Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
S2.3


__ADS_3

Keynand menarik nafas panjang mendengarkan tanggapan Isterinya yang tidak sudi menyibukkan diri di Dapur.


"Terserah kamu," ucap Keynand pasrah.


"Makasih Mas, secepatnya aku akan mencari ART." Julaekha tampak senang dengan jawaban yang di berikan oleh Keynand. Sebuah persetujuan dan itu artinya membebaskannya dari urusan rumah.


Keynand menyelesaikan sarapannya. Dia bangkit dari duduknya. Namun baru saja melangkah terdengar suara Isterinya memanggil membuat langkah kakinya terhenti.


"Mas, kok pergi? Siapa yang akan membersihkan Meja makan ini? Tangan halus ini tidak pernah sama sekali mencuci Piring kotor. Tidak terbiasa tangan ini melakukan pekerjaan bersih-bersih, jadi apa bisa Mas yang membersihkannya. Aku mohon, demi Isteri."


Julaekha meminta dengan pandangan memohon. Terlihat matanya membentuk telaga bening yang siapapun tidak akan bisa menolaknya.


Keynand mendengus kesal. Dia kembali menuju Meja makan kemudian menyusun alat makan yang digunakannya lalu membawanya ke Westafel.


"Saya akan mencuci apa yang saya gunakan. Dan kamu harus mencuci apa yang kamu gunakan. Jangan memerintah saya," ucap Keynand dingin. Dia menekankan pada setiap kata-katanya agar Julaekha mengerti.


"Aku tidak memerintah Mas. Ini hanya meminta bantuan karena mana mungkin aku bisa melakukannya. Apa Mas tidak lihat aku sudah cantik dan berpakaian rapi? Kalau aku membersihkan ini semua, nanti penampilanku tidak lagi menarik," sahut Julaekha dengan lancarnya. Dia memang tidak mau capek apalagi harus membersihkan rumah dan segala ***** bengeknya. Sekarang statusnya adalah Nyonya Keynand Putra Ardiaz, tentu dia hanya ingin dilayani. Itu yang ada dalam pikiran Wanita itu.


"Lakukan tugasmu sebagai seorang Isteri," lanjut Keynand bernada tegas.


"Hanya kali ini saja Mas, besok-besok ART yang akan mengerjakannya."


Keynand menggelengkan Kepala tak percaya dengan apa yang di dengarkannya dari Sang Isteri. Dia beristighfar dalam hati untuk menyabarkan hatinya. Tidak disangkanya Sang Isteri sama sekali tidak mau mengurusi pekerjaan rumah.


"Kamu bukan Ratu."


Usai berkata, dengan cekatan Keynand membersihkan alat makan yang dipergunakannya sendiri.

__ADS_1


Sementara Julaekha mengabaikan kalimat tegas Suaminya. Tidak perlu mendengarkannya, toh pada akhirnya nanti Keynand akan membersihkan. Karena dia akan berniat meninggalkan piring, Gelas dan Sendok kotornya teronggok di Meja.


Selesai mencuci, tanpa berkata apapun Keynand lantas pergi meninggalkan Julaekha yang masih berdiam diri di Kursinya.


Julaekha memamerkan wajah kesalnya karena Keynand hanya mencuci apa yang dipergunakannya saja. Dia beranjak dari duduknya kemudian mengikuti Keynand yang melangkah ke arah kamarnya.


Dibiarkan Meja makan itu dengan Piring kotor yang mendiaminya. Tanpa ada keinginan untuk membersihkannya.


***


"Mas, aku minta maaf atas kata-kata kasar yang aku ucapkan. Tidak seharusnya aku bersikap keterlaluan," ucap Julaekha mengawali pembicaraan. Dia mengulurkan tangannya lalu dengan tak malu Wanita itu melingkarkan tangannya di pinggang Keynand. Dia memeluk tubuh itu dengan erat kemudian merebahkan Kepalanya pada punggung Lelaki itu.


Keynand tidak menjawab karena dia yakin Julaekha akan melanjutkan kata-katanya. Dia lebih memilih melanjutkan kegiatannya menggulung lengan kemeja yang digunakannya.


"Aku kesal dengan perdebatan kita semalam. Dan entah kenapa kekesalan itu berlanjut hingga paginya. Aku kesal karena Mas mengabaikan aku padahal malam tadi adalah malam pertama kita sebagai Pengantin." Julaekha melanjutkan keluh kesahnya. Dia menghela nafasnya dan Keynand merasakan kegetiran yang dirasakan oleh Isterinya. Badan itu terasa bergetar itu yang dirasakan olehnya.


"Aku tahu, pernikahan kita terjadi bukan karena kemauan kita berdua apalagi karena kemauan Mas, tapi karena keadaan yang membuat ini terjadi. Terlepas dari itu semua, Mas harus tahu bahwasannya aku mencintai Mas. Tidak bisakah Mas menghargai itu meskipun cinta Mas kepada diri ini akan sulit ada. Setidaknya jangan sakiti hati ini dengan penolakan Mas Keynand."


"Maafkan saya, mungkin saja saya belum siap menjadi Suami yang kamu idamkan. Setelah ini saya akan berusaha bertanggung jawab atas pernikahan ini. Dan sebisa mungkin tidak menyakiti perasaan kamu." Keynand pada akhirnya menyetujui keinginan Isterinya.


"Namamu sudah saya ikrarkan dalam ijab kabul hingga mengguncang arsy-Nya Tuhan karena itulah saya akan bertanggung jawab atas kabul itu. Tapi saya minta jangan jadikan Lelaki ini menjadi Suami yang berdosa karena segala keinginan itu tidak bisa semuanya saya penuhi. Saya mohon mengertilah." Keynand belanjutkan kalimatnya. Ada luka di hatinya ketika mengungkapkan janjinya kepada Wanita lain yang menjadi Isterinya. Siapapun Wanita itu tidak seharusnya mengacuhkan keberadaannya. Seharusnya dia memberikan kebahagiaan untuknya dan sebisa mungkin tidak menyakitinya. Keynand sadar tanggung jawabnya itu. Karena itulah dia akan berusaha menerima Julaekha menjadi Isterinya meskipun cinta di hatinya belum ada. Setidaknya itu yang dilakukannya. Bagaimana pun juga dia tidak ingin berdosa karena telah mengabaikan Isterinya.


Hidupnya kini telah terjebak bersama Wanita lain bukan Gadis berparas mawar yang telah di janjikan untuk hidup bersama dalam menggapai ridho Tuhan.


Ada Wanita lain yang mengubah haluannya dan dia terseret ke dalamnya tanpa bisa menolak. Sudah terlanjur terjebak, maka dia akan menerimanya sebagai Isteri dan membersamainya bersama luka yang menyertainya.


"Benarkah, mas? Aku sangat lega mendengarkannya?" ucap Julaekha bahagia. Ada senyum yang indah terbentuk pada bibir sensualnya. Matanya berbinar-binar menunjukkan rasa cinta yang hanya ada untuk Keynand.

__ADS_1


Dia mengurai pelukan lalu meraih tubuh Keynand agar menghadapnya.


Menyadari itu, Keynand membalikkan tubuhnya. Dia menemukan wajah cantik Isterinya yang dihiasi dengan senyum merekahnya.


Perbedaan kontras yang terlihat. Julaekha dengan binar-binar cinta di pelupuk matanya. Sementara Keynand menyimpan luka dan kesakitan di kedua mata. Hanya senyum tipis yang diberikan sebagai ungkapan janji. Janji yang dia usahakan untuk tidak menghancurkan harapan Isterinya.


"Aku akan berusaha menjadi Isteri yang baik untukmu. Tolong pahami aku jika bersikap keras kepala, egois dan juga manja. Jangan jadikan itu sebagai bahan perdebatan untuk kita."


Keynand menghela nafas berat saat mendengarkan kalimat yang terdengar memaksa. Inilah bentuk keangkuhan Wanita itu yang menginginkan dialah yang harus bersabar sebagai Suami.


"Akan aku usahakan, tapi jangan meminta saya untuk tidak mengingat Mommynya Raski. Dia adalah Isteri saya dan bidadari syurga yang kelak saya berharap bisa bersamanya. Sementara Qia. ..."


Keynand menggantung kalimatnya. Ada rasa berat mengucapkannya, namun dia harus melupakannya karena ingin menjaga maruah Gadis itu. Jika mengingatnya hanya akan menambah dosanya dan pastikan rasa cinta itu akan terus bermekaran untuknya.


"Saya akan berusaha melupakannya." Akhirnya kalimat itu terucap juga meskipun tidak ada kelegaan yang terasa.


"Benarkah?" tanya Julekha tersenyum sumringah. Dia sangat bahagia mendengarkan janji dari Suaminya. Tidak ada lagi Gadis lain yfang mengusik pikiran seorang Keynand. Dia janji akan menjauhkan Lelakinya dari Gadis itu meskipun harus bertindak di luar batas. Keynand adalah miliknya dan akan tetap menjadi miliknya selamanya.


Sedangkan Wanita yang menjadi Isteri pertamanya, Julaekha memilih merelakan Suaminya untuk terus mengingatnya. Untuk apa cemburu pada seseorang yang sudah tidak ada meskipun kenyataannya dia amat sangat cemburu.


Keynand menganggukkan Kepala sebagai jawaban.


Julaekha menghamburkan diri dalam pelukan Keynand. Dia bahagia mendapatkan kepastian dari Suaminya mengenai keberlangsungan biduk rumah tangga yang baru saja mengikat mereka.


Keynand tidak membalas pelukan Isterinya. Tangannya dengan setia masih bertahan di sisi tubuhnya. Dia hanya membiarkan Isterinya melabuhkan diri pada tubuhnya. Mungkin dengan cara itu membuat Isterinya bahagia.


"Ternyata sangat gampang merayu Keynand.gin Dengan ini aku tidak perlu mengkhawatirkan posisiku sebagai Isteri Keynand." Julaekha membatin dengan senyuman penuh arti di balik dad* bidang San Suami.

__ADS_1


"Haruskah aku menggoda Qia dengan khabar bahagia ini. Mungkin saja dengan ini membuatnya langsung menyerah menahan rasa sakit itu dan membuatnya tak ingin bernafas lagi." Julaekha terus-terusan membatin. Tersungging senyum kemenangan di bibir sensualnya.


Bersambung.


__ADS_2