
Bugh
Tubuh Habibah terjatuh di atas tubuh seseorang yang berhasil menangkapnya. Terdengar pekikan kesakitan dari orang tersebut.
"Mas Rizqy?" panggilnya hampir tak terdengar.
"Iya, kamu tidak apa-apa? bangunlah dengan cepat, kita di lapangan Basket ini," sahut Rizqy datar.
Habibah menyadari kalau dia terjatuh dalam posisi telentang dan Suaminya berhasil menjadikan tubuhnya tempat mendarat yang empuk sehingga tak terjatuh ke tanah. Rizqy tidak berhasil menyeimbangan diri saat meraih tubuh Habibah sehingga ikut terjatuh. Setidaknya dia berhasil menempatkan Habibah dalam posisi yang aman. Tidak merasakan kesakitan dan terluka. Hal itu yang terpenting.
"Kalian tidak apa-apa?" tanya Keynand yang berdiri di hadapan mereka. Dia memilih untuk tidak menyelamatkan Wanita itu dan membiarkan Rizqy yang melakukannya. Terlihat jelas Rizqy bisa diandalkan untuk menyelamatkan Wanitanya.
"Curang, curang, curang." Terdengar orang-orang meneriaki Jessi yang menyaksikan momen terjatuhnya saingannya.
"Siapa yang curang, dianya saja sok gaya hingga terjatuh. Mangkanya kalau tidak bisa main itu jangan mencoba melawan." Jessi menyanggah segala tuduhan.
Habibah dengan cepat bangun dari tubuh Suaminya lalu membantu Rizqy bangun dan meneliti apa ada luka yang dialaminya.
"Mas tidak apa-apa?" tanya Habibah cemas.
"Tidak apa-apa, hanya sedikit lecet saja di siku dan body Mas rasanya pegal-pegal. Enggak usah cemas, nanti juga sembuh," jawab Rizqy menenangkan Habibah. Dia hanya memberikan senyum tipis sembari menganggukkan Kepala.
Rizqy memilih mengajak Habibah meninggalkan tempat itu tanpa berkata apapun. Namun sorot mata itu menatap wajah Jessi dengan tajam. Netra itu seakan dua mata Pisau yang merobek tubuh angkuh itu. Rizqy tak ingin membesarkan masalah karena menghargai Keynand. Dia membiarkan Keynand yang mengurus Wanitanya.
"Saya tidak suka dengan perilaku kamu Jessi. Kamu hendak mencoba mencelakakan Habibah seperti kamu hendak mencoba menyingkirkan Putraku. Cara kamu boleh saja halus hampir tak terdeteksi tapi apa kamu lupa, Tuhan punya berbagai macam cara untuk menunjukkan apa yang kamu lakukan," ucap Keynand dingin.
"Aku tidak melakukan apapun, dianya saja yang apes. Percaya sama aku Keynand, Wanita tadi hanya berpura-pura jatuh untuk menarik perhatian Rizqy. Cara Wanita itu benar-benar murahan. Dia sengaja terjatuh untuk menarik simpati Rizqy dan orang-orang. Lihat, dia berhasil dan Rizqy mau menempatkan diri dalam bahaya. Dia sangat licik!" sahut Jessi tak terima.
"Kamu mau menyerahkan diri atau Polisi yang akan menyeretmu. Kamu tinggal memilih mana yang kamu suka," ucap Keynand dingin. Dia berlalu dari hadapan Jessi tanpa memperdulikan teriakannya.
"Keynand jangan seperti ini. Aku calon Isteri kamu seharusnya kamu percaya denganku ketimbang orang lain. Mereka memfitnah dan menjebakku Keynand." Jessi meracau sejadi-jadinya. Dia ditinggalkan oleh Rizqy, mantan Suami yang dulu pernah sabar menghadapinya. Pria itu sangat menghargai pernikahan sehingga tidak pernah memperlakukannya dengan buruk. Namun dia yang berlaku curang dengan menghianati setia itu. Dia yang menampakkan ketidak sukaan terhadap Suaminya dan memilih mengejar Keynand yang lebih segalanya.
Jessi, Wanita itu melepaskan burung Kutilang demi menangkap Burung Merpati. Burung Merpati tak tertangkap, Burung Kutilang pun lepas dari tangannya. Pada akhirnya tak satupun yang dia dapatkan. Jessi, tidak pernah mensyukuri segala apa yang dimilikinya.
"Keynaaaaand."
Jessi berteriak histeris dan berusaha membuat kegaduhan agar Keynand mau memperhatikannya.
"Aduh mbak enggak usah nyolot, wong kita melihatnya dengan jelas. Menurut mbak apa mata kita buta tak bisa melihat. Mau bukti nyata, silahkan mbak bisa melihat kelakuan mbak sendiri. Itupun kalau mbak punya rasa malu, tapi saya menyangsikan jika mbak memiliki sedikit rasa malu itu," sahut seorang Gadis yang merekam pertandingan tadi. Tentu saja detik-detik Jessi melakukan kecurangan terekam jelas dalam Vidio itu.
"Huuuuuuuuu."
Terdengar teriakan dari orang-orang yang menyaksikan keterpurukan Wanita itu.
"Enggak nyangka dia hanya mengaku nyatanya tak di akui oleh Papa Indo tampan itu. Duh nyesek banget rasanya, malu banget. Kalau aku mendingan nyemplung di lautan deh daripada nyemplung dalam rasa malu. Mbak, di rumah ada Pohon tomat untuk gantung diri, mau?" ucap Gadis lain mengejek.
"Mbak mendingan sama Abang saja. Abang Ceo juga, Ceo Pedagang asongan," ucap seorang Pria dengan wajah penuh percaya diri sejurus kemudian disertai tawa membahana.
"Udah dong! jangan di bully lagi, dia itu sudah ketiban malu jangan dipermalukan lagi. Mendingan kita bubar saja wong kedua pasangan tadi juga legowo kenapa kita yang ngegas," ucap seorang Gadis berhijab. Dia mengajak teman-temannya untuk meninggalkan tempat itu. Sebelumnya dia meminta maaf atas perkataan temannya yang asal bicara. Jessi menanggapi dengan wajah mengeras dan hardikan.
__ADS_1
"Jangan sok baik kamu."
***
Rizqy sudah sampai di kamar. Dia segera membersihkan diri karena beberapa menit lagi kegiatan pelatihan segera di mulai. Dia akan menjadi pembicara di hari terakhir pelatihan dan sesuai jadwal Pelatihan akan di tutup setelah makan siang.
Selang beberapa menit, kedua pasangan Suami Isteri itu sedang bersiap-siap. Rizqy sedang mengancing Seragam dinasnya berwarna putih. Pada kerahnya menggunakan tenun berwarna biru merupakan warna dari Instansi. Seragam putih dengan kombinasi tenun itu terlihat keren membalut tubuh Rizqy. Orang-orang disini menyebutnya awak Penyampek artinya Body yang bagus sehingga pakaian apapun yang digunakan akan tetap terlihat cocok dan indah.
Sedangkan Habibah sedang sibuk berkemas. Dia akan cek out setelah pelatihan di tutup. Bagaimana pun juga kamar yang mereka tempati dibayar hingga pelatihan berakhir, secara otomatis dia harus meninggalkan Hotel Ardiaz Mentaram.
"Apa kamu mau menginap lagi disini? Mas akan membayarnya?" tanya Rizqy serius. Dia sedang menyemprotkan parfum di sekujur tubuhnya.
"Tidak, aku kangen rumah terutama dapur. Aku ingin segera memasak Pelecing Kangkung dan Beberok. Aku bosan dengan masakan Hotel," sahut Habibah terlihat berbunga-bunga.
"Iya, Mas juga. Mas kangen masakan kamu, lima tahun lamanya tidak pernah menikmati kegiatan yang Mas suka. Incip bibir kamu dulu sebelum incip masakan kamu," sahut Rizqy bersemangat. Dia melemparkan senyum jenakanya sejurus kemudian mengedipkan matanya. Dia menggoda habis-habisan Isterinya. Habibah hanya tertawa menanggapi kekonyolan yang sedang melanda Suaminya itu.
"Sini sayang," ucap Rizqy sembari menyodorkan Pin Garudanya.
Habibah mengambilnya lalu menyematkan Pin itu di bagian tubuh sebelah kiri sedangkan bagian sebelah kanan sudah tertulis nama Rizqy dengan bordiran berwarna biru.
"Terima kasih sayang, sini Mas melihat wajah lembut yaa Zawjatii Habibah Rosy dulu," ucap Rizqy menatap wajah Habibah dengan lembut penuh cinta.
"Mas takut kehilangan kamu, wajah ini bukan hanya Mas saja yang menyukainya tapi Keynand Putra Ardiaz juga menyukainya. Dia secara diam-diam menyukaimu dan Mas bisa mendeteksi hatinya," ucap Rizqy terdengar serius. Ada nada ketakutan dan juga posesif disana.
"Hah?"
Habibah tak lepas memandang Suaminya dan sadar bahwa Rizqy dilanda gelisah. Sejurus kemudian dia meraih kedua tangan Suaminya lalu menciumnya.
"Aku hanya mencintai Suamiku saja tidak ada Pria lain. Aku juga tidak terlalu mengenal Pak Keynand. Jangan mengkhawatirkan perasaanku. Di hati ini cinta itu hanya terpatri untuk Mas Rizqy," sahut Habibah tulus. Dia menenggelamkan diri dalam pelukan hangat Suaminya.
"Mas percaya," ucap Rizqy. Dia memang posesif tapi bukan pecemburu yang tak jelas. Dia mempercayai Isterinya dan hanya kepercayaan yang mampu menjaga mereka dari rasa curiga. Kini yang mereka pegang hanya rasa percaya kepada pasangan masing-masing di selimuti rasa pengertian.
Habibah mengurai pelukan lalu mendaratkan kecupan pada bibir merah tak tersentuh rokok. Habibah ********** dengan lembut penuh rasa. Rizqy menikmatinya, kedua insan itu memejamkan mata menikmati perpagutan yang kian detiknya terasa liar dan bergelora.
"Aaaagh, Habibah."
******* terdengar berpadu dari keduanya. Habibah menyudahi setelah merasa tidak sanggup lagi untuk bernafas.
"Mas puas," ucap Rizqy bersamaan deru nafas yang tak beraturan. Dia tersenyum menatap Habibah sangat lekat. Menempatkan kedua tangannya pada Pipi berwarna cokelat lalu mengelus lembut.
"Aku mencintaimu Habibah Rosy. Kenapa rasanya aku seperti pertama kali merasakannya. Desiran sangat nyata dan melihatmu membuatku berbunga-bunga. Rupanya aku sedang kasmaran Bibah," lanjut Rizqy terdengar konyol. Dia meraih tubuh Habibah mengangkatnya lalu berputar pada kamar yang tak luas.
Habibah tertawa merasakan kekonyolan Suaminya. Pun begitu juga Rizqy yang memperdengarkan tawa bahagianya. Bukankah seperti ini sepasang Kekasih yang saling mencintai. Mereka akan tawa bersama, senyum bersama dan sedih bersama. Menikmati rasa bahagia dan kesedihan secara bersama-sama. Kedua hati akan bersama-sama merasakan seperti apa itu sakit dan seperti apa itu bahagia dalam waktu bersamaan. Bukan seperti sisi mata uang, mereka berbeda. Satu mungkin akan merasa bahagia dan satunya merasa sengsara dalam kehidupan bersama. Rumah tangga tidak seharusnya seperti itu bukan? Seharusnya bergerak bersama dengan rasa yang sama bukan berbeda. Nyatanya sulit menyatukan itu selain hanya memupuk rasa pengertian. Hanya rasa syukur yang menyatukan pikiran yang berbeda. Di dalam rasa syukur itu kita bisa menerima seperti apapun pasangan kita.
"Mas, kita terlambat," ucap Habibah menyadarkan diri dari keasyikan.
"Astaghfirullah, Mas di tunggu. Mbak Ana pasti kebingungan nih, kok Atasannya dipanggil enggak nongol-nongol. Entar bisa soak Microphone milik Hotel Ardiaz." Rizqy berucap sembari gerak cepat. Dia meraih Tas ransel lalu menyampirkannya di punggung. Habibah juga bergerak gesit mengikuti langkah Kaki Suaminya.
***
__ADS_1
Di hati yang berbeda, Reynand sedang sibuk membujuk Lika untuk menghabiskan makanannya. Saat ini Lika sedang tidak berselera makan. Dia terlihat pucat dengan tubuh lemah. Dokter Vidya mengatakan kalau Lika positif hamil dan sekarang dia mengalami ngidam yang parah. Tubuh Lika sangat lemas dan hanya bisa berbaring di Kasur. Makanan pun sangat sulit masuk. Setiap makanan masuk ke pencernaannya secara bersamaan itu pula dia mengeluarkannya lagi.
"Mas udahan, aku enggak bisa mengunyahnya. Aku hanya bisa memakan buah-buahan saja," ucap Lika menolak suapan dari Suaminya.
"Sayang, kalau kamu tidak makan bagaimana dengan kamu dan bayi kita. Mungkin saja kamu sanggup tidak makan seharian lantas bagaimana dengan bayi kita?" ucap Reynand tegas.
Lika yang mendengarkan nada ketegasan dari Suaminya terlihat mulai berkaca-kaca. Dia merasa tersakiti dengan paksaan dari Suaminya. Lika menyadari Reynand sangat mengkhawatirkan kesehatannya dan juga calon bayi mereka. Namun bisa apa jika selera itu tak ada dan hanya menyisakan rasa mual.
"Maafkan Mas," ucap Reynand buru-buru menaruh Piring di atas nakas. Dia memeluk tubuh Lika yang lemah dan berusaha menenangkannya. Lika tak berkata apapun, hanya tangisan yang sanggup diperdengarkannya.
"Maafkan Mas ya Habibati," ucap Reynand kembali sembari mengelus lembut punggung Isterinya.
Beberapa menit kemudian tangis itu mereda, lalu Lika berkata "Mas, aku ingin memakan semua makanan yang Mas sodorkan tapi ketika makanan itu masuk dan ketika itu pula perutku mual. Aku bisa apa jika ternyata ngidam aku kali ini menolak semua makanan yang Mas berikan. Aku ingin memakan semuanya bila perlu memakan Mas juga kalau bisa di makan," ucap Lika kesal.
Reynand tersenyum menanggapi omelan Isterinya. Dia menjawir hidung mungil itu lalu kembali memeluknya.
"Maafkan Mas sayang. Mas enggak faham dengan ngidam kamu yang sekarang," ucap Reynand kebingungan. Dia tersiksa melihat Lika yang kian hari kian tersiksa dengan kehamilannya. Isterinya itu hanya bisa terbaring tak berdaya. Rasa mual dan pusingnya tak henti-henti yang Lika rasakan. Mau berbuat apalagi jika itu yang diinginkan jabang bayinya.
"Iya Mas, Insha Allah aku baik-baik saja. Untuk sementara waktu mungkin belum bisa menikmati makanan enak-enak hanya buah saja yang bisa aku makan." Lika berusaha untuk membesarkan hati Suaminya. Dia masih menenggelamkan diri dalam dekapan hangat Reynand.
"Ibu, Ibu sakit apa? apa Dadek Bayi yang sakit?" tanya Renia yang tiba-tiba muncul dari balik Pintu. Dia masih menggunakan Seragam TKnya saat menghampiri kedua orang tuanya di kamar. Raski juga ikut menghampiri Lika yang terbaring lemah. Bocah tampan itu tadi sedang asyik bermain sendirian dan tak lepas dari pengawasan Reynand.
Reynand mengurai pelukannya begitu mendengar suara Putrinya. Dia tersadar bahwa jam pulang Putrinya dari Sekolah sudah lama berlalu. Biasanya dia atau Lika yang menjemputnya.
"Sayang, Kakak pulang sama siapa? maaf Ayah lupa menjemput," ucap Reynand merasa bersalah dengan Putrinya itu.
"Tadi ikut sama Mamiq Rari Riski, Ayah yang bilang kalau Ibu sakit terus minta tolong jemput Kakak," jawab Renia lancar.
"Astaghfirullah, Ayah lupa kalau tadi Mamiq Rari Riski menghubungi Ayah terus meminta bantuannya semumpung dia lagi luang," sahut Reynand menepuk dahinya pelan. Tadi dia berbicara dengan adik Iparnya itu dan memintanya menjemput Renia.
Lika hanya tersenyum menanggapi Suaminya yang mulai pikun. Dia mengerti jika Reynand terlalu banyak pikiran sehingga terkadang tak menyadari sesuatu. Bukankah itu hal yang lumrah, tidak ada yang bisa terhindar dari sifat alami Manusia yaitu lupa.
Renia mendekati Lika lalu memeluknya penuh kasih sayang.
"Sayang, ganti baju dulu nanti setelah bersih baru Ibu nemenin Kakak Renia dan Dadek Raski," ucap Lika lembut.
Renia mengerti tanpa berkata apapun Gadis kecil itu segera beranjak ke kamarnya untuk mengganti pakaian. Selang beberapa menit dia kembali untuk menemani Ibunya.
"Terus Mamiq Rari Riski mana sekarang?" tanya Reynand. Dia tak mendengar suara apalagi batang hidung Pemuda itu.
"Bandara," jawab Renia singkat.
"Kebiasaan deh anak itu melesat tanpa suara," ucap Lika menggelengkan Kepala.
Bersambung
Lalu Hamizan Riski (Riski/Kiki) masih inget, kan? Sekarang dia menjadi Dosen muda yang di kagumi para Mahasiswi. Mungkin di chapter selanjutnya dia akan setia menemani Keynand mencari jodoh.
Jangan lupa Like, komentar dan dukungannya. Terima kasih.
__ADS_1