
Sore harinya selesai Shalat Ashar, seorang Wanita bercadar dan beberapa santriwati datang mengunjungi rumah yang di tempati keluarga Rizqy. Hari ini jadwal Qia melakukan pengobatan secara Ruqyah untuk menghilangkan penyakit yang sedang hinggap di tubuh Gadis itu.
Rizqy yang baru saja pulang dari Sekolah mempersilahkan mereka masuk. Dia bergegas keluar dari rumah karena saat adiknya di ruqyah, maka tidak diperkenankan adanya Laki-laki di sana.
Umi Ika, nama panggilan Wanita bercadar yang selama ini mengobati Qia dengan jalan Ruqyah. Sebab penyakit yang dialami oleh Qia tidak terdekteksi secara medis, karena itulah Gadis itu melakukan pengobatan secara medis maupun secara non medis yang sesuai syariat Islam.
"Bagai mana keadaan, Qia? Apakah sedang fit?" tanya Umi Ika dengan pandangan lembut.
Qia hanya menganggukkan Kepala dengan lemah. Entah kenapa saat dia akan melaksanakan ruqyah tubuhnya mendadak gemetar dan terasa lemas. Ada keengganan dan kemalasan yang tiba-tiba hinggap dipikirannya. Ada penolakan dalam diri Gadis itu dan tidak mau melanjutkan Ruqyahnya. Selain itu ada bisikan yang meminta untuk menjauh dari Wanita bercadar yang selama ini mengobatinya. Entah kenapa setiap bertemu dengan Umi Ika ada rasa takut dan ingin menghindarinya. Qia tahu, penyakitnya itu pasti sedang mempengaruhi pikirannya agar meyakini bahwa apa yang sedang diikhtiarkan akan berakhir sia-sia.
Tidak ingin dikendalikan oleh penyakit itu, Qia dengan sekuat tenaga memberontak dan mengajak pikirannya agar tetap waras. Dia segera bangkit dari duduknya lalu berpamitan kepada Umi Ika untuk mengambil air wudhu. Berwudhu adalah langkah awal untuk melakukan ruqyah.
Setelah berwudu, Qia di minta berbaring pada lantai yang beralas Tikar. Sementara dua orang Santriwati duduk sebelah kanan Qia tidak jauh dari Umi Ika, sedangkan Habibah berada di sisi kiri Qia.
"Kita mulai Qia, jangan putus berdoa dan memohon ampun atas dosa-dosa yang kita perbuat. Karena dosa yang kita lakukan itu sebagai penyebab penyakit itu ada pada tubuh kita. Tetaplah beristighfar apapun yang kamu rasakan nanti."
Qia mengangguk mengerti apa yang diucapkan oleh Wanita bercadar itu.
Umi Ika mulai melakukan ruqiah dari telapak Kaki. Bersamaan itu pula terdengar lantunan ayat suci Al-Qur'an yang dibaca oleh Santriwati dan juga Umi Ika.
Tangan Umi Ika mulai bergerak dari Kaki menuju area pah* terus berlanjut ke area bawah perut. Saat di area bawah perut Qia merasakan rasa sakit yang mulai menjalari tubuh kurusnya. Gadis itu berteriak mengaku kesakitan karena tidak tahan dengan apa yang dirasakannya itu.
"Sakiiiiiit."
"Sakiiiit."
"Sakiiiit, Umi."
"Astaghfirullah."
Umi Ika tidak melepaskan pegangan tangan itu, karena di sanalah makhluk bernama Jin itu bersemayan.
"Hentikan Umi, sakiiiiiit."
Qia kembali berteriak. Entah apa yang dilakukan Umi Ika sehingga membuat rasa sakit itu tak tertahankan lagi. Rasanya sangat sakit dan tidak mampu menggambarkan apa yang dirasakan oleh Gadis itu. Yang jelas ada rasa perih, panas dan seperti di tarik secara paksa dari dalam tubuhnya.
Umi Ika melepaskan tangannya dari area bawah perut dan kini berlanjut ke perut dan area dad*. Pada area sana, Qia merasakan rasa sakit, namun tidak separah pada area mahkotanya. Dia tidak berteriak hanya ada ringisan kesakitan bersama lantunan istighfar yang tidak henti-henti di ucapkannya.
Umi Ika menghentikan Ruqyahnya. Dia menghela nafas panjang untuk mengatur nafasnya yang mulai ngos-ngosan. Bukan hanya Qia saja yang kelelahan, tenaga Umi Ika terguras habis karena harus berjuang melawan penyakit yang bersemayan dalam tubuh Qia.
"Minum dulu, kita istirahat sebentar," ucap Umi Ika setelah nafasnya kembali normal.
Habibah dengan cepat mengambil sari kurma kemudian memberikan kepada Qia untuk menambah tenaga Gadis itu. Tidak lupa memberikan Bidara yang sudah di olah menjadi minuman herbal.
"Jin di dalam tubuh kamu terlalu banyak Qia. Sehingga harus dikeluarkan. Selain kirimam dari seseorang, mereka menempel di tubuh kamu saat kamu mengunjungi suatu tempat. Untuk menghindari hal itu, kita harus membaca ayat kursi pagi dan petang dan juga melakukan ruqiah mandiri. Insyaa Allah jika kita istiqomah membacanya, kita pasti terhindar dari gangguan itu, karena Tuhan pasti akan melindungi. Kamu ingat, kan apa yang harus di baca?"
Umi Ika menjelaskan apa yang sedang di hadapi oleh Qia dan juga mengingatkan apa yang harus dilakukannya untuk membentengi diri dari gangguan tersebut.
__ADS_1
Qia mengangguk mengerti. Umi Ika telah mengajarkan ruqyah mandiri, agar Tuhan senantiasa melindunginya. Ayat-ayat yang dibaca berupa ayat kursi, ayat-ayat perlindungan atau Al-Mu'awwidzatain dan surat Al Baqarah.
Cukup lama beristirahat, Umi Ika kembali melanjutkan ruqyahnya. Dia mengambil selembar kapas lalu menempelkan pada mata kiri Qia.
"Apa terasa sakit, Qia?" tanya Umi Ika sembari menekan mata kiri Gadis itu dengan jarinya.
"Tidak Umi," jawab Qia singkat.
Umi Ika tersenyum, dia mulai membaca ayat-ayat suci Al-qur'an dan di bantu oleh kedua Santriwati yang ikut bersamanya.
Saat ayat-ayat suci di bacakan. Tubuh Qia mulai merasakan rasa sakit. Di mana pada area mata rasanya seperti di tusuk kemudian di tarik dari tempatnya. Padahal saat Umi Ika menekan matanya tadi dia tidak merasakan apa-apa, akan tetapi setelah dibacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an mulai merasakan rasa sakit tak tertahankan.
"Astaghfirullah."
Qia tidak putus-putus untuk beristighfar. Rasa sakitnya lebih parah dari rasa sakit pada area di bawah perut.
Tubuh Qia mulai memberontak membuat Habibah yang berada di sampingnya mulai kewalahan untuk menahan Kaki Gadis itu.
"Sakiiiiiit."
"Sakiiiiiit."
"Hentikan Umi, sakiiiiit."
Qia berteriak histeris, apalagi saat tangan Umi menyentuh mata sebelah kiri. Rasa sakit pada mata di sebelah kiri lebih parah dari mata sebelah kanan.
"Sakiiiiiit."
"Hentikan Umi."
Qia kembali berteriak. Entah kekuatan dari mana tubuh yang lemah itu tiba-tiba bergerak sekuat tenaga menepis tangan Umi Ika dan menendang Habibah yang berusaha menahan pergerakan Kakinya.
Braaaak
Tubuh Habibah terpental. Dia dengan cepat bangun kemudian kembali menahan kedua Kaki Qia agar tidak memberontak. Umi Ika yang juga ikut jatuh dengan segera kembali menempelkan kapas ke mata kiri Qia.
"Qia istighfar," ucap Umi Ika berusaha mengingatkan Gadis itu. Umi Ika juga meminta tolong salah satu Santriwati untuk menahan tubub Qia agar tidak memberontak karena itu akan menyulitkannya.
Hikz hikz hikz
Qia menangis dengan suara lirih terucap dzikir dari bibir pucatnya.
"Umi, apakah saya bisa sembuh? Kenapa rasanya sangat menyakitkan? Saya sudah tidak kuat," ucap Qia lirih dibalik isak tangisnya setelah bibirnya tidak lagi melantunkan dzikir.
Umi Ika menarik tangannya yang sudah dia letakkan pada mata Qia. Dia meraih tubuh lemah itu lalu membawa dalam dekapan hangat seorang Ibu.
"Qia, kamu harus yakin Tuhan akan memberikan kesembuhan itu. Qia tidak boleh menyerah dan putus asa seperti ini. Jika Qia lemah, maka orang yang berbuat jahat kepada Qia akan semakin senang. Terus, satu lagi Qia tidak akan masuk syurga ketika menghadap-Nya ternyata masih membawa Jin dalam tubuh Qia."
__ADS_1
Umi Ika kembali menyemati Gadis yang sedang berada di ambang keputus asaan. Wanita bercadar itu mengerti keadaan Gadis bermata indah di hadapannya, yang kini dalam keadaan terpuruk. Bukan hanya fisiknya saja yang sakit tapi hatinya juga sedang tak baik-baik saja malah lebih parah. Umi Ika tahu apa yang sedang menimpa pasiennya. Qia sedang patah hati, yang membuat jiwanya terguncang hebat. Dia juga pernah mengalami depresi, namun untungnya Gadis itu masih bisa mengendalikan diri hingga apa yang pernah dialaminya dulu tidak dia rasakan kembali.
Qia tersenyum manis. Di sekanya air mata yang mengalir deras dari sudut mata. Di lihatnya Habibah yang mengulas senyum bersama tangan yang terkepal memberikan semangat bahwa Qia pasti bisa.
Qia tahu, Kakak Iparnya sedang berusaha menahan kesedihan di balik tegarnya Wanita itu. Pun begitu juga dengan Rizqy yang tetap memperlihatkan ketegarannya, meskipun dalam hati Lelaki itu menyimpan kesedihan dan rasa sakit teramat dalam.
Seandainya dia bisa menggantikan apa yang sedang di alami adiknya itu, pasti dia akan bisa memikul beban itu dengan mudah. Namun pada kenyataannya, keinginan itu hanya berupa angan. Sebagai gantinya, dia akan memperjuangkan kesembuhan untuk Qia.
"Umi, Qia sudah siap kembali di Ruqyah," ucap Qia membuyarkan keheningan yang sempat terasa.
Umi Ika mengambil selembar kapas, kemudian dia tempelkan pada mata kiri Qia yang sudah kembali berbaring. Doa ta'awudz terdengar kemudian basmalah, selanjutnya terdengar lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an kembali menggema di ruang keluarga kediaman Rizqy.
Tubuh Qia kembali bereaksi dengan rasa sakit yang tak tertahankan.
"Di kedua mata Qia tempat bersemayannya Jin yang di kirim oleh seseorang itu. Pada mata sebelah kiri yang paling kuat, jadi Qia harus kuat melawannya," ucap Umi Ika di sela-sela Wanita itu melakukan ruqyah.
Qia kini baru mengerti kenapa pada mata sebelah kiri rasa sakit itu tidak bisa di tahannya. Rupanya di sanalah tempat Jin itu berada.
"Sakiiiiiit."
Qia kembali berteriak, dengan cara itu dia meluapkan rasa sakit meskipun itu akan percuma karena rasa sakit itu tidak akan pernah berhenti selama penyakit itu tidak mau keluar dari tubuhnya.
"Kamu perempuan atau Laki-laki?" Umi Ika mulai bertanya kepada Qia yang sekarang berada di luar kesadarannya.
"Perempuan."
"Kamu muslim atau kafir?"
Qia terdiam tidak menjawab pertanyaan dari Umi Ika. Umi Ika kini mengerti makhluk seperti apa yang menempel pada tubuh Qia.
"Siapa yang menyuruh kamu? Apa kamu suka sama Qia?" Umi Ika kembali bertanya yang dianggukkan oleh Gadis itu.
"Kalau kamu suka, nikahi Qia!"
Bersambung.
Hai teman-teman terjawab sudah apa yang terjadi dengan Qia.
Maaf iya, ceritanya mungkin enggak seru dan tidak menegangkan meskipun saya berusaha menulisnya sebaik mungkin.
Apa yang di alami oleh tokoh Qia merupakan pengalaman pribadi saya. Dulu saya pernah mengalami penyakit non medis dan ternyata terkena kiriman dari seseorang yang mencoba ilmu hitamnya. Waktu itu kondisi saya sangat lemah sehingga gampang di hinggapi oleh Jin. Saya menyadari kalau yang melakukan itu adalah orang yang pernah dekat dengan saya, tapi saya tidak boleh menyebut namanya.
Maaf ya teman-teman jadi cerita, tapi ini tetap fiksi ya?
Semoga kalian suka. Jangan lupa Like, vote dan komentarnya.
Terima kasih.
__ADS_1