Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
S2. 44


__ADS_3

"Dengar baik-baik Keynand. Aku ingin Yayasan Putri Mandalika, Rumah di Kota Raya dan saham sebesar 50 % milik Hotel Ardiaz dan rumah sakit Ardiaz kamu serahkan atas namaku, Julaekha Syarifah. Saya rasa itu cukup mengobati rasa perih di pipi dan bibir ini akibat tamparan keras kamu, jika kamu berikan apa yang aku minta, maka aku setuju bercerai dengan kamu," ucap Julaekha dengan jelas dan tegas.


"Apa?"


"Kamu gila Julaekha!"


Semua yang mendengarkannya terkejut dengan segala keinginan Julaekha yang mana mungkin Keynand akan penuhi.


"Itu syaratnya, kalau kamu tidak sanggup berarti selamanya aku akan menjadi Isteri kamu, Keynand. Keputusan ada pada kamu dan aku memberikan kesempatan kepada kalian untuk merembukkannya. Bukankah aku sangat baik?" sahut Julaekha tersenyum jumawa melihat wajah-wajah yang syock. Inilah yang diinginkannya.


"Lalu bagaimana dengan Kak Alisa yang mbak tampar dan Mommy yang mbak seret. Karena perbuatan mbak itu hampir saja mencelakakan Mommy, lantas bagaimana mbak akan mempertanggung jawabkannya?" ucap Lika angkat bicara. Dia tidak tahan dengan keinginan Julaekha yang termasuk berada di luar logika. Apa dia ingin merampok keluarga Ardiaz? Geramnya di dalam hati.


"Wow, seorang Menantu berani bersuara. Kenapa kamu yang sibuk menyalahkan aku sementara Mommy dan Alisa saja tidak mempermasalahkannya. Sebaiknya kamu jangan ikut campur Lika. Tidak ada yang meminta pendapat kamu di sini," sahut Julaekha sembari memperlihatkan senyum sinisnya. Suaranya begitu nyaring membuat yang mendengarkannya tersentak kaget. Marisa sampai mengelus dada dan beristigfar tak kuasa mendengarkan suara mantan Menantunya yang kelewat percaya diri.


"Jaga bicara kamu Julaekha. Berani-beraninya kamu meninggikan suara di hadapan Isteri saya." Suara Reynand bergemuruh seakan meluapkan kegeraman pada hatinya yang tidak suka dengan perilaku Julaekha kepada Sang Isteri.


Plok plok plok


Julaekha bertepuk tangan meriah, mengalahkan gelak tawa anak-anak yang sedang asyik mengikuti permainan tradisional di halaman belakang.

__ADS_1


"Wow bucin sekali Kakak ipar ku yang tampan ini. Kenapa dulu aku tidak menikahi kamu saja Reynand kalau tahu kamu sebucin ini. Sayang sekali aku malah bertemu dengan Keynand kemudian tertarik dengannya. Oh ya, apa boleh aku di jadikan Isteri kedua jika Keynand tidak sanggup memenuhi syarat yang aku ajukan?" lanjutnya dengan nada mengejek. Dia tertawa lebar melihat ekspresi marah yang diperlihatkan oleh Reynand.


"Kamu semakin menarik jika marah, dan aku semakin suka. Dari pada kamu mau-maunya menjadi budak cinta Wanita seperti Lika, mendingan sama aku saja yang jelas-jelas lebih menantang."


Keynand kian jengah, lebih-lebih Reynand yang harus mengeraskan rahangnya sebagai cara menahan kemarahannya, tangannya sudah terkepal erat. Untung saja ada tangan mungil meraih tangan itu lalu menggenggamnya lembut untuk meredam kemarahan Reynand. Kalau tidak, mungkin saja Kepalan tangan itu sudah mendarat di wajah Wanita tidak tahu malu itu.


"Lebih baik kamu tinggalkan rumah ini Julaekha, sebelum kemarahanku membuat kamu menyesal. Tidak ada lagi kepentingan kamu di sini. Dan kamu bukan lagi Isteri Keynand," ucap Reynand kian dingin. Auranya terlihat sangat menakutkan dengan sorot mata tajam mengkuliti Julaekha yang terduduk anggun di hadapannya.


"Penuhi dulu hakku, baru aku dengan suka hati meninggalkan rumah ini," sahut Julaekha dengan angkuh. Dia masih bertahan dengan keanggunannya pada Sofa empuk hasil karya dari Lika itu.


"Saya akan memberikan hak kamu yang semestinya, tapi bukan Yayasan Putri Mandalika, Rumah di Kota Raya dan juga saham Hotel Ardiaz maupun rumah Sakit Ardiaz. Kamu tidak berhak menuntut itu. Kita telah resmi bercerai, apa yang saya ucapkan telah telah mutlak. Itu artinya telah jatuh talak kepada kamu dan tidak ada kata batal dalam perceraian secara agama."


"Julaekha, jika kamu benar-benar Wanita berpendidikan seharusnya tahu bagaimana cara bersikap setelah melakukan kesalahan. Alih-alih meminta maaf kepada Mommy dan Kakak saya, kamu malah sibuk membenarkan segala tindakanmu itu. Kamu benar-benar tidak waras Julaekha," lanjut Keynand terdengar getir. Dia menghela nafasnya yang berat. Terlihat jelas kekecewaan di raut wajahnya, bersama kemarahan, penyesalan dan rasa bersalah yang bersatu padu membentuk gumpalan kemudian menghantam dadanya hingga telak. Dia telah terluka parah.


"Jadi kamu menyalahkan saya? Di mana letak salahnya? Biar aku jelaskan agar kamu memahami Isterimu ini dan juga Lika yang bodoh itu tidak sok-sokan meminta pertanggung jawaban atas apa yang aku lakukan. Dengar baik-baik Keynand, aku reflek melakukannya. Menurutku itu tindakan wajar saat melihat seorang Wanita bermesraan dengan Suamiku, merayu dan menggodanya. Itu hak aku untuk menyingkirkan seorang Pelakor. Aku rasa Kakakmu itu juga akan melakukan hal yang sama saat mendapati Suaminya di goda oleh Pelakor, iya kan? Sekarang di mana letak salahnya? Wajar dong, sebagai Isteri bertindak demikian."


Panjang lebar Julaekha mengutarakan pembelaannya. Dia merasa dirinya benar dan tidak perlu meminta maaf baik kepada Alisa maupun kepada Marisa.


"Terus kalau Mommy kamu, mana aku tahu kalau Wanita paruh baya ini adalah Mommy kandung kamu, tadinya aku pikir dia itu Nenek genit yang sedang mendekati kamu. Iya aku pikir dia seorang penggangu. Sudah semestinya seorang pengganggu harus di amankan, itu yang sedang aku lakukan. Aku tidak salah, dong? Salahkan saja Keynand yang tidak mau memperkenalkan orang tua dan Kakaknya. Jika saja aku tahu, kesalah fahaman ini tidak mungkin terjadi. Aku merasa benar dan wajar melakukannya," Lanjutnya dengan di akhiri dengan senyum angkuh. Dia Julaekha, tidak akan pernah sudi mengakui kesalahan. Baginya setiap tindakan yang dilakukannya adalah benar dan orang-orang yang berhadapan dengannya akan dibuat berada di pihak yang salah. Itulah prinsip yang dia pegang teguh.

__ADS_1


Plaaak


Tanpa mengomentari pembelaan Julaekha yang mengada-ngada itu Alisa menamparnya dengan sekuat tenaga hingga wajah Wanita itu tertoreh ke samping kiri.


"Seperti katamu, saya juga wajar melakukannya. Sekarang tinggalkan rumah ini dan jangan pernah memperlihatkan wajah licik kamu di hadapanku maupun di hadapan anggota keluarga Ardiaz."


Alisa menumpahkan kemarahannya. Dia menunjuk arah Pintu dan meminta Wanita itu meninggalkan rumah Reynand. Alisa bosan mendengarkan kata-kata Julaekha yang terdengar sangat egois dan sedikit pun tidak mengakui kesalahannya, malah dia melimpahkan kepada orang lain penyebab kenapa dia bersikap kasar. Sepertinya akhlaknya berada di titik terendah.


Julaekha tidak bergeming, dia malah menampilkan senyum culasnya.


"Seharusnya kamu yang meninggalkan rumah ini bukan aku," sahutnya penuh percaya diri.


"Sebaiknya kita bergabung dengan anak-anak," ucap Marisa sudah mulai lelah mendengarkan perdebatan yang memusingkan Otaknya.


Mereka semua pada akhirnya melangkah meninggalkan Julaekha yang tidak sama sekali mau meninggalkan rumah Reynand.


"Sebentar lagi akan ada kejutan untukmu, Keynand."


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2