Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
S2.13


__ADS_3

"Kak Hamiiiiz."


Rasya kembali memanggil Kakaknya itu yang terdiam cukup lama.


"Iya Sya Kakak masih di sini," jawab Hamiz.


"Kak, apa yang terjadi? Sepertinya Kakak terkejut saat Rasya menceritakan tentang Qia. Sebenarnya ada apa? Kakak sepertinya merahasiakan sesuatu tentang Qia dan Abang Keynand."


Rasya merasa curiga dengan Hamiz yang tiba-tiba diam. Padahal sedari awal mereka mengobrol Hamiz tak henti-hentinya meledek adiknya sehingga pembicaraan terdengar sangat menyegarkan. Ketika pembicaraan berganti topik dengan menceritakan pertemuannya dengan Qia membuat keceriaan itu hilang dalam sekejap. Terdengar helaan nafas yang terdengar dari Hamiz.


"Sya Abang Keynand sudah menikah dengan Wanita lain bernama Julaekha Syarifah. Sudah dipastikan Keynand tidak tahu kalau Qia sedang sakit."


"Madha? Apa mereka putus?"


"Tidak, berita yang saya dengar Abang Keynand menikahi Julaekha Syarifah atas permintaan Qia. Benar atau tidaknya saya tidak tahu."


Rasya terdiam. Ingatannya kembali pada pagi tadi di taman. Dia tidak mendengar dengan jelas apa yang diucapkan oleh Qia. Tapi dia bisa menyimpulkan betapa terlukanya Gadis itu dan pastinya dia sangat mencintai Keynand. Mana mungkin Gadis itu dengan bodohnya melepaskan Laki-laki yang dicintai di miliki orang lain. Rasya menuturkan pemikirannya kepada Hamiz berdasarkan apa yang terjadi dengan Gadis itu.


"Kakak juga tidak percaya kalau Qia merelakan cintanya di ambil oleh orang lain. Apa mungkin Abang Keynand sengaja melakukan ini agar bisa menikahi Julaekha Syarifah dan terlepas dari tanggung jawabnya menikahi Qia. Abang Keynand menyodorkan fakta bahwa seolah-olah Qia yang melepaskan sehingga tidak dipersalahkan oleh Daddy David dan Mom Marisa."


Hamiz pada akhir menumpahkan kekesalan yang sudah lama mendekam di dad*nya. Kepada Rasya dia bebas berkeluh kesah tentang apa yang ada dalam pikirannya.


"Astaghfirullah. Istighfar Kak jangan Su'udzon kepada Abang Keynand. Kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi."


Rasya mengingatkan Kakaknya itu yang lepas kendali dan benar mereka tidak tahu apa yang sebenarnya di rasakan oleh Keynand.


"Astaghfirullah. Kakak bukan bermaksud tidak percaya sama Abang Keynand. Hanya saja sesak rasanya dad* ini dan marah sama Abang Keynand. Kenapa dia tidak mencari kebenaran itu sebelum menikahi Julaekha. Dia seharusnya mendengarkan secara langsung dari Qia. Bisa saja ini hanya kebohongan semata. Jika benar itu dari Qia, Abang Keynand tidak harus memenuhi keinginan Qia, kan? Terlepas benar atau tidaknya seharusnya Abang Keynand tidak menikahi Julaekha dengan alasan apapun. Kecuali kalau dia mencintai Wanita itu. Kakak rasa itu jawabannya, Abang Keynand mungkin saja mencintai Julaekha. Secepat itukah Abang Keynand berpaling."


Panjang lebar Hamiz menyayangkan keputusan yang di ambil oleh Keynand. Keynand tidak berpikir panjang dan juga tidak mendengarkan pendapat orang lain yang perduli dengan hidupnya. Dia terlalu terpikat oleh rayuan yang dilancarkan oleh Julaekha sehingga sangat mudah untuk takluk.


Hamiz pernah mengingatkan Keynand agar berhati-hati dengan Wanita itu. Semenjak gosip yang beredar di kampus mengenai kedekatan Keynand dan Julaekha mulai berhembus tak bersumber jelas. Semenjak itu Hamiz menaruh curiga rekan kerjanya itu akan bergerak untuk menjadikan gosip itu menjadi benar adanya. Terbukti kini, Julaekha berhasil memenangkan pertarungan dengan cara cantik tanpa terbaca.

__ADS_1


"Terus apa yang harus kita lakukan, kak?"


"Kita harus merahasiakan keberadaan dan keadaan Qia. Biarlah Qia menjalani pengobatan hingga sembuh dan menjalani hari-harinya tanpa di bayangi oleh Abang Keynand."


Rasya mengiyakan demi kebaikan Qia. Apa yang dipikirkan Hamiz sejalan dengan yang dipikirkan oleh Rasya. Jika keberadaan Qia di ketahui oleh Keynand, tidak menutup kemungkinan dia akan menemui Gadis itu. Ini tentu saja tidak baik untuk Keynand yang sudah berumah tangga dan ketenangan hidup Qia yang masih sendiri. Ada hati yang harus di jaga oleh Keynand. Selain hati Isterinya dan juga hati Qia agar tetap sama-sama tidak merasakan terluka.


Hamiz menyudahi obrolannya dengan pikiran yang ternyata bukan lega tatkala mengetahui keberadaan Qia. Dia malah di rudung kecemasan dan kegelisahan karena mengingat kesedihan Rin yang kehilangan sahabat baiknya itu. Apa yang harus dikatakan kepada Rin yang memintanya untuk mencari keberadaan Sahabatnya itu. Terus terang Hamiz sangat dilema.


"Ki, kamu sudah tahu di mana Qia, kan?"


Hamiz semakin terkejut mendapati Reynand yang sudah berdiri di belakangnya. Dia membalikkan badan dengan berusaha bersikap setenang mungkin.


"Tidak Bang," jawab Hamiz singkat berusaha menahan kegugupannya.


"Jangan berbohong."


Hamiz tidak bisa menyembunyikan apapun dari Sosok Reynand. Reynand yang memiliki insting yang kuat dan sangat lihai menerjemahkan bahasa tubuh dan raut wajah seseorang. Pantas saja dia tidak akan mudah terpedaya. Berbeda dengan Keynand yang sangat mudah terpedaya oleh kebohongan sekecil apapun bentuknya.


"Itu Abang sudah bisa menebak, kenapa harus bertanya? Saya rasa Abang Reynand sangat cerdas sehingga dengan mudah mengetahuinya. Apa mungkin kecerdasan Abang Reynand sudah hilang sehingga hal sepele ini saja tidak terpikirkan lagi."


Bukan Hamiz namanya kalau tidak mengerjain lawan bicaranya terlebih dahulu. Dia tersenyum penuh kemenangan saat melihat raut wajah Reynand terlihat masam.


"Lalu Hamizan Riski, jangan bercanda ini sedang serius. Justru saking cerdasnya Abang tidak ingin gegabah menyimpulkan informasi yang belum jelas. You know, you Understand." Reynand menegaskan bahwa saat ini dia sedang serius.


"Iyah, kok di ajak berbahasa English. Bagaimana kalau kita menggunakan bahasa gaul orang tua dari orang tuanya Isteri Abang, dipastikan langsung darah tinggi. Agapaga agabagang Regeynagand segetugujugu, yeges ogor nogo? Pugusiging, kagan?" (Apa Abang Reynand setuju? Yes or no? Pusing, kan?).


"Kamu bener-bener tidak sopan mengatakan Niniq dengan sebutan orang tua dari orang tua kamu sendiri. Mau kamu di hapus dari silsilah keluarga Mamiq Hasan? Bisa nyahok kamu jika calon Mertua minta silsilah keluarga sementara nama kamu sudah di blacklist."


Reynand menakut-nakuti Pemuda yang hanya bisa menampilkan wajah cengengesan.


"Ampure Niniq, Cucundanya ini hanya lupa dengan ingatannya. Bukan maksudnya tidak sopan hanya ingin memperkenalkan betapa gaulnya remaja di zaman Niniq."

__ADS_1


Hamiz membela diri, sedangkan Reynand bereaksi dengan menjitak Kepala Hamiz yang masih saja mengajaknya bercanda terus menggunakan bahasa yang memusingkan pendengarannya. Anehnya, Pemuda itu tidak belepotan sama sekali saat mengucapkannya. Lancar selancar omelan orang yang lagi kesal. Dia rasa Penulisnya pun kesulitan menulis bagian ini, iya kan? ngaku aja deh! Reynand mengalihkan kekesalannya dengan menyalahkan Gadis manis berkerudung Pink yang lagi nulis cerita ini.


Hamiz kembali serius. Dia merasa terpojok karena Reynand terus-terusan mendesaknya. Merasa dirinya tidak bisa berkelit lagi dan mendapatkan bisikan entah dari siapa. Mau tidak mau, suka tidak suka dan sudi maupun tidak sudi Hamiz terpaksa menceritakan apa yang di dengar dari Rasya.


Reynand mendengarkan dengan serius hingga cerita itu berakhir. Dia menarik nafas panjang kemudian terdiam cukup lama sedang memikirkan sesuatu.


"Sudah Abang duga, permintaan Qia kepada Keynand untuk menikahi Julaekha hanya sebuah kebohongan. Anehnya Keynand sepertinya sangat menikmati kebohongan ini," ucap Reynand dengan pandangan gusar.


"Biarkan Keynand dan Qia menjalani hidup masing-masing dengan tenang tanpa harus saling menganggu dan menyakiti," putus Reynand dengan nada tegas.


Hamiz bernafas lega, itu artinya Reynand bersedia merahasiakan keberadaan Qia.


Reynand sebenarnya ingin memberitahu kepada Keynand apa yang terjadi dengan Gadis yang pernah di cintai adiknya itu. Mengingat Keynand tidak sama sekali mau berbagi apa yang sedang di hadapinya membuat Reynand berpikiran untuk merahasiakan keberadaan Qia demi ketenangan hidup Gadis itu.


***


Keynand menatap indahnya kota paris. Dalam pandangannya Kota itu sangat indah. Namun tidak dengan hatinya yang teriris gergaji tajam dan terpenjara dalam gelap yang menyakitkan.


Lagi-lagi dia terjebak dalam bujuk rayu Sang Isteri. Malam ini untuk pertama kali dia menyentuhnya. Melabuhkan hasrat yang telah lama berpuasa.


Namun bukan kepuasaan yang di dapat melainkan rasa kecewa. Isterinya bukanlah seorang Gadis seperti statusnya seorang Gadis yang tidak pernah menikah sebelumnya dan seharusnya tak terjamah sebelum adanya ikatan halal.


Rasa kecewanya bertambah parah saat mendapatkan jawaban yang sangat bangga dengan dosa yang dilakukan Wanita yang kini menjadi Isterinya.


"Iya, aku sudah tidak virgin lagi. Aku beberapa kali melakukan dengan laki-laki yang menjadi pasanganku. Kita sama-sama suka, karena aku butuh iya kita lakuin."


Bibir bergincu merah itu sangat enteng mengakui rahasianya.


"Jangan berpikiran kolot, Mas. Kamu itu sudah lama menduda apalagi kamu yang pernah tinggal di luar negeri cukup lama pasti terbiasa dengan yang namanya sek* bebas jadi jangan sok suci, deh!" Lanjut Julaekha dengan senyum sinisnya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2