
"Mas bangun, aku mau lahiran dan rasanya sakit sekali Mas. Kau denger, kan? Jangan tidur saja, aku benci sama Mas Rizqy. Awas saja kalau Mas Rizqy tidak bangun saat aku kesakitan melahirkan anak kita, aku tidak akan menegur Mas Rizqy apalagi tersenyum sama Rizqy. Aku akan ngambek dan enggak mau melihat Mas Rizqy. Kau dengar, aku akan ngambek."
Habibah mengancam Rizqy bersamaan dengan rasa sakit yang kian nyata.
Tangisan itu pecah bersama rasa sakit yang kian menuntun bayinya untuk melihat dunia.
Mendengarkan suara tangisan dan ringisan kesakitan membuat Rizqia terbangun. Dia melihat di sampingnya, tidak ada Habibah di sana. Gadis itu panik, dia khawatir terjadi sesuatu dengan Rizqy terlebih Habibah. Lekas dia turun lalu menggeser tirai yang menyekat Ranjang tempatnya berada dengan Ranjang pasien.
"Astaghfirullah. Kak Habibah kenapa? Wajahnya sangat pucat? Apa sakit lagi?" tanya Rizqia panik.
"Sepertinya Kakak mau lahiran," jawab Habibah dengan berusaha menenangkan dirinya.
"Bawa perlengkapan ponaan kamu Qia, jangan lupa kain beberapa helai."
Habibah meminta sementara dia berjalan keluar hendak menuju Ruang bersalin.
Rizqia dengan cepat mengambil Tas yang sudah di siapkan oleh Habibah. Pada Tas itu tersimpan semua keperluan saat melahirkan. Dengan langkah cepat dia menyusul Habibah yang terlebih dahulu menuju Ruang bersalin yang jaraknya lumayan jauh dari bangsal perawatan.
Sepi sekali menandakan penghuni rumah sakit Ardiaz benar-benar lelap dalam tidurnya.
Rizqia memapah tubuh Habibah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya menenteng Tas.
Hening, Habibah tidak berkata apapun selain doa yang terucap dalam hati.
Rizqia pun tidak bersuara, hanya kecemasan yang tergambar jelas pada mata sayunya.
"Suster tolong Kak saya, dia mau melahirkan."
Rizqia membangunkan Tenaga medis yang sedang berjaga di bangsal persalinan.
Dengan cepat Petugas yang ada di sana memberikan respon. Habibah di bawa ke ruang bersalinan dengan di dampingi satu Perawat dan satu Bidan.
"Ya Allah sakit sekaliiii," ucap Habibah berusaha menahan kesakitan.
"Udah bukaan lengkap," ucap Bidan itu memberitahu.
"Tengsinya naik," ucap Perawat yang mengecek keadaan Habibah.
"Tidak ada riwayat darah tinggi, mungkin karena tegang," lanjutnya.
"Tenang ya mbak, jangan lupa beristighfar dan berdoa. Dengarkan instruksi kami ya?" Ucap Bidan itu dengan lembut. Beberapa menit kemudian datang Dokter Eka yang menggantikan Dokter Vidya yang sedang cuti melahirkan.
"Mbak Habibah sudah lengkap bukaan ya? Sebentar lagi akan bertemu dengan bayinya yang tampan dan cantik. Masyaa Allah, mbak Habibah beruntung di kasik dua sekaligus, Laki-laki dan perempuan pula. Sekarang saatnya kita sambut Bayinya. Tarik nafas panjang, sekarang dorong bayinya mbak Habibah."
__ADS_1
Dokter Eka mengajak Habibah berbicara. Dia berusaha membuat pasiennya tenang agar proses persalinan berjalan lancar.
Sementara di ruang rawat inap Rizqy, ada seseorang menyelinap masuk. Dia menggunakan seragam perawat dengan jarum suntik di tangannya.
"Lebih baik aku kabulkan saja niatmu menghadap Tuhan lebih awal dari pada kamu hanya bisanya tidur saja Rizqy?" Ucap seseorang itu sembari memainkan jarum suntik itu di hadapan Rizqy yang tertidur lelap.
"Bagaimana? Salahmu tidak mau menerimaku kembali dan salahmu telah mengambil alih BAA Garden, padahal tinggal selangkah lagi aku akan berhasil merebutnya. Kamu telah mengacaukan semuanya. Sebelum Isteri dan anakmu yang sebentar lagi akan lahir, terlebih dahulu aku mengurusmu."
Usai berbicara, Seseorang itu hendak menusukkan racun pada infus yang menopang hidup Rizqy.
Prang
Tidak terduga Rizqy membuka mata dengan cepat dia menepis tangan perawat gadungan sehingga membuat jarum itu jatuh.
"Wowww, ternyata kamu sadar juga Rizqy?" ucap Seseorang itu dengan ekspresi setenang mungkin. Padahal sejatinya dia sangat kaget melihat Rizqy yang secara ajaib tiba-tiba bangun dari komanya. Padahal berdasarkan perhitungamnya Rizqy tidak akan mungkin sadar, apalagi khabar dari Dokter yang tidak memiliki harapan lagi. Mereka lepas tangan dengan kondisi Rizqy yang tidak ada perubahan.
"Wina, untuk apa kamu ke sini?" Ucap Rizqy berusaha menggerakkan tubuhnya, tapi tidak berhasil.
"Mana Habibah?" Lanjutnya dengan melihat sekelilingnya.
"Selingkuh mungkin," jawab Seseorang itu yang ternyata Wina Winata.
"Jangan memfitnah, Isteriku bukan kamu Wina Winata," bentak Rizqy.
"Buktinya Isteri tercintamu tidak ada di sini, iya kan? Hanya Wina Winata yang kamu lihat," sahut Wina dengan tegas. Senyum sinis itu mengembang dengan sempurna melihat ekspresi Rizqy yang muram.
Wina dengan tenang menceritakan sesuatu yang ingin diketahui oleh Rizqy. Saat ini kesempatannya untuk membuat Rizqy tidak mempercayai Habibah dengan cerita bohongnya.
"Saya tidak percaya."
Rizqy menatap Wina dengan nyalang. Dia bosan mendengarkan cerita karangan yang sangat jelas terbaca olehnya.
"Ini faktanya Rizqy, Isterimu berselingkuh dengan Laki-laki bernama Juna. Lihatkan dia tidak ada di sini."
Wina dengan gencar mempengaruhi pikiran Rizqy agar mempercayainya. Jika berhasil secara nyata dia pasti akan membenci Habibah lalu membuang Wanita itu bersama anak kembarnya sendiri.
Rizqy terdiam. Hatinya terasa nyeri mendengarkan kenyataan ini.
"Ikutlah denganku, kita berdua akan membalas Habibah Rosy dan Laki-laki bernama Juna itu," ucap Wina sembari mengulurkan tangannya.
"Jangan ragu Rizqy, aku tahu kamu pasti sekarang sedang merasa sakit. Mari bersamaku, kamu luapkan amarah dan kegeramanmu itu kepada Habibah nanti setelah pulih. Berani-beraninya dia mencampakkan seorang Rizqy di saat koma."
Wina terus-terusan mencuci Otak Rizqy dengan cerita karangannya.
__ADS_1
Rizqy baru sadar terus tidak ada Habibah di sampingnya, tentu itu sebuah keberuntungannya. Rizqy yang sulit menerima kenyataan tentang dirinya yang lumpuh pasti saat ini suasana hatinya tengah bergejolak dan tidak stabil.
"Apa kamu pikir saya percaya dengan cerita bohong kamu Wina?" ucap Rizqy dengan tatapan dinginnya.
"Setiap hari saya mendengar suara orang mengaji dan itu suara Habibah. Setiap hari aku mendengar suara Habibah mengajakku berbicara, hanya suara Habibah tidak ada suara kamu masuk dalam pendengaranku. Meskipun koma, bukan berarti tidak mendengar suara orang yang mengajak saya berbicara."
Rizqy melanjutkan kata-katanya. Dia sama sekali tidak terpengaruh dengan hasutan dari Wina. Rizqy sangat menjunjung tinggi kepercayaannya kepada Isterinya. Jadi, khabar apapun tentang Habibah baik khabar baik maupun khabar buruk dia akan terlebih dahulu mendengarkan secara langsung dari Habibah. Dia tidak akan mengandalkan marahnya, mungkin saja marahnya itu menggiringnya pada penyesalan.
Rizqy belajar dari sebuah cerita, seorang Suami yang pergi merantau dan meninggalkan Isterinya di Desa. Beberapa tahun kemudian Sang Suami pulang. Di saat itulah dia melihat Isterinya sedang bermesraan dengan seorang Laki-laki muda. Amarahnya langsung membucah tatkala melihat itu, ada rasa ingin membunuh keduanya. Saat itu pula dia teringat sebuah nasehat agar tidak mendahulukan amarah saat melihat ataupun mendengarkan sesuatu yang berpotensi menimbulkan kekacauan. Singkat cerita Lelaki itu menemui Isteri dan Pemuda yang bersama Isterinya dengan sangat tenang. Dan alangkah terkejutnya Lelaki itu saat mendapati kebenaran bahwa ternyata Laki-laki muda itu adalah anak kandungnya. Saat meninggalkan Isterinya dulu ternyata dia sedang mengandung anaknya.
Jelas, jika Laki-laki itu lebih menuruti amarahnya, tentu penyesalan yang akan dia dapatkan. Selain kehilangan Isterinya yang setia dan dia juga akan kehilangan anak kandungnya sendiri.
"Dasar keras kepala! Tidak menyangka kamu bisa membaca pikiran jahatku Rizqy," ucap Wina kesal. Dia berjongkok lalu mengambil jarum yang terjatuh tadi.
"Niatku ke sini sebenarnya ingin membunuhmu, tapi kamu siuman dari komamu aku jadi berubah pikiran. Tadinya aku berniat ingin memiliki kamu dan membuat cerita bohong tentang Habibah, tapi nyatanya usahaku sia-sia."
Wina mengakui niat jahatnya. Wajahnya terlihat sedih dengan seringaian jahat nampak setelahnya.
"Dan usaha terakhir, saya yakin pasti akan berhasil. Apakah kamu akan mampu menyelamatkan Habibah yang sedang berjuang melahirkan anak kembar kamu, Rizqy! Kita lihat saja seperti apa kamu akan berjuang menyelamatkan orang-orang yang kamu sayangi, sedangkan kamu lihatlah keadaanmu sendiri."
Wina memindai tubuh Rizqy dari bawah hingga berakhir pada wajahnya lalu memberikan senyum mengejek sungguh sangat menyebalkan.
"Lumpuuuuh." Wina melanjutkannya dengan kata-kata hinaan.
"Baiklah saya permisi dulu, saatnya mengeksekusi Habibah saya yakin dengan sekali tusuk Habibah dan kedua bayi kamu pasti langsung koit, hahaha."
Wina melangkah keluar dengan meninggalkan tawa kemenangan.
"Jangan lupa tanda tangan peralihan kepemilikan perusahaan BAA Garden sebelum kamu menyusul Habibah dan anak-anak kamu Rizqy."
Wina masih sempat mengancam Rizqy dengan selembar kertas dan Bolpoint yang di tinggalkannya di atas nakas.
"Tenang saja tidak akan ada yang tahu tentang kejadian ini Rizqy dan harap tutuplah mulutmu dengan rapat," sambungnya dengan seringaian yang menyebalkan.
"Winaaa."
Teriakan Rizqy tidak di gubrisnya. Dia terus saja melangkah menuju ruang bersalin dengan pakaian Perawat. Sudah dipastikan tidak akan ada yang menyadari siapa dirinya.
Rizqy berusaha bangun dari rebahannya. Beberapa kali berusaha tapi usahanya itu tidak menampakkan hasil. Sarafnya-sarafnya benar-benar kaku. Dia ternyata lumpuh total dan tidak bisa bergerak sama sekali.
"Ya Allah lindungi Isteri dan anak-anak hamba." Rizqy memasrahkan apapun yang terjadi pada Habibah dan anal-anaknya kepada Tuhan. Hanya doa yang dia lantunkan sebagai usahanya dalam melindungi Isteri dan kedua bayinya.
"Masuuuk, berani sekali ibu mau mencelakakan Habibah dan keponakan saya."
__ADS_1
Dari arah luar terdengar suara orang berbicara. Bersamaan itu pula Rizqy berhasil duduk kemudian berusaha untuk turun dari Ranjang tapi rasanya itu tidak mungkin karena satu Kakinya di Gips. Saat itu juga muncul Seseorang dengan Wina bersamanya yang tangannya sedang terikat.
Bersambung.