Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
S2.65


__ADS_3

Tak


Tak


Tak


Ketikan menggema di sebuah ruangan yang cukup luas. Di Ruang itu di huni oleh beberapa benda teknologi, Meja dan Kursi sementara dindingnya di hiasi beberapa Kaligrafi.


Evan menatap layar komputernya dengan serius. Ada ketegangan pada wajahnya yang di sertai butiran keringat muncul di dahinya. Padahal di ruang itu terasa dingin bagi mereka yang normal. Tidak dengan dirinya yang berada dalam fokus berusaha memecahkan apa yang terjadi dengan data-data yang di kirimkan oleh Rizqy.


"Rupanya kita mulai di serang," ucap Evan sembari mendengus kesal. Dia memijit batang hidungnya dengan pelan untuk merilekkan ketegangan.


"Minum dulu Kak."


Amanda Sang Isteri menyodorkan segelas Kopi yang baru saja di buatnya.


"Terima kasih yangk, Love love sekebon dah!"


Evan meraih Kopi yang di sodorkan oleh Sang Isteri lalu menyeruputnya dengan pelan. Lelaki itu terlihat menikmati Kopinya sedangkan Amanda memijit bahu Evan untuk mengurangi pegal-pegal yang dirasakan Suaminya.


"Apa bukti-bukti yang dikirimkan Abang Rizqy bisa di selamatkan?" tanya Amanda.


"Insyaa Allah akan aku usahakan meskipun virusnya sepertinya telah melahap habis data-data itu. Sejujurnya aku frustasi, dek! Kemampuan yang aku miliki rasanya tidak berguna, otak ini sudah buntu." Evan menjawab dengan menghela nafas panjang, lelah.


"Semangat Kak, pasti ada celah dan semoga saja virus itu bisa dimusnahkan dan datanya bisa diselamatkan."


Usai berkata Amanda memeluk erat tubuh Sang Suami. Sejenak Evan melupakan masalahnya. Sepasang Suami Isteri itu saling bersentuhan dan melupakan sejenak beban yang saat ini sedang menyambanginya.


Saat kemesraan itu tercipta di luaran sana terdengar suara orang mengobrol lalu salam terucap.


Evan yang sedang menikmati sentuhan Sang Isteri terpaksa menyudahi. Dia melepaskan diri dari kemesraan itu, lalu dengan cepat mengelus bibir ranum berwarna mawar Pink itu dengan jempolnya.


"Sepertinya ada tamu kita, sebentar Amanda akan melihatnya," ucap Amanda bergegas melepaskan diri dari tangan kekar Sang Suami yang mengungkung tubuhnya.


"Tamu kita kali ini tidak sopan. Mereka telah menghentikan langkah ini menjelajah lebih jauh, menyebalkan."


Amanda tidak mendengarkan ocehan lebih lanjut Evan yang terlihat sangat kesal. Wanita itu lebih memilih menyambut tamu.


Ceklek


Pintu terbuka dan di sana terlihat enam pasang mata menatapnya dengan penuh arti.


"Lama bener, kira-kira mereka sedang ngapain ya?"


Fiza, Isteri dari Rian langsung berkomentar dengan penuh selidik.


"Palingan si Evan sedang ngintip-ngintip cewek **** di kamar mandi. Kita sudah hafal dengan hoby Evan yang berlama-lama di kamar mandi dengan Handphone yang tak pernah lepas dari tangan. Kapan Handphone itu jemplung ke Kloset biar kapok," sahut Rian panjang lebar sehati dengan Sang Isteri yang kompak mengatai temannya.

__ADS_1


"Para Lelaki sama saja, kalau sudah megang Handphone mendadak menjadi tuli semua. Uda Lexi juga gitu! Kalau udah main Game serasa bujang tidak punya Isteri."


Lily tidak kalah menimpali dengan raut tidak enak di pandang mata tapi sangat menggemaskan di mata Lexi. Lelaki itu salah tingkah, tangannya secara replek menggaruk Kepalanya yang tak gatal. Sedetik kemudian dia menampilkan senyum jenakanya.


"Abang Jun, lihatlah para Suami yang diomeli oleh Isterinya, duh kecian banget. Untung kita ya? Bebas hambatan tidak ada yang kesel, sebel dan ngomel-ngomel dengan apa yang kita lakuin, bebas dong!"


Suara Dipta menggema menghadirkan cebikan di bibir Lexi dan Rian. Juna hanya menampilkan gaya cool seakan tidak sepaham dengan Dipta takut mendapatkan hujatan dari dua Lelaki yang siap menyerangnya. Lihat saja sorot mata keduanya bikin dirinya semakin salah tingkah tak bertepi.


"Di situlah seninya. Kamu belum tahu rasanya di sayang. Omelan itu tanda cinta kali! Kalau tiba-tiba tidak ngomel malah saya jadi takut, itu artinya dia sudah tidak peduli lagi. Bahaya!" Lexi menyahuti dan dianggukkan oleh Rian yang setuju dengan pernyataan itu.


"Betul, tapi jangan sampai kita kelewatan aja yang membuat omelan berubah jadi amarah." Rian menambahkan.


"Apakah kita akan tetap berdebat di depan Pintu rumah orang? Rasanya tidak sopan banget." Juna mengingatkan mereka. Lelaki itu terbiasa menengahi perdebatan sehingga dengan cepat menyudahi apalagi melihat tanda-tanda para Isteri hendak memperpanjang pembicaraan dengan argumen yang siap di lontarkan. Juna tidak siap mendengarkan itu.


"Oh iya, mari kita masuk."


Amanda Sang Pemilik rumah tersenyum malu. Dia malah asyik mendengarkan pembicaraan tamunya dan lupa mempersilahkan masuk.


"Ada tamu tak di undang rupanya? Rame-rame pula, mau ngapaen sih? Mau berdemo ke sini?"


Evan menyambut tamunya yang berjalan ke arah ruang tamu.


"Asumsi yang salah, kita ke sini mau jadi tim sorak kok! Biar kamu semangat berperangnya," sahut Lexi dengan tenangnya.


"Iya, Abang Reynand juga akan melipir ke sini kok! Seharusnya dia sampai juga, tapi kok enggak nongol-nongol ini. Apa mereka tersesat ya?" Lily ikut menimpali apa yang disampaikan Lexi.


"Abang Reynand?" Tanya Evan penasaran. Mereka kompak mengangguk mengiyakan.


Benar saja setelah di hidupkan beberapa panggilan masuk dari Reynand yang berusaha menghubunginya.


"Tuh kan! Abang Reynand tertahan di gerbang masuk Desa. Saya jemput dulu."


Evan berpamitan lalu dengan cepat menuju garasi mengambil Sepeda motor. Jarak rumah dengan Gapura Desanya lumayan jauh sehingga dia menggunakan Sepeda motornya.


Di sana Reynand yang dibantu oleh Lika berusaha menjelaskan siapa dirinya yang tiba-tiba di datangi oleh pihak keamanan Desa dan beberapa warga yang kebetulan lewat.


"Kami berdua temannya Evan Noor Heriawan, bukan Penjahat," ucap Reynand kembali menjelaskan.


"Tapi kenapa anda memiliki Senpi dan terdeteksi oleh sistem yang terpasang di Gapura ini. Apa anda ingin menyerang Pak Evan? Apa anda seorang *******?" tanya seorang Hansip yang belum percaya kepada Reynand sepenuhnya.


"Saya dan Isteri saya berprofesi sebagai Guru pada sebuah Yayasan Sekolah bernama Putri Mandalika. Memang benar saya memiliki Senpi sebagai Safety saja dan Senjata itu legal, saya memiliki izin kepemilikannya."


Reynand kembali menjelaskan dengan menyodorkan Handphone yang sudah terpampang sebuah surat izin kepemilikan Senjata Api tersebut.


Salah satu mengambil Handphone tersebut, membaca dan meneliti keabsahannya.


"Asli dan namanya sama dengan nama di KTPnya," ucapnya kemudian membenarkannya.

__ADS_1


"Tapi tetap saja kenapa dia membawa Senpi kemana-kemana, apalagi ke Desa ini. Apa tujuannya coba, apa untuk nakutin orang?" seorang Lelaki paruh baya bersuara bertanya dengan lantangnya.


"Apa dia seorang Mafia seperti di novel-novel? Lihatlah Ganteng sekali, bule pula? Aku mau kok di peristeri olehnya." Seorang Gadis berceloteh memandang Reynand dengan tatapan memuja. Lalu senyum genit menggoda terlihat pada bibirnya yang bergincu.


"Nyentet, lihatlah ada Isterinya cantik pula." Sang teman berusaha mengingatkan.


"Apa dia Isterinya? mungil banget tidak serasi dengannya yang menjulang tinggi dan macho. Cocoknya sama aku, iya kan?"


Bisik-bisik terjadi bagi para Gadis dengan menggunakan bahasa Daerah agar tidak di mengerti oleh Reynand dan Lika.


Lika hanya tersenyum menanggapi para Gadis yang mengagumi Sosok Reynand Putra Ardiaz. Reynand terlihat sangat tampan dengan penampilan kasualnya. Tubuhnya dibalutin kaos oblong pas body dan Celana pendek. Tentu saja penampilan itu terlihat sangat keren dengan penampakan bodynya yang berotot, perut sixpack dan tinggi menjulang dengan kulit putihnya yang berkilauan. Sorot mata tajam bernetra hitam membuat para Gadis terpesona lalu terpana seketika. Reynand mengingatkan mereka pada tokoh Anime terkenal yaitu sahabat sekaligus rival dari Tokoh utama bermata Biru, siapa lagi kalau bukan Pemilik mata hitam Sasuki Uciha. Sama-sama pemilik mata hitam dan cool. Lelaki dua anak itu terlihat berkarisma dan mempesona dengan gaya coolnya sehingga membuat Para Gadis tak berkedip.


"Senang ya jadi pusat perhatian para Gadis," ucap Lika berbisik.


"Kagak," jawab Reynand singkat.


Lika tersenyum senang. Dia kemudian mengambil alih dan menjelaskan siapa mereka berdua dan apa tujuannya berkunjung ke Desa Jenever.


Lika berusaha kembali menjelaskan dan kali ini menggunakan bahasa daerah agar kekeluargaan terasa dan hubungan terjalin dengan baik. Tentu dengan tutur kata yang baik, maka mereka akan merasa di hormati. Para Gadis yang tadinya berbisik-bisik terkesiap karena ternyata pasangan Suami Isteri itu mengerti apa yang mereka bicarakan.


"Malunya."


Para Gadis sontak menyembunyikan wajahnya. Ada yang sok cool mengalihkan perhatiannya dan ada pula yang tersenyum kikuh sembari menggaruk Kepalanya yang tak gatal.


Tin


Tin


Tin


Terdengar klakson yang secara langsung mengalihkan perhatian mereka. Kini mereka terpokus pada seseorang yang baru datang. Melihat siapa yang datang menghadirkan kelegaan di hati Reynand dan Lika.


"Assalamu'alaikum."


Suara seseorang terdengar mengucapkan salam mengalihkan perhatian mereka yang berkumpul di Gerbang masuk Desa Jenever. Melihat siapa yang datang secara serempak mereka membalas salam orang tersebut.


"Akhirnya kamu datang Van," ucap Reynand setelah balasan salam juga terucap darinya.


Evan membalas apa yang diucapkan Reynand dengan sebuah anggukan dan senyum ramah. Terlihat uluran tangan Reynand yang di jabat langsung oleh Evan dengan gaya khas bentuk keakraban.


"Bapak-bapak dan Ibu-ibu terima kasih telah menjaga keamanan Desa, tapi kalian jangan khawatir, Abang ini dan Isterinya teman saya dan bukan penjahat. Mereka berdua datang ke sini hendak membicarakan bisnis yang tentu saja menguntungkan Desa ini. Bukannya kita hendak membuat taman bermain, iya kan? Nah kebetulan sekali Abang ini seorang kontraktor. Kita bisa memanfaatkan keahliannya dan para Ibu juga bisa memanfaatkan keahlian Isterinya, selain Guru mbak Lika juga seorang Desainer."


Evan menjelaskan panjang lebar dan memanfaatkan situasi ini untuk bisa bekerja sama dengan Reynand. Evan tahu Reynand mempunyai Perusahaan di bidang konstruksi yang di namakan Umar Karya dan dipercayakan kepada orang lain yang mengelolanya.


"Kamu sungguh hebat Evan menyelam sembari minum air, nanti kita bicarakan hal itu setelah masalah Keynand bisa kita tuntaskan. Gratis pula, tidak usah bayar jasa saya," sahut Reynand menanggapi keinginan terselubung Evan.


"Pernyataan ini yang saya inginkan," ucap Evan merasa senang. Dia membubarkan warganya tidak lupa mereka saling meminta maaf atas kesalah fahaman yang mustinya tidak perlu terjadi.

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2