Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
77


__ADS_3

Keynand mau tidak mau harus maju untuk menjelaskan apa perbedaan Bank Syariah dengan Bank Konvensional. Meskipun dia bukan Mahasiswa lagi, setidaknya dia akan berbagi ilmu sebagai seorang Pengusaha.


"Hai teman-teman, khabar kalian pasti baik-baik saja, kan? dan bersedia mendengarkan apa yang di minta Dosen kita. Kita di sini sharing ya? Baiklah saya akan menjelaskan."


Keynand berbasa basi terlebih dahulu. Dia melemparkan pandangan kepada Rizqia yang tertunduk. Ada senyuman yang dia arahkan pada Sosok itu. Dan ada keterpakuan yang terjadi pada semua Mahasiswi. Tentu karena ketampanan seorang Keynand yang berhasil menyingkirkan pesona Dosen mudanya itu.


Sementara para Mahasiswa merasa tersaingi dengan aura Maskulin yang menguar darinya.


Keynand mulai menjelaskan dengan secara terperinci. Sangat cerdas dan menguasai materi tersebut. Dia juga sangat pintar berkomunikasi sehingga mudah di pahami oleh yang mendengarkannya. Sama cerdasnya dengan Pengampunya yang membuat Mahasiswa menyukai Dosennya itu.


"Intinya, perbedaannya itu terletak pada sistemnya. Jika Konvensional tidak menggunakan akad sedangkan Syariah menggunakan akad yang sah." Keynand mengakhiri penjelasannya.


"Contohnya akad tersebut seperti ini 'saya terima nikah dan kawinnya Baiq Rizqia Anggeraini binti nama Ayahnya dengan Maskawin bla bla bla tunai '. Jika sah maka akan terjadi kesepakatan," lanjut Keynand dengan senyum jahilnya.


Sontak membuat penghuni kelas heboh. Sedangkan Riski menggelengkan Kepala tak percaya dengan keberanian Keynand.


Sementara Rizqia memandang Pria itu dengan tajam meluncurkan kebencian dan permusuhan.


"Ini mah bukan akad sistem operasional Syariah tapi akad untuk menghalalkan hasr*at. Ini namanya cacat logika, iya enggak teman-teman," celetuk seorang Mahasiswa dan di iyakan oleh sebagian Mahasiswa dengan suara riuhnya.


"Benar, atau jangan-jangan Mahasiswa yang tidak kita kenal ini suka lagi sama Mantan penghuni rumah sakit jiwa yakni Baiq Rizqia Anggeraini. Tampan-tampan kok bodoh, ya? Sama saya saja di jamin waras. Dia pernah gila lo!" sahut seorang Mahasiswi dengan senyum mengembangnya. Dia sepertinya sengaja menyudutkan Rizqia. Ada dendam tersembunyi yang baru sempat di laksanakan.


"Rizqia tidak gila, kamu mungkin yang sekarang sedang gila. Kalau waras mana mungkin akan menyerang orang yang tak pernah bersinggungan dengan kamu. Coba di cek deh! Agar sadar kalau mental kamu sekarang sedang sakit."


Terdengar pembelaan dari seorang Mahasiswi yang ternyata Rin.


Suasana di antara mereka semakin panas dengan saling menatap tajam mengalirkan ketidak sukaan.


"Tenang teman-teman, ini hanya contoh sebuah akad. Dan contoh yang diberikan bukanlah contoh akad sistem operasioanal bank syariah. Saya harap kalian bijak menanggapi apa yang di sampaikan oleh pembicara. Satu hal lagi jangan saling menyudutkan, apalagi membahas kehidupan pribadi orang lain. Kalian orang yang berpendidikan, jangan sampai terhina karena kejulidan kalian. Beri penghargaan untuk diri kalian dengan cara menghargai dan menghormati orang lain."


Riski menengahi kegaduhan yang terjadi. Dosen muda itu terlihat kecewa, namun tetap tenang menghadapi ketegangan ini.


"Anda, terima kasih telah berbagi ilmu," lanjut Riski mempersilahkan Keynand untuk kembali ke kursinya.


Keynand melangkah dengan lesu. Tidak menyangka kalimat terakhirnya membuat suasana menjadi tidak nyaman.

__ADS_1


"Maaf," ucap Keynand saat dia sudah duduk di Kursi yang bersebelahan dengan Rizqia.


Gadis itu tidak menjawab. Wajahnya di palingkan ke arah yang tidak menampakkan Sosok Laki-laki di sampingnya.


Keynand menghela nafas. Perbuatannya membuat mental Rizqia kini mungkin saja tidak baik-baik saja. Rasa bersalah itu tertanam di hatinya yang tidak mungkin akan punah.


"Maaf," ucapnya sekali lagi.


Rizqia mendengus kesal. Gara-gara perbuatan Pria ini mentalnya di pukul telak. Setelah ini bisa dipastikan dia akan mendapatkan penilaian negatif yang akan membantai habis jiwanya. Jadi, tidak mungkin secepat itu akan memaafkan.


Melihat situasi yang tidak kondusif, Riski mengakhiri perkuliahannya. Tidak mungkin akan melanjutkan karena Moodnya sudah rusak dan juga Mahasiswanya yang sepertinya tak bersemangat lagi. Akan percuma di teruskan jika kesia-siaan yang di dapatkan.


Rizqia mengemas alat tulisnya lalu melangkah dengan cepat tanpa menghiraukan panggilan Keynand dan Rin.


Kini pandangan sebagian teman-temannya sudah berbeda. Entah setelah ini apa mereka akan mau menerimanya dengan akrab atau malah menerimanya dengan terpaksa. Entahlah?


***


Sama-sama saling diam, tidak ada yang mau mengalah untuk memulai pembicaraan. Keynand menatap langit yang terlihat suram. Langkahnya kini dipastikan tertatih dengan perbuatannya yang keliru.


Mana tahu ada orang yang diam-diam tidak menyukai Rizqia dan tanpa sengaja dia memberikan celah kepada orang-orang yang tidak suka itu untuk menyerang Gadis itu.


Dialah yang andil menebarkan rahasia masa lalu buruk Rizqia sehingga semua orang mengetahuinya.


Dan kini hari-hari Gadis itu jelas tidak setenang dan senyaman hari kemarin. Tatapan tak mengenak itu telah di mulai hari ini. Jelas terlihat beberapa orang mulai memandangnya dengan cemoohan meskipun sebagiannya menaruh simpati dan iba kepadanya.


Kedua sikap itu tentu tidak diinginkan oleh Rizqia. Dia ingin hari-harinya biasa tanpa adanya cemoohan, olokan apalagi rasa kasian dan iba.


Namun sekarang dia harus menghadapi itu. Mampu kah dia? Pertanyaan itu bermunculan di benak Keynand.


Keynand akan melindungi gadis itu dan memastikan tidak akan ada orang yang berani mengusiknya. Itu janjinya.


"Saya yakin Abang hanya bermaksud becanda tapi ternyata penerimaan mereka tidak sesuai ekspektasi Abang. Mungkin saja situasi dan tempatnya salah. Kita ambil pelajaran dari masalah ini agar lebih berhati-hati untuk berkata," ucap Riski pada akhirnya memulai pembicaraan. Dia memang kesal dengan Keynand, tapi tidak tega juga mendiamkannya. Riski tahu, Keynand saat ini gelisah dengan rasa bersalah.


Keynand hanya mengangguk. Tidak ada sepatah kata pun yang terucap. Bukan tidak ingin hanya saja bingung harus menanggapi seperti apa. Dia seakan kehilangan aksara.

__ADS_1


***


Di situasi yang berbeda.


Rin berusaha mengajak Rizqia untuk berbicara. Gadis itu bungkam dengan air mata yang membanjiri Pipi mulusnya.


Sungguh malu, itu yang di rasakan Rizqia karena pada akhirnya mereka tahu akan riwayat kesehatannya.


Padahal keadaannya dulu sangat di rahasiakan dan identitasnya disembunyikan dengan rapat. Bagaimana ceritanya rahasia ini bocor. Bukankah rumah sakit menjamin rahasia Pasiennya. Ini apa? Kenapa bisa diketahui oleh orang lain? Sungguh tidak dipercaya ini.


Rin tidak beranjak pergi dari kamar Rizqia. Meskipun kini kamar ini serupa Kapal pecah. Wanita hamil itu dengan setia menemani Gadis itu dalam diam. Hanya tepukan kepada bahu yang membuktikan betapa pedulinya Wanita muda itu.


Sungguh, Rin baru tahu kenyataan ini. Rizqia tidak pernah bercerita bahwa dia pernah di rawat di rumah sakit jiwa. Gadis itu hanya bercerita bahwa dia pernah depresi.


Namun tidak mengira separah itu dan harus di rawat dalam kurun waktu yang lama.


Saat mereka terlena dalam keheningan. Dari arah luar terdengar langkah kaki mendekat.


"Rizqia," panggilnya dengan lembut.


Seorang Wanita muda berparas manis dan teduh datang menghampiri. Dia duduk di samping Rizqia kemudian membelai rambut sebahu yang terlihat indah.


"Kak," ucap Rizqia. Dia menghamburkan diri dalam pelukan Wanita itu.


Sejenak semua terdiam membiarkan Rizqia meluapkan segala resah, sakit hati dan amarahnya dalam bentuk tangisan. Setelah ini sedikit ada kelegaan mungkin saja terjadi meskipun bersisa kepedihan.


"Sudah sayang, jangan dipikirkan. Adik saya ini orang yang kuat dan tidak peduli dengan omongan orang yang buruk," ucap Wanita muda itu memberikan semangat.


"Jangan biarkan perlakuan orang yang tidak baik membuat kita stuck. Kita tidak bisa meminta apalagi memohon agar semua orang menyukai kita. Pasti akan ada orang yang tidak suka. Biarkan saja mereka dengan ketidak sukaannya. Hidup kita bukan untuk mereka melainkan untuk orang-orang yang sayang dengan kita. Jika kamu lemah, mereka akan bahagia karena tuduhan mereka terbukti. Sekarang tunjukkan kepada mereka betapa hebatnya seorang Baiq Rizqia Anggeraini." Panjang lebar terdengar kalimat nasehat penuh penyemangat terucap dari Wanita muda yang ternyata Kakak Ipar Rizqia.


"Betul itu Qia, rugi kalau menanggapi omongan si mulut comberan. Iri kali dia karena dengan tersirat Cowok Ganteng menginginkan Qia menjadi Isterinya," ucap Rin dengan lancarnya.


"Apa? Menjadi Isteri? Ini maksudnya apa?" tanya Kakak Ipar Rizqia terkejut.


"Ooooops."

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2