***
__ADS_1
Bersambung.