
Julaekha mengakhiri panggilan. Dia menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih. Sesekali senyum manis tercetak pada wajahnya. Tidak lupa Gadis itu memeluk erat Handphone seolah itu adalah kekasihnya.
Usai tersenyum, Gadis itu uring-uringan jika mengingat sikap Keynand yang nampak biasa tak ada tanda-tanda tertarik. Alih-alih tertarik, terkesan pun terlihat enggan.
"Apa karena tidak cantik?" tanya Julaekha di tengah-tengah lamunan.
"Apa aku terlalu cuek?" Julaekha menimpali pertanyaannya dengan pertanyaan.
"Aaah, kenapa jatuh cinta bikin gelisah. Kata orang jatuh cinta berjuta rasanya. Nah ini rasanya kok kecut ya? apa karena tak berpotensi akan terbalas?"
Julaekha terus saja berbicara. Menatap langit-langit dengan gelisah. Tak ada warna dalam kisah asmaranya, terlihat abu-abu.
"Ternyata jatuh cinta itu merana terasa dan gelisah terjadi. Tidak terasa bunga bermekaran dan kupu-kupu bertebaran. Hanya ada hati yang hampa karena cinta tak terbalas. Apa ia dalam kisah cintaku tidak akan terdengar bunyi karena tak bersambut. Tanganku hanya menggapai angin dan tidak menggapai tangannya. Sungguh miris ternyata. Apa yang harus dilakukan Lekha? berjuang dengan menjadi orang konyol atau melupakan dengan menjadi orang terhormat. Biarlah jodoh menemukan hati yang sesungguhnya."
Julaekha kembali berkata dalam lembar hatinya. Khayalan itu ternyata menyeretnya dalam kemustahilan. Semu, itulah akhir dari khayalan yang bukan haknya.
"Astaghfirullah, aku telah tergoda oleh anganku sendiri. Angan yang berusaha menjebakku dalam janji-janji pasti padahal itu fatamorgana. Di hadapan terlihat lautan sejatinya tidak ada lautan. Seperti hal Keynand yang terlihat di hadapan yang sejatinya tidak ada dia disana."
Gadis itu mengakhiri kalimat panjangnya dengan menghela nafas. Dia memenuhi rongga pernafasan agar sesak itu tak menguasainya.
"Jatuh cinta membuat hati kacau."
Usai mengakhiri kata, dia memejamkan mata berharap Keynand tak mengusik mimpinya. Dia takut cinta itu semakin nyata ada di hatinya sementara di hati Keynand tidak tersedia untuknya.
***
"Bibah, apa yang kamu pikirnya?"
Tanya itu mengalihkan perhatian Habibah dari lamunan. Usai Julaekha mengakhiri panggilan, Habibah dirundung pikiran. Dia memikirkan nasip percintaan Julaekha yang sepertinya tak berujung ada.
Dia menggelengkan kepala menjawab. Dia menatap lekat Sang Suami yang menunggunya menjawab.
"Yakin? sepertinya ada sesuatu dalam Otakmu. Apa yang sedang kamu pikirkan?"
Habibah tersenyum, dia mengelus lembut wajah tampan itu.
"Terima kasih karena telah mencintaiku," ucap Habibah diakhiri dengan helaan lega.
"Jadi hanya ingin mengatakan itu? Mas sangat suka mendengarkannya."
Rizqy meraih tubuh Isterinya, memeluk dengan erat.
"Kamu memang Wanitaku, karena itulah aku mencintaimu. Kamu takdirku karena itulah aku memberikan hati ini dengan ikhlas."
Pelukan hangat itu diiringi dengan pengakuan yang mesra dan diakhiri dengan menyatukan rasa.
"Sekali lagi sayang."
"Berulang kali pun aku suka, Mas!"
"Habibah Rosy, kenapa kamu menantangku. Baiklah, akan Mas makan kamu."
Bermula hanya menyatukan bibir berakhir dengan menyatuan diri yang dipenuhi dengan rasa cinta yang menggebu. Jika sudah halal, kapanpun mereka inginkan maka rasa manis itu mampu direngkuh.
Habibah dan Rizqy tersenyum puas meraih apa itu nikmat yang tak mungkin berkesudahan.
"Lelah Mas." Bibir itu terucap sedangkan mata mulai terpejam.
"Sebanding dengan apa yang terasa. Mas menyukainya."
Rizqy membalas diakhiri dengan menyentuh kening itu.
Hangat terasa mengalir sampai ke relung hati. "Semoga kebersamaan dan hangatnya cinta tetap menjadi milik kita berdua."
Habibah berdoa dalam hati sebelum dia benar-benar terlelap. Dia masih merasakan tangan kokoh mendekapnya. Dia tersenyum, nyaman rasanya diselimuti oleh dekapan Suaminya.
"Oh Suamiku Rizqy, betapa kau menjagaku." Batin itu terucap kalimat indah.
Dan selanjutnya sepasang Suami Isteri itu terlelap dalam istirahat. Berharap esok hari hal indah menyambutnya.
***
Di sudut hati yang berbeda, Keynand tak mampu memejamkan mata.
Kini ada dua Wanita yang menguasai pikirannya. Habibah Rosy, pesonanya tidak mampu dia lupakan. Entah kenapa dia sangat menginginkan Wanita bersuami itu.
"Ini salah, jelas-jelas salah."
Dia kesal dengan hatinya yang bodoh. Seharusnya dengan gampang melupakan seorang Wanita. Tapi mengapa sekarang tidak bisa?. Warasnya meminta untuk melupakannya karena tak boleh menginginkan sesuatu yang bukan haknya. Di sisi lain hatinya tidak ingin melupakan.
Why?
Karena dia menginginkan Wanita itu, titik.
"Aaaaaargh."
Keynand frustasi, kenapa mendadak menjadi Pria paling tidak mungkin di dunia. Kini keduanya bertengkar memegang keegoisan masing-masing. Dan Keynand berada di persimpangan. Dia masih terpaku di tempat, menimbang jalan mana yang harus di lalui.
Pria itu berusaha memejamkan mata. Namun gagal, lagi-lagi dua sisi itu berperang. Tubuh lelahnya meminta haknya sedangkan pikirannya menguasai mata sehingga tersandra agar tetap terjaga.
__ADS_1
Kini bukan lagi Habibah Rosy, akan tetapi Gadis bernama Rizqia itu yang giliran singgah.
Penasaran!
Itu yang membuat Keynand menginginkan Gadis itu. Tak ada informasi tentangnya membuat kening itu mengkerut.
Gadis itu seakan menghilang tak tahu rimbanya.
"Apa sengaja mengusikku Qia. Kamu datang hanya sekedar mengomeliku lalu pergi seolah tak terjadi apapun. Lihat saja, Laki-laki ini akan mendapatkanmu juga. Jika aku menemukanmu, akan aku nikahi kamu. Namun bukan sebagai Isteri yang aku cinta melainkan sebagai Baby Sitter Raski yang aku butuhkan. Tetap saja, kamu tidak akan bisa menggantikan Habibah Rosy. Dia telah bersanding di hati ini bersama Mega Fajrina, Isteriku."
Kalimat panjang itu terucap begitu saja. Tentu tak ada yang mendengar selain dirinya sendiri.
Senyum manis dari Ibu Raski dia ingat bersama omelannya jika dia tak kunjung memejamkan mata.
"Honey jangan begadang dong! Kasian Raja Dangdut, udah capek-capek ingetin Abang dalam lagu, eh enggak di gubris."
Keynand tergelak, dia meraih tubuh Isterinya itu. Membawanya dalam pelukan.
"Bilang saja kamu yang capek ingetin aku, eh malah menjual namanya, kasian tahu!"
"Kalau kasian, iya sudah kita tidur."
"Cieeee, nantang. Apa karena kamu ingin makanya jadi bawel gini. Apakah ini sinyal Honey?"
"Halu melulu deh, tidur kalau enggak. ...!"
". ... kalau enggak?"
"Aku cium Abang."
hahahahaha
"Kalau begitu, Abang tiap hari akan begadang agar mendapatkan ciuman dari kamu. Lakukan dong honey."
Cup
"Kok kening, bibir dong honey."
"Udah ah, aku malu."
Wanita itu menyembungikan diri dalam selimut. Terlihat rona malu pada dua pipinya yang berlesung pipit. Keynand tersenyum melihat tingkah Isterinya itu.
"Abang Keynand tiduuuuur, pejamkan mata."
"Astaghfirullah."
Keynand tersentak kaget. Ingatan tentang Isteri menyambanginya. Suara itu seakan nyata terdengar.
Keynand mulai memejamkan mata. Jika sebagian orang lain akan melupakan Isterinya yang telah tiada. Tidak dengan dirinya, dia akan terus mengenang dan mencintai Wanita yang telah melahirkan Raski untuknya.
Bukankah Rasulullah tetap mengingat Siti Khadijah, Isteri tercintanya meskipun beliau sudah wafat. Karena mengingatnya membuat Siti Aisyah cemburu. Mengapa tidak meneladani, bagaimana cara beliau mencintai Isterinya.
Keynand terlelap terbuai dalam rindu.
Esok harinya, mata itu terbuka tatkala suara adzan menyadarkannya. Keynand melihat langit kamarnya, mengucapkan rasa syukur sehingga pagi ini dia kembali diizinkan menghirup udara.
Setelah sadar sepenuhnya, dia beringsut ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Selang beberapa menit dia kembali dengan tubuh segarnya. Mengambil pakaian lalu menggunakannya. Setelah rapi, dia berjalan keluar dari rumahnya menuju Masjid untuk menunaikan ibadahnya.
Matahari menampakkan diri, baru Keynand akan kembali ke rumahnya. Bersiap-siap untuk bekerja, sebelumnya mampir di rumah Reynand untuk mengisi perutnya. Selalu seperti itu, ketika Wanita bergelar Isteri belum ada di sampingnya.
Beberapa menit sampai, Mobil Keynand memasuki pelataran rumah Keynand. Terlihat Reynand sedang membersihkan halaman rumahnya.
"Udah datang Key?" tanya Reynand berbasa basi.
"Iya Bang, biasa numpang sarapan," sahut Keynand sembari membentuk senyum manisnya.
"Iya sudah masuk saja."
"Lika sudah sehat, belum?" tanya Keynand. Dia memilih bertanya akan kesehatan iparnya itu.
"Alhamdulillah sudah mendingan. Iya gitu, dia sering mual terus kepalanya pusing. Abang kasian melihatnya, enggak tega melihat dia mual-mual terus mengeluarkannya habis itu tergulai lemas," sahut Reynand sendu.
"Sabar Bang, namanya juga lagi hamil. Pembawaan bayinya beda-beda. Dulu Lika bisa melewati semua ini meskipun tanpa di dampingi Abang. Mungkin saja saat itu merasakan rasa sakit yang sangat parah. Sekarang pun, dia pasti akan bisa melewati masa sulit kehamilannya karena ada Abang dengan setia mendampinginya."
Setelah berucap panjang, Keynand menepuk bahu Kakaknya untuk memberikannya kekuatan.
Reynand mengangguk, seulas senyum tercetak pada wajahnya.
"Iya udah, Key masuk Bang."
Keynand masuk ke dalam rumah. Disana sudah ada kedua orang tuanya hendak menikmati sarapan.
"Assalamu'alaikum. Pagi Mommy and Daddy."
"Wa'alaikumussalam. Pagi juga Key." Balas kedua orang tuanya serentak.
Keynand mendudukkan diri pada sebuah Kursi.
Lika terlihat berjalan menghampiri Meja makan. di sisinya ada Renia dan Raski yang memegang tangannya erat. Terlihat wajahnya pucat dengan tubuh kian menyusut. Dia memberi salam, tidak lupa menyapa Keynand yang baru datang. Selang beberapa menit, Reynand ikut bergabung karena sudah menyelesaikan tugas hariannya.
__ADS_1
"Pagi Ayah, Opa, Oma dan Daddy," ucap Renia dan Raski menyapa semua ada yang disana.
"Pagi cucu Oma yang cantik dang Ganteng," sahut Marisa memamerkan senyum tulusnya.
"Pagi Renia dan Raski, duh cucu Opa cantik dan ganteng euy bikin Opa pingin muda dan sehat terus." David Ardiaz membalas sapaan kedua Cucunya dengan bercanda.
Suara tawa menggema di Ruang makan. Tidak ketinggalan Reynand dan Keynand menyapa kedua anaknya itu. Reynand membantu Raski untuk duduk di Kursinya sedangkan Renia sudah bisa mendudukkan diri pada Kursi di sebelah Lika.
Lika melihat menu makan, yang semuanya tanpa bumbu. Sayur bening, tempe goreng dan Ikan laut goreng.
"Maaf," ucap Lika lirih.
Sontak mereka mengalihkan perhatian kepada Lika yang menduduk.
"Maaf untuk apa sayang?" Marisa bertanya sambil memandang Menantunya dengan lembut keibuan.
"Gara-gara Lika, jadinya hidangan tidak ada yang berbumbu," sahut Lika lirih.
Mendengar itu mereka tersenyum.
"Daddy sudah Tua, tidak ingin makan yang berat-berat. Ini saja sudah cukup, Daddy sangat bersyukur. Apapun makanannya yang penting menikmati bersama-sama," sahut David Ardiaz menenangkan Menantunya.
"Tak kira tadi Daddy mau mengatakan apapun makanannya yang penting minumnya teh botol Sos**," ucap Keynand menimpali perkataan David Ardiaz.
Mereka tergelak mendengarkan perkataan Keynand yang lain-lain saja.
"Benar kata Daddy kamu, Mom juga mengurangi menikmati makanan yang berbumbu pedas. Takutnya asam lambung naik, maklumlah sudah tua nikmatnya dikurangi," ucap Marisa mendukung pernyataan Suaminya.
"Renia juga suka Ibu."
"Raski uga."
Lika tersenyum, sedangkan Reynand mengangguk mendukung. Dia mengelus pucuk Kepala Lika yang ditutupi Jilbab.
"Iya sudah, kita nikmati makanannya," ucap David mengawali.
Lika melayani Suaminya baru melayani kedua anaknya tidak lupa juga mengambilkan makanan untuk Keynand.
"Mom dan Daddy?" tanya Lika hendak mengambilkan makanan untuk mereka.
"Tidak sayang, biar Mom saja. Daddy kalian sudah terbiasa di layani oleh Mom. Jadinya kurang nikmat jika dilayani oleh orang lain."
David tersenyum menanggapi perkataan Isterinya.
"Terima kasih sayang," ucap David berterima kasih ketika mendapatkan sepiring Nasi lengkap dengan lauk.
"Cieeeee, Mom dan Daddy bucin banget, anak muda mah kalah," ucap Keynand menggoda kedua orang tuanya.
"Daddy, bucin itu apa?" tanya Renia penasaran. Dia menatap Keynand untuk menunggu jawaban.
"Bucin itu kepanjangan dari Budak cinta," jawab Keynand diiringi dengan senyumnya. Sejurus kemudian dia menggelengkan kepala. Renia, rasa ingin tahunya menggambarkan betapa kritisnya dia.
Renia terlihat berpikir. Setelahnya ia ingin mengatakan sesuatu. Lika buru-buru menghentikan dengan memintanya untuk memulai sarapan. Kalau tidak pertanyaan akan berkelanjutan. Tentu dia tidak ingin itu terjadi. Karena topik ini belum menjadi ranahnya.
Selanjutkan, mereka fokus menikmati sarapan. Tidak ada pembicaraan, hanya terdengar dentingan Sendok yang beradu dengan Piring.
Selang beberapa menit, mereka selesai menikmati sarapannya.
"Alhamdulillah." Terucap rasa syukur dari semuanya.
Lika dan Saik Inah, mengambil alat-alat makan yang kotor sedangkan yang lainnya melanjutkan dengan obrolan.
Setelah bersih, Lika kembali ikut bergabung dalam obrolan.
"Mas," panggil Lika.
"Iya," sahut Reynand singkat.
"Aku kepingin makan buah Kepundung," ucap Lika dengan wajah memelas. Dia tidak bisa menahan tetesan cairan yang dihasilkan tenggorokannya.
"Kepundung?" tanya Reynand bingung. Dia baru mendengar nama buah itu. Bukan tidak pernah mendengar hanya saja dia lupa.
"Iya, nanti kita suruh Saik Inah mencari buah itu di Pasar," sahut Reynand kemudian.
"Maunya dicariin oleh Mas Reynand," ucap Lika memohon.
"Tapi Mas tidak tahu buah itu terus Mas cari dimana?" tanya Reynand bingung.
"Iya sudah, Kalau Mas Reynand sudah tidak sayang lagi sama Lika, Mas tidak usah mencarinya." Seusai berkata Lika pergi begitu saja membawa kekesalannya.
Sedangkan Reynand terbengong sambil menelan cairan yang terasa pahit.
David, Marisa dan juga Keynand kompak memperdengarkan tawanya.
"Resiko Isteri sedang hamil, ini keinginan anak kamu. Anak kamu nanti ileran kalau tidak di turuti. Saya rasa anak kamu sekarang sedang ngambek. Dia bilang 'enggak mau ah sama Ayah, enggak mau nyapa."
Keynand memanasi Abangnya dengan berakhir tawa mengejek.
"Berisik, akan saya cari buah Kepundung itu," ucap Reynand melayani ejekan Adiknya itu.
__ADS_1
"Emangnya tahu tempat pohonnya tumbuh? terus emang lagi musim? bagaimana kalau belum berbuah, bunga pun belum ada." Keynand memberondong Reynand dengan pertanyaan membuat wajah Reynand kian tak manis di pandang mata.
Bersambung.