Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
100


__ADS_3

"Maksudnya?" Tanya Keynand tak mengerti arah pembicaraan Adly.


"Maksud saya, orang suruhan Pak Boss itu bekerja untuk siapa? Jangan-jangan dia sebenarnya bekerja untuk orang lain dengan memanfaatkan tugas dari Pak Boss," jawab Adly serius.


"Adly benar, orang suruhan kamu sepertinya orang suruhan seseorang juga. Nah seseorang itu ingin hubungan antara kamu dengan Rizqy itu merenggang. Dia menyiasati ini semua dengan memberikan informasi yang keliru sehingga terjadi kesalah fahaman antara kamu dengan Rizqy. Mungkin saja Rizqy mengetahui sesuatu. Terus kamu juga memegang rahasia yang berhubungan dengan dirinya. Bisa jadi apa yang kamu ketahui ada sangkut pautnya dengan Rizqy. Agar tidak terbongkar, maka jalan satu-satunya yaitu membuat kalian merenggang. Otomotis tidak ada komunikasi terjadi di antara kalian."


Reynand menjelaskan analisa yang berhasil di simpulkan dari kejadian yang di alami adiknya.


"Dia tahu saya mengetahui sesuatu?" Tanya Keynand penasaran dengan penjelasan Kakaknya itu.


Reynand menganggukkan Kepalanya lalu berkata "Coba kamu inget-inget, deh? Mungkin saja kamu mengetahui sebuah rahasia?"


Pertanyaan Kakaknya itu membuat Keynand berpikir. Namun rasanya dia tidak pernah mengetahui apapun di masa lalu.


Diamnya Keynand diikuti oleh Adly dan Reynand. Mereka berdua ikut termenung membersamai Keynand yang serius.


Lama berpikir, Keynand kemudian menggelengkan kepala lemah tanda dia menyerah.


"Jangan di paksakan. Oh ya lain kali jangan buru-buru di simpulkan berdasarkan dari informasi yang belum jelas kebenarannya. Itulah gunanya kita bertabayyun dulu."


Usai berkata Reynand menepuk bahu Keynand. Berusaha menyemangatinya yang dilanda kebingungan.


"Tenang saja Pak Boss, kita akan menemukan fakta yang sebenarnya. Kita lihat ke depannya, kira-kira siapa yang di untungkan dari kejadian ini," ucap Adly ikut menyemangati.


"Seseorang ini bisa saja satu orang atau malah lebih. Mereka bekerja sama dengan tujuan masing-masing. Bisa saja sebenarnya yang melakukan ini satu orang dengan ambisi yang berbeda. Kali ini kamu harus bijak mencerna informasi yang kamu dapatkan. Jangan langsung emosi manakala berita itu tidak sesuai dengan keinginan dan ego itu sendiri." Reynand menambahkan.


***


"Bang tolongin saya, berikan bukti ini sama Kakak saya. Namanya. ..."


Keynand terlonjak kaget. Dia mengelus dadanya sembari mengucapkan istighfar. Entah kenapa akhir-akhir ini bayangan seorang Pemuda meminta tolong sering kali menghampirinya.


"Astaghfirullah, kenapa mimpinya berulang-ulang dan rasanya saya pernah mengalaminya," guman Keynand saat nafasnya mulai normal.


Dia beranjak dari Ranjang lalu melangkah ke arah lemari. Keynand membongkar isi lemarinya sampai menemukan sesuatu yang dicarinya. Sebuah Tas yang terlihat lusuh di temukan di antara barang-barang lainnya.


"Ini dia akhirnya ketemu," ucap Keynand merasa senang.


Dia mengamati gelang yang terbuat dari benang dan emas putih. Di sana tertulis nama yang ukurannya sangat kecil, namun bisa dilihat dengan jelas.


Melihat itu ingatannya begitu saja terpampang di depan mata pada kejadian di masa lalu saat sehari sebelum di tangkap kemudian mendekam di Penjara.


"Bang tolong saya, berikan bukti ini kepada Kakak saya, namanya Rizqy Anggara. Dia ada di Mentaram."


Keynand yang saat itu sedang jalan-jalan menikmati kesejukan Kota Bunga, tiba-tiba dihampiri oleh seorang Pemuda. Pemuda itu nampak terengah-rengah, sesekali dia mengawasi sekelilingnya.


"Bang Tolong saya," ucap Pemuda itu lagi setelah berhasil menguasai diri.


Keynand bertanya-tanya dengan permintaan dari orang yang tidak dikenalnya. Dia menatap wajah yang nampak ketakutan dengan tangan terulur memberikan sesuatu. Ada keraguan saat hendak mengambil sebuah gelang yang masih berada pada tangan Pemuda itu.


"Bang ambil, saya takut orang-orangnya menemukan kita," ucapnya lagi sembari membalikkan badan melihat ke arah belakang dengan pandangan awas.


Keynand mengulurkan tangan itu. Belum saja tergapai terdengar teriakan dari beberapa orang yang kian mendekat.

__ADS_1


Keynand segera meraih benda itu kemudian mengamankannya. Dia selanjutnya berpura-pura mengambil gambar untuk menghindari kecurigaan.


Sedangkan Pemuda itu menjauh dari Keynand dan melarikan diri. Belum saja menjauh Pemuda itu langsung di tangkap. Dia berusaha memberontak dan melawan.


Melihat Pemuda itu dalam bahaya, Keynand segera menghampiri untuk membantu. Terjadi baku hantam yang membuat ketiga preman itu kewalahan. Saat mereka lumpuh dan kalah, Keynand mempertanyakan tujuan mereka mengejar Pemuda yang diyakininya tidak bersalah.


"Maaf ada apa ini? Kenapa kalian tiba-tiba menyerang Adik ini?" Tanya Keynand berusaha melerai. Mungkin saja dengan berbicara baik-baik tidak akan terjadi baku hantam lagi dan Pemuda itu bisa terlepas dari jeratan tiga orang preman yang terlihat ingin mencabiknya.


"Kamu siapa? Jangan ikut campur urusan orang. Saya hanya ingin berurusan dengan anak ini," sahut salah satu dari mereka dengan nada ketus.


Pemuda itu memberi kode agar Keynand pergi dari tempat itu.


"Orang ini bukan siapa-siapa, Bang. Saya tidak kenal dan sepertinya dia Turis yang sedang melancong," ucap Pemuda itu berusaha untuk menengahi.


"Biarkan dia pergi, Bang. Kalian hanya butuh Tas ini, kan? Saya udah nyerah dan tidak bisa lari lagi apalagi melawan. Di dalamnya ada Laptop dan Chip," sahut Pemuda itu dengan memelas. Ada ketakutan dan juga kepasrahan pada wajah pucatnya.


Ketiga Preman itu menatap Keynand dengan seksama. Melihat wajah Keynand yang kebule-bulean membuat mereka percaya lalu melepaskan Keynand.


"Pergi sana, jangan ikut campur dengan urusan orang. Satu lagi apa yang kamu lihat anggap saja tidak pernah melihatnya apalagi lapor Polisi," ancam salah satu Preman yang mungkin saja ketuanya.


Keynand mengangguk setelah mendapatkan isyarat dari Pemuda itu untuk segera meninggalkan tempat itu.


Setelah beberapa tahun berlalu, Keynand benar-benar melupakan kejadian itu. Dan hingga saat ini dia belum melaksanakan amanah yang diberikan Pemuda itu. Entah apa yang terjadi dengannya dan dimana keberadaannya, Keynand sama sekali tidak mendapatkan khabarnya. Diam-diam dia berusaha mencari keberadaan Pemuda itu dan juga Kakaknya saat bebas dari Penjara. Namun hasilnya nihil, karena informasi yang samar sehingga membuatnya kesulitan menemukan jejaknya.


"Bukti? Apa gelang ini sebuah alat bukti?" Tanya Keynand mengamati gelang yang ada di tangannya. Tidak ada yang aneh dengan gelang itu. Hanya gelang biasa sebagai memperhias pergelangan tangan. Tapi kenapa Pemuda itu sangat menjaganya dan meminta agar memberikannya kepada Kakaknya itu. Apalagi Pemuda itu di kejar-kejar oleh Preman. Itu artinya gelang ini menyimpan rahasia besar.


Keynand kembali mengamatinya dan membaca tulisan yang terukir pada emas putih itu.


Keynand menyimpan kembali benda itu. Dia berjanji akan menjalankan amanah Pemuda itu yang baru di ketahuinya bernama Kiano.


Ada rasa bersalah karena mengabaikan amanah itu dan tidak berusaha untuk menemukan mereka. Bahkan Keynand melupakan wajah ketakutan Pemuda itu. Wajah pucat yang kini dia merasa melihatnya kembali pada Seseorang.


Keynand berjalan ke arah Ranjangnya lalu merebahkan tubuh dengan hati-hati.


"Kiano, siapa dia?" tanya Keynand pada langit-langit yang menampilkan wajah pucat dan ketakutan Pemuda itu.


***


Di keheningan malam seorang Gadis sedang bersimpuh dalam sujudnya. Dia melepaskan segala gundah di hatinya dengan melaksanakan Shalat malam.


Setelah salam terucap lalu dia mengucapkan istighfar dilanjutkan dengan dzikir dan doa sesuai yang diajarkan Rasulallah.


Kemudian terdengar untaian demi untaian kata mengungkapkan segala isi hatinya.


"Ya Tuhan. Jika rasa yang tiba-tiba ada untuknya sebagai penyebab kedukaan itu muncul, maka tenangkan hati ini."


Rizqia menitikkan air mata. Dengan terisak-isak Gadis itu memohon ampun kepada Rabb-Nya. Dia menyadari rasa itu belum berhak dia tempatkan pada hatinya. Dan belum boleh memikirkan Laki-laki yang belum halal untuk dipikirkan.


Namun Rizqia tidak mampu mengelak rasa itu. Dia merasakan rindu saat Keynand tak kunjung menyapanya. Ada rasa bahagia saat mendengarkan suara Laki-laki itu. Rasa itu dia simpan sangat rapat tak ingin diumbar. Ada rasa takut jika rasa itu terlalu menggebu yang akan membuatnya terlena dalam angannya yang berakhir semu.


Gadis itu masih tetap duduk di atas Sajadahnya. Dia enggan beranjak meskipun malam kian berputar mendekati fajar.


Dia tidak menyadari ada seseorang di balik Pintu tengah mendengarkan segala curahan hatinya.

__ADS_1


Tok


Tok


Tok


Ceklek


Seseorang mengetuk Pintu lalu terdengar Pintu di buka dari luar.


"Apa Kak Bibah boleh masuk?"


Rizqia mengangguk memberikan izin kepada Kakak Iparnya itu. Gadis itu buru-buru menghapus jejak air mata dan kemudian dengan cepat melipat Mukena yang dilepasnya.


Dia tidak menyangka Habibah mendatangi, mungkin saja Kakak Iparnya itu juga melaksanakan Shalat malam sehingga mendengarkan doa yang dia panjatkan.


"Kak Rizqy juga boleh masuk?"


Lagi-lagi Rizqia mengangguk. Ada rasa malu yang mungkin saja terlihat oleh kedua pasang mata itu. Sekaligus ada rasa haru karena kedua Kakaknya itu sangat memperhatikannya.


Ketiganya duduk pada Ranjang. Habibah berposisi di samping kiri Rizqia dan Rizqy berada di kanannya. Gadis itu benar-benar diapit oleh dua orang yang sangat menyayanginya.


"Apa kamu baik-baik saja, dek? Maaf, Kak Bibah dengan lancangnya mencuri dengar curhatan kamu," ucap Habibah lembut dengan penuh kehati-hatian.


Rizqia mengukir senyum. Tidak menyangka Kakak Iparnya itu sangat sopan bahkan dia meminta maaf padahal mungkin saja tidak sengaja mendengar apa yang diucapkannya.


"Tidak apa-apa Kak Bibah, justru Qia yang meminta maaf karena telah mengganggu waktu istirahat Kak Bibah dan Kak Rizqy," jawab Rizqia.


"Iya, gara-gara isakan tangis kamu bikin Tokek tidak sanggup mengeluarkan suaranya. Dia ikut sedih juga dan ikut meratapi nasip Gadis yang takut pada suaranya," timpal Rizqy diakhiri dengan membentuk senyum jahilnya.


"Kok Kak Rizqy tahu? Dari mana tahunya?"


"Hanya nebak saja karena tumben hening," jawab Rizqy sekenanya.


"Syukur deh, Qia jadinya urung untuk mengambil pita suaranya."


Candaan Rizqy dibalas candaan pula oleh Gadis itu. Sementara Habibah hanya tersenyum simpul menyaksikan mereka berdua yang bersenda gurau.


"Dek, benar kamu memiliki perasaan kepada Keynand? Sudah tidak ada keraguan lagi, kan?" tanya Rizqy mengakhiri candaannya. Dia kini serius ingin mengetahui perasaan adiknya meskipun dia sudah mengetahui hal itu.


Hening sejenak karena Rizqia tidak langsung menjawab. Ini yang dikhawatirkan sebenarnya mendapatkan pertanyaan dari Laki-laki yang di hormatinya itu. Sudah dua kali kakaknya mempertanyakan hatinya kepada Keynand. Apa kali ini dia harus berkata jujur? Rizqia bingung antara mengakui atau membohongi diri.


Rizqia menghela nafas untuk meyakini dirinya atas jawaban itu. Cukup lama memikirkannya, Gadis itu kemudian mengangguk sebagai jawaban. Dia tidak ingin lagi membohongi diri.


Meskipun dia tahu Kakaknya tidak akan pernah memberikan restu jika berhubungan dengan Keynand. Apalagi kejadian di Coffe Shop itu membuat restu itu sulit untuk di dapatkan.


Terdengar helaan nafas panjang dari Kakaknya itu setelah mengetahui perasaannya.


Rizqy tak berkata apa-apa, dia beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan menuju Pintu tak membutuhkan waktu lama Sosoknya hilang di balik Pintu.


"Kak Bibah, apa Qia salah?" tanyanya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2