
"Oh ya, Bule nyasar, ya? apa di Negara kamu sudah tidak diinginkan lagi, makanya migran ke sini. Lihat saja, secepatnya kamu akan saya deportasi ke Negara asal kamu," lanjut Adrian dengan yakinnya. Lalu dia melenggang pergi begitu saja tanpa berpamitan.
"Astaghfirullah."
Mereka serempak mengucapkan istighfar sembari menggelengkan Kepala.
Dan memilih untuk melapangkan dada dari pada meladeni Pemuda Desa itu dengan makian. Itu sama artinya mendapatkan kerugian dari ibadah yang baru saja mereka tunaikan.
***
"Assalamu'alaikum."
Salam terucap dari seseorang. Keynand dan Rizqy yang sedang berbicara serius secara bersamaan membalas salam.
"Om tua, saya tepatin janji mau midang ke cewek yang ada di rumah ini. Om tua panggilin, dong! Bilangin cowok Ganteng sudah datang. Jangan lupa di sebutin nama saya Adrian Rafeek," ucap Adrian kemudian tanpa berbasa-basi. Lalu dia merapikan sedikit gaya rambutnya yang di rasa tak rapi.
"Adik saya tidak bisa di ganggu, kamu pulang saja," sahut Rizqy bernada datar.
"Enggak percaya, kalau begitu biar saya panggil Kak Oci saja," ucap Adrian tak percaya.
Pemuda itu hendak melangkahkan Kaki ke arah Pintu, namun urung saat mengingat Laki-laki yang menjadi saingannya masih duduk bersila di atas Berugak. Rasa kesal meliputi hatinya dengan keberadaan Keynand. Adrian membalikkan badan, lalu menatap Keynand dengan sorot mata tajam menyiratkan ketidak sukaannya kepada Pria Bule itu.
"Seharusnya Bule Migran ini yang di deportasi, kenapa harus saya," ucap Adrian. Ada kekesalan yang dia luapkan pada kalimat yang diucapkannya.
"Eh you pergi sana jangan ngerecokin orang yang mau pacaran," sambungnya dengan angkuh. Dia seakan menempatkan diri sebagai Tuan rumah saja.
Rizqy yang mendengarkan ketidak sopanan dari Pemuda itu mendengus kesal. Sudah lelah dia menegur Adrian agar berlaku sopan dan tidak merendahkan orang lain, apalagi bertingkah semena-mena.
Bahkan mereka kerap kali bersitegang dan adu argumen, dan pada akhirnya Pemuda itu tidak akan pernah berhasil mengalahkan Rizqy. Itulah sebabnya Adrian sangat membencinya.
Adrian tak pernah mengubris segala nasehat. Dia seakan senang merendahkan orang lain, apalagi dia memiliki harta yang mendukung segala tingkahnya.
Rizqy hendak menyumpal mulut tak berakhlak itu, namun seseorang terlebih dahulu meladeni sikap kekanak-kanakan Pemuda itu.
"Hebat bener, lagaknya. Kayak kamu di mau saja sama Qia. Memangnya kamu sudah punya cukup modal untuk deketin Qia?" ucap Riski yang tiba-tiba sudah muncul saja di hadapan Pemuda itu.
"Kamu nyela melulu dari tadi, siapa sih? Ikut campur saja," sahut Adrian kesal.
"Bukannya ikut campur, tapi saya perlu meluruskan ketidak sopanan anda. Kita ke Desa ini bertamu secara baik-baik, masak iya seperti tadi cara penyambutannya sebagai Tuan rumah. Itu tadi juga Abang Rizqy sudah memberi tahu bahwa Adiknya tidak bisa di ganggu, wong terima dong!. Terus, Abang Rizqy wali adiknya, wajar ingin melindungi adiknya, sekira di rasanya tidak baik menurutnya. Abang Rizqy juga sedang mengobrol dengan tamunya, terus tiba-tiba dateng main perintah-perintah dan pake teriak-teriak segala. Emang enggak bener anda ini."
Riski panjang lebar mengomeli Pemuda itu. Dia merasa dirinya seperti Emak-emak yang sedang mengomeli anaknya yang kerap kali berbuat salah. Baru kali ini kata-katanya meluncur begitu saja, karena jengah
Rizqy tersenyum, dia mengacungkan Jempolnya mendukung Dosen muda itu untuk meladeni Adrian. Keynand pun memberikan dukungan kepada Riski.
"Terserah saya mau teriak-teriak, kek! suka-suka saya lah. Ini Desa saya, nah kalian siapa? Orang luar, kan? Enggak ada kepentingan kalian di sini, jadi enggak usah ikut campur. Lagi pula kalian tidak tahu siapa saya, kan? Mendingan mundur saja, deh! Jangan berharap akan berhasil mempersunting cewek cantik yang tinggal di sini. Cewek itu pasti pilih saya-lah? Iya enggak Om tua, eh salah maksud saya Calon Kakak Ipar."
Parah, sahutan Adrian lebih panjang lagi, membuat Riski menggelengkan Kepalanya tak percaya. Selain songong, Adrian ternyata ngeyel dan bawel.
__ADS_1
"Emang kamu siapa?" tanya Riski.
"Kamu ingin tahu siapa saya, ya? Sebenarnya saya males berkenalan dengan kamu apalagi sama Bule ini. Tapi kalau enggak kenalin diri, entar kalian berdua enggak bisa tidur saking penasarannya. Nanti saya di salahin, enggak maulah," sahut Adrian tak langsung menjawab. Pemuda itu seakan sengaja ingin melihat Riski kesal.
"Terserah kamu, deh! Yang penting lancar darah dan usus kamu," sahut Riski ketus.
Keynand dan Rizqy yang mendengar keketusan lawan bicara Adrian itu mendadak menahan tawa. Mereka berdua saling pandang, lalu memilih melanjutkan pembicaraan, tanpa merasa terganggu dengan peperangan yang terjadi di antara Riski dan Adrian.
"Okay saya kenalin diri, saya Adrian Rafeek berstatus Guru Negeri dan orang paling terkaya di Desa ini. Memiliki berhektar tanah dengan penghasilan ratusan juta. Tentu modal saya banyak untuk mendekati semua cewek cantik. Lihat penampilan saya seperti apa dan lihat penampilan kamu seperti apa, apalagi tuh Bule," sahut Adrian sombong. Dia memamerkan apa yang di miliki. Adrian sangat yakin kedua pria yang menjadi lawannya sangat jauh berada di bawahnya. Melihat penampilan Keynand dan Riski yang sangat sederhana, ia bisa menyimpulkan betapa susahnya mereka berdua.
"Sombong, kamu benar-benar tidak memiliki modal itu," sahut Riski santai.
Adrian terkejut. Tidak menyangka Laki-laki yang tak dikenalnya telah meragukan apa yang di sebutkannya tadi.
"Wangi banget, sebelum ke sini kamu berendem di minyak senyonyong ya?" Lanjut Riski sembari menahan nafas karena wangi yang terlalu berlebihan dari parfum yang di gunakan Pemuda itu.
"Sembarangan, ini parfum mahal, kamu itu tidak bakalan sanggup membelinya. Jangankan bisa beli parfum mahal, makan sehari-hari saja mungkin hanya nasi berlauk garam. Kelihatan sekali melaratnya," sahut Adrian mengejek. Di lihatnya Riski dengan tatapan sinis lalu membuang muka saat Riski membalasnya.
"Cukup Adrian, berani-beraninya kamu menghina tamu saya. Sebaiknya kamu pulang dan belajarlah untuk menghargai orang. Satu hal lagi, benar yang di katakan Riski, kamu itu tidak memiliki modal. Modal yang di butuhkan bukan hanya harta melainkan ilmu agama dan ketaqwaannya kepada Tuhan. Nah kamu mungkin saja memiliki ilmu agama itu, tapi apakah kamu berhasil mengamalkannya dengan baik. Melihat dari cara bicara kamu yang tidak ada sopan-sopannya sudah terlihat jelas kamu telah gagal." Rizqy berkata tegas. Dia benar-benar tidak tahan mendengar ocehan Pemuda itu yang merendahkan orang lain, sehingga terpaksa menyela pembicaraan mereka yang sudah mulai tak jelas.
Adrian tak bergeming. Dia malah mendekati Pintu lalu berteriak memanggil Habibah.
"Kak Ociiii, ini Adrian mau berkenalan sama cewek yang ada di rumah ini. Keluar, dong!" teriaknya.
"Kamu itu enggak denger apa yang saya ucapkan, ya. Adik saya tidak mau di ganggu. Kamu pulang enggak? Kalau tidak mau pulang saya laporin sama Amaq kamu biar kamu di Gantung," ucap Rizqy bernada geram penuh ancaman.
"Iya, iya saya pulang, pake ngancem segala. Dasar Om tua cemen," balas Adrian kesal.
Rizqy mempeloti Pemuda itu, seketika membuatnya langsung berjalan menjauh.
"Jadi kamu Guru?" Tanya Riski saat mengikuti jejak Adrian.
"Iya, bangga, kan? Secara menjadi Guru Negeri itu susah," jawab Adrian jumawa.
"Hebat, tapi sepertinya kamu salah profesi. Kasihan anak didik kamu memiliki oknum Guru seperti kamu, makan hati." Riski menyahuti dengan santainya.
"Oh ya, gunakan Handphone pintar kamu untuk mencari tahu siapa Keynand Putra Ardiaz. Dia itu Direktur Hotel Ardiaz. Kamu pasti tak akan percaya, emang sih dari segi penampilan saja tak meyakinkan, tapi dia beruang bro. Itulah dia sangat sederhana. Sultan asli mah gitu enggak suka pamerin harta kekayaannya. Ibarat Padi yang berisi, meskipun merunduk orang-orang sudah tahu bahwa dia berisi," lanjut Riski. Perkataan Bujang itu membuat Adrian melongo. Matanya tak berkedip dengan mulut menganga tak percaya.
"Mingkem, entar Jangkrik pada lompat ke mul*t kamu yang tak beradap itu. Ketelen, deh!" Imbuh Riski bernada puas. Setelahnya, berlalu begitu saja dengan senyum mengembang.
Puas rasanya dan kini Bujang itu bisa tidur dengan nyenyak.
"Hoaaaaam." Riski menguap.
***
Sepeninggalnya Riski dan Adrian, Keynand dan Rizqy melanjutkan pembicaraan yang sempat terjeda.
__ADS_1
Keynand menarik nafas panjang, dia berusaha menentramkan hatinya dengan doa yang terucap dalam hati.
Dia datang ke Desa ini bertujuan untuk meminta maaf secara langsung kepada Qia dan Rizqy. Dan malam ini kesempatannya untuk berbicara dengan Rizqy. Apalagi Rizqy menyambutnya dengan baik tanpa amarah. Tentu kesempatan ini di yakini akan berakhir baik.
"Saya minta maaf Ris, tidak seharusnya saya menuduh Qia yang bukan-bukan. Saya benar-benar tidak tahu kalau Qia itu adik kamu. Maafkan saya Ris. Sungguh, itu semua di luar kendali saya dan saya tidak mengerti kenapa bisa seperti itu. Terus terang saya tidak suka melihat kebersamaan Qia dengan Pria lain. Mungkin saja saya cemburu saat itu, Ris," ucap Keynand pada akhirnya bersuara. Ada kelegaan yang di rasakan saat berhasil meminta maaf kepada Rizqy.
Rizqy terdiam, seraya menghela nafasnya. Dia tidak menyangka Keynand dengan kerendahan hati mau mengakui kesalahannya dan kemudian meminta maaf.
Di luar dugaannya, dia pikir Keynand akan menjunjung tinggi egonya dan tidak akan merasa bersalah dengan perlakuannya kepada Qia.
Tak ada jawaban. Mereka berdua menikmati keheningan dengan pandangan lurus ke depan ke arah yang sama, pada pekatnya malam di pinggir hutan. Mereka hanya ingat di balik pekatnya malam yang tak tertembus oleh Netra, ada danau gumbang di sana.
"Ini berawal dari Qia yang mendapat bullyan dari teman kampusnya," ucap Keynand melanjutkan.
perkataannya itu membuat Rizqy mengalihkan perhatiannya. Rizqy menatap Keynand dengan rasa penasaran. Terbukti dari cara memandang Pria itu dengan rasa ingin tahunya.
"Di bully? Qia tidak pernah cerita."
Keynand menceritakan pengalaman buruk yang pernah di alami oleh Rizqia. Dan juga informasi salah yang di berikan oleh orang kepercayaannya itu.
"Aneh, tidak ada yang tahu kalau Qia pernah di rawat selain saya dan Habibah. Kenapa informasi itu bisa diketahui orang lain?" tanya Rizqy heran.
"Nah itu dia, saya malahan mengira Jessi yang melakukannya. Maafkan saya Ris, saya sempat berprasangka bahwa kamu dan Jessi bekerja sama untuk mengacaukan hubungan saya dengan Qia."
"Itulah kelemahan kamu, Keynand. Langsung menyimpulkan sesuka hati tanpa memastikan dulu kebenaran yang kamu dengar. Sungguh gegabah ternyata."
ucapan Rizqy membuat hati Keynand tertohok. Ingin menyangkal, tapi pada kenyataannya memang seperti itu. Dia sangat mudah terpengaruh dan terpedaya oleh tipu daya. Dan sulit membedakan mana yang tulus dan mana yang hanya berpura-pura. Puncaknya dia terjatuh pada obat-obatan terlarang. Ah seharusnya dia belajar dari pengalamannya dulu.
"Oh ya, Jessi tidak tahu kalau saya memiliki adik, tentu dia juga tidak tahu menahu perihal Qia yang pernah di rawat. Saya rasa kita tidak perlu mencurigai Jessi. Dia tidak suka menusuk dari arah belakang, tapi langsung dari arah depan dengan keangkuhannya," ucap Rizqy menyangkal tuduhan Keynand kepada Jessi yang bekerja sama dengannya.
"Sepertinya kamu mengenal Jessi dengan baik?" Tanya Keynand. Ia ingin tahu seberapa jauh Rizqy mengenal mantan Isterinya itu.
"Saya tidak perlu menjelaskan, karena itu sudah tidak penting lagi. Saya hanya ingin kita fokus dengan Pelaku sesungguhnya. Bisa jadi orangnya sangat dekat dengan kita, tanpa kita sadari keberadaannya," jawab Rizqy menolak mengungkit masa lalunya itu.
"Kamu benar Ris? Apa mungkin ini ada hubungannya dengan Kiano?"
Rizqy terkejut dengan pertanyaan Keynand.
"Kamu mengenal Kiano?" tanya Rizqy.
"Saya tidak tahu, apa Kiano yang pernah bertemu dengan saya adalah Kiano yang sama dengan kembaran Qia," jawab Keynand serius. Dia merogok saku Jaket yang dikenakannya lalu mengambil sesuatu yang tersimpan di sana. Setelah menemukan benda yang di cari, lalu memperlihatkan kepada Rizqy.
"Ini Gelang milik Pemuda yang bernama Kiano. Dia memberikan kepada saya lalu meminta saya untuk memberikan Gelang ini kepada Kakaknya bernama Rizqy Anggara dan tinggal di Mentaram." Keynand menceritakan pertemuannya dengan Pemuda bernama Kiano.
Rizqy mengambil Gelang itu dengan perasaan tak menentu. Rasa perih yang tak pernah sama sekali sembuh, kini kembali menguar dan lebih parah terasa.
Rizqy bertanya, rahasia apa yang hendak ditunjukkan oleh Kiano? Di mana kepergiannya juga meninggalkan misteri hingga sekarang belum berhasil dipecahkan olehnya.
__ADS_1
Bersambung.