Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
Chapter 59


__ADS_3

"Persiapkan diri anda, banyak tugas yang menanti disana."


Seiring kata terakhir, seketika itu terdengar Pintu di ketuk. Keynand mempersilahkan tamunya untuk masuk. Dari balik Pintu muncul dua sosok berpakaian serba hitam dengan tubuh tinggi kekar.


"Bawa Gadis ini ke Bangko-bangko dan pastikan dia mengakui segala kejahatannya," ucap Keynand dengan nada dingin.


"Siap."


Sang Sekretaris terkejut dengan dampak pilihan yang diambilnya. Dia mengira pilihannya itu menandakan bahwa Keynand mempercayainya. Namun ternyata itu sebuah jebakan untuk menghukumnya.


"Ma-maksud Pak Keynand apa? bukannya saya disana ditugaskan hendak meninjau resort yang baru di bangun?" tanya Sang Sekretaris.


Dia mengira seperti itu, karena Keynand pernah memerintahnya untuk meninjau pembangunan Resort di sana sehingga dengan yakin memilih Bangko-bangko. Kedua-duanya ternyata sebuah hukuman.


"Iya, sekalian bonus yang harus kamu dapatkan," sahut Keynand. Ada senyum dia tampilkan melihat Gadis di hadapannya kebingungan.


"Seret dia, jangan biarkan dia lepas apalagi sekarang statusnya menjadi tersangka dan tahanan Hotel Ardiaz. Tugasnya disana untuk menerima hukuman karena telah berani bermain-main dengan saya." Keynand mengarahkan perintahnya kepada kedua orang Pria yang merupakan orang suruhan.


Keduanya mengucapkan siap dan mengangguk. Kemudian dengan kasar menyeret Gadis itu.


"Pak Keynand saya tidak bersalah. Seharusnya anda mempercayai Pegawai sendiri bukannya malah menempatkannya pada kesalahan yang tidak pernah dilakukannya."


Sang Sekretaris meracau sehingga menjadi pusat perhatian para Pegawai.


"Apa yang terjadi?" Pertanyaan itu terdengar dari para Pegawai. Mereka menyaksikan Sekretaris Pak Keynand di bawa oleh dua orang Pria yang terlihat sangat sangar.


"Diam." Bentak salah satunya membuat nyali Gadis itu menciut.


Adly yang kebetulan ada di Gedung itu terpaku sejenak. Tidak menyangka Keynand bisa setega ini dalam menghukum Pegawainya yang bersalah. Memang seperti itu yang harus di terima sebelum diserahkan ke pihak berwajib.


Setelah tiga orang itu hilang dari pandangan mata, barulah para Pegawai kembali ke pekerjaan masing-masing. Mereka tidak berniat mencari tahu, karena sudah dipastikan Rekan kerja mereka itu terbukti melakukan kesalahan. Tidak ingin menempatkan diri dalam masalah, mereka memilih diam meskipun tanya itu ada dibenak masing-masing.


Pun begitu juga Adly, dia melangkah menuju ruang kerja Keynand. Setelah dipersilahkan oleh Pemilik ruangan baru Adly membuka Pintu dengan diiringi salam.


"Wa'alaikumussalam, Eh ada Adly. Silahkan duduk Master Chef Adly Pradipta," ucap Keynand sembari tersenyum cerah.


"Pak Bos ini, formal banget kata-katanya," sahut Adly diakhiri kekehan. Dia lantas duduk pada Sofa yang diperuntukkan untuk tamu.


Sang Direktur menyusul mendudukkan diri pada Sofa yang berada di hadapan Adly.


"Untuk apa?" tanya Keynand singkat.


"Untuk melengkapi bukti-bukti," jawab Adly jelas.


"Cerdas, kalian memang anggota Tim Pagah yang sangat berani dan bisa di andalkan. Sampaikan terima kasih kepada Bang Rudi dan Nyonya Maemunah," ucap Keynand serius.


"Iya Insyaa Allah."


"Beserta bonus tentunya." Keynand melanjutkan ucapannya.


"Pak Bos ini, enggak perlulah. Kita keluarga jadi sudah sepatutnya membantu salah satu keluarga yang tertimpa masalah," ucap Adly menolak.


Keynand mengangguk, dia bukan orang yang tidak tahu bagaimana cara berterima kasih kepada orang yang telah menolongnya. Tetap dia akan membalas kebaikan mereka dengan ucapan terima kasih dan bantuan.

__ADS_1


"Oh ya, ternyata Pak Bos tega juga. Saya tidak bisa membayangkan betapa ngeri hukuman yang akan di terima oleh Tina, Sang Sekretaris cantik."


Keynand menanggapi perkataan Adly dengan hanya menyunggingkan senyum. Tidak akan ada yang menyangka jika Keynand bisa memberikan hukuman yang sangat menyakitkan bagi mereka yang terbukti bersalah. Mereka beranggapan Direkturnya itu orangnya tidak tegaan. Mengingat betapa baik, ramah, humoris dan jenakanya dia.


Berbeda dengan Reynand yang dingin, kasar dan temperamental. Meskipun pemarah tapi amarahnya hanya sesaat setelahnya dia tidak akan ingat. Reynand sedikit memiliki toleransi, dia langsung menjebloskan orang yang bersalah ke Penjara dan tak membuang waktunya untuk menghukum melalui anak buahnya.


"Gadis itu pantas mendapatkannya."


"Iya, saya mengerti. Pak Bos berhak untuk melakukan itu," ucap Adly. Dia tidak ingin melanjutkan pembicaraan yang berhubungan dengan Sang Sekretaris. Adly lebih memilih menyerahkan dokumen yang sudah di scan melalui Handphone.


"Saya sudah mengirim ke Aplikasi hijau," lanjutnya setelah melihat file itu telah terkirim.


"Terima kasih."


"Oh ya Pak Bos, siang ini saya izin mau ke Mentaram. Saya hendak mengecek kondisi Mobil yang ditawarkan melalui jual beli online." Adly berucap. Dia meminta izin setelah tidak ada lagi pembicaraan seputar bukti yang diinginkan Keynand.


"Kamu mau beli Mobil?" tanya Keynand.


"Iya, rencananya seperti itu. Ada Mobil sport yang ditawarkan di medsos. Terlihat masih baru dan lengkap surat-suratnya. Pemiliknya sangat butuh dana sehingga menjual Mobilnya." Adly bercerita perihal Mobil yang hendak diperiksa kondisinya. Namun hingga saat ini Pemiliknya tidak bisa dihubungi membuat Adly berinisiatif mendatangi alamat yang sudah dikirim melalui inbox.


"Kenapa tidak beli baru, takutnya orang tersebut Penipu," ucap Keynand menyarankan. Mengetahui Orang yang menawarkan Mobilnya itu tidak bisa dihubungi membuat Keynand khawatir kalau dia penipu.


"Tidak mungkin Pak Rizqy seorang Penipu. Dia ASN dan berdinas di Provinsi. Lagipula saya tidak memiliki dana cukup untuk membeli Mobil baru. Ini saja masih kurang dari yang di minta sehingga berniat untuk menawarnya. Jika Pak Rizqy mau melepaskan Mobilnya dengan dana yang saya punya, syukur Alhamdulillah," ucap Adly menjelaskan.


"Rizqy?" tanya Keynand terkejut.


"Iya namanya Rizqy. Pak Bos kenapa? kok kagetan," tanya Adly penasaran.


"Tidak ada apa-apa, boleh saya lihat gambar Mobilnya," Pinta Keynand.


Keynand melihat fhoto Mobil itu dan memperhatikan Platnya. Dia ingat plat Mobil Rizqy, bersamaan itu pula rasa bersalah dan menyesalnya meliputi hati membuatnya sesak.


"Rizqy pasti memjual Mobilnya untuk menyelamatkan Perusahaan EOnya. Ternyata dia rela mengorbankan segala aset yang dia miliki daripada mengorbankan Habibah dan Pegawai yang bergantung kepadanya. Saya memang kalah telak darinya." Keynand membatin dalam sesalnya.


"Beli Mobil ini berapapun yang ditawarkannya. Saya yang akan membayarnya atas nama Kamu," ucap Keynand kemudian setelah tahu siapa Pemilik Mobil yang hendak di datangi oleh Adly.


"Serius Pak Bos?" tanya Adly tak percaya.


"Saya kenal Rizqy, dia teman Mega. Mobilnya juga dalam kondisi baik jadi kamu tidak perlu memeriksanya. Minta nomor rekeningnya dan detik ini saya langsung membayarnya," jawab Keynand tegas.


"Secepat itu?" tanya Adly terkejut.


Adly lantas menghubungi nomor yang diberikan oleh Rizqy. Berharap kali ini ada orang yang mengangkatnya. Beberapa menit menunggu terdengar seseorang Wanita yang mengangkatnya.


("Dengan Pak Rizqy, Pemilik Mobil yang menawarkan Mobilnya melalui jual beli Online?")


("Benar, saya Isterinya. Maaf dengan siapa saya berbicara.")


("Saya Adly. Jadi, saya sekarang sedang berbicara dengan Isteri Pak Rizqy?")


Mendengar Adly menyebut nama Isteri membuat Keynand meminta panggilan itu di Speaker.


("Iya.")

__ADS_1


("Bisa berbicara dengan Pak Rizqy, saya berminat dengan Mobil yang ditawarkannya.")


("Mohon maaf, Suami saya lagi dirawat dan belum sadarkan diri. Beliau terkena musibah semalam.")


Jawaban dari Habibah yang terdengar sedih membuat Keynand terkejut. Adly dan Keynand saling pandang dengan penuh tanya.


Keynand mengarahkan kepada Adly untuk membeli Mobil itu dengan harga yang ditawarkan oleh Rizqy dan langsung membayarnya hari ini juga. Mengenai Mobil itu kapan diambilnya, Adly akan menunggu hingga Rizqy sadar dan sembuh dari sakitnya.


Habibah setuju, karena Rizqy sudah memberi pesan kepadanya jika ada yang mau membayar dengan harga yang ditawarkan maka dilepaskan tanpa harus melaluinya. Bersamaan itu pula, Habibah memberi nomer Rekening atas nama Rizqy.


Setelah terjadi kesepakatan, Habibah mengakhiri panggilan.


Keynand langsung membayar Mobil tersebut tanpa berpikir apapun.


("Terima kasih, pembayarannya sudah masuk. Insyaa Allah Mobilnya aman di Garasi mobil rumah kami.")


Adly membalasnya dengan ucapan terima kasih dan mendoakan agar Rizqy segera sadar dan sembuh.


"Apa yang terjadi dengan Rizqy? semalam dia baik-baik saja dan sempat menolong saya," guman Keynand lirih. Gumanan itu terdengar oleh Adly yang menghadirkan tanda tanya di Kepala Pria itu.


"Yang namanya musibah tidak akan bisa di tebak kapan terjadi dan juga tidak bisa dihindari. Detik ini kita baik-baik saja detik kemudian bisa saja tertimpa musibah," sahut Adly menanggapi ucapan Keynand.


"Kamu benar."


Setelah tidak adanya pembicaraan, Adly berpamitan hendak melanjutkan pekerjaannya. Berhubung Keynand sudah membayar Mobil yang diinginkannya membuat Adly urung menuju ke Mentaram. Dia kembali ke Kitcen untuk melanjutkan memasak.


Sepeninggalnya Adly, Keynand menatap langit dengan perasaan gelisah. Ada rasa syukur karena dia selamat dan dalam kondisi sehat. Di sisi yang berbeda ada rasa khawatir dan cemas tatkala mendengar khabar bahwa orang yang menolongnya sedang dalam keadaan tak sadarkan diri. Dia lantas mengangkat tangan sembari mengucapkan doa agar Rizqy baik-baik saja.


Selesai memohon, Keynand mengambil gawainya. Dia hendak mencari berita penting hari ini. Matanya langsung membeliak membaca judul sebuah berita.


(Semalam, Oknum Pejabat dan Oknum Pengusaha Tertangkap tangan dengan kasus Penyuapan dan penggelapan dana salah satu Proyek Pemerintah. Lebih lanjut, terjadi perlawanan dari Pelaku yang menyebabkan salah satu Tim yang bertugas tertembak)


Keynand membaca dengan perasaan kesal kepada Pelaku. Pada bulan suci ini, masih sempat-sempatnya melakukan kejahatan. Apa mungkin karena itu sehingga mereka melakukannya. Tentu saja tidak ada yang curiga karena orang-orang sibuk beribadah membuat mereka bebas berbuat.


Namun mereka lupa, Tuhan selalu mengawasi dan melihat segala perbuatan Manusia. Perbuatan sejahat apapun pasti akan diketahui oleh Polisi karena Tuhan mengarahkan dan memberi petunjuk di mana keberadaan kejahatan itu terjadi.


Keynand kembali terkejut melihat orang yang tertembak itu menggunakan Jaket dan Topi yang sama yang digunakan oleh Rizqy.


"Tidak mungkin orang yang tertembak ini Rizqy?" Keynand bertanya-tanya. Dia memperhatikan fhoto itu secara seksama. Memperhatikan Pakaian yang digunakannya sama persis dengan pakaian yang digunakan oleh Rizqy semalam.


"Bisa jadi orang yang tertembak ini adalah Rizqy. Tadi Habibah mengatakan kalau Suaminya belum sadarkan diri. Kenapa bisa bersamaan? anehnya, kenapa Rizqy juga ikut dalam OTT itu? siapa sebenarnya dia?"


Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan di Otak Keynand membuat kerja Otak itu terasa berat. Untuk meringankan bebannya Keynand harus mendapatkan jawabannya.


Dia segera menghubungi Rudi dan memastikan khabar tersebut. Dari arah seberang sana Rudi membenarkan berita tersebut. Namun dia tidak bisa memberikan informasi siapa yang tertembak itu karena ini menyangkut keselamatannya.


("Bisa jadi dia seorang Intel atau Detektif Pemerintah jika statusnya warga sipil.")


Penjelasan dari Rudi membuat Keynand menyimpulkan bahwa yang tertembak itu adalah Rizqy.


"Pantas saja dia mengetahui banyak hal. Astaghfirullah, mungkin saya salah faham. Selama ini dia tidak sedang berselingkuh melainkan sedang menjalankan misi. Jika dia tidak setia, mana mungkin Habibah sangat percaya dan mencintai Suaminya. Habibah bukan orang bodoh yang harus bertahan bersama Suami penghianat."


Lelah berpikir dan bermonolog, Keynand bangkit dari Kursi kebesarannya. Dia menghubungi Reynand untuk memberitahu bahwa dirinya menuju Mentaram. Tujuan kali ini untuk menjenguk Rizqy dan memastikan bahwa dia baik-baik saja.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2