Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
S2.8


__ADS_3

Gadis itu berjuang keras melawan penyakitnya. Dia merasakan hawa dingin merasuki dari telapak Kakinya lalu dengan perlahan dan pasti menjalari tubuhnya hingga berkumpul di Kepalanya. Degup Jantungnya mulai melemah dan nadinya di pastikan tidak teraba. Sementara Kepalanya seakan tidak berfungsi sama sekali. Sakit dan tak nyaman itulah yang terasa. Keringat dingin mulai keluar dari sela-sela pori memberi petanda bahwa Gadis itu sedang berjuang keras. Matanya terpejam dengan air mata terus-terusan merembes. Sedangkan hatinya tak putus membaca ayat suci Al-Quran meskipun terasa sangat berat.


"Tuhan, apakah sudah saatnya? Tapi aku mohon angkatlah penyakit ini sehingga aku ikhlas menerimanya."


Dalam hati, Gadis itu berkata melambungkan harapan agar dia terbebas dari penyakit yang telah merenggut keceriaannya.


Semenjak penyakit itu menguasai tubuhnya. Gadis itu hanya bisa terbaring lemah di atas Ranjang. Jangankan berdiri lama, duduk pun hanya beberapa menit bertahan. Apalagi berjalan dan berlari mengitari halaman itu sangat mustahil bisa di lakukannya saat ini. Pergerakannya hanya di sekitar kamar tempat dia memupuk harapan untuk tetap bertahan.


Penyakitnya telah membuat badannya kian hari kian menyusut. Pipinya yang dulu temben kini menampakkan gurat tirus sedangkan mata bulat besar yang bersinar terang kini meredup seakan tak memiliki cahaya hidup. Tubuh Gadis itu semakin hari semakin lemah tak berdaya.


Kini Gadis itu seumpama mawar yang sudah layu dan tak lama lagi berguguran ke bumi lalu terlupakan. Meskipun layu, Gadis itu berusaha untuk bertahan hidup dan tidak ingin berguguran sebelum waktunya.


"Astaghfirullah."


Seorang Wanita masuk membawa nampan berisi makanan. Melihat Gadis itu tergolek lemah dengan tangan dan kaki bergerak-gerak semakin lincah. Wanita itu segera meletakkan apa yang di bawanya di Meja lalu dengan cepat meraih Al-Qur'an kemudian membaca Surat Al-Baqarah untuk membantu Gadis itu melawan penyakitnya.


"Qia berjuanglah untuk sembuh dan bertahanlah kedatipun luka dan rasa perih menyelimuti hatimu yang kian rapuh. Kak Bibah percaya bahwa kamu Gadis yang kuat sekalipun fisik dan hati kamu saat ini di serang secara bersamaan." Dia terus saja menyemangati Gadis malang itu. Tangis ingin pecah, namun berusaha di halaunya. Dia tidak ingin menangis, yang hanya akan membuat Gadis itu kian terpuruk.


Wanita itu terus saja membaca surat Al Baqarah hingga pergerakan tangan dan kaki Qia perlahan-lahan semakin melambat lalu normal kembali.


Dia bernafas lega saat tubuh Qia tidak lagi bergerak seperti orang ayan. Qia berhasil melewati rasa sakit itu walaupun menyisakan tubuh yang sangat lemah.


"Kak Bibah," panggilnya dengan suara lirih hampir tak dengar.


"Iya dek, Kak Bibah di sini. Apa dia sudah pergi?" Habibah menjawab sekaligus bertanya. Dia melihat Adik iparnya itu menganggukkan Kepalanya dengan sangat lemah.


Di hapusnya air mata yang mengalir dari sudut mata milik adik iparnya. Ada kelelahan yang nampak pada wajah pucatnya.

__ADS_1


"Aku lelah, kak. Bolehkah aku menyerah saja," ucap Qia dengan lemah. Ada kepasrahan yang tersirat dalam kedua manik yang indah itu.


"Jangan berkata seperti itu. Kakak yakin kamu akan sembuh dan sanggup melewati ini semua. Jadi, jangan biarkan penyakit itu menang dan orang yang melakukan ini kepada kamu tertawa bahagia. Kamu harus melawannya, dek."


Habibah berusaha mengembalikan semangat Qia yang sepertinya sudah berada di ambang keputus asaan. Dia memahami seperti apa penderitaan Gadis itu. Di mana penyakitnya akan kumat menjelang waktu akan melaksanakan Shalat. Waktu Dzuhur, Ashar, Magrib, Isa dan subuh. Bahkan tengah malam pun penyakit itu akan menyerang tubuh lelahnya. Tidak dibiarkan Gadis itu beristirahat sedikit pun.


Habibah setiap membaca surat Al-Baqarah untuk membantu kesembuhan Qia pasti akan menitikkan air mata. Begitu juga dengan Rizqy yang terlihat sangat terpukul menyaksikan ketidak berdayaan adiknya. Mereka berdua secara bergiliran menjaga Qia. Habibah tidak pernah membiarkan Qia sendirian. Jika dia bepergian untuk melakukan sesuatu, maka akan ada orang yang menjaganya. Selanjutnya tugas untuk menemani Gadis itu pada malam hari adalah Sang Kakak. Meskipun lelah, Rizqy tak akan beranjak dari sisi adiknya.


Demi kesembuhan Qia. Rizqy memutuskan untuk tinggal di sebuah pondok Pesantren yang tidak jauh dari Sekolah tempatnya bertugas. Mereka berdua rela meninggalkan Desa dan menutup informasi tentang keberadaan mereka bertiga serapat mungkin. Bahkan Habibah rela berhenti mengajar agar bisa fokus untuk merawat Qia. Pasangan Suami Isteri itu bahu membahu dan berusaha melakukan apapun untuk kesembuhan adik satu-satunya yang mereka miliki.


"Kak Bibah benar, tapi apa yang bisa aku lakukan jika bibirpun tak mampu bergerak hanya sekedar mengucapkan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Dalam hati pun aku terbata-terbata mengucapkannya. Padahal doa adalah senjata untuk melawannya, bukan? Bagai mana jadinya jika bibir ini terkatup rapat tidak lagi mampu bergerak untuk mengucap doa. Apa saat itulah akhir dari perjuangan dan pada kenyataannya aku kalah."


Qia menangis, mungkin saja dengan cara itu bisa meringankan pikirannya yang pelik. Pikirannya yang bercabang ke segala arah. Dia ingin melepaskan deritanya dan memilih menyerah melawan penyakitnya lalu pergi. Namun di sisi lain dia tidak ingin meninggalkan kedua kakaknya. Mungkin saja dengan kepergiannya akan menambah kesedihan dan keterpurukan kedua kakaknya itu, hal itulah yang memberatkannya sehingga tak ingin kalah.


Qia lelah, itu yang di rasakan disaat harus melawan rasa sakit di setiap detiknya. Apalagi harapannya telah terenggut dari tangannya. Keynand, Lelaki yang menjanjikan kebahagiaan untuknya telah menghianati dan memberikan luka yang teramat dalam pada ruang hatinya yang terbentuk cinta untuknya. Tanpa sepatah kata pun Lelaki itu memilih merajut bahagia bersama wanita lain disaat dia harus berjuang melewati masa kritisnya. Di saat Keynand mengucapkan Ijab kabul atas nama Wanita lain bukan dirinya, di saat itulah Qia sekarat. Malam itu ada derita dan bahagia bersamaan hadir pada hati yang pernah saling mencintai.


Qia merasakan dadanya semakin sakit dan sesak itu membuatnya kesulitan untuk bernafas. Isak tangisnya semakin mengaburkan mata bening yang sudah tak memiliki cahaya hidup. Dia layu kini dan tak berdaya.


Apakah Keynand dan Wanita itu bekerja sama untuk menyakitinya? Kenapa Pria itu mengaku mencintainya dan pada akhirnya menyakitinya dengan menghadirkan Wanita itu dalam hatinya.


Haruskah Qia mengucapkan selamat kepada pasangan itu karena telah berhasil membuatnya patah hati dan terpuruk.


Hikz hikz hikz


Isak tangis Qia terdengar menyakitkan di Telinga Habibah. Tubuh itu bergetar hebat dalam dekapan hangat Wanita yang menjadi cinta sejati Kakaknya. Habibah ikut menitik air mata, namun buru-buru menghapusnya dengan punggung tangannya. Dia tidak ingin Qia semakin terpuruk melihat Kakaknya ikut larut dalam kesedihan. Habibah berusaha menguatkan hati agar bisa menyelamatkan hati adiknya itu.


"Dek, Kak Bibah yakin kamu pasti sembuh. Mas Rizqy juga meyakini hal ini, jadi jangan pupuskan harapan kami dengan keputus asaan itu."

__ADS_1


Usai berkata Habibah mengurai pelukan. Dia mengusap air mata yang mengalir deras dari sudut-sudut mata indah Qia. Di tatapnya wajah itu dengan penuh sayang.


"Luapkan derita itu melalui air mata dan biarkan luka itu hanyut bersamanya lalu mengering tanpa jejak. Kamu Gadis istimewa, Dek! Sehingga Tuhan memberikan cobaan ini dan Tuhan memilihmu karena percaya kamu sanggup menanggung dan melewatinya."


Qia menikmati kalimat-kalimat penyemangat dari Wanita yang dengan ikhlas melepaskan segala mimpi-mimpinya hanya demi menemani dan merawatnya.


"Terima kasih, Kak. Aku bersyukur memiliki Kakak Ipar sebaik Kak Habibah," ucap Qia dengan senyum yang berusaha ia terbitkan pada bibir pucatnya.


Habibah tersenyum tulus. Terlihat kelembutan dibalik mata indah yang selalu memancarkan kehangatan.


"Kebahagiaan kamu adalah impian Kak Bibah dan Mas Rizqy saat ini, jadi jangan musnahkan impian itu."


Qia mengangguk dengan senyum yang semakin jelas terlihat.


"Sekarang kamu makan agar ada tenaga untuk melawannya. Setelah itu baru kita Shalat," ucap Habibah tegas.


Qia mengangguk patuh. Dia menyandarkan tubuh kurus dan lemahnya pada sandaran Ranjang. Kemudian dengan sabar Habibah menyendokkan makanan lalu mengarahkan Sendok itu ke arah bibir Gadis itu. Dengan susah payah Qia menelan makanan meskipun sama sekali tidak selera. Namun dia sadar, jika tidak ada asupan makanan masuk ke dalam tubuhnya, lantas dari mana dia memiliki tenaga.


Selesai makan, Qia berjalan secara perlahan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Beberapa menit kemudian, wajah layu tersebut terlihat lebih segar tersapu oleh air wudhu. Dengan berusaha mengkhusukkan diri dan berusaha melawan rasa malas yang setiap dia melaksanakan Shalat hal itu pasti akan terjadi.


Saat Shalat, Qia mulai merasakan lemas. Kepalanya merasakan rasa sakit yang teramat parah. Degup Jantungnya mulai melemah dan nafasnya mulai terasa berat. Gadis itu tetap berusaha menyelesaikan Shalatnya tanpa terganggu dengan tubuhnya yang kian merasa lelah. Dia bersujud dengan tenang, mengucapkan doa secara lirih dan jelas terdengar di Telinganya. Di dalam hati dia memuji Tuhannya. Maha suci Allah Yang Maha Tinggi.


Qia memperpanjang Sujud terakhir dalam Shalat yang dilaksanakannya. Dalam keheningan di dalam hatinya mengucapkan doa. Bersama itu pula air matanya mengalir membasahi Sajadah yang digunakannya


"Ya Tuhan, jika memang sudah waktunya hamba pasrah, tapi sebelum itu angkatlah penyakit ini agar hamba terbebas dari kejahatan Jin dan Manusia. Hamba tidak ingin membawa penyakit ini ketika memang sudah saatnya."

__ADS_1


Usai Sholat, Qia kembali berjalan menuju Ranjang lalu merebahkan tubuh lemahnya. Dia berharap ketika bangun nanti ada setitik tenaga yang dia miliki. Karena pada sore ini waktunya dia akan menjalani pengobatan selanjutnya. Tentu saja dia membutuhkan tenaga untuk menikmati rasa sakit itu. Sanggupkah dia?


Bersambung.


__ADS_2