
"Nah lo!" Riski tak sengaja mengucapkan kata itu. Dia sangat mengenal kakaknya. Dia tahu kakaknya sedang tak baik-baik saja. Riski tahu Lika sangat mencintai Reynand dan di dalam hatinya pasti sangat takut kehilangan cinta Suaminya. Hanya saja Lika berusaha menyembunyikan perasaan itu. Satu hal yang diketahuinya bahwa Lika mempercayai Suaminya dan percaya Reynand tidak akan menghianati pernikahan mereka.
Plak
Ibu Marisa memukul bahu Keynand membuat Duda tampan itu meringis kesakitan.
"Aduh sakit Mom, bahu enggak salah apa-apa kok malah di pukul."
"Seharusnya Mom lebih keras memukul kamu biar sadar. Kenapa kamu bertanya sejahat itu kepada Kakak Ipar kamu? Nak Lika itu sedang mengandung dan tidak boleh membuatnya stres. Bagaimana kalau dia memikirkan perkataan kamu, meskipun Reynand tidak mungkin tergoda dengan Wanita lain. Apa kamu mau bertanggung jawab jika terjadi sesuatu dengan kandungannya. Apa yang kamu ucapkan harus diperhatikan, jangan asal bunyi." Marisa mengomeli anak bungsunya itu. Dia sangat mengerti bagaimana perasaan Lika saat ini. Menantunya itu pasti suasana hatinya tak baik-baik saja. Apalagi dalam kondisi hamil, pasti dia sangat sensitif dan perasa.
Reynand hanya terdiam tak berkomentar apapun. Namun sorot matanya mengandung ancaman untuk Keynand. Ada kegelisahan dalam hati membuatnya mempercepat menghabiskan makanannya. Baru saja dia melegakan tenggorokan, terdengar suara Renia mengatakan sesuatu. Gadis kecil itu sudah terlebih dahulu berpamitan menyusul ibunya ke kamar.
"Ayaaaah, Ibu tidur di lantai."
Reynand bergegas menuju kamar begitu mendengarkan teriakan Renia.
Tidak terlalu lama dia sampai di ambang Pintu yang sedikit terbuka. Renia berusaha membuka Pintu namun tak bisa terbuka lebar karena ada tubuh Lika yang menghalanginya. Jika pintu itu terdorong maka tubuh Lika akan ikut terdorong. Renia bisa melihat dari celah pintu yang sedikit terbuka bahwa Ibunya terbaring persis di depan Pintu.
"Astaghfirullah."
Reynand terkaget, dia melihat Lika tak sadarkan diri. Mungkin saja langkah Kakinya tidak sanggup lagi berjalan ke arah ranjang sehingga dia terjatuh di depan Pintu. Itu perkiraan Reynand setelah melihat posisi Lika pingsan.
Dia bergegas keluar dari rumah menuju ke arah Jendela kamarnya. Pria itu akan masuk melalui Jendera dari arah luar. Tidak memungkinkan melalui pintu, karena jika Reynand akan mendorong Pintu, itu sama artinya menyakiti tubuh Lika.
Melihat Reynand yang berlari ke arah luar membuat semua yang ada di ruang makan menghentikan makan siangnya. Mereka bergegas menuju kamar Reynand dan melihat apa yang sebenarnya terjadi.
"Oma, Ibu kenapa?" tanya Renia sudah terdengar isak tangisnya. Marisa segera meraih tubuh Renia lalu memeluk dengan erat. Dia berusaha menenangkan cucunya itu.
Terlihat raut cemas dari masing-masing wajah terutama Keynand yang merasa sangat bersalah. Dia tak menyangka pertanyaan usilnya membuat Iparnya itu tak sadarkan diri. Lika Wanita yang kuat sehingga tak berpikir panjang untuk menjahilinya karena itulah dia mengajukan pertanyaan itu. Biasanya Lika akan menyerang dengan kata-kata sehingga dia mengalah dan kalah. Tidak dengan hari ini, Lika memilih untuk tak memperpanjang perdebatannya dengan Keynand. Rupanya Keynand tak sadar dengan kehamilan Lika kali ini, yang sangat menguras tenaga dan pikirannya.
Brak
Terdengar suara Jendela yang dipaksa terbuka dari arah luar. Reynand segera memanjat Jendela yang tidak terlalu tinggi kemudian masuk ke kamarnya.
"Astaghfirullah."
Hanya itu yang mampu terucap. Reynand segera meraih tubuh Lika lalu membaringkan dengan perlahan di ranjang.
"Panggil Dokter Vidya," ucapnya tanpa menunjuk siapa.
Semua orang yang berada di luar bergegas masuk melihat keadaan Lika. Wanita hamil itu terlihat pucat tak nampak seperti biasanya yang selalu bersemangat.
Riski, tanpa berpikir lagi dia segera menghubungi Dokter Vidya. Dia melihat Keynand tak tangkap dengan apa yang diperintahkan Reynand. Mungkin saja Keynand sedang shock melihat keadaan Iparnya itu.
Renia masih berada dalam dekapan Marisa sembari memanggil Ibunya.
"Tidak apa-apa sayang? Ibu baik-baik saja, Ibu hanya tertidur," ucap Marisa berusaha menenangkan cucunya itu.
"Maaf apa boleh Daddy sama Keynand meninggalkan kamar, saya mau membalurkan Lika dengan minyak kayu Putih," ucap Reynand datar. Dia tidak ingin aurat Isterinya itu terlihat oleh Keynand dan David Ardiaz.
Kedua Pria itu mengerti, Keynand dan David Ardiaz keluar kamar sembari membawa Raski dalam gendongan David Ardiaz. Riski juga ikut keluar setelah menghubungi Dokter Vidya.
"Rey, tubuh Lika pasti sangat lemah sehingga pingsan. Ini semua pasti karena dia sedang hamil muda. Pembawaan Ibu hamil itu berbeda-beda, terkadang dia kuat dan terkadang sangat lemah bahkan sering sakit-sakitan. Tenang saja, Lika baik-baik saja, dia sanggup melewati semua ini sampai dia melahirkan anak kalian nanti." Marisa berucap sembari mengelus bahu Putranya. Dia tahu Reynand sangat cemas saat ini. Marisa melihat itu dari mata Reynand yang sedih berair tapi tak mengalir.
"Sampai kapan Mom?" tanya Reynand parau.
__ADS_1
"Tidak tahu pastinya, mungkin Lika akan mengalami ini hingga trisemester pertama berakhir atau mungkin selama sembilan bulan. Tergantung fisik Lika dan juga kesiapan kamu untuk memberikan rasa nyaman dan tentram dalam hatinya. Jangan membuat dia stres atau banyak pikiran. Hal itu akan membuat Isterimu semakin lemah," jawab Marisa menjelaskan.
Saat mereka berbicara, terdengar ketukan Pintu yang menandakan Dokter Vidya sudah datang. Reynand mempersilahkan Dokter spesialis kandungan itu untuk masuk ke kamar.
"Silahkan Dokter," ucap Reynand ramah.
Dokter Vidya mengangguk, dia memulai untuk memeriksa keadaan Lika. Dokter cantik itu terlebih dahulu memeriksa nadi secara manual dengan meletakkan jari telunjuk dan tengah pada pergelangan tangan bagian dalam kemudian dia tekan untuk merasakan denyut nadi. Dia melihat jam tangannya dan selama 60 detik dia merasakan denyut nadi Lika. Setelah itu dia mengambil stetoskop untuk mengecek denyut jantung Lika.
"Kondisi Dek Lika baik-baik saja, Dek Lika mengalami anemia. Dia pingsan karena disebabkan kurangnya asupan makanan yang masuk ke dalam tubuhnya membuat metabolismenya terganggu. Hal ini lumrah terjadi bagi wanita hamil apalagi yang baru memasuki trisemester pertama. Biasanya mereka mengalami nafsu makan yang meningkat dan terkadang nafsu makannya turun drastis. dan diawal kehamilan sering mengalami pusing, mual dan munt*h. Saya curiga kalau dek Lika enggan makan sehingga membuatnya drop, benar itu?"
Reynand mengangguk membenarkan pernyataan Dokter Vidya, lalu berkata, "Iya Dokter, Lika hanya mau makan buah-buahan dan meminum air putih hangat-hangat kuku. Tadi juga makannya sedikit karena tidak ada selera. Apa yang harus dilakukan agar nafsu makannya meningkat?"
"Berikan makanan yang disukai saat ini oleh Dek Lika. Tidak perlu memaksa makan banyak, dengan porsi sedikit tapi sering. Jauhkan makanan yang beraroma kuat yang tidak disukainya. Bisa jadi aroma kuat itu membuatnya pusing, mual dan munt*ah dan yang terpenting jangan membuatnya stres." Dokter Vidya menjawab pertanyaan Reynand dengan panjang lebar. Dia menekankan untuk menjaga suasana hati Lika agar tidak mengalami stres.
Setelah menjelaskan dan dimengerti oleh Reynand. Dokter Vidya meresepkan Vitamin dan penambah darah. Dia juga memberikan infus kepada Lika untuk memulihkan tenaganya.
"Saya akan menghubungi Perawat yang akan menjaga dek Lika," ucap Dokter Vidya.
"Perawat? maaf Dokter sepertinya tidak perlu. Biar saya yang merawat Lika, Dokter Vidya menjelaskan saja apa yang harus saya lakukan."
Dokter Vidya berpikir sejenak, menimbang permintaan Reynand. Dia merasa Reynand bisa melakukan itu.
"Baiklah Pak Reynand, saya tidak akan memanggil Perawat untuk membantu merawat Lika. Mungkin saja Pak Reynand mengkhawatirkan sesuatu, hanya Pak Reynand yang mengetahuinya." Pada akhirnya Dokter Vidya memutuskan. Dia memberikan penjelasan apa yang harus dilakukan oleh Reynand dan setelah faham baru Dokter Vidya menyudahi penjelasannya.
"Abang Reynand tidak perlu khawatir, biar saya yang merawat Kak Lika. Saya pernah belajar sedikit tentang medis, kalau hanya melepaskan dan memasang infus sih saya bisa. Saya juga mengenal beberapa jenis obat dan manfaatnya. Saya juga jago menyuntik orang, termasuk menyuntik Dokter Vidya. Jarum yang saya punya belum kepake lo, Dokter!" Riski tiba-tiba datang sekaligus mengatakan kesediaannya merawat Lika. Dia sempat-sempatnya menggoda Dokter lajang itu.
"Riskiiiiiii."
Marisa langsung menjewer telinga Bujang lapuk itu.
"Kenapa sih Mom, orang saya berkata benar, eh malah dijewer," ucap Riski sembari memamerkan wajah cemberutnya.
Sedangkan Dokter Vidya hanya tersenyum melihat tingkah Pemuda yang umurnya jauh di bawahnya.
"Karena Dokter Vidya masih lajang makanya saya ganggu, kalau sudah punya Suami mana berani saya Mom. Iya kali mau digorok sama lakinya." Riski kembali melanjutkan perkataannya membuat wajah Dokter cantik itu berubah memerah.
"Sayang sekali kamu telat Ki, Dokter Vidya sudah punya tunangan sebentar lagi mau nikah lo!" ucap Keynand yang berdiri di ambang Pintu.
"Iya, kah? aduh saya jadi tidak enak hati menganggu Gadis yang sudah bertunangan. Dalam agama enggak boleh itu, enggak sopan namanya. Maaf Dokter Vidya tadi saya hanya becanda tapi mengenai saya mengetahui sedikit ilmu medis itu enggak becanda." Riski dengan cepat meminta maaf. Dia menggaruk tengkuknya untuk mengurangi rasa malunya. Pemuda itu hanya bermaksud menggoda Dokter cantik itu, kali saja gayung bersambut.
"Tidak apa-apa Dek Riski, saya mengerti," ucap Vidya sembari memberikan senyum cerah.
"Beneran kamu bisa Ki?" tanya Reynand. Dia sedari tadi hanya diam tak menanggapi obrolan mereka. Reynand hanya memusatkan perhatiannya kepada Isterinya. Sesekali dia mengelus wajah Lika setiap bagiannya.
"Iya Bang, tenang saja Kiki bisa, kok! awalnya saya pingin jadi Dokter tapi kurang cerdas tidak secerdas Dokter Vidya jadi gagal deh masuk Kedokteran dan membanting setir jadi Dosen. Namun tidak mengurangi rasa ingin tahu saya mengenai ilmu medis pada akhirnya tetap belajar ilmu medis. Abang tahu sendiri kalau saya terkadang jadi relawan." Riski menjelaskan tentang dirinya yang pernah belajar sedikit tentang ilmu kedokteran. Memang Riski dulu pernah bercita-cita ingin menjadi Dokter. Dia ikut Tes penerimaan Mahasiswa baru pada Fakultas kedokteran tapi tidak lulus. Karena itulah Riski terpaksa beralih ke Fakultas Ekonomi dan Pendidikan Magisternya mengambil Ekonomi Islam.
"Alhamdulillah, jika bisa saya mempercayakan kamu untuk merawat Lika. Kamu adiknya, Lika pasti merasa nyaman dirawat oleh keluarga sendiri," ucap Reynand lega.
"Siap, lagipula saya tidak terlalu sibuk. Saya bisa tetap mengajar melalui daring," jawab Riski serius.
Vidya melirik Pemuda lajang ini, dia sempat tergoda oleh pesona Riski. Lumayan tampan khas pribumi berbeda jauh dengan Reynand dan Keynand yang keturunan bule. Tentu dua bersaudara itu lebih tampan. Senyum Pemuda itu sangat indah dan ramah. Pembawaannya juga sopan walaupun terkadang usil.
"Astaghfirullah." Vidya beristighfar dalam hati. Dia menyembunyikan senyum karena memikirkan Adik kandung dari Lika itu. Dia kembali menata hatinya untuk setia pada pasangannya dan sebentar lagi menjadi seorang Isteri.
"Pak Reynand dan Ibu Marisa, mohon maaf saya permisi mau kembali ke Rumah Sakit. Jika membutuhkan saya, langsung saja di hubungi, Insha Allah saya selalu mengaktifkan Handphone," ucap Dokter Vidya sopan. Dia berpamitan kepada Pemilik rumah. Setelah mendapatkan izin, Dokter Kandungan itu segera meninggalkan rumah Reynand sebelum Pemuda bernama Riski itu mengambil alih hatinya.
__ADS_1
"Mom keluar dulu, mari sayang sama Oma. Biarkan Ibu istirahat dulu." Marisa mengajak Renia keluar dari kamar untuk memberikan kesempatan kepada Lika beristirahat.
Reynand mengangguk sebagai jawaban. Kemudian Marisa keluar bersama Renia, sedangkan Reynand masih setia menemani Isterinya. Dia berbaring di samping Lika, menikmati wajah pucat itu tak merasa bosan.
"Sayang, sadar dong!" ucap Reynand mengajak Lika berbicara. Dia mengelus lembut Pipi Isterinya.
Reynand tidak bosan-bosannya mengagumi paras Isterinya meskipun saat ini Lika terlihat pucat namun tak mengikis kecantikan alami Wanita itu.
Saat Reynand menikmati kecantikan Isterinya, disaat itu Lika membuka mata. Pandangannya langsung bertemu dengan Suaminya.
"Mas, apa yang terjadi?"
"Kamu pingsan, tadi Dokter Vidya sudah memeriksa keadaan kamu. Kata Dokter Vidya kamu mengalami Anemia dan juga kelaparan. Mas merasa paling miskin di dunia ini karena tidak sanggup memberikan Isterinya makanan, kesannya seperti itu. Agar Suamimu ini tidak merasa bersalah, kamu makan ya sayang terus minum Vitamin dan obatnya." Reynand memberitahu apa yang terjadi sebenarnya.
Lika hanya terdiam, dia bangung dari rebahannya karena ingin duduk. Reynand membantunya, setelah mendapatkan posisi yang nyaman dia kemudian menyandarkan punggungnya pada sandaran kasur.
"Mas, Lika minta maaf karena Mas memiliki Isteri yang lemah serta sakit-sakitan. Aku juga minta maaf karena selalu merepotkan Mas dan juga keluarga," ucap Lika sedih sembari menundukkan wajahnya.
Mendengarkan perkataan Lika, Reynand meraih wajah itu sehingga wajah mereka bertemu.
"Sayang jangan berkata seperti itu. Kamu tidak merepotkan Mas kok! aku Suami kamu sudah sewajarnya merawat dan senantiasa membuat kamu tersenyum. Isteriku ini tidak berpenyakitan melainkan sedang ngidam. Kamu sedang mengandung anak kedua kita sayang, karena itulah kesehatanmu terganggu. Sudah, enggak usah dipikirkan." Reynand menenangkan Isterinya dengan berkata lembut memberikannya pengertian.
"Terima kasih Mas. Mas tidak akan meninggalkan aku jika aku kehilangan pesona yang Mas sukai, kan? Nanti jika Mas kembali ganteng terus menempel cewek-cewek cantik, tidak mungkin Mas tidak tergoda, apa Mas akan menduakan aku?" tanya Lika serius. Dia menatap mata Reynand yang berwarna hitam jernih. Mata itu sangat menghanyutkan dan dia merasa tenang kala menatapnya.
Reynand tersenyum, dia meraih tubuh Lika lalu menempatkan dalam dekapan hangatnya.
"Mas hanya tergoda oleh satu Gadis yaitu bernama Baiq Mandalika binti Lalu Akhmad Ali Hasan. Gadis itu Isteri tercinta seorang Reynand Putra Ardiaz. Cukup Lika yang aku inginkan dan tidak menginginkan Gadis lain meskipun Gadis lain itu sangat menggoda," ucap Reynand tulus.
"Sudah, jangan berpikiran macam-macam. Mas tidak akan melakukan operasi pada wajah Mas. Biarkan wajah Mas seperti ini saja, lagipula Mas sangat nyaman. Mas tidak membutuhkan orang lain memuji Mas tampan, Mas cukup mendapatkan pujian dari Isteriku ini. Oh ya maafkan Mas karena telah berkata seperti itu. Mas cemburu karena kamu memuji kehebatan dan ketampanan Laki-laki lain," lanjut Reynand meminta maaf dan mengutarakan kecemburuannya.
"Mas tidak salah, aku yang seharusnya minta maaf karena telah memuji Pria lain di hadapan Suami. Bukan maksud apa-apa, aku hanya antusias sehingga tidak sadar memuji mereka. Maafkan Lika, Mas!" Lika dengan tulus meminta maaf atas kekeliruannya. Tidak seharusnya memuji Pria lain dan memancing kecemburuan Suaminya.
"Iya sayang."
"Aku bersyukur bahwa Mas cemburu kepadaku karena telah memuji Pria lain. Bukankan itu perkara wajib karena jika Mas Reynand tidak cemburu semisalnya aku sangat dekat dengan Pria lain itu artinya Dayuts. Dayuts adalah orang yang tidak cemburu pada Isterinya dan membenarkan keburukan pada keluarganya. Tentu saja itu dosa besar dan termasuk orang yang tidak akan dilihat oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala pada hari kiamat. Cemburu boleh asal tidak berlebihan sehingga mengundang pertengkaran, cukup dengan nasehat untuk meluapkannya. Aku berterima kasih karena Mas cemburu, kecemburuan Mas itu menjadikan aku memiliki rasa malu dan bertujuan tidak menghilangkan kemulianku sebagai Isteri Mas Reynand. Aku sekali lagi minta maaf, aku tidak ingin karena memuji Pria lain membuatku terseret jauh dari Syurga," ucap Lika serius. Dia masih tenggelam dalam hangatnya pelukan Suaminya.
"Iya sayang, sebisa mungkin kita saling menjaga dan berdoa agar Tuhan senantiasa melindungi kita," sahut Reynand lembut.
Reynand mengurai pelukan lalu mengecup lembut bibir merekah Isterinya kemudian mereka terhanyut dalam kehangatan sentuhan fisik.
Sedangkan di ruang keluarga, Riski terkaget dengan apa yang diucapkan Keynand.
"Apaaaaa, apa saya tidak salah dengar, Bang?"
Bersambung.
Maaf ya saya baru bisa Up mungkin akan jarang Upnya karena Handphone yang biasa aku pakai menulis di kuasai oleh Suami. Kita hanya punya satu Handphone terus Handphone satu ini direbut oleh empat orang. Saya kebagian tengah malam saat Baterai Habis dan Kuota habis. Wualaaah, ilang moodnya dan memilih melanjutkan tidur.
Authornya kere banget teman-teman. hehehehe.
Saya harap teman-teman tidak kabur meninggalkan daku.
Maaf ya ceritanya datar-datar saja tidak ada konfliknya. Cerita ini tidak ada Pelakornya, tidak ada Mertua jahat dan menantu sengsara. Maklumlah Mertua saya baik jadi enggak tahu konflik antara Mertua dengan Menantu itu seperti apa.
Ini tetap fiksi, semoga suka. Jangan lupa Like, Komentar, Vote serta dukungannya. Perasaan sepi banget nih.
__ADS_1