
"Mereka ingin menjebak Mas."
Habibah sebisa mungkin menenangkan hati Suaminya. Dia menelusupkan diri dalam pelukan Suaminya untuk mencari kenyamanan.
"Kita akan menghadapinya, Mas tidak perlu risau jika Mas tidak tertarik," ucap Habibah memandang Suaminya dengan lekat penuh rasa.
Rizqy tersenyum, dia membelai wajah Isterinya. Semua bagian tak lepas dari tangan kekar itu. Habibah tentu saja geli, rasa suka lebih mendominasi dan hanya perlu menikmatinya.
"Geli, Mas."
"Tapi kamu suka, kan?"
"Suka sih tapiiiii sering-sering Mas, tiap hari sebelum kita tidur."
"Maunya, okay dikabulkan," jawab Rizqy tersenyum cerah. Dia mengelus lembut sedangkan Habibah sangat menikmati tangan kekar itu menyentuh kulitnya.
Sejurus kemudian hening.
Rizqy asyik dengan aktivitasnya sedangkan Habibah terbuai dalam sentuhan. Tak ada pembincaraan selain rinai hujan yang terdengar semakin melemah.
"Bibaaaaah, apa kamu dengar sesuatu?" bisik Rizqy di telinga Isterinya.
"Apa?"
"Pertanyaanku," jawab Rizqy tersenyum jahil.
Habibah segera membuka mata karena dia belum mengerti. Tadi hampir saja terlelap tak mendengar apapun selain suara hujan. Tentu saja pertanyaan itu membuatnya penasaran.
"Ngerjain, ya? mulai dah kumatnya," sahut Habibah sewot.
"Hahahaha."
Rizqy tertawa melihat raut Habibah yang menurutnya lucu. Dia mencubit kedua pipi itu saking gemasnya.
Habibah tentu saja membalas, dia mencubit pinggang Rizqy membuatnya mengaduh kesakitan.
Sebelum mendapatkan balasan, dia segera bangkit menghindari serangan. Habibah berjoget ria memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sexy. Dia sengaja menggoda Suaminya sekaligus mengejek karena tidak berhasil membalas.
"Oh Habibah kamu sungguh sexy sayang," ucap Rizqy terpikat. Dia tidak menyangka Isterinya sungguh lihai membangkitkan kembali hasratnya.
Dia mendekat, mengikuti gerakan Isterinya yang memperagakan Senam Jantung sehat. Gerangan ringan itu membuat tawa menggema di kamar.
Kaku
Itu yang terlihat membuat gerakan itu nampak lucu. Bagaimana jadinya jika kita gerak jalan, Kaki dan kanan kompak berjalan bersama. Kaki kanan melangkah dan tangan kanan mengayun.
__ADS_1
Hahahahaha
Habibah tidak bisa lagi menahan tawanya saat dia sengaja merubah gerakan menjadi gerak jalan. Rizqy seolah latah dan mengikuti gerakan Isterinya yang membuat dia berjalan seperti Robot.
Ketika menyadari, dia tertawa kikuh dan merasa malu karena Habibah berhasil menjebaknya.
"Ini dah, kenapa Mas tidak pernah mau menjadi Petugas Pengibar Bendera," ucap Rizqy sembari menggaruk tengkuk sebagai cara menahan rasa malunya.
Rizqy beranjak ke kasur lalu menghempaskan badanya karena merasa lelah. Habibah mendekat dengan senyum yang terus menggembang.
Disaat mereka kembali merebahkan raganya. Sayup-sayup terdengar ketukan dari daun Pintu yang mengunci keamanan penghuni rumah.
"Mas, sepertinya hadiah sudah datang," ucap Habibah bersemangat. Sementara Rizqy menanggapinya dengan malas. Dia memilih melanjutkan istirahat tak ingin terganggu dengan hadiah yang akan berpotensi menekannya.
"Biar aku yang urus, Mas tunggu disini," ucap Habibah tersenyum penuh arti. Ada ide dalam Otaknya tentu saja ide itu akan segera dijalankan.
Dia bangun dari rebahannya lalu melangkah menuju lemari. Habibah mengambil Mukena kemudian menggunakannya. Setelah itu baru menuju Pintu kamar. Membuka handle berjalan secara pelan tanpa suara menuju Pintu masuk. Untung Lampu ruang tamu sudah dimatikan membuat rumah itu terkesan sepi.
Rizqy terbengong, dia penasaran sehingga mengikuti. Dia ingin lihat apa yang hendak dilakukan Habibah.
Dengan perlahan, Habibah membuka Pintu hampir tak terdengar. Dia diam tak berkata apapun, siap menyambut hadiah yang diberikan oleh seseorang untuk Suaminya. Sebelum membuka Pintu, dia sempat mengintip dari Jendela. Terlihat Gadis cantik berpakaian sangat minin dengan aurat terbuka semua. Habibah sempat geram dengan seseorang yang berusaha menjebak Suaminya.
"Cara murahan," ucap Habibah geram.
Rizqy sudah menduga hal itu akan terjadi. Mereka akan membuat buruk citranya, dengan cara menjebaknya. Skandal dengan seorang Wanita, ituah siasatnya. Sang Wanita akan beracting telah mendapatkan chaos dari seorang Rizqy yang selama ini memiliki citra baik, jauh dari gosip yang suka bermain Wanita. Setelah ini pasti mereka memiliki bukti untuk mengintimidasinya agar tujuannya tercapai. Mau tidak mau Rizqy harus menyetujui jika tidak ingin nama baiknya tercoreng.
"Cari siapa? tidak ada orang disini," ucap Habibah dingin. Dia berdiri di sudut ruangan dengan terbungkus Mukena berwarna putih. Tentu saja penampilan terlihat seperti penghuni dunia lain.
Wanita itu menyapu sekeliling, mata terhenti melihat sesosok yang melotot dengan seringai yang terlihat menyeramkan.
"Ha hantuuuuuu," pekik Wanita itu lari tunggang langgang. Dia meraih gagang Pintu dengan tangan gemetaran. Bukannya membuka melainkan menutupnya. Dia tidak sadar bahwa Pintu itu sudah terbuka lebar.
Sosok itu kembali memperdengarkan tawa mengerikannya.
Hihihihihihi
"Haaaaantuuuuuu."
"Ampuuuuun, saya tobaaaat." Teriak Wanita itu, dia berhasil membuka Pintu dengan langkah cepat dia meninggalkan rumah Rizqy.
Habibah tertawa menyaksikan raut Wanita itu yang terlihat pucat. Dia terhibur menyaksikan tangan gemetaran dan seluruh tubuh yang dipastikan langsung merinding.
Setelah menikmati kekonyolan yang diperbuatnya. Habibah melambaikan tangan lalu mengucapkan
"Bye, bye, bye."
__ADS_1
Dia segera menutup Pintu, mengunci lalu berbalik arah meninggalkan ruang tamu. Dalam keremangan malam, terdengar rintik hujan menyeruakkan hawa dingin.
Habibih berjalan dengan senyum tak tanggas. Dia sangat bahagia karena berhasil mendepak hadiah yang dikirim seseorang untuk menjebak Suaminya.
Terlalu bodoh orang itu menggunakan lagu lama. Apa di dalam Otaknya seorang Pria hanya bisa ditaklukkan oleh seorang Wanita cantik. Memang diakui, Wanita mampu meruntuhkan keimanan seseorang dan membuat Pria tersungkur dalam kenistaan. Namun tidak semua Pria cepat tergoda, bukan? selama masih ada iman di hati maka godaan itu dapat ditaklukkan.
Dalam keheningan, dia sudah berada di tengah ruangan. Sayup-sayup terdengar suara alam yang dipastikan akan membuat bulu kuduk berdiri. Lolongan Snoopy terdengar sungguh mengerikan membuat orang-orang semakin memperelat selimutnya.
tiba-tiba
wuuuuuuus
Angin berhembus menyelimuti tubuh Habibah dalam rasa dingin.
"Habibah."
Lirih terdengar seseorang memanggilnya
"Habibah."
Makin jelas makin terdengar dingin dan mengerikan. Habibah menyapu pandangan mencari sumber suara. Tak ada siapapun disana selain kepekatan.
Tak merasa takut, dia berjalan lurus menuju kamarnya. Dia yakin, hanya halusinasinya, hidup tersendiri di Desa membuatnya kebal dengan bunyi-bunyian tak jelas.
Dia membaca doa dengan khusuk, setelah selesai dia tersenyum penuh kemenangan. Dia yakin Sosok itu akan bingung karena dirinya membaca doa makan. "Mari kita makan, saya traktir lo!"
Habibah berucap dengan wajah tenang. Dia tersenyum dengan sejuta makna. Dia yakin, caranya ini sukses membalas Pria tampan yang sedang mengerjainnya.
Habibah tertawa dengan tawa yang sungguh mengerikan. Rizqy yang bersembunyi dengan secepat kilat meraih tubuh Habibah lalu mendekapnya.
"Tunggu jangan mendekap? apa kamu Suamiku?" ucap Habibah serius. Dia menghidupkan Senter di Ponsel, seketika itu cahaya menyeruak. Habibah tersenyum memandang Suaminya yang terlihat bingung menampakkan dahinya yang mengkerut. Habibah menyentuh hidung mancung itu. Jarinya berjalan menelusuri garis bawah hidung menelusuri garis menuju bibir atas.
Cup
Tanpa isyarat Habibah mengecup bibir Suaminya, lalu dengan langkah cepat dia berlalu meninggalkan tawa renyahnya. Kali ini tak terdengar mengerikan karena memperdengarkan tawa aslinya. Tadi, ketika menakuti Wanita panggilan itu dia lip sync dengan memutar suara tawa Hantu dari Ponselnya. Idenya cerdas bukan?
Rizqy terpaku dengan tingkahnya, dia menggaruk Kepala yang mendadak gatal. Maksud hati mengerjain Isteri, eh ternyata dia yang terkena prank.
Disini siapa yang jahil sebenarnya?
Rizqy tak ingin berpikir, dia melangkah ke arah kamar tidur. Memperhatikan Isteri yang sudah tertidur pulas untuk memastikan bahwa itu benar Isterinya Habibah bukan Jin yang menyerupai Habibah.
Dia mengucapkan doa yang diajarkan Rasulullah. Selesai, kemudian terlelap memeluk tubuh Habibah yang terlebih dahulu memejamkan mata.
Tanpa disadari oleh mereka, sepasang mata mengawasi rumahnya. Tatapan sinis itu menebarkan ancaman. Sosok itu menyeringai menampilkan rasa ngeri penuh permusuhan.
__ADS_1
"Lalu Rizqy Anggara, lihatlah esok hari apa yang akan menimpamu?"
Bersambung.