Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
Chapter 60


__ADS_3

Sementara di rumah Sakit, Habibah dengan setia menemani Rizqy. Dia saat ini tengah membersihkan tubuh Prianya. Dengan telaten dan penuh kehatian dia mengusap wajah dengan Tissu basah sedangkan bagian tubuh lainnya menggunakan handuk bersih dengan air hangat.


Beberapa menit kemudian Habibah telah menyelesaikan tugasnya. Dia bangkit dari duduknya sambil membawa Baskon berisi air hangat.


Wanita itu melangkah menuju Toilet lalu membuang air itu dengan tidak lupa membaca basmalah. Setelahnya dia menaruh alat dan handuk pada Meja yang tersedia disana.


Dia kembali ke sisi Rizqy dengan menggenggam tangan Suaminya.


"Mas, sadarlah," bisik Habibah. Dia menatap wajah Rizqy yang tenang. Dia sangat menikmati tidurnya seakan disana tempat yang sangat indah dan menenangkan.


"Apa Mas telah lelah sehingga belum mau kembali? apa mimpi Mas sangat indah sehingga enggan untuk beranjak dari sana."


Setelah puas berkata, tangannya kini membelai wajah Rizqy yang nampak masih pucat.


Dia menatapnya penuh rindu, berharap Rizqy secepatnya sadar.


Tak henti Habibah mengucapkan doa. Lirih penuh harap dengan air mata tak henti-hentinya mengalir.


Hikz hikz hikz


Terdengar isaknya, dia buru-buru menyeka butiran bening yang sedari tadi terus saja bermunculan. Air mata itu seakan rindu untuk di hapus oleh tangan lembut Pria ini, Rizqy.


"Mas Rizqy, sampai kapan tertidur? apakah tidak pegal? katanya Mas ingin selalu ditemani Isteri sambil mendengar suaranya dan menatap wajah manisnya. Nyatanya Mas bohong, semuanya hanya gombal. Buktinya Mas malah asyik tidur dan tak mau melihat wajah Habibah."


Habibah tak henti-hentinya mengajak Rizqy berbicara. Dengan tak bosan dia mengelus wajah rupawan Suaminya dan sesekali dia mengecup tangannya.


Saat ini dia sangat khawatir, hanya kesadaran dari Rizqy yang membuatnya bisa bernafas dengan baik. Dia merebahkan Kepalanya di atas ranjang. Kepalanya terasa sangat berat karena dari semalam dia tidak memejamkan mata dan sekarang hari sudah menjelang siang. Dengan tetap menggenggam tangan Suami, Habibah tertidur dengan membawa isak tangis dalam lelapnya.


"Apa Mas masih hidup? kenapa ada Bidadari disini?"


Habibah terkesiap begitu mendengar suara mirip dari Rizqy. Dia mengangkat Kepala lalu mendongakkan wajah ke arah wajah Rizqy.


Melihat Rizqy yang tersenyum kepadanya, dengan cepat Habibah menegakkan tubuhnya kembali.


"Mas Rizqy sudah sadar? Alhamdulillah."


Habibah langsung berhamburan memeluk tubuh itu. Terdengar isak tangis kembali menggema.


Rizqy mengelus lembut pucuk Kepalanya dan membiarkan Habibah menangis dalam keharuan. Mungkin dengan menangis dia melepaskan beban yang dipikulnya saat dia tak sadarkan diri.


"Mas tidak apa-apa Habibah, masih sanggup kok naik-naik ke puncak gunung. Sayang sekali tidak bisa sekarang jadi harus nunggu entar malam," ucap Rizqy bercanda diakhir kekehan yang terdengar lemah.

__ADS_1


"Maaaas," pekik Habibah bersemu merah. Dia menjauhkan kepalanya dari tubuh Rizqy.


"Sayangnya kita berada di ruang rawat inap bukan di kamar Hotel. Kalau di kamar Hotel, seru kali ya? Mas bisa peluk kamu seharian," ucap Rizqy selanjutnya. Usai berkata dia mengedipkan matanya menggoda Habibah.


"Mas Rizqy sedang sakit, iya di rumah sakit masak iya di kamar Hotel? Mas Rizqy sedang sakit jangan becanda, deh!" ucap Habibah dengan kesal. Ada kelegaan saat melihat Rizqy membuka mata.


"Emang orang sakit enggak boleh becanda," ucap Rizqy tersenyum. Senyumnya seakan mengelabui kesakitan yang tengah dirasakannya.


"Mas enggak apa-apa?" tanya Habibah merasa khawatir.


"Tidak apa-apa kok!" sahut Rizqy tetap menebarkan senyumnya.


"Itu Mas Rizqy kesakitan."


"Siapa bilang? Mas enggak bilang kok! kalau ada yang bilang jangan percaya buktinya Mas enggak kenapa-kenapa," ucap Rizqy menggerakkan tangan.


"Awwww."


Pekikan itu membuat Habibah terlonjak kaget.


"Mas, hati-hati. Tubuh Mas masih lemah dan baru selesai di Operasi."


Ucapan Habibah membuat Rizqy terdiam. Dia tidak ingin bertingkah lagi karena hanya akan membuat Isterinya itu mengkhawatirkannya.


"Oh ya? udah lama ya Mas tidurnya? berarti Shalat Subuh kelewat, dong?" Rizqy bertanya selanjutnya. Dia menyapu dinding rumah sakit untuk menemukan Jam. Saat melihat jam dia langsung beristighfar karena ingat belum melaksanakan dua rakaatnya hari ini.


"Bibah, Mas belum Shalat Subuh," ucap Rizqy gelisah.


"Mas lagi sakit dan baru sadarkan diri. Jadi bukan kelalaian Mas pada akhirnya meninggalkan Shalat," ucap Habibah menenangkan Suaminya.


Rizqy tersenyum, dia kemudian meminta bantuan Habibah membantunya bertayamun. Karena dia merasakan tubuhnya amatlah sangat sakit. Tidak memungkinkan untuk melangkah ke arah Toilet. Selesai bertayamun dia tetap melaksanakan Shalat Subuhnya meskipun sudah mau menjelang siang.


Baru saja selesai melaksanakan Shalatnya, Dokter dan seorang Suster datang hendak memeriksa keadaan Rizqy.


"Alhamdulillah, Pak Rizqy sudah sadar. Kita akan memeriksa keadaannya," ucap Dokter. Dia memulai untuk memeriksa keadaan pasien pasca tersadar dari tidur panjangnya.


"Dokter, apa yang terjadi dengan diri saya? Jantung saya mendadak bergemuruh saat melihat Bidadari. Kata orang bunyinya Dag dig dug bahkan ada lagunya itu," ucap Rizqy sambil mengarahkan pandangan ke arah seseorang yang berdiri di depan Toilet.


Dokter yang mendengarkan pengakuan Rizqy mengernyitkan dahinya bingung. Sedangkan Suster muda yang berdiri di samping Ranjang tersenyum malu-malu.


"Jantung saya tidak bermasalah Dokter tapi semenjak munculnya Bidadari di hadapan saya sepertinya saya terkena penyakit jantung. Dokter pasti tidak percaya kalau disini ada Bibadari," ucap Rizqy berterus terang. Dia kembali menyunggingkan senyumnya.

__ADS_1


"Hahahahahaha."


"Suster Mia memang cantik, pantas saja Pak Rizqy menganggapnya Bidadari," ucap Sang Dokter meladeni candaan Rizqy. Rizqy tidak menyangka Dokter yang memeriksanya ternyata humoris dibalik raut yang serius.


Rizqy tersenyum sedangkan Suster Mia tersipu malu mendengarkan pujian itu. Dia amat grogi dan salah tingkah menyebabkan Alat medis yang di pegangnya terjatuh.


"Maaf Dokter," ucap Suster Mia lekas mengambil alat medisnya.


"Memang benar Suster Mia cantik tapi sepertinya Dokter salah faham. Bidadari berdaster yang saya maksud adalah Isteri saya," ucap Rizqy menjelaskan.


Habibah yang masih berdiri mematung demi mendengarkan pembahasan mereka semakin menggelengkan kepala.


Rizqy sukses membuat seorang Gadis yang tadinya terbang karena mengira pujian untuknya tapi kini harus terjatuh dari awang karena kebenaran itu.


Salah dia?


Tidak, terkadang kita terlalu percaya diri mengira pujian seseorang di tujukan kepada kita. Namun kenyataannya untuk orang lain.


"Maaf," ucap Rizqy selanjutnya merasa bersalah melihat perubahan wajah Suster Mia. Sedangkan Sang Dokter menggaruk tengkuknya salah tingkah.


Setidaknya Rizqy dan dirinya sepaham.


"Ah Mas Rizqy ini becanda melulu, deh! katanya sih untuk menghilangkan rasa sakitnya," ucap Habibah mencairkan suasana yang tiba-tiba saja membeku.


Rizqy tersenyum menanggapi perkataan Isterinya. Sedangkan Suster Mia merasa tidak enak hati. Dia berpamitan setelah menyelesaikan tugasnya disusul oleh Dokter yang memeriksa Rizqy.


"Mas Rizqy ini becandanya enggak kira-kira, deh! pasti tadi Mas Rizqy sedang mengolok aku, kan? mana tadi buat Suster Mia berbunga-bunga karena mendapatkan pujian." Habibah melanjutkan kalimatnya membuat Rizqy tersenyum.


"Tidak sayang, Mas berkata jujur kok! kamu adalah Bidadari bagi Mas. Disaat Mas terbaring tak sadarkan diri kamu yang setia menemani Mas. Saat Mas membuka mata pertama kali yang Mas adalah wajah manismu. Rasanya sakit ini menguap begitu saja."


Habibah terharu. Dia kembali menitikkan air mata. Kali ini bukan air mata kesedihan tapi air mata bahagia.


"Jangan menangis sayang. Mas bersyukur bisa melihatmu lagi setelah sempat tak terjaga. Saat peluru itu menembus tubuh ini, terus terang Mas ketakutan bukan karena menolak mati. Kematian itu pasti akan terjadi hanya saja berharap diberi kesempatan untuk membahagiakanmu. Mas merasa belum mampu membahagiakanmu. Mas minta maaf jika sering membuatmu kecewa."


Habibah semakin terharu, dia membiarkan Rizqy menyeka air matanya. Setelah kering wanita itu memeluk tubuh lemah Suaminya dengan erat.


"Terima kasih telah mencintaiku Mas. Dan terima kasih karena mau berjuang untuk sembuh," ucap Habibah lirih.


"Ah betapa mesranya pasangan Suami Isteri itu. Semoga saja kemesraan mereka tak lekang oleh waktu."


Keynand yang sudah sampai dan cukup lama menyaksikan kemesraan itu tersenyum. Dia ikut merasa bahagia meskipun di sudut hatinya masih tersimpan nama Wanita itu.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2