Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
S2.17


__ADS_3

Sepeninggalnya Rasya, Qia masuk ke dalam rumah. Kini tujuannya adalah kamar. Dia merasa tubuhnya lemah sehingga keinginan untuk merebahkan diri tidak bisa di tahan lagi. Masih ada waktu sebelum Dzuhur menjelang.


Sesampainya di kamar, Qia langsung merebahkan tubuh lelahnya. Namun baru saja memejamkan mata, apa yang diucapkan Rasya tergiang-giang dalam pikirannya.


Balas dendam seperti apakah yang di janjikan Pemuda itu, sehingga tidak langsung mengutarakannya. Qia merasakan dirinya di gantung oleh perkataan itu yang membuatnya penasaran.


"Memang ada balas dendam yang berakhir bahagia? Bukankah balas dendam itu identik dengan kekerasan, keegoisan dan amarah. Dimana tujuannya adalah menghancurkan orang yang menjadi sebab dendam itu ada."


Qia bermonolog. Rasanya dia tidak perlu melakukan itu. Balas dendam sama artinya dia tidak terima dengan apa yang telah menjadi takdirnya. Bisa saja membuatnya terlihat buruk di mata Keynand. Dan itu menguntungkan bagi Wanita yang mendampingi Keynand saat ini, karena tanpa susah payah dia berhasil memperlihatkan keburukan Gadis yang menjadi pujaan Laki-laki itu. Perbuatan itu membuatnya tidak pantas menjadi orang yang berarti untuk Keynand.


"Duh Rasya kenapa kamu membuat aku penasaran," ucap Qia sedikit keras meluapkan kekesalannya.


Qia semakin larut dalam pikirannya yang tak berkesudahan. Kini ingatan menyeretnya pada hari dimana pertemuannya dengan seluruh anggota keluarga Keynand.


Flash back on


"Tuan Bodak, aku grogi," ucap Qia jujur. Dia menautkan kedua tangannya berusaha menetralkan degub jantungnya yang tak baik-baik saja.


Keynand tersenyum melihat raut cemas pada wajah berparas mawar Sang pujaan hati.


"Kamu tenang saja, Mommy dan Daddy tidak galak dan dingin, kok! Mereka berdua pasti akan menerima kamu dengan sangat baik."


Keynand menenangkan hati Qia.


"Ayok."


Ajakan Keynand dengan diiringi anggukan membuat Qia memupuk kepercayaan dirinya. Dia menghirup udara sepuasnya untuk menenangkan diri. Setelah dirasa tenang, Gadis itu melangkah dengan anggun di sisi Keynand.


Saat menjejakkan Kaki di Room mewak milik Hotel Ardiaz. Kedua pasangan serasi itu menjadi pusat perhatian. Qia melihat senyum ramah dari setiap orang-orang yang menunggu kehadirannya. Tidak ada tatapan sinis dan cemoohan di masing-masing wajah.


"Mamaaaaa."


Teriakan seseorang menggema di ruangan mewah itu yang sempat hening sesaat.


Qia tersenyum melihat Bocah yang berjalan tergesa-gesa menghampiri. Di belakangnya terlihat tiga bocah ikut mengiringi. Qia mengenal salah satu bocah Perempuan yang ternyata Renia, sedangkan dua bocah Laki-laki yang tak kalah tampan dari Raski tidak tahu siapa. Tentu saja sambutan empat bocah itu membuat hatinya berbuncah-buncah bahagia karena merasa dirinya di terima dengan baik.


Qia membungkuk mensejajarkan tubuhnya untuk menyambut Raski yang langsung melabuhkan diri dalam pelukannya.


"Mama kok selalu sibuk, apa enggak mikirin Dadek Raski yang selalu kangen sama Mama," ucap Raski manja dan terdengar berkeluh kesah.


"Iya Mama ini, kapan Mama Qia tinggal bersama Daddy?" Renia meninpali dengan pertanyaan yang membuat Qia dan Keynand saling pandang.


"Nah tuh ada pertanyaan, jadinya harus di jawab, dong! Kenapa kalian malah diam? Jadi kapan?" Marisa memberikan dukungan agar mendapatkan kepastian dari anak bungsunya itu.

__ADS_1


Qia menunduk tak tahu harus menjawab apa. Sementara Keynand hanya bisa menggaruk tengkuk karena kebingungan.


"Secepatnya, Mom."


Keynand pada akhirnya berhasil menjawab. Tapi jawaban itu bukan sesuatu yang pasti, justru terdengar menggantung membuat Marisa mencebikkan bibirnya.


"Kagak jelas, lu!" Reynand ikut menimpali dengan nada dingin dan tidak ketinggalan wajah datarnya.


Qia mendongakkan wajah mencari sumber suara. Dia melihat pemilik suara itu yang ternyata seorang Laki-laki berparas rupawan. Wajahnya mirip sekali dengan Keynand. Namun adanya berbedaan kontras di sana. Laki-laki itu memiliki tatapan tajam, rahang yang tegas dan wajah yang lebih tampan dari pada Keynand. Auranya terpancar kewibawaan yang membuat siapapun akan sungkan dan patuh. Namun dibalik itu Qia juga melihat keangkuhan di sana.


"Siapa dia?" Batin Qia bertanya.


"Tuh dengar Abang elu yang ingin mendapatkan jawaban yang jelas bukan malah ngeremeng kagak karuan gini." Alisa ikut nimbrung dalam pembicaraan. Wanita cantik itu melangkah dengan anggun mendekati Qia yang berdiri mematung dengan benak bertanya-tanya.


'Apa Laki-laki tampan dan Wanita cantik ini saudara Tuan Bodak, ya?' Batin Qia menerka.


"Pasti nak Qia bingung ya!" Ucap Marisa menyentak keterpakuan Gadis sederhana di tengah-tengah mereka.


"Kenalkan ini Alisa, Kakak tertua Keynand dan satu-satunya saudara perempuannya." Marisa memperkenalkan Alisa terlebih dahulu karena Wanita itu terlebih dahulu mendekat.


Alisa menyambut Qia dengan ramah. Dia mencium Pipi kanan dan kiri Gadis itu dengan celotehan riang.


"Jangan tegang gitu? Tenang saja keluarga Ardiaz bukan Vampir, jadi kagak bakalan di gigit. Meskipun ada yang dingin bermuka datar seperti Kulkas tiga pintu," ucap Alisa sembari melirik Reynand yang berdiri kokoh ditempatnya tanpa senyum.


"Siapa yang elu maksud?" Tanya Reynand karena dia mendapati dua pasang mata mengarah ke dirinya.


"Sekate-kate elu. Apa enggak bisa memberi penilain baik tentang gue ke hadapan calon adik ipar. Jangan salahkan gue kalau dia kabur dari hidup Keynand karena ulah elu," sahut Keynand ketus. Wajahnya tidak berubah selalu tanpa ekspresi.


"Bingung gue mau memberikan penilain baik seperti apa, habisnya elu tidak ada nilai plusnya. Jadi bagaimana, dong?"


Alisa tidak kalah berdebat dengan Reynand. Mereka berdua memang tidak pernah akur. Selalu ada perselisihan yang terjadi, meskipun pada akhirnya berujung damai.


"Udah, enggak usah dengerin perdebatan mereka berdua. Saya Lika, Ibunya Renia dan itu Laki-laki yang dikatain Kulkas tiga pintu itu nama Reynand, Abangnya Keynand dan sekaligus Ayahnya Renia." Lika menengahi dengan mengambil alih perkenalan.


"Jadi mbak Lika ini Ibunya Renia, Masya Allah cantiknya."


Qia mendapatkan pelukan hangat dari Wanita ayu yang ternyata ipar dari Keynand. Dia juga berkenalan dengan Reynand yang disambut dengan senyum tipis yang menawan. Tidak lupa Laki-laki itu menangkupkan tangannya menolak bersalaman membuat Qia benar-benar terkesima.


"Memang dia terlihat songong tapi hatinya sangat baik, kok" bisik Lika.


"Ya Habibati, kamu bisikin apa, sih? sama Calon adik ipar? Jangan bilang tentang nananinu, belum waktunya, lo?" tanya Reynand terdengar lembut di gendang telinga yang mendengarkan. Bahkan semua orang melihat tatapan hangat penuh cinta terpancar pada kedua manik berwarna hitam itu.


Qia lagi-lagi terkesima dengan apa yang dilihat dan di dengar.

__ADS_1


"Bolehkah aku mengagumi Sosok Calon Kakak Ipar? Ternyata dia sangat lembut dan hangat hanya kepada satu Wanita yaitu Sang Isteri. Aku berharap Abang Keynand juga melakukan hal sama, tidak menebarkan perhatiannya kepada para Wanita yang bukan menjadi mahromnya," batin Qia berbisik. Gadis itu memandang ke arah Keynand yang seketika itu mendapatkan kerlingan mata dan senyuman hangat.


Qia tersipu malu dengan degub jantung yang semakin bertalu-talu.


"Rahasia Wanita. Please, deh jangan kepo," sahut Lika diakhiri kekehan kecil.


"Biar Mas tebak rahasia apa itu?" Reynand nampak berpikir, sejurus kemudian dia tersenyum sumringah. Sementara Lika was-was melihat senyum Suaminya yang tak biasa.


"Apakah kamu mengajarkan bagaimana caranya menunggang kuda-kudaan yang baik? Jika itu, pantaslah sebuah rahasia." Reynand mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya.


Lika melotot mendengarkan perkataan Suaminya yang sefrontal itu. Sedangkan Qia yang mendengarkannya jadi tertunduk malu. Apa yang dikatakan oleh Reynand merupakan hal yang tabu baginya, namun dia memahami apa yang di maksudkan oleh Calon Kakak iparnya itu.


"Abang Reynand, jangan mesum, deh! Lihat Calon Mantu Mom jadi tersipu malu. Apa kamu tidak mengerti kalau Gadis ini masih tak terjamah." Usai berkata Marisa menjewer Telinga Reynand yang membuat Laki-laki tampan itu sontak mengaduh.


"Rasain lu! makanya bibirnya jangan iseng, jadi kena, kan tuh! Jewer saja Mom biar kapok." Keynand memprovokasi.


"Enggak masalah, ada kamu tempat Abang melampiaskan pembalasan," ucap Reynand tegas dan terdengar dingin.


Keynand cemburut. Dia sudah hafal apa yang akan dilakukan berwajah datar itu. Melihat sorot mata tajam itu, dia harus meningkatkan kewaspadaan yang sangat tinggi.


Huft


Hahahaha


Reynand tertawa melihat wajah cemas adiknya.


Alisa yang lebih berpihak pada Keynand menyerang adiknya itu dengan membabi buta.


"Udah besar juga masih ngandalin bantuan Kak Alisa, payah lu! Sini saja biar gue sendiri dan kalian menyerang berdua bakalan gue jabanin. Lihatlah siapa yang bakalan menang, gue lah!" Ucap Reynand jumawa.


Alisa dan Keynand memutar bola matanya dengan malas.


Alisa memang sadar tidak bakalan menang berdebat dengan Reynand. Namun jika dia bisa berkolaborasi dengan Keynand yang jahil tidak menutup kemungkinan perdebatan itu di menangkan oleh mereka berdua.


"Astaghfirullah, kalian bertiga ini masih saja kekanak-kanakan. Apa kagak malu sama tamu Istimewa kita? Dia pasti bingung dengan kelakuan minus kalian bertiga." David Ardiaz menengahi perdebatan ketika anaknya.


Keynand dan Alisa tersenyum canggung. Sedangkan Reynand hanya diam masih bertahan dengan sikap dingin dan ekpresi datarnya. Hanya tangannya sedikit bergerak menyentuh tengkuk dengan santainya seakan tidak terjadi apa-apa.


Usai menengahi perdebatan ketiga anaknya, David memperkenalkan diri kepada Qia. Gadis itu juga berkenalan dengan keluarga Lika. Mulai dari Ali Hasan, Fatimah, Adly dan Sang Isteri, Rasya dan tidak ketinggalan Hamiz yang sudah di kenalnya. Qia juga berkenalan dengan kedua orang tua mendiang Isteri dari Keynand.


Selanjutnya mereka makan malam bersama dengan penuh keakraban.


Qia mengakrabkan diri dengan kaum Wanita. Di mana ada Marisa, Alisa, Lika, Fitri dan dua Wanita paruh baya yang merupakan Ibu Lika dan Ibu mendiang Ega. Sementara Keynand terdengar saling bully dengan kaum Laki-laki yang terdiri dari Reynand, Adly, Hamiz dan Rasya.

__ADS_1


"Enggak sabaran menunggu Qia menjadi Bestie kita. Jadi kapan sebenarnya, bukan secepatnya, kan?" tanya Lika memastikan.


Bersambung


__ADS_2