
"Qia coba ceritakan apa yang terjadi? Apa ini ada hubungannya dengan Keynand? Apa yang dilakukan Pria blok itu?" tanya Rizqy saat berhadapan dengan adik satu-satunya itu.
Membaca pesan dari Qia yang sangat membutuhkan kehadirannya, Suami dari Habibah itu memilih melanjutkan perjalanan menuju Kota Raya tempat Qia kini bermukim.
Awalnya dari rumah Evan di Desa Jenever dia akan langsung pulang, tapi karena pesan Qia yang sangat serius akhirnya melanjutkan perjalanan meskipun harus menempuh perjalanan satu jam lamanya.
"Iya Kak. Saya ke rumah sakit Ardiaz untuk memeriksa kesehatan, tanpa sengaja mendengarkan pembicaraan seorang Dokter. Abang Keynand di serang. Ada yang memberikan obat berbahaya pada Kopi dan Abang Keynand sempat meminumnya."
Qia menceritakan apa yang terjadi dengan mantan calon Suaminya itu. Gadis itu juga berhasil mengetahui hasil dari uji laboratorium dan dia sempat memotret secarik kertas tersebut.
"Ini Kak hasilnya."
Qia menyerahkan Handphonenya.
Rizqy mengambil benda elektronik itu dan membacanya dengan seksama. Usai membaca Rizqy menyerahkan kembali benda elekronik itu kepada Qia. Terdengar helaan nafas berat kemudian. Dia terdiam sejenak dengan ekspresi yang sulit terbaca.
"Botulinun Toxin. Zat ini juga ada pada tubuh Kiano selain obat-obatan terlarang itu," ucap Rizqy membatin.
"Haruskah tragedi Kiano terulang kembali? Apakah obatnya sama dan sumbernya dari orang yang sama?"
Rizqy bertanya pada Qia yang menatap bingung pada Kakaknya.
Qia mengetahui apa yang terjadi dengan kembarannya. Dia bahkan membaca hasil dari pemeriksaan yang dilakukan pada saudaranya itu. Dia ingat sangat jelas apa yang tertulis pada selembar kertas itu.
Qia terdiam. Ia tidak bisa menanggapi pertanyaan yang dirinya pun tak mengerti. Namun dia melantunkan harapan agar Daddy dari Raski tidak akan mengalami apa yang dialami oleh Kiano. Bukankah sekarang mereka sudah mengetahui bahaya yang terang-terangnya menampakkan diri. Apa mungkin mereka akan lengah dan tidak menghindar. Tentu saja tidak! Keynand pasti akan meningkatkan kewaspadaan untuk melindungi diri sendiri dan keluarganya. Setidaknya Qia lega dalam hal itu, tapi tidak dengan rencana kakaknya.
"Kakak memiliki penawarnya?" Qia memilih menanyakan hal itu, dari pada harus menebak dari mana obat itu berasal.
Rizqy mengangguk.
Semenjak mengetahui penyebab kematian Kiano yang disebabkan oleh over dosis obat-obatan terlarang dan racun, dia mulai mempelajari tumbuh-tumbuhan beracun dan tumbuh-tumbuhan obat. Rizqy mempelajari dan menemukan tumbuh-tumbuhan tersebut dari hutan ke hutan. Sebab itulah dia bersama Habibah menanam segala macam tumbuh-tumbuhan obat di hutan lindung yang merupakan lahan milik Habibah.
Rizqy menatap Qia dengan sorot mata tak biasa. Tajam bak busur panah yang terasa membidik ulu hati. Tak hanya sekedar itu saja, sorot itu seakan menyelidik niat yang terselubung dibalik pertanyaan.
__ADS_1
"Apa kamu ingin menyembuhkan Keynand?" Tanya itu terdengar pula di telinga Qia, yang membuat Gadis itu seketika mengangguk cepat.
Rizqy menghela nafas panjang.
"Cinta memang konyol," guman Rizqy sembari menggelengkan Kepala.
"Demi kemanusiaan," sahut Qia tak ingin Kakaknya itu berpikir tidak baik tentangnya apalagi menganggapnya masih mengharapkan Keynand. Jangan sampai Kakaknya mengira bahwa dirinya Gadis yang mengenaskan karena tidak berhasil move on dari Suami orang.
"Baiklah."
Qia tersenyum bahagia mendengarkan keputusan Rizqy. Meskipun Kakaknya spaneng dengan Lelaki bernama Keynand, akan tetapi dia bukanlah orang yang tidak memiliki hati.
"Kak Rizqy, apakah Kak Rizqy benar-benar akan melanjutkan rencana untuk memberikan pelajaran pada Abang Keynand?" tanya Qia kemudian setelah berhasil mendapatkan penawar itu.
"Haruskah Kakak mundur?" tanya Rizqy memilih tak menjawab.
"Qia hanya khawatir, kak."
Rizqy tersenyum. Dia mengelus pucuk Kepala adiknya dengan lembut penuh dengan kasih sayang.
"Tuh kan!" Batin Qia resah. Apa yang ditakutkan terjadi juga, pertanyaan itu sangat menjebaknya.
Pertanyaan Rizqy menempatkan Qia pada posisi rumit. Dia menginginkan Keynand. Dalam waktu bersamaan pula dia sadar harapannya itu mana mungkin terlaksana. Sungguh kenyataan telah menggeretnya dalam kesengsaraan. Itulah yang terkabul kini.
"Kakak paham. Sangat sulit melupakan Keynand, apalagi Lelaki itu berwajah tampan lebih tampan dari Kak Rizqy. Sungguh menyebalkan," ucap Rizqy sinis dengan tangan terkepal geram.
Hahahahaha
Qia tertawa lebar.
"Tidak menyangka Kak Rizqy mengakuinya," ucap Qia kemudian setelah berhasil melepaskan diri dari situasi yang menjebaknya.
"Mau bagaimana lagi, Kakakmu ini terlalu baik dan tidak terjebak dalam kegengsian," sahut Rizqy dengan ekspresi dingin. Sepertinya dia tidak terima dengan pengakuannya sendiri. Namun karena dia bukanlah Laki-laki yang dipenuhi dengan ego dan gengsi tinggi, sebaliknya dia Pria yang rendah hati, maka tanpa segan mengakui kehebatan maupun ketampanan seseorang, jika sejatinya benar.
__ADS_1
"Keynand keturunan Eropa, disitu menangnya. Jika saja Daddynya bukan orang Eropa mungkin saja tidak setampan itu. Kak Rizqy-mu ini yang akan memenangkannya," sahutnya lagi jumawa.
"Kalau begitu, bukan Keynand Putra Ardiaz, dong! tapi Amaq Ocong." Qia menimpali diiringi tawa renyahnya.
"Senang sekali membiarkan Keynand menggigit Lidahnya berkali-kali, itu penderitaan untuknya," seru Rizqy terlihat bahagia.
Qia menggelengkan Kepala melihat tingkah Rizqy yang sepertinya spaneng alias tegangan tinggi jika mengingat Keynand yang telah merusak hari-harinya.
"Apa kamu masih ingin bersuamikan Keynand blok, gitu? Kalau Kakak sih inginnya yang menjadi adik ipar yaitu Rasya. Nanti setelah kamu selesai kuliah dan Rasya juga selesai kuliah, Kakak akan melamarnya dan menikahkan kamu dengan Rasya biar Keynand blok itu menderita."
Rizqy berkata seperti sebuah ultimatum yang harus terlaksana. Terlihat senyum liciknya mengembang dengan mata teduh penuh dengan misteri.
Qia menelan cairan ditenggorokannya dengan susah. Dia merasa kakaknya itu terlalu lebay dengan perkataannya yang sejatinya hanya bualan semata. Bukan itu yang dipikirkan oleh Kakaknya. Qia tahu, ini hanyalah sebuah kejahilan yang sedang digencarkan.
"Terserah Kakak, Qia manut saja. Tapi jangan menyebut Abang Keynand bodoh," sahut Qia pasrah, di sambut tawa membahana dari Pria tampan pujaan hati Habibah Rosy itu.
"Kenyataannya dia blok," sahut Rizqy mempertegas.
Qia cemberut tidak terima. Ekspresi itu menghadirkan kembali tawa renyah Sang Kakak.
Melihat Qia yang kian cemberut, Rizqy meredam tawa, lalu dia mulai serius dengan apa yang harus mereka lakukan selanjutnya.
Dia memberikan sesuatu kepada Qia lalu meminta adiknya itu mempergunakan disaat benar-benar membutuhkannya. Tidak lupa berpesan agar lebih berhati-hati, karena mendung sedang nampak di hadapan. Dan tidak ada yang tahu, apa yang tersimpan di sana. Badaikah atau Pelangi yang indah. Bisa saja badai itu terlebih dahulu menghadang sebelum berhasil mencapai Pelangi. Sebab itulah kita harus siap menghadapinya dan bisa melalui hingga berhasil bertemu dengan Pelangi yang indah.
Rizqy pulang ke Desa setelah berbicara panjang lebar dengan Sang Adik. Sesampainya di rumah sudah menjelang malam karena perjalanan cukup jauh, dimana membutuhkan waktu tiga jam lamanya.
Rizqy mengucap salam di sambut salam oleh Habibah yang dengan setia menunggu.
"Mas Rizqy sudah pulang, Alhamdulillah," sambut Habibah dengan senyum menawannya.
Rizqy terpaku sesaat melihat keindahan di depan mata. Pasalnya Habibah menyambut dengan penampilan yang sangat menggoda.
Lingerie berwarna Fuchsia yang terlihat berani dan energik. Gaun transparan itu membalut tubuh tinggi semampainya. Dan terekspor kulitnya yang sangat cantik dengan lekuk tubuh kata orang seperti Biola. Sejatinya hanya dia yang tahu keindahan yang disembunyikan oleh Wanita yang bernama Habibah Rosy, Sang Isteri.
__ADS_1
Rizqy tak bisa menahan diri. Ini merupakan penawar untuk Otaknya yang sudah lelah berpikir. Otak kerukut yang hingga sekarang belumlah bisa terurai, sebab masalah yang di hadapi belum mencapai titik penyelesaian.
Bersambung.