Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
S2. 37


__ADS_3

"Apa yang kamu berikan pada Kopi yang saya minum Enah?" tanya Keynand dengan sorot mata tajam setelah menghabiskan cairan berwarna bening itu.


Enah menggeleng sebagai bantahan. Dia kemudian meraih Handphone lalu menyodorkan sebuah vidio kepada Keynand.


"Tidak mungkin ini? Apa tujuan Julaekha melakukan ini?" tanya Keynand tak percaya. Dia tidak menyangka Wanita yang mengaku sangat mencintainya ternyata hendak berbuat jahat kepada dirinya.


"Entahlah. Sebaiknya Pak Keynand berpura-pura saja tidak tahu kalau Nyonya berencana jahat kepada anda. Kita akan mencari tahu apa rencana Nyonya selanjutnya. Selain itu saya harus memastikan kandungan apa yang diberikan oleh Nyonya dan efek dari obat berbahaya tersebut."


Enah menjelaskan apa yang harus mereka lakukan. Selain itu dia harus memastikan zat berbahaya yang ada pada Kopi itu sehingga bisa memberikan penawar yang tepat untuk Keynand.


Enah sengaja membiarkan Keynand untuk meminum Kopi yang telah di campurkan sesuatu oleh Julaekha untuk mengetahui reaksi apa yang dialami oleh Keynand.


Setelah mengetahui Keynand mengeluh sakit Kepala, dengan cepat Enah meracik penawar yang diketahuinya dan meminta Raski untuk membawa Keynand ke kamarnya agar tidak di curigai oleh Julaekha. Penawar itu hanya mencegah dan tidak bisa mengobati apa yang terlanjur masuk di tubuh Keynand, karena itulah dia harus mengetahui zat apa itu sehingga bisa membuat penawar yang tepat dan bisa menghilangkan efek dari obat berbahaya tersebut.


Selain itu untuk menjadikan bukti bahwa Julaekha benar-benar merencanakan kejahatan kepada Suaminya sendiri.


Keynand mengangguk mengerti. Dia akan mengikuti rencana Julaekha dan dengan cepat meminta Bi Narsih untuk mengambil Gelas yang masih tersisa ampas Kopinya.


Keynand menghubungi Dokter Rasyid untuk membawa Gelas berisi Kopi tersebut ke Laboratorium milik Rumah Sakit Ardiaz.


Setelahnya Keynand kembali ke kamar dengan perpura-pura mengeluh kesakitan. Padahal dia baik-baik saja dan tidak lagi merasakan sakit di Kepalanya berkat penawar yang diberikan oleh Enah.


"Aku akan ikut permainan kamu Julaekha. Kita lihat saja siapa yang akan menang, setelah ini aku pastikan kamu akan menderita di jeruji besi karena telah berani bermain-main denganku," ucap Keynand membatin. Wajahnya datar seperti biasa dengan sorot mata tenang, namun tersimpan bahaya di sana.


***


Sementara itu Rizqy tengah menerima panggilan dari orang suruhan yang sekarang berada di kediaman Keynand. Dia serius mendengarkan dengan sesekali mengernyitkan dahinya tak percaya dengan apa yang diinformasikan oleh salah satu orang suruhannya tersebut.


'Hati-hati jangan sampai ketahuan.'


Pesan Rizqy, lalu mengakhiri panggilannya. Lelaki berkulit putih itu keluar dari Mobil lalu melangkah menuju rumah yang sedang dikunjunginya saat ini.


"Bang Riz sudah datang, mari masuk," ucap seorang Laki-laki yang lebih muda darinya, kira-kira sepantaran dengan Sang Isteri.


"Terima kasih Evan, maaf menganggu waktu luangnya," sahut Rizqy tak enak hati.


Rizqy mengamati sekelilingnya yang tak terdengar suara siapapun. Laki-laki yang di panggil Evan itu seolah mengerti apa yang ada dalam pikiran tamunya ini.


"Isteri dan anak saya sedang ke rumah Mertua di Mentaram, jadi sepi gini!" ucap Evan menjawab tanya yang ada dipikiran Rizqy.


Rizqy ber oh ria. Selanjutnya Rizqy dan Evan masuk ke ruang kerja milik Evan.


"Ini Chip yang saya temukan di Gelang milik mendiang adik saya Kiano. Chip ini tidak berhasil saya buka sepertinya diproteksi dengan sangat baik. Saya curiga ada rahasia yang tersimpan di chip ini selain chip pertama yang berhasil saya buka," ucap Rizqy kemudian menyerahkan Chip tersebut.

__ADS_1


Evan mengangguk faham. Dia segera menyambungkan chip itu pada Komputer miliknya lalu mulai bekerja membuka chip tersebut agar mengetahui rahasia yang tersimpan di sana. Evan mengerahkan semua kemampuannya di bidang teknologi. Matanya terpusat pada layar komputer sedangkan jari-jarinya bergerak cepat menekan angka maupun huruf untuk membuka isi dari chip tersebut.


Tak


Tak


Tak


Terlihat tuts di tekan, terdengar amat merdu dalam keheningan. Keduanya terdiam memfokuskan diri pada layar komputer tersebut.


Setelah beberapa menit berkutat pada benda kecil itu, senyum Evan mengembang bersama layar yang menampilkan sebuah gambar dan suara.


"Alhamdulillah," ucap Evan dan Rizqy bersamaan.


Mereka kini fokus mendengarkan pembicaraan seorang Wanita dan seorang Laki-laki berjas putih yang diyakini seorang Dokter.


(Ini tidak mungkin Nona Evelyn, apa yang hendak anda lakukan merupakan tindakan kriminal karena mengambil identitas orang lain)


("Saya tidak peduli, lakukan operasi pada wajah saya dengan mengambil wajah Wanita itu. Kalau tidak, anak tersayang kamu terlebih dahulu menemui Ibunya. Dokter tidak mau itu terjadi, kan?")


Bersamaan berakhirnya ucapan Sang Wanita, terdengar suara dari balik pintu yang membuat keduanya langsung menoleh ke arah sumber suara tersebut.


(Sial, ada yang menguping pembicaraan kita)


Rizqy dan Evan saling pandang dengan wajah terkejut.


"Siapa Evelyn? Kenapa dia mengambil identitas orang lain dan mengubah wajahnya menjadi wajah orang lain yang sudah meninggal?" tanya Rizqy entah kepada siapa, karena Evan pun tak kalah terkejut dengan Rizqy.


"Apa mungkin yang merekam ini adalah adik Abang?" tanya Evan.


"Bisa jadi, karena ketahuan, Kiano di buru oleh mereka lalu membunuh Kiano dengan cara menyuntikkan obat mematikan itu dengan dosis tinggi," jawab Rizqy kini mulai mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


Rizqy mengingat beberapa tahun yang lalu. Di mana saat itu Kiano ada di Jakarta dan Kiano sempat mengabarkan bahwa dia ada di rumah sakit. Saat itu dia ikut menjadi korban kecelakaan beruntun. Untungnya Kiano hanya mengalami luka ringan sehingga meminta Kakaknya tidak perlu menjemputnya. Adiknya itu juga mengabarkan akan lebih lama di sana karena menemani seorang teman yang belum sadarkan diri. Temannya itu menjadi korban dan keadaannya sangat parah.


"Van, Kiano sempat menyebut nama Rumah sakit tempat dia di rawat saat itu. Saya akan ke Jakarta untuk menyelidikinya," ucap Rizqy setelah mereka larut dalam pikiran masing-masing.


"Iya semoga Abang menemukan bukti di sana," sahut Evan. Dia kembali berkutat dengan benda teknologi itu. Kini yang menjadi perhatian mereka berdua adalah Wanita yang bernama Evelyn.


Beberapa menit menelusuri, Evan belum mendapatkan informasi apapun tentang Wanita yang ada pada rekaman tersebut. Nama Evelyn seakan hilang di telan bumi. Tentu saja hilang karena Evelyn telah mengganti identitasnya dan mengambil wajah orang lain. Kini dia menjadi orang lain dan dirinya kemungkinan dinyatakan meninggal saat kecelakaan itu terjadi. Kini yang menjadi pekerjaan rumah Rizqy adalah menemukan identitas Wanita yang diambil identitasnya oleh Evelyn. Siapa Wanita tersebut dan seperti apa wajahnya? Dengan itu dia akan tahu siapa Evelyn yang hidup menjadi orang lain.


Sulit dan sangat mustahil ditemukan, namun Rizqy tidak ingin menyerah apalagi pesimis. Ia harus berusaha mencari petunjuk dan bukti itu agar bisa menyeret wanita itu ke jeruji besi.


Gagal menemukan informasi tentang Evelyn, kini Evan beralih pada kasus lain yang sedang di selidiki oleh Rizqy.

__ADS_1


"Gila, orang ini menggunakan nama orang lain disetiap transaksi kejahatannya," celoteh Evan mempelototi sebuah data yang berhasil diretasnya.


Rizqy ikut memfokuskan diri pada layar yang menampilkan aktivitas terlarang tersebut.


"Apa dia seorang mafia?" tanya Rizqy.


"Sepertinya tidak. Memangnya di daerah sepetak ini ada mafianya?" Jawab Evan sambil tertawa kecil.


"Mungkin saja, dia bersembunyi di sini dan menjalankan rencana besar untuk menghancurkan bangsa ini dengan merusak generasinya. Ini tidak bisa di biarkan, apalagi nama yang terpampang di layar ini dalam bahaya. Jika Polisi berhasil mengetahui sepak terjang mereka kemudian menggerebek mereka, saya khawatir orang tersebut akan bebas dan orang lain yang tidak bersalah akan menjadi tersangka. Sedangkan Penjahat itu tidur nyenyak menikmati hasilnya. Kita harus bergerak cepat, Van?" ucap Rizqy serius. Dia mengepalkan tangan melihat kelicikan seseorang yang sedang menjadi target penyelidikannya itu.


Evan mengangguk. Dia sudah siap mengatur semuanya agar berbalik menyerang tuannya sendiri.


"Oh ya Van, bagaimana dengan kecelakaan yang menimpa Beni dan Ega? Apa kalian menemukan Pelakunya?" tanya Rizqy mengalihkan pembicaraan.


Kini Rizqy membahas kecelakaan yang dialami sepasang Suami Isteri yang merupakan Sahabat Evan. Rizqy mengenal Ega yang merupakan rekan kerjanya dulu saat masih bergabung di Kantor lama. Benar, ada dua nama Ega di Kantornya dulu. Ega Isteri dari Keynand dan Ega Isteri dari Beni, Pengusaha di bidang otomotif.


"Dua orang sudah berhasil di tangkap. Sopir yang menabrak Mobil Beni dan Mekanik yang merusak sistem keamanan mobil Beni. Kini kita masih menyelidiki Otak dari sabotase itu," jawab Evan dengan pandangan nanar. Dia kehilangan dua sahabatnya dan hingga saat ini dia maupun tujuh sahabat belum berhasil menemukan Otak dari kecelakaan yang menimpa sahabatnya tersebut.


Rizqy menepuk bahu Evan sebagai cara menyalurkan kekuatan. Dia dan Evan mengalami kondisi yang sama. Jika dia kehilangan adiknya, sedangkan Evan kehilangan dua sahabat baiknya. Mereka tidak selamat dalam kecelakaan yang mereka alami saat menuju rumah sakit.


"Kita harus bekerja keras untuk menemukan mereka yang telah berbuat jahat kepada orang-orang yang kita sayangi. Tidak sabar rasanya menemukan Evelyn lalu menghukumnya," ucap Rizqy dengan sorot mata tajam. Ada kegeraman dalam diri Rizqy mengingat apa yang menimpa Kiano.


"Pasti, kita pasti akan menemukan mereka meskipun mengubah dirinya menjadi Kucing imut dan menggemaskan," balas Evan serius.


Keduanya melepaskan kepenatan dengan obrolan yang berbeda, tidak lagi membahas kasus yang sedang mereka tangani sekarang.


Rizqy yang jahil harus berhadapan dengan Evan yang konyol dan lucu. Mereka berdua larut dalam gerak tawa dan melupakan sejenak beban yang terpikul pada pundak masing-masing.


"Van, makasih sudah bersedia membantu," ucap Rizqy sembari menjabat tangan Evan.


"Tidak masalah, saya senang membantu apalagi yang berhubungan dengan dunia retas meretas. Jika saja ada Beni dan Ega pasti pasangan Suami Isteri itu akan lebih bersemangat membantu Bang Rizqy, apalagi Ega mengenal Abang dan Mbak Habibah. Solidaritas mereka berdua sangatlah tinggi."


Rizqy tersenyum dengan kata-kata Evan. Dukungan Evan seperti amunisi yang akan siap menghancurkan mereka yang bermain-main dengannya.


Rizqy berpamitan, sebelum pergi meninggalkan kediaman Evan dia sempat berpesan sesuatu kepada sahabatnya itu.


***


(Mas, jangan lupa beliin Timbung)


Rizqy tersenyum membaca pesan dari belahan jiwanya Habibah. Namun bersamaan itu pula senyumnya memudar saat membaca pesan dari Adik satu-satunya itu.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2