
(Sayang, jangan di matiin callnya ya? Mas mau melantunkan ayat-ayat suci Al-qur'an untuk Calon anak kita)
Rizqy bangun dari rebahannya lalu menaruh Handphone itu pada tempat yang bisa melihat seluruh dirinya. Setelah terlihat oleh Habibah, dia mengambil Al-qur'an lalu mulai melantunkan ayat-ayat suci Alqur'an dengan sangat merdu dan fasih. Habibah yang ada di seberang mendengarkan suara merdu Sang Suami mengaji dengan sangat khusuk. Menyimak dengan seksama, sesekali dia menyeka air mata yang merembes pada kedua sudut matanya karena terharu.
Setelah beberapa jam mengaji, Rizqy mengakhiri bacaan Al-qur'an dengan mengucapkan rasa syukur. Dia meminta Sang Isteri untuk beristirahat bersama belaian lembut pada Pipi Habibah yang hanya bisa dilakukan melalui layar Handphone.
"Tidur sayang, Anaknya Mamiq jangan rewel di kandungan Inaq ya?"
Rizqy mengucapkan selamat tidur dengan berusaha menahan kerinduan ingin mendekap tubuh Sang Isteri bersama Calon anaknya yang kini telah bersemayam di rahim Habibah.
Habibah tertidur, Rizqy pun ikut masuk ke dalam mimpi bersama Sang Isteri. Mereka berdua memegang rindu masing-masing dalam sunyinya malam ini.
Habibah benar-benar terlelap, dia sangat bahagia malam ini. Akan tetapi tidur nyenyaknya tidak berlangsung lama. Dalam keheningan malam terdengar gedoran Pintu memintanya untuk lekas sadar dari tidurnya. Awalnya Habibah tidak mendengar itu saking nyenyaknya, tapi gedoran itu semakin keras membuatnya tersentak kaget. Dia terpaksa bangun dengan berusaha menahan rasa pening di Kepalanya.
"Astagfirullah, siapa sih malam-malam bertamu, mengganggu tidur orang saja." Habibah menggerutu dengan berusaha menenangkan diri agar kesadarannya benar-benar pulih. Wanita hamil itu mengambil Jilbab instan yang dia letakkan di atas nakas lalu menggunakannya. Dengan perlahan dia berjalan menuju arah pintu dengan menekan pelipisnya untuk mengurangi rasa sakit.
Ceklek
Pintu terbuka dengan lebar. Di depan pintu berdiri tiga orang Pria bertubuh tinggi tegap dan nampak gagah dengan pakaian seragamnya yang berwarna cokelat.
"Selamat malam Bu, maaf mengganggu waktu istirahatnya. Apa benar anda bernama Ibu Habibah Rosy?" tanya salah satu dari mereka dengan sangat sopan.
"Iya saya sendiri, ada apa ya Pak?" tanya Habibah heran dengan kedatangan tiga Polisi yang kini sudah berada di depan kamar Hotel Ardiaz tempat dia menginap.
"Kami dari kepolisian membawa surat penangkapan atas Saudara Ibu Habibah Rosy terkait percobaan pembunuhan terhadap Saudara Keynand Putra Ardiaz. Dan Saudara Reynand Putra Ardiaz sendiri yang melaporkan kasus ini."
"Innalillahi."
Habibah terkejut dengan apa yang dialaminya malam ini. Tidak menyangka Reynand Putra Ardiaz melaporkannya dengan kasus yang tidak dia mengerti. Padahal tidak ada niatan dalam hatinya ingin membunuh Keynand, dia malah ingin menyelamatkan Lelaki itu dengan penawar yang dibuatnya atas petunjuk Rizqy. Apa penawar itu tidak berhasil? sehingga Habibah harus mempertanggung jawabkan hal ini. Habibah pasrah dengan terus saja beristigfar di dalam hati. Habibah mengangguk sembari menyodorkan tangannya untuk di borgol tanpa perlawanan. Saat dia mendongakkan wajah, dia melihat seorang Wanita menatapnya dengan senyum kemenangan. Tanpa membantu, dia malah memprovokasi Petugas yang menjemput Habibah dengan paksa.
"Kamu Bibah, Qia dan Suamimu memang benar-benar sangat licik. Akui saja niat jahat kamu lalu bertobat. Jangan pernah menyangkal sebab Mas Reynand tidak akan pernah mau melepaskanmu hingga mati membusuk di Penjara. Siapa suruh kamu bermain-main denganku, Suamiku, eh maksudnya mantan Suamiku dan calon Suamiku Reynand Putra Ardiaz, ini nih hasilnya penjara. Setelah ini Ayangku Reynand Putra Ardiaz pasti akan memcebloskan adik ipar kesayanganmu itu, setelahnya Suami kamu yang akan di tendang ke Penjara. Mendekamlah kalian semua di sana selama-lamanya. Dengan ini tidak ada lagi yang akan mengganggu kesenanganku bersama ayang Reynand Putra Ardiaz pastinya."
Usai mengolok Habibah, Wanita itu tertawa lebar. Dengan congkaknya dia memerintahkan Polisi itu untuk menyeret Habibah dengan kasar.
Habibah tidak menampakkan rasa takut apalagi wajah memelasnya. Dia tersenyum tipis dengan hati mengucapkan zikir.
"Kak Lekha, tertawalah dulu sekarang, ada saatnya nanti kamu akan menangis darah hingga udara pun tidak sanggup Kak Lekha hirup," batin Habibah dengan senyuman tipisnya.
Julaekha memanas saat melihat senyum Habibah, apalagi melihat raut wajah tenangnya yang tak nampak rasa takut, panik dan juga mengenaskan. Tadinya Julaekha berharap Habibah mengemis padanya agar bersedia menolongnya, alih-alih seperti itu Habibah malah tersenyum dan menerimanya dengan santai.
"Terserahlah yang penting malam ini satu Lalat pengganggu sudah masuk Kerangkeng dan akan membusuk di sana. Selanjutnya Qia, seperti apa nasib Gadis murahan itu akan aku buat sebelum dia menyusul Kakak Iparnya?"
Julaekha sibuk memikirkan langkah selanjutnya. Dia sangat senang bahwa Reynand gerak cepat menangkap Habibah. Tidak menyangka bisikan mautnya membuat Reynand tergoda tanpa pikir lagi langsung bergerak cepat mengamankan Isteri dari Rizqy itu.
"Sialnya kenapa Keynand selamat, sih?" Julaekha kembari menggerutu dengan kekesalan yang amat sangat parah.
__ADS_1
"Aha, aku tahu bagaimana caranya menghantarkan Qia ke jeruji besi dan juga Keynand ke alam baka. Akan aku buat Qialah yang seolah-olah membunuh Keynand dan Lelaki itu dipastikan tidak akan sanggup untuk bernafas lagi. Tidak mungkin akan terus-terusan selamat, kan?" ucap Julaekha dengan raut bahagianya.
Dia menghubungi seseorang kemudian dengan serius Wanita itu menerangkan rencana demi rencana jahatnya.
(Buat Isteri dari Reynand seolah-olah kecelakaan terus kamu pastikan Wanita itu dan kedua anaknya tewas di tempat sedangkan Bayinya jangan kamu usik, aku yang nantinya akan menjadi Ibu sambungnya. Kalian lakukan pada waktu bersamaan, saat Qia terjebak tanpa sadar membunuh Kekasih hatinya. Saya yakin Reynand pasti akan shock, di sanalah aku akan datang untuk menenangkannya. Kalian mengerti?")
Setelah puas mengarahkan anak buahnya, Julaekha mematikan Handphone lalu senyum jahat itu tersungging di bibirnya dan terlihat sangat mengerikan.
"Hampir saja lupa untuk mengirimkan vidio ini kepada Rizqy. Lelaki itu pasti akan mengamuk lalu menyerang Reynand. Senangnya menonton peperangan ini."
Julaekha kembali bermain-main dengan Handphonenya lalu mengirim vidio penangkapan Habibah Rosy kepada Rizqy.
"Di setiap drama peran Antagonis pasti akan kalah dan hancur. Kemenangan dan kebahagiaan biasanya di kuasai oleh peran pratagonis. Di sini aku akan membalikkan keadaan. Aku akan menjadi tokoh utama yang akan mengendalikan cerita dan mendepak mereka yang berkarakter pratagonis menuju kehancuran hahahahaha."
***
Pagi ini sangat cerah, Reynand sedang sarapan bersama keluarga kecilnya. Terdengar tawa membahana datangnya dari Renia dan Raski. Sedangkan Ayana terlihat anteng pada Boxnya yang berada di samping Lika.
"Ka, pagi ini ada Meeting jadi Ayah tidak bisa menjemput anak-anak. Kamu ada waktu kagak jemput mereka? Atau minta tolong Yanti saja yang jemput anak-anak kalau kamu repot sama Baby Ayana. Telepon Yanti, gih!" tutur Reynand sembari menyuap makanannya.
"Ibu aja Mas, kebetulan Inaq akan datang, nanti pas Ibu jemput Kak Renia dan Adek Raski Baby Ayana di temenin sama Niniq Ninenya, jadi tenang saja," jawab Lika memberitahu akan kedatangan Siti Fatimah.
"Alhamdulillah, Ayah tenang jadinya."
Usai sarapan bersama, Reynand berpamitan untuk ke Hotel Ardiaz sebelumnya terlebih dahulu mengantar kedua anaknya ke Sekolah. Secara bergantian Renia dan Raski mencium punggung tangan Ibunya lalu mengucapkan salam.
Baru saja Reynand melangkah dia kembali lagi dengan raut bingung.
"Apa Mas melupakan sesuatu, Ka?" tanya Reynand menatap Sang Isteri begitu dalam.
Lika mengernyitkan dahinya bingung. Dia berpikir apa mungkin dokumen penting milik Hotel Ardiaz.
"Dompet aman, kan?"
Reynand meraba sakunya lalu mengangguk pasti.
"Jasnya sudah terpakai, Sabuk, dasi sudah terpasang di tempat masing-masing terus jam tangan sama cincin kawin juga tidak terlepas. Terus rambut juga sudah tertata rapi, jadi apanya yang kelupaan, ya?" tanya Lika bingung. Dia mengamati Reynand dari atas hingga bawah untuk memastikan mungkin saja ada yang terlewatkan.
"Mas lupa bilang I Love You ya Habibati. Nah itu yang kelupaan. Hehehehe."
"Duh manisnya, terima kasih." sahut Lika dengan senyum bahagianya.
"Sudah bilang, Mas pergi dulu."
Kembali Reynand berpamitan dengan meraih tangan Lika lalu Sang Isteri mencium punggung tangan itu dengan penuh cinta.
__ADS_1
Suami Isteri itu kemudian berpisah untuk sementara waktu demi menjalankan tanggung jawab masing-masing.
Cup
Tidak lupa Reynand menyentuh bibir indah Sang Isteri lalu melangkah dengan senyum mengembang.
"Tatapan mata kita berdua semua orang pasti mengerti. Betapa tidak tahu malunya mata ini yang senantiasa memamerkan cinta yang bertahta di hati untuk Habibati Lika sehingga semua orang mengetahuinya. Semoga saja tidak ada yang iri di tengah-tengah mereka yang bahagia dengan cinta kita, Baiq Mandalika." Reynand membatin menyelipkan harapannya.
***
Di ruang meeting, Reynand serius mendengarkan Laporan dari masing-masing bagian. Tidak ada yang berani berbicara selain orang yang di tunjuk oleh Pemilik Perusahaan itu. Setiap orang harus menyimak karena Reynand tanpa isyarat pasti akan meminta pendapat dan ide dari mereka yang hadir di sana.
Saat mereka sedang serius, suara deringan Handphone mengalihkan fokus mereka. Reynand menyadari itu dari Handphone miliknya lalu tanpa ragu dia mengangkatnya.
(Pak Reynand, Pak Keynand diserang lagi dan kali ini terang-terangan, Qia sendiri yang melakukannya)
Reynand terkejut dengan khabar yang didengar dari orang-orang yang menjaga adiknya. Wajah tenang itu berubah tegang dengan amarah yang terlihat jelas di sana.
Reynand meninggalkan begitu saja meeting itu dan dengan langkah cepat keluar dari ruang meeting menuju Loby. Adly yang ada di sana dengan cepat meminta maaf lalu menutup pertemuan mereka.
Baru saja sampai Loby, Handphone Reynand kembali berdering.
(Pak Reynand, Ibu Lika mengalami kecelakaan sepulang dari Sekolah saat menjemput anak-anak)
"Apa?!?
Reynand kembali terkejut, kali ini tubuhnya lemas tidak sanggup mendengar khabar buruk dari Adik dan Isteri beserta anak-anaknya dalam waktu bersamaan. Untung saja ada Adly yang menopang tubuh Reynand hingga tidak ambruk menyentuh lantai.
"Mas Rey ada apa? Kenapa wajahnya pucat?" tanya Julaekha yang tiba-tiba saja berada di hadapan Reynand.
Reynand tidak menjawab, dia memilih menenangkan diri.
"Adly kamu ke rumah Sakit Ardiaz. Keynand di serang lagi. Sedangkan saya harus ke rumah Sakit kota, Lika dan anak-anak kecelakaan," ucap Reynand kemudian setelah berhasil menenangkan diri.
"Apa? Keynand kembali di serang?" tanya Julaekha terkejut.
"Apa ini yang dimaksudkan oleh ART itu, kejutan untuk Keynand tapi kenapa mbak Lika yang dibidik? Apa mungkin ada Raski di sana terus orang tersebut tahu Lika adalah Kakak ipar kesayangan Keynand. Sungguh sangat hebat ternyata Rizqy itu mengatur rencana dan terbukti sukses. Benar-benar tidak terdeteksi" Julaekha melanjutkan dengan kalimat yang di pastikan membuat Reynand ingin menghantam wajah orang yang disebut.
Reynand tidak menanggapi, dia memilih berjalan menuju Mobil dengan amarah yang kian menupuk di ubun-ubun.
"Horeeeeee."
"Yes yes yes."
"Asyiiiik, asyiiiik, asyiiiik. Rencana sukses."
__ADS_1
Julaekha bersorak dalam hati dan tinggal melaksanakan rencana selanjutnya yaitu melenyapkan Rizqy. Biarlah Reynand yang akan melakukannya, kita lihat apakah Rizqy akan berhasil menyelamatkan diri dari kekejaman Reynand yang belum dinampakkan olehnya. Itu yang dipikirkan oleh Wanita cantik itu.
Bersambung.