Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
S2. 55


__ADS_3

Reynand telah sampai di rumah sakit Kota Raya tempat Lika dan anak-anaknya di bawa. Saat sampai ruang tindakan, dia bertemu dengan orang yang membawa Sang Isteri dan kedua anaknya ke rumah Sakit. Disana juga ada dua orang Body guard yang diperintahkan untuk melindungi Sang Isteri tanpa sepengetahuannya.


Para Body guard menundukkan wajah dengan rasa bersalah karena tidak berhasil melindungi dan menyelamatkan Isteri dan kedua anak dari Tuannya.


"Kalian benar-benar tidak becus."


Lama terdiam, Reynand akhirnya menumpahkan amarahnya. Dia menghajar kedua Body guard tepat di hadapan Julaekha Syarifah yang baru saja menampakkan diri.


Wanita itu berusaha menenangkan Reynand yang diliputi amarah. Usaha kerasnya ternyata berhasil, Laki-laki itu menjatuhkan tubuhnya dengan wajah menunduk menyembunyikan kesedihan. Reynand beristigfar, hanya itu yang bisa dilakukan untuk meredamkan amarahnya yang kian bergemuruh.


Ceklek


Pintu terbuka menampilkan seorang Dokter yang menangani Lika dan anak-anak Reynand.


"Keluarga pasien."


"Saya Suaminya," ucap Reynand dengan cepat menghampiri.


"Maaf, kami sudah berusaha. ..."


Dokter menjelaskan apa yang terjadi dengan Isteri Reynand dan kedua anaknya. Reynand yang mendengarkannya langsung menerobos masuk dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, tapi itulah kenyataannya. Dia keluar beberapa menit kemudian dalam keadaan kacau. Julaekha yang setia menunggu di luar ruangan tersebut segera menghampiri Reynand lalu mencoba menghiburnya.


"Sabar Mas Rey."


Tangan Wanita itu berusaha menggapai bahu Reynand untuk mengelus agar Laki-laki itu merasa tenang. Wajahnya menunjukkan kesedihan yang amat sangat mendalam dan perhatian itu dia tunjukkan kepada Reynand agar Lelaki itu faham dia akan ada untuknya.

__ADS_1


Reynand tidak menanggapi perhatian Wanita itu. Tangannya memberikan isyarat kepada Julaekha agar menjaga jarak dan tidak ingin di ganggu. Wajah dan sikap Reynand kian dingin dengan aura kesedihan yang mencekam.


"Bagaimana rasanya kehilangan Isteri dan kedua anakmu Reynand? Pasti sangat menyakitkan bukan? Tapi tenang saja aku akan datang memberikan kebahagiaan untukmu dan menghapus rasa sakit karena kehilangan orang-orang yang kamu sayangi. Sambutlah aku dalam dekapanmu sayang, sebentar lagi." Julaekha membatin dengan senyum tipis tak terlihat dibalik wajah yang menampakkan kesedihan.


***


Rencana Julaekha benar-benar berjalan dengan lancar tanpa hambatan dan arang melintang. Sebab karena Reynand, rencananya tidak tercium sama sekali. Wanita itu benar-benar mengendalikan Reynand dengan kelicikannya dan seolah-olah dia tidak terlibat di sana. Terlihat sangat alami dan apa adanya.


Hari ini Qia datang berkunjung ke ruang rawat inap Keynand tanpa firasat apapun. Gadis bermata belo itu tidak tahu sama sekali kalau Kakak iparnya sudah di tangkap. Tidak ada pemberitaan dengan penangkapan itu dan kejadian malam itu seakan ditutupi dengan sangat rapat. Hal itulah yang membuat Qia tidak curiga, apalagi keluarga Keynand masih ramah dan bersikap baik kepadanya.


Gadis itu nampak polos dan tidak ada perasaan tidak enak dalam hatinya. Berhati tulus dan lurus atau jujur dalam menjalani hidup. Dia melangkah dengan pasti ke dalam kamar rawat inap Keynand. Sesampainya di ambang Pintu dia menghela nafas panjang, setelah merasa ketenangan baru mengetuk Pintu lalu membukanya. Di luar masih berjaga Para Bodyguard dengan kewaspadaan yang sangat tinggi. Mereka mengizinkan Qia masuk ke ruang rawat inap Keynand dikarenakan sudah mengetahui siapa saja yang boleh menjenguk Keynand. Para Bodyguard sudah mengenal wajah-wajah mereka yang diizinkan masuk termasuk Dokter ataupun para perawat.


"Nak Qia masuklah, untung ada Nak Qia di sini. Titip Keynand ya?" ucap Marisa. Dia sendiri di kamar itu sementara David Ardiaz sedang beristirahat di Hotel. Sedangkan Reynand sedang Meeting menggantikan Keynand untuk sementara waktu. Terus Lika, bertugas mengantar anak-anak ke Sekolahnya. Wanita itu tidak setiap hari berkunjung ke rumah sakit karena harus menjaga Bayinya.


"Assalamu'alaikum Tuan Bodak." Qia menyapa Keynand. Dia duduk di kursi dekat brangkar lalu mengangkat kedua tangan berdoa memohon kepada Tuhan untuk kesembuhan Keynand.


Usai berdoa, seorang perawat datang untuk mengecek keadaan Keynand.


Qia yang duduk di sebuah sofa memperhatikan Perawat yang sedang mengecek alat-alat medis yang menopang hidup Keynand. Entah mengapa Qia curiga dengan gerak gerik Perawat itu.


"Tungguuuu!"


Qia menepis tangan Perawat itu yang hendak menyuntikkan sesuatu pada selang infus.


Perawat itu tersentak kaget, tidak menyangka niatnya terbaca oleh Gadis yang menjaga Keynand. Dia tersenyum jahat, dengan cepat berteriak meminta tolong. Teriakan itu di dengar oleh Para Bodyguard yang berjaga di luar.

__ADS_1


"Apa yang terjadi?" tanya Para Body guard yang heran melihat keributan di kamar pasien, apalagi pasiennya sedang tidak sadarkan diri.


"Nona ini menyuntikkan sesuatu pada tubuh Keynand. Saya baru menyadarinya saat mengecek keadaan Tuan ini," ucap Perawat membalikkan keadaan. Dia memperlihatkan bukti jarum suntik yang tergeletak di Lantai.


"Itu tidak benar, jelas-jelas Perawat gadungan ini yang mencoba menyuntikkan sesuatu yang berbahaya pada infus Abang Keynand."


Qia mencoba membela diri. Dia lalu menceritakan apa yang dilihat dan dilakukan untuk mencoba menyelamatkan Keynand.


"Nona, saya itu Perawat yang diperintahkan oleh Dokter Rasyid dan apa yang akan saya suntikkan itu adalah obat yang diresepkan oleh Dokter Rasyid. Kalau Nona tidak percaya silahkan cek ke Laboratorium Obat apa itu?"


Perawat itu tidak kalah membela diri. Saat mereka sibuk berdebat, tanpa ada orang yang menyadari seseorang dengan gerakan cepat menyuntikkan sesuatu pada tubuh Keynand. Dalam waktu sekejap mata tubuh Keynand tiba-tiba saja kejang dan mesin medis berbunyi nyaring dengan tanda merah membuat semua orang yang mendengarkan seketika panik.


"Panggilkan Dokter Rasyid melalui Handphone dan Nona Qia kalian tahan. Tidak ada yang boleh meninggalkan ruangan ini."


Seseorang bersuara dengan lantang. Dalam hitungan detik, dua orang Bodyguard membekuk Qia lalu mengikat tangannya layaknya seperti tawanan. Sedangkan Body guard lainnya gerak cepat menghubungi Dokter Rasyid.


Tidak butuh terlalu lama Dokter Rasyid datang dengan raut panik saat mendengarkan apa yang terjadi dengan Pasiennya.


Dokter Rasyid berusaha menolong Keynand yang kembali kritis. Kali ini Dokter Rasyid terlihat sangat khawatir, dia merasa Keynand sudah tidak punya harapan lagi untuk bertahan. Melihat kondisi Keynand yang semakin memburuk, apalagi zat berbahaya yang terus-terusan masuk ke tubuhnya membuat harapan itu sangat tipis, mungkin saja setipis kulit dalam Buah Salak.


Sementara Para Body guard membawa Qia dan Perawat itu ke sebuah ruangan yang sama dengan rawat inap Keynand.


Qia benar-benar di jebak, dan nasipnya kini berada di ujung Meja, sedikit saja bergeser, maka langsung akan terjatuh. Atau sebenarnya dia sudah terjatuh. Orang kepercayaan Reynand tidak sama sekali mendengarkan penjelasannya. Mereka lebih percaya dengan keterangan Perawat itu, karena memang dia seorang Perawat kepercayaan Dokter Rasyid.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2