Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
S2.25


__ADS_3

"Jadi kamu setuju Key?"


Keynand dengan serius menanggapi saran dari Abangnya itu. Dia mengangguk setuju ketika diakhir pembicaraan Reynand mempertanyakan pendapatnya. Keynand mengangguk sangat patuh, tapi tentu saja tidak diketahui oleh Reynand.


Saat ini pikiran Keynand tidak ada ditempat, meskipun dia mendengarkan dengan seksama apa yang disampaikan oleh Reynand.


Ini semua karena keinginan Julaekha yang membuat Keynand mengernyitkan dahi dan menekan pelipisnya yang mendadak pusing.


Tidak masuk akal dan sulit dipercaya dengan keinginan Isterinya itu. Julaekha meminta agar diberikan kepercayaan untuk mengambil alih kepemimpinan mengelola Yayasan Sekolah Putri Mandalika karena dia merasa lebih pantas memiliki Yayasan tersebut.


Di mana basicnya berada di dunia pendidikan sehingga dia sangat yakin pasti akan mampu memajukan Yayasan itu, tidak seperti sekarang terkesan jalan ditempat dibawah kepemimpinan Lika.


"Berikan Sekolah Putri Mandalika, maka aku akan izinkan Raski tinggal bersama kita."


Dengan tak tahu malu Julaekha meminta Yayasan milik Lika itu.


"Kamu gila Lekha. Yayasan itu bukan milikku, itu milik Lika, jadi tidak sepantasnya kamu mengungkit yang bukan menjadi hakku," sahut Keynand geram. Tangannya terkepal berusaha untuk mengendalikan amarah yang sudah terlanjur terpantik pada dirinya. Dia tidak menyangka Isterinya itu menginginkan Sekolah Putri Mandalika dengan tanpa malu.


"Gampang, kamu ambil alih saja. Bukankah Reynand dan Lika mempercayakan seluruh Perusahaan kepada kamu, jadi bermain sedikitlah. Jangan terlalu jujur kamu Keynand, itu hanya akan membuatmu tidak maju."


Julaekha dengan tanpa ragu berusaha membujuk Keynand agar bersedia mengambil alih Sekolah. Kemudian Sekolah itu diserahkan kepada dirinya lengkap dengan dokumen kepemiliki atas nama dirinya.


"Tidak, saya tidak seserakah itu Lekha. Saya tidak akan menghianati Reynand," putusnya.


"Harus Keynand, lagipula Lika tidak becus mengelola Sekolah itu. Abang dan Kakak Ipar kamu itu terlalu munafik dan naif. Untuk apa berbisnis tapi tidak mendapatkan keuntungan yang besar. Eh mereka berdua Sok-sokkan menjadi pahlawan kesiangan dengan memberikan mereka Sekolah gratis. Apa mereka merasa tidak butuh uang. Nanti di tangan aku, Sekolah itu akan aku jadikan Sekolah elit dan dihuni oleh orang-orang yang berduit. Tentu saja aku pastikan dari Sekolah itu akan menghasilkan keuntungan yang besar."


Julaekha menuturkan segala rencana yang sudah memenuhi Otaknya. Wanita itu larut dalam angan yang memperlihatkan kesuksesannya. Matanya terlihat berbinar-binar tatkala mencurahkan semua inginnya kepada Keynand.


"Tidak, saya tidak akan merubah apapun dari Yayasan Sekolah. Yayasan Sekolah itu diperuntukkan bagi mereka yang tidak mampu. Dan itu merupakan ladang pahala bagi Abang Reynand dan Lika. Sebaiknya kamu jangan mengusiknya."

__ADS_1


Keynand dengan lantang menolak keinginan tidak masuk akal Isterinya.


"Satu lagi, Raski tetap akan tinggal bersama saya. Saya tidak akan mengorbankan apapun untuk mendapatkan persetujuan dari kamu. Kalau kamu masih keberatan dengan keberadaan Raski di rumah ini. Kamu tinggal memilih tetap hidup bersama Raski di sini atau keluar dari rumah ini. Saya dengan suka rela mempersilahkan kamu meninggalkan kami berdua. Kamu pilih saja sesuka hati kamu."


"Key, kenapa diam saja? Kamu ngelamun? Beban apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Reynand bertubi-tubi menyentak Keynand dari pikirannya yang rumit.


Sebelum menjawab, Keynand menghela nafasnya. Dia tidak ingin kerumitan hidupnya di sadari oleh Kakak Laki-lakinya itu. Cukup sudah dia berbagi beban kepada Reynand dan saatnya dia mengatasi sendiri masalahnya. Apalagi ini menyangkut rumah tangganya, jadi dia sendiri yang harus menyelesaikannya.


"Gue ngangguk setuju, Abang sendiri tidak melihatnya," ucap Keynand berusaha bercanda memantik kekesalan Reynand.


"Eh elu pikir Abang sedang berbicara di hadapan kamu atau menggunakan Vidio call. Di sini Abang hanya dengar suara elu yang berat itu seberat dosa elu. Mana Abang tahu elu ngangguk-ngangguk seperti Boneka yang di pajang di dashboard Mobil."


Keynand tersenyum mendengarkan omelan Reynand yang berkepanjangan. Ini yang dia mau. Mengalihkan pembicaraan sehingga Reynand urung menyelidiki arti keterdiamannya. Keynand sadar Kakaknya itu sangat bisa menebak apa yang sedang terjadi meskipun hanya mendengar helaan nafasnya saja.


"Biasanya sedikit ngomong, sekarang kok mendadak panjang. Apa tadi sarapannya pakai Pisang Kepok sehingga berkicau dengan sumbang. Telinga gue kata orang sini kemeng dengarnya."


Keynand membalas diakhiri dengan kekehan kecil. Dia membayangkan raut wajah Reynand yang datar sedang mengernyitkan dahi bingung dengan perkataannya atau mungkin mengerti bahwa dirinya diibaratkan Burung. Jika Reynand sadar pasti Laki-laki itu membalasnya dengan ketus.


Reynand tidak menyemprot adiknya itu karena sudah menyamakannya dengan Burung. Dia malah melanjutkan obrolan mengenai rencananya memperkerjakan orang kepercayaan di tengah keluarga Keynand.


Sedangkan Keynand bernafas lega karena Reynand tidak mengomelinya dengan kalimat menohok yang mungkin saja membuat Jantung tak tenang. Dia berharap Reynand tidak mengingat ini sehingga bebas dari hukuman lari mengelilingi Hotel Ardiaz yang lumayan luas itu. Atau mengangkat satu Kaki dengan kedua tangan menarik Telinganya sendiri hingga pegal. Sungguh aneh hukuman kakaknya itu jika dia melakukan kesalahan.


Sedangkan jika Sang Kakak melakukan kesalahan, maka dia menggunakan Istilah Senior tidak pernah salah dan tentu saja terbebas dari hukuman. Sungguh sok berkuasa.


"Atur aja Bang, saya mah manut aja jika itu baik untuk Raski," sahut Keynand menyerahkan segala urusan tentang Raski kepada Reynand. Dia tahu pasti Reynand dan Lika akan memberikan yang terbaik untuk Putra piatunya itu.


Reynand mengakhiri panggilan. Sedangkan Keynand melanjutkan pekerjaan yang tertunda.


***

__ADS_1


Sore harinya Qia duduk lesehan pada rumput Sintetis di sebuah arena permainan anak-anak. Dia menyadarkan punggungnya pada besi pagar yang mengelilingi arena permainan itu yang berbentuk bundar.


Entah kenapa dia sangat ingin berbaur dengan anak-anak sehingga memilih waktu sorenya bermain di Taman Sangkareang setelah jam perkuliahan berakhir.


Senyumnya mengembang tatkala melihat keceriaan anak-anak. Sesekali dia menyapa mereka yang kebetulan mendekat kemudian bermain bersama.


Setelah puas bermain, dia mengajak anak-anak ikut menikmati makanan ringan yang di bawanya. Tidak hanya Keripik dan Susu, tidak ketinggalan Bakso Cilok yang merupakan makanan favoritnya yang juga ikut tersaji di sana.


"Jadi kita boleh ikut menikmatinya, Kak? Tidak bayar, kan?" tanya seorang anak perempuan terlihat ragu-ragu mengambil makanan yang tersaji di hadapannya.


"Boleh sayang. Kakak sengaja membawa makanan banyak-banyak agar bisa kita makan bareng-bareng. Kakak tidak suka makan sendirian, jadi tunggu apalagi ayok kita embat," ucap Qia dibarengi dengan senyum tulusnya.


Seketika anak-anak kecil yang mengerubungi Qia saling berebutan mengambil apa yang diinginkan dengan syarat hanya boleh mengambil satu agar semuanya kebagian.


Qia ikut tertawa menyaksikan keriangan bocah-bocah lucu yang dalam hidup mereka belum ada beban. Dia ikut larut dalam canda tawa dan obrolan khas anak-anak yang kesemuanya ramdon.


Saat inilah dia merasa rindu dengan Raski, Renia, Athaya dan Andreas. Ingin rasanya bertemu dengan mereka lalu mengajaknya bermain bersama penuh dengan suka cita.


Namun rindu dan keinginannya itu harus di redam dengan sekuatnya agar tidak bergemuruh lalu menghantarnya menemui mereka. Tidak ingin itu terjadi, Qia sebisa mungkin menahannya. Qia tidak ingin bertemu dengan Keynand apalagi Julaekha. Dia khawatir, Julaekha akan lebih mempermalukannya jika dia nekat menemui Raski.


***


Sementara Keynand, selesai berkunjung ke Hotel Ardiaz Mentaram, dia mampir ke Coffe Shop yang berada tidak jauh dari Hotel Ardiaz berada.


Dia memesan Kopi kesukaan lalu memilih duduk di tempat strategis yang jangkauan pandangan lumayan luas.


Tiba-tiba jantungnya merasa berdebar-debar. Dia merasakan keberadaan seseorang di sekitarnya. Rindu seketika menyeruak teruntuk seorang Gadis yang sangat sulit dienyahkan dari hatinya. Dia tahu ini salah karena masih menyimpan rasa itu. Tidak seharusnya Laki-laki beristeri memikirkan Gadis lain. Tapi apa mau dikata, sangat sulit melupakan Gadis yang begitu berarti dalam hidupnya.


"Qia, itukah kamu?"

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2