
Selepas mereka melaksanakan Shalat Isya dan Shalat tarawih bersama di Masjid. Keluarga Reynand melanjutkan dengan melaksanakan Tadarusan di Musholla yang ada di kediaman mereka.
Reynand dan Lika terlebih dahulu menyimak bacaan Alquran Renia. Selesai Renia mengaji baru mengajarkan huruf hijaiyah kepada Raski.
Sabar, begitulah Reynand dan Lika mengajari bocah tampan itu. Bersyukurnya mereka, Raski dianugerahi Otak yang cerdas sehingga dengan mudah menangkap apa yang disampaikan orang lain meskipun dalam pengucapan belumlah tepat. Mereka mengerti Raski belum lancar berbicara, tentu masih terdengar cadel.
"Alhamdulillah, Dadek Raski pinter. Besok-besok dilanjutkan, sayang," ucap Lika mengelus puncak Kepala Raski. Reynand ikut juga memberikan kasih sayang kepada bocah piatu itu.
Sedangkan Raski menanggapi dengan memamerkan senyum indahnya. Lesung pipitnya terlihat nyata tatkala dia membentuk senyumnya itu.
"Daddy bangga sama kamu, Nak! Mommy juga pasti sangat bahagia memiliki anak yang soleh dan pintar mengaji seperti Dadek Raski," ucap Keynand yang secara diam-diam menyimak anaknya belajar mengaji.
"Loh, kamu disini Key? kapan datangnya, kok enggak ada suaranya?" tanya Reynand heran. Mungkin karena terlalu khusuk mendengarkan Renia mengaji dan mengajar Raski mengaji sehingga tak mendengar salam Keynand.
"Saat Renia mengaji, Bang!" jawab Keynand. Dia kemudian meminta Raski mendekat.
"Sini sayang."
Raski bangkit dari duduknya, dia melangkah dengan cepat mendaratkan tubuh kecilnya ke dalam pangkuan Keynand.
Keynand menyambutnya dengan pelukan hangat. Lalu mengelus Kepala bagian belakang penuh cinta dan sesekali mencium puncak kepalanya.
Lika dan Reynand saling pandang kemudian menyunggingkan senyum bahagia.
Setelah puas dalam keharuan dan meluapkan kasih sayang. Keynand mengurai pelukan. Dia melihat mata Raski mulai sayu menandakan Putranya itu mulai mengantuk.
"Ngantuk ya sayang, kalau begitu kita bobok, ya?" ucap Keynand. Dia bangkit dari duduknya lalu menggendong tubuh kecil itu.
"Ibu, Renia juga mengantuk," ucap Renia. Dia bangkit dari duduknya kemudian mengikuti langkah kaki Keynand.
Lika tak mengikuti mereka, karena ingin memberikan waktu kepada Keynand bersama Putranya.
Sementara Keynand menemani Raski, mereka melanjutkan membaca Alquran. Dimana Saik Inah terlebih dahulu mengaji yang disimak oleh Lika dan Reynand.
Setelah beberapa Juz mengaji, Saik Inah menyudahi. Baru dilanjutkan oleh Lika dan seterusnya Reynand. Terlihat Keynand juga ikut mengaji. Dia sudah memastikan Renia dan Raski terlelap baru meninggalkan mereka dan ikut bergabung untuk Tadarusan.
"Alhamdulillah."
Terucap syukur tatkala mereka menyudahi bacaan Alqurannya. Lika dan Saik Inah berpamitan karena sudah tidak bisa lagi menahan kantuk.
Sementara Reynand dan Keynand memilih berdiam diri di Musholla melanjutkan dengan Obrolan.
Selang beberapa menit, terlihat Lika menghampiri dengan Nampan di kedua tangannya.
"Ini Mas minumannya dan Pisang Goreng, nemenin kalian mengobrol," ucap Lika setelah sampai di hadapan mereka yang sedang duduk bersila. Dia menaruh Nampan itu tepat di hadapan kedua Pria tampan itu.
"Ini Kopi untuk Mas Reynand." Lika menyodorkan segelas Kopi untuk Suaminya itu.
"Dan ini untuk Abang Keynand," lanjut Lika menyodorkan Kopi itu kepada Keynand.
"Pelayanan prima ini, Makasih ya," ucap Keynand tersenyum sumringah.
Reynand hanya diam, Pria itu tidak mengatakan apapun tapi raut wajahnya menunjukkan rasa terima kasihnya.
"Iya, harus gitu! kalau enggak, Kopi kalian bisa tertukar. Mas Reynand suka Kopi berasa pahit sedangkan Abang Keynand suka yang manis. Nanti kalau tertukar bisa-bisa kopi kalian tidak dihabisin, mubajir, dong!" sahut Lika menerangkan alasannya.
Keynand mengangguk, dia menyeruput Kopinya dengan penuh perasaan. Pun begitu juga dengan Reynand, melakukan hal yang sama.
"Heeeeem, rasanya bikin melek. Pas banget racikannya, benar-benar maik meres," ucap Keynand.
Lain lagi dengan Reynand, dia hanya terdiam. Pria itu kembali menyeruput Kopinya.
Lika tak mempermasalahkannya, melihat wajah Suaminya yang berseri-seri, sudah cukup membuktikan bahwa Reynand menyukai apapun yang dibuatnya.
"Mas, aku ke kamar," ucap Lika berpamitan. Dia melihat Reynand menganggukkan Kepala baru Wanita itu bangkit dari duduknya.
"Bang Keynand, saya tinggal, ya?"
"Iya, good night," sahut Keynand.
"Sayang, terima kasih," ucap Reynand. Mendengarkan itu menerbitkan senyum manis di bibir Lika. Dia mengangguk lalu membalikkan tubuhnya. Dia sempat melihat Suaminya mengedipkan mata dengan senyum khasnya.
__ADS_1
"Mas Reynand, aku sambut cintamu. Di hati berkata 'aku mencintai kamu Lika' sedangkan bibir tidak suka mengumbar." Lika membatin.
Sepeninggalnya Lika, dua saudara itu melanjutkan kebersamaan dengan obrolan.
"Tenang ya Bang!" ucap Keynand memulai pembicaraan.
"Beruntungnya bisa bertemu dengan Lika dan keluarga sehingga bisa menikmati hidup seindah ini," lanjutnya.
Reynand memandang Keynand dengan pandangan bertanya. Sedangkan Pria itu melihat ke depan seperti melihat sesuatu disana.
Pria itu tak bertanya lebih lanjut, cukup cerdas dia bisa mencerna apa yang dimaksud dari Adiknya itu. Bukankah dia juga merasakan rasa syukurnya itu. Pertemuannya dengan Lika, membuat hidupnya sekarang terasa benar dan bahagia karena berada di jalan yang semestinya di lalui.
Dia mengetahui, sejatinya hidup di dunia ini untuk apa? tentu untuk beribadah hanya kepada Allah dengan tujuan meraih ridhoNYA dan pada akhirnya melanjutkan kehidupan di alam kubur sebelum menuju akhirat.
"Ceritakan awal elu bertemu dengan Lika?" tanya Reynand. Dia ingin tahu apa yang terjadi di antara mereka berdua. Reynand tahu siapa Adiknya, tidak mungkin Keynand tak tertarik dengan Lika. Sebrengs*knya dia, pasti akan mencari Gadis baik-baik dan soleha untuk dijadikan Isteri.
Keynand terdiam, mencoba mengingat.
"Di Tanjung An, saat itu Lika sering ke sana pada sore hari. Dia duduk menyendiri sambil memandang lautan luas. Aku melihat bibirnya bergerak-gerak mengucapkan sesuatu. Setelahnya menyeka air mata. Setiap orang memperhatikannya namun dia seakan mempunyai dunianya sendiri." Keynand mulai bercerita panjang lebar. Dia menarik nafas panjang menormalkan diri sebelum melanjutkan cerita.
"Tentu aku penasaran, apalagi dia Gadis yang cantik dan rasa tertarik itu menyeret aku untuk menyapa. Beberapa hari memperhatikannya, pada akhirnya mendekati Gadis cantik itu. Saat didekatnya aku baru tahu apa yang terucap dari bibirnya."
"Apa?" tanya Reynand singkat saat Keynand terdiam tak melanjutkan cerita.
'Mas, aku kangen.'
Reynand tersenyum atas jawaban yang diberikan Adiknya. Tentu pernyataan Lika saat itu untuk Sang Suami.
"Terus?"
"Aku mengajaknya mengobrol. Dia menanggapi dengan ramah penuh adap. Aku tidak mengetahui kalau ternyata dia mengenal siapa aku. Padahal saat itu aku sedang menyamar."
"Kok bisa?" tanya Reynand menyela.
"Iya bisa, Mommy sudah memberitahu kepada Lika bahwa aku akan menyamar dengan orang yang bernama Key Putra," jawab Keynand panjang lebar.
"Pada saat itu aku tidak tahu Lika sedang hamil. Selain itu juga karena sedang hamil auranya keluar sehingga terlihat sangatlah cantik membuat beberapa Pria memusatkan pandangan kepadanya dengan rasa berminat di mata mereka." Keynand melanjutkan ceritanya.
Keynand tergelak melihat kecemburuan di mata Abangnya itu.
"Untung Abang tidak ada, kalau ada pasti para Pria itu Abang maki-maki terus mungkin saja ingin mencokel mata mereka agar tidak bisa melihat kecantikan Lika, Sang Isteri," ucap Keynand melanjutkan dengan kekehan.
"Kamu tahu itu, termasuk kamu akan terkena kemarahanku tidak peduli kamu siapa?" sahut Reynand tegas.
"Hahahahahaha."
"Sayangnya itu tidak terjadi. Aku jadi berpikir, Tuhan saat itu menguji kalian dengan perpisahan yang lama. Pada akhirnya disatukan kembali hingga bisa bersama saat ini. Semua orang mengira Abang sudah meninggal. Hanya Lika yang mempercayai kalau Abang masih hidup. Dia akan percaya Abang sudah meninggal jika melihat Jasad Abang. Mungkin saja Lika merasakan Detak Jantung Abang sehingga memiliki keyakinan seperti itu."
Keynand mengakhiri ceritanya. Dia mengambil Pisang goreng lalu memakannya.
"Enak," ucapnya singkat.
"Lalu, ceritakan kisah cintamu dengan Ega?" tanya Reynand. Rasa penasaran membuatnya ingin tahu karena baik Lika maupun Keynand tidak pernah sekalipun menceritakan tentang Ega.
"Bukannya abang yang menjodohkanku dengan Ega terus Lika yang diam-diam mengatur pertemuanku dengannya di Kamar Hotel," sahut Keynand mengawali ceritanya kembali. Dia terdiam sejenak mengingat pertemuannya dengan Wanita yang pada akhirnya menjadi Isterinya dan kini telah meninggalkannya untuk selamanya.
"Terus?" tanya Reynand tidak bisa lagi menyembunyikan rasa ingin tahunya.
Keynand menceritakan perjuangannya menaklukkan hati Mega dan meyakinkan hati Wanita itu. Tidak itu juga, dia harus mendapatkan restu dari orang tuanya. Ternyata tidak mudah mendapatkan restu dari kedua orang tua Mega. Dia harus melewati beberapa persyaratan yang diajukan mereka.
Saat itu!
"Apa benar kamu serius ingin menikahi Putri kami?" tanya Ayah kandung dari Mega.
Keynand menganggukkan kepalanya memberikan jawaban pasti. Tidak hanya menganggukkan Kepala, dia juga berucap dengan tegas.
"Nggih Abi."
"Bagaimana dengan buang hajat kecil Nak Keynand? apa berdiri, duduk atau jongkok?" tanya Pria paruh baya itu serius.
"Hah?"
__ADS_1
Keynand terkejut, tidak menyangka dia mendapatkan pertanyaan yang sangat sepele. Keynand tidak menjawab karena tidak tahu harus menjawab apa. Mungkin saja jawaban yang akan di utarakan ternyata meleset. Bukankah pada umumnya, Laki-laki akan melakukan aktivitas itu dengan berdiri.
"Rupanya kamu tidak memahami adap itu, benar, kan?"
Keynand mengangguk, dia lebih baik jujur dari pada berbohong. Jika dia berbohong maka orang tua dari Gadis yang di cintainya akan meminta menjelaskan apa yang diketahui tentang hal yang ditanyakannya.
Pria itu menghela nafas panjang lalu menghembuskan perlahan. Dia terlihat menggelengkan kepalanya.
Jantung Keynand berdegub kencang. Dia tahu, ekspresi yang diperlihatkan olah Calon Mertuanya menandakan Laki-laki di hadapannya tidak layak meminang Putrinya.
"Apa kamu tahu doa Malam Pengantin?" tanyanya kemudian memecahkan keheningan.
Secara spontan Keynand menggelengkan Kepala. Memang dia tidak tahu hal itu, jadi untuk apa ditutupi.
"Anak muda, agama telah mengatur bagaimana adap dan cara berhubungan Suami Isteri bagi yang halal. Bukan dilakukan seperti pasangan yang bebas tanpa ikatan pernikahan yang suci. Apa kamu mau, saat menikmati kebersamaanmu dengan Isteri terus Setan juga ikut menikmatinya, mau itu?"
Keynand terlonjak kaget mendengarkan suara Calon Mertuanya itu yang terdengar tegas dan keras melengking.
"Terakhir, apa mengerti adab dan tata cara mensucikan diri setelah kalian berhubungan Suami Isteri?" tanyanya kembali.
Keynand terdiam, dia merasa semakin bodoh di hadapan Pria Paruh Baya yang diinginkannya menjadi Ayah Mertua. Dia merasa gelar yang diraihnya di luar Negeri tidak perguna sama sekali. Dia lulusan terbaik dari salah satu Universitas terbaik. Nyatanya, pendidikannya itu tak bisa menyelamatkannya dari pertanyaan Calon Mertuanya. Memang, dia tidak mempelajari jawaban dari pertanyaan yang terdengar sepele. Namun seharusnya dia mengetahuinya sebagai menganut agama Islam.
Thaharah, wajib diketahui dan dijalankan. Karena itu hal penting agar ibadah-ibadah kita diterima oleh Tuhan. Itu mutlak harus di kerjakan sebagai syarat sah agar segala ibadah kita diterima.
"Iqro dan belajarlah! setelah memahami dan mampu menjalankannya baru kembali lagi meminang Putri kami," ucap Ayah Kandung Mega dengan tegas.
Keynand terdiam berusaha menetramkan hatinya yang masih bergemuruh. Dia melihat Ega yang tertunduk, Gadis itu mengangguk sembari membentuk senyum manis memberikannya semangat.
"Apa anda sanggup Keynand Putra Ardiaz?"
"Nggih!"
Keynand buru-buru menjawab dibarengi kepala yang mengangguk tanda menyanggupi.
Setelah ketegangan berangsur hilang, Keynand berpamitan dan dia berjanji akan kembali meminang Ega saat dia sudah mengetahui tiga hal yang ditanyakan Calon Mertuanya. Tidak itu juga, dia bertekad akan bersungguh-sungguh belajar agama agar bisa menjalankan Ibadah dengan baik sesuai yang diajarkan Rasulullah.
"Abang, aku tunggu."
Plashback End
***
"Hahahaha."
Reynand tertawa mendengarkan cerita itu. Dia membayangkan ketegangan yang dirasakan Keynand saat di sidang oleh Calon Mertua di hadapan Gadis pujaan hati. Tentu ada rasa malu menyelimuti.
"Ketawa terus, sepertinya senang mendengarkan penderitaanku saat itu," ucap Keynand kesal.
"Tidak apa, buktinya sekarang kamu bahagia hidup di jalan agama," ucap Reynand setelah dia meredakan tawanya.
"Iya, Alhamdulillah, setelah malam itu aku langsung mencurahkan isi hati kepada Mamiq. Beliau yang menenangkan kegundahanku dan merangkul tubuh hina ini dengan kasih sayangnya. Keluarga Lika yang mengajariku agama. Mamiq, Adly, Riski dan Rasya berbagi ilmu yang mereka miliki. Tidak pernah merasa diri mereka paling baik. Mereka selalu mengatakan belajar bersama-sama dengan membuka Alquran, Hadist dan mempelajari Pendapat Para Imam besar. Mereka tahu tapi tetap kembali ke Alquran dan hadist sebagai pedoman hidup."
"Iya, bersyukurnya kita bertemu dengan mereka. Kalau tidak, mungkin saja kita masih tersesat," sahut Reynand dengan wajah berseri-seri.
"Abang benar," ucap Keynand singkat.
"Meskipun beberapa tahun aku bersama Ega, tapi aku sangat menikmati kebersamaanku dengannya. Sangat bahagia dan tentram."
Keynand terdiam setelah berkata. Dia tenggelam dalam ingatannya bersama Sang Isteri.
"Jika saja aku tidak memahami hakikat hidup ini untuk apa. Mungkin saja saat itu aku akan menyalahkan Tuhan karena telah mengambil Wanita yang aku cintai. Sedih dan kehilangan itu pasti aku alami tapi setelah sadar, aku mengikhlaskannya karena memang kita akan kembali juga, itu sangat pasti terjadi." Keynand melanjutkan ceritanya. Dia tersenyum, dari senyumnya menunjukkan ketegarannya.
"Setelah kamu mengetahui jawabannya, apa yang terjadi?"
"Aku melamar kembali dengan membawa seluruh keluarga dan keluarga Lika. Abi kembali menanyakan tiga perkara itu dan aku menjawabnya dengan baik. Pada akhirnya Abi menerima dengan syarat aku harus bisa mengupas Kelapa dengan baik dan utuh." Keynand menjawab pertanyaan Reynand dengan menjelaskan syarat selanjutnya.
Duda tampan itu tertawa terpingkal-pingkal jika mengingat itu semua. Itu pengalaman terlucu yang pernah dialaminya.
Reynand yang mendengarkan cerita adiknya ikut tertawa membayangkan rupa Keynand memegang parang untuk pertama kalinya. Seperti dirinya yang pertama kalinya memegang Sabit. Saat itu Lika memintanya untuk membersihkan tanaman. Alhasil bukan rumputnya yang dibersihkan tapi tanamannya ikut serta dibersihkan.
hahahahaha
__ADS_1
Bersambung.