
Dek, apa kamu baik-baik saja?"
Rizqia mendongakkan wajahnya menatap mata jernih milik Pria di sampingnya cukup lama lalu menganggukkan kepala. Setelah menjawab dia kembali merebahkan kepala pada bahu lebar milik laki-laki itu.
"Yakin?"
"Kok enggak percaya banget sama Gadis cantik ini," sahut Rizqia narsis.
"Mengelaklah, tapi mata tidak sanggup untuk berbohong. Dia ingin mengatakan sesuatu."
Rizqia terdiam, dia tidak ingin membahas tentang apapun. Inginnya saat ini hanyalah bersandar pada bahu Kakaknya. Rasanya nyaman dan aman. Jika sudah berada di sampingnya, tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi.
"Memang tidak ada Kak. Qia hanya ingin merebahkan Kepala ini pada bahu Kakak. Karena pada bahu Kakaklah tempat yang ampuh melepaskan segala beban dan penatnya rutinitas sehari-hari," sahut Rizqia berusaha mengelak.
"Jadi cuma itu doang? rupanya adikku ini hanya memanfaatkan Kakaknya saja."
Rizqia mengangkat Kepala dan kemudian melihat wajah Kakaknya yang cemberut. Dia tertawa lepas menyaksikan kelucuan raut wajahnya. Hanya di samping Kakaknya keriangan itu ada. Dia bebas mengekspresikan dirinya.
"Apa gunanya punya Kakak Ganteng, terus Kakak ipar juga enggak keberatan kok," ucap Qia dengan senyum jahilnya. Dia kembali merebahkan Kepala pada bahu kekar itu.
Laki-laki itu tak menanggapi, hanya senyum yang tersungging pada bibirnya berwarna merah itu. Sementara tangannya dengan lembut mengelus pucuk Kepala Gadis di sampingnya.
"Dek, apa karena Keynand hingga membuat kamu tidak seperti biasanya." Sang Kakak berucap setelah kebisuan cukup lama terjadi. Dia penasaran dengan wajah muram adiknya. Meskipun Rizqia menyangkal itu, tapi Sang Kakak bisa membaca suasana hati Gadis ini dengan sangat baik.
"Qia baik-baik saja, Kak! Sueeeer, deh!"
"Oloh, oloh sama Kakaknya juga main rahasia-rahasiaan segala, wong melow gitu?"
"Gitu ya, kak? Kok Qia enggak tahu and enggak ngerasa juga. Kakak kali yang ngarang atau jangan-jangan pingin lihat saya melow. Ih jahat banget Kakak ini," cerocos Rizqia panjang lebar tak berjeda. Setelah lelah baru mengakhiri kata-katanya. Dia mengatur nafasnya agar kelegaan itu dia rasakan kembali.
"Kebiasaan, kalau udah ngomong enggak ingin berhenti. Terus pakai nuduh kakaknya segala. Emang ya enggak punya peri kemanusiaan dan peri keadilan," ucap Sang kakak memperdengarkan kesewotannya.
__ADS_1
Hahahahaha
Rizqia tertawa lepas, dia tidak menahan dirinya untuk menjaga sikap.
"Maaf, Qia senang melihat Kak Rizqy sewot," ucapnya setelah lelah terkekeh.
"Baiklah, berhenti ketawanya. Kakak ingin berbicara serius."
Rizqia menghentikan tawanya, kemudian dengan mimik serius dia menyetujui apa mau Kakaknya itu. Dia bertingkah seperti anak penurut.
"Kak Rizqy serem ah, atuuuuut." Rizqia kembali terkekeh setelah berhasil menjebak Kakaknya.
Platak
Sang Kakak pada akhirnya menjinakkan Gadis itu dengan menjitak kepalanya membuat Rizqia seketika mengaduh. Riak wajah yang tadi cerah dengan tawanya, kini terlihat meringis menahan rasa sakit.
"Apa yang di lakukan oleh Keynand? Apa dia menyakiti kamu?" Sang Kakak memberondong Rizqia dengan pertanyaan pamungkas langsung ke intinya. Pertanyaan itu membuat Rizqia menelan rasa pahit di tenggorokan. Jika berintonasi datar dan penuh penekanan mengisyaratkan Kakaknya itu tidak lagi ingin di ajak becanda.
"Pak Keynand tidak melakukan apa-apa. Dia juga tidak pernah menyakiti Qia" jawab Rizqia pada akhirnya ikut serius.
"Iya Kak, tapi Qia menolaknya," jawab Rizqia datar.
"Syukurlah kamu menolaknya. Kakak tidak perlu meminta kamu untuk menolak lamaran Pria itu. Qia mengambil keputusan yang tepat." Sang Kakak lega meskipun dia sadar ada perubahan yang terjadi pada adiknya. Tersirat dari nada bicara yang terdengar berat meskipun berusaha berbicara seperti biasanya. Ini yang terbaik untuk Rizqia.
"Apa karena Pak Keynand mencintai Kak Bibah sehingga Kak Rizqy tidak memberikan restu? Apa Kak Rizqy sudah tahu kalau Kak Bibah diam-diam di cintai oleh Pak Keynand?"
Pertanyaan itu tidak langsung di jawab oleh Sang Kakak. Rizqy menarik nafas panjang berusaha meredamkan gemuruh di dalam dadanya. Keynand, Pria itu telah merendahkan harga dirinya dan kini secara gampang ingin mendapatkan adik satu-satunya. Rizqy tidak akan membiarkan itu terjadi. Tak peduli bila terkesan egois. Cukup dirinya yang di rendahkan oleh Pria itu, tidak dengan Rizqia.
"Kak?" Panggil Rizqia melihat Kakaknya terdiam.
"Iya, dek."
__ADS_1
"Kakak belum jawab pertanyaan Qia."
"Jadi kamu sudah tahu? Siapa yang memberitahu kamu? Apa Kak Bibah?" tanya Rizqy tidak langsung menjawab.
"Kak Bibah tidak pernah mengatakan itu. Saya pikir Kak Bibah tidak tahu," jawab Rizqia. Ada kegelisahan yang berusaha di sembunyikan. Semoga saja tidak berhasil terbaca oleh Kakaknya. Dia merasa keputusannya telah tepat menolak Keynand. Nelangsa yang di rasakan tatkala tahu Pria yang mendekatinya ternyata mencintai Wanita lain bukan dirinya. Tidak ada cinta untuknya. Dan lebih nelangsa lagi, Wanita itu adalah Wanita yang sangat di cintai oleh Kakaknya. Sesempit ini kah dunia ini? Sehingga berada dalam lingkaran yang sama dengan orang-orang yang di sayangi. Kini ketika tahu sikap Kakaknya, tentu dia tidak akan pernah bersama dengan Pria bernama Keynand itu. Baik di masa sekarang dan di masa depannya nanti.
"Pak Keynand yang menceritakan, awalnya saya ragu kalau Habibah Rosy yang di maksudkannya adalah Kak Bibah. Setelah Kak Rizqy membicarakan ini, ternyata benar Kak Bibah-lah Wanita yang dicintainya," jawab Rizqia pada akhirnya berterus terang.
"Jujur juga dia ternyata," ucap Rizqy singkat.
"Sama saat dia mengakui perasaan cintanya kepada Habibah Rosy tepat di Telinga Kakak," lanjutnya dengan perasaan nanar kala mengingat.
"Jadi, Kakak tahu kalau Pak Keynand mencintai Kak Bibah dari Pak Keynand sendiri? Kak, apa maksudnya? Padahal waktu itu dia sudah tahu kalau Kak Rizqy adalah Suami Kak Bibah. Apa tujuannya coba?" Tanya Rizqia terkejut dengan kenyataan ini.
"Entahlah," ucap Rizqy mengangkat kedua bahunya. Dia tidak memberitahu kebenaran yang sangat menyakitkan itu. Keynand ingin menukar uang miliknya dengan Habibah Rosy. Tentu saja jika Rizqia tahu, pasti Gadis itu akan membencinya hingga ke ubun-ubun.
Rizqia tak puas dengan jawaban singkat dari Kakaknya. Dia mendesak untuk menuturkan apa yang terjadi sebenarnya. Dia tahu Kakaknya menyembunyikan kenyataan yang mungkin saja pahit.
"Terus apa Kak Bibah tahu?"
"Iya, Kakak yang memberitahunya," jawab Rizqy dengan jelas.
"Terus Kak Bibah bilang apa?" Tanya Rizqia memburu Rizqy. Dia penasaran seperti apa reaksi Kakak Iparnya begitu tahu Keynand, Pria incaran kaum hawa ternyata menyukainya.
"Kak Bibah tidak percaya. Dia menganggap itu semua hanyalah sebuah candaan. Mana mungkin juga seorang Keynand menyukainya. Itu hanyalah kedipan mata, yang ada hanya bertahan beberapa detik saja." Rizqy langsung menjawab pertanyaan Rizqia. Dia menerangkan seperti apa Habibah Rosy menanggapi khabar itu.
Rizqia bernafas lega. Hanya Rizqy-lah satu-satunya Laki-laki yang di cintai oleh Habibah Rosy. Tidak berpaling sama sekali kepada Laki-laki lain meskipun Laki-laki lain itu lebih segalanya dari Kakaknya itu. Tidak sama sekali tergoda, padahal Keynand lebih menawan dari pada seorang Rizqy Anggara. Kesetiaan itu, dia pegang dengan sangat eratnya.
Gadis berparas mawar itu terdiam setelah tahu seperti apa hati Kakak Iparnya itu. Sangat tulus mencintai Kakaknya, hanya untuk Rizqy. Ah betapa beruntungnya dia memiliki Kakak Ipar sebaik Habibah Rosy.
Tak ada pertanyaan lagi yang di lontarkan oleh Rizqia. Pada akhirnya mereka berdua larut dalam pikiran masing-masing. Tak sadar malam kian larut, namun sepasang Kakak-adik itu masih betah terjaga.
__ADS_1
"Apa sebenarnya Qia sudah mulai menyukai, Keynand?" tanya Rizqy mengusir keheningan yang lumayan lama menguasai.
Bersambung.