Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
Chapter 63


__ADS_3

Esok sorenya, Keynand kembali mendatangi Toko tempat pertemuannya dengan Rizqia dan anak-anak. Dia rela menempuh perjalanan jauh asalkan bisa bersua dengannya.


Bukan karena cinta tapi karena penasaran. Bukan ingin melegakan debaran di hati tapi untuk melegakan rasa ingin tahunya.


Cinta tidak dia rasakan, pun begitu pula desiran saat berjumpa dengan Rizqia tak hadir di hatinya seperti saat berjumpa dengan Habibah, debaran itu sangat jelas terasa.


Hanya saja, janji itu harus di tepatinya karena dia bukan orang yang tak bertanggung jawab dengan segala ucapannya. Dia bukan orang yang suka mengingkari janji. Jadi apa yang diucapkannya akan di iringi dengan tindakannya.


Meskipun tidak ada rasa tapi tentu saja ada alasan memilihnya. Alasan tepat adalah Gadis itu sangat pantas untuk mendampingi hidupnnya dan Raski.


Dia melihat ada sifat keibuan dibalik sikap dinginnya. Ada kelembutan dibalik wajah juteknya dan ada kasih sayang yang selalu terpancar pada setiap geraknya.


Sebab itu, Rizqia sangat cocok untuk menjadi Ibu sambung bagi Raski.


Tak masalah jika hati belum adanya rasa. Terpenting cinta dari seorang Ibu untuk buah hatinya. Meskipun saat ini Raski telah mendapatkan kasih sayang seorang Ibu dari Lika. Namun tetap saja rasanya akan berbeda dari Sosok Ibu yang bersedia menganggapnya anak.


Raski sedari baru lahir tidak kekurangan kasih sayang dan perhatian dari seorang Ibu. Lika dengan ikhlas memberikan dan mendekapnya dengan penuh kehangatan.


Namun tetap saja Keynand menginginkan Sosok Ibu yang merupakan Isterinya mendekap erat hari-hari Putranya dengan penuh kasih sayang.


Sekarang Keynand yakin sosok itu adalah Rizqia. Gadis dingin yang telah kehilangan sebagian hari indahnya. Kini dia merenda ketegaran agar bisa melalui hari-harinya dengan baik.


Mungkin karena kesakitan yang pernah dialami membuatnya kebal. Jika tidak, mana mungkin Rizqia kembali menikmati hidupnya yang pernah ceria.


"Anak-anak apa khabar?" sapa Keynand setelah mendapatkan balasan salam. Saat ini dia sudah berada di emperan Toko. Kehadirannya disambut senyum ceria dari mereka. Terlihat lelah tapi tak mengukir keputus asaan. Sesulit apapun hidup harus tetap di hadapi dan diperjuangkan demi masa depan yang layak.


Anak-anak di hadapannya merupakan pejuang harapan. Tak ada kata putus asa dan berkeluh kesah, karena menjadi malas tak akan mendatangkan apa-apa.


Keynand tidak melihat Sosok Rizqia berada di tengah-tengah mereka. Ada rasa kecewa hadir di hatinya.


Mengapa Rizqia tak disini?


Apa karena dia yakin Lelaki yang tiba-tiba saja muncul akan kembali menampilkan diri disini.


Apa Rizqia menghindar? apa alasannya?


Kepala Keynand terasa pusing memikirkannya.


"Kak Rizqia kok enggak ada?" tanya Keynand menghilangkan gundah di hatinya.


"Tadi Kak Qia ada kok! tapi cuma sebentar. Dia hanya mengantarkan Nasi kotak ini setelahnya langsung pergi?" jawab seorang anak. Dia menatap wajah Keynand dengan keheranan yang nampak disana.


"Apa Kak Qia tiap hari nemenin kalian disini?" tanya Keynand penasaran.


Semua anak-anak itu mengangguk penuh kejujuran kemudian diiringi. "Tumben Kak Qia hari ini tak menemani."


"Tumben?"


Keynand bertanya dan langsung dijawab olehnya.

__ADS_1


"Mungkin saja Rizqia yakin bahwa saya akan kesini lagi." Keynand membatin.


"Apa dia menghindar agar tak bertemu? tapi mengapa?" lanjutnya tak bisa menjawab pertanyaan terakhir.


Keynand membagi-bagikan apa yang dibawanya. Dia tak enak hati karena terlalu lama menahan buah tangannya itu. Sementara anak-anak tak sabaran ingin menikmatinya.


"Terima kasih Om," ucap mereka kompak. Wajah ceria itu membuat Keynand sangat bahagia. Ada rasa syukur sekaligus lega di hatinya. Dia tidak mampu menggambarkan hatinya saat ini. Yang jelas sangat indah berada di tengah-tengah mereka.


Di Emberan Toko ini dia merasa hidupnya bermakna. Tidak masalah tidak mewah dan berkelas yang penting bermanfaat. Biarlah orang-orang yang tak sepaham dengannya menganggapnya tak layak berada di strata atas, karena dia tak ingin disana.


Bukan mencari popularitas, toh juga mereka tak mengenali Keynand yang merupakan salah satu Pemegang harta yang berlimpah. Dia juga tidak ingin diketahui sehingga lebih nyaman berbaur dengan pejuang receh.


"Kalian pasti tahu tempat tinggal Kak Rizqia, kan?" tanya Keynand. Jika tidak bertemu disini lebih baik bertemu di rumahnya. Gadis seperti Rizqia sangat menjaga maruahnya dan Keynand juga tidak suka mengajak seorang Wanita langsung bertemu di luar. Dia akan mendatangi rumahnya dan meminta izin kepada kedua orang tua Gadis itu jika ingin bertemu di suatu tempat.


Jika tidak memungkinkan, maka dia langsung menghubungi orang tua Gadis itu untuk memberikan izin agar menemuinya.


Hal ini dilakukan saat mendekati Mega. Dulu dia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah Mega dari pada di luar. Menikmati makan malam dan bercengkerama bersama keluarga Mega. Kegiatan ini disebut midang dan midang itu bukan bertemu di luar tapi langsung bertemu di rumah pujaan hati dan berpacaran di rumah dengan di halangi jarak dan pengawasan orang tua.


Kompak mereka menggelengkan Kepala.


"Jadi tidak tahu rumahnya Kak Qia?" tanya Keynand memastikan.


"Tidak Om, Kak Qia tidak pernah memberitahu. Kak Qia hanya bilang rumahnya di sekitar sini."


Gelap, tidak ada jejak Gadis itu. disekitar sini? jelasnya di mana? ada lima pemukiman warga disini. Di antara kelima Desa itu dimana keberadaan Rizqia. Apa dia harus mendatangi masing-masing Kepala Lingkungan menanyakan apakah mereka memiliki warga yang bernama Rizqia. Jika kepala lingkungan mengenal? kalau tidak bagaimana? karena tidak mungkin mengenal semua warganya.


Jika Rizqia tak menginginkanya dan tidak mau menikah dengannya, apa harus memaksa?


Keynand buru-buru menepis kemungkinan buruk itu.


"Jadi tidak ada yang tahu rumah Kak Qia?" tanya Keynand sekali lagi. jawaban tetap sama, mereka tidak mengetahui alamat rumah Rizqia.


"Baiklah Om pamit dulu," ucap Keynand. Dia bangkit dari duduk bersilanya lalu melangkah ke arah Mobilnya


"Apa Om ingin sekali bertemu dengan Kak Qia?" tanya salah satu anak.


Keynand menghentikan langkah kemudian berbalik arah menghadap ke Sosok anak yang berbicara. Dia menganggukkan Kepala dengan wajah penuh harapan.


"Saya pernah membaca Modul milik Kak Qia. Pada Modul itu tertulis Universitas Mentaram. Mungkin saja Kak Qia kuliah disana," jawabnya kemudian.


Wajah Keynand berseri-berseri mendapatkan informasi itu.


"Terima kasih," ucap Keynand yang dibalas anggukan.


"Semangat Om semoga berhasil bertemu dengan Kak Qia," ucap anak itu memberikan dukungan.


"Harus Om Keynand," sahut mereka semangat.


Keynand tersenyum kemudian melambaikan tangan yang dibalas oleh mereka semua.

__ADS_1


Arah tujuannya sekarang adalah Kost Riski. Hanya Riski yang bisa membantunya karena Riski mengajar di Kampus tempat Rizqia berkuliah.


"Aneh jika ditebak seharusnya Rizqia sudah lulus dari bangku kuliahnya? apa dia melanjutkan pasca Sarjana atau jangan-jangan karena Depresi yang pernah dialaminya menyebabkan Pendidikan terhambat? apa yang terjadi sehingga membuatnya depresi?"


Pertanyaan itu bermunculan tapi tidak ingin menjawab berdasarkan asumsinya sendiri. Bisa jadi jawaban itu berpotensi fitnahan. Tidak ingin meraba-raba, Keynand akan mencari tahu.


Beberapa menit kemudian Keynand sudah sampai di Kost Riski. Dia memarkirkan Mobilnya di pinggir jalan raya.


Keynand langsung saja menuju kamar Bujang itu yang berada di Lantai dua. Sebenarnya Riski bisa saja membeli rumah BTN tapi dia menolak segala bantuan darinya, orang tua maupun dari Lika dan Reynand. Dia ingin mendapatkan rumah itu dari hasil keringatnya dan sekarang Pemuda itu sedang memperjuangkan impiannya itu.


"Tumben Direktur Hotel Ardiaz mendatangi kamar sepetakku ini, ada apakah gerangan," sapa Riski setelah membalas salam. Dia masih asyik berdiri di ambang pintu dengan raut heran.


"Enggak sopan banget, sih! membiarkan tamu berdiri. Apa saya enggak boleh kesini?" sahut Keynand. Dia menggeser tubuh Riski dengan tangan kekarnya. Bujang itu menanggapi dengan tawa renyahnya.


"Saya heran saja, tidak percaya seorang Keynand Putra Ardiaz Pengusaha kaya raya mau mendatangi Kost seorang Riski yang tidak luas ini."


Riski menyelidik raut Keynand yang tak secerah Matahari terbit. Ada awan hitam yang menyelimuti paras tampannya dan seakan ingin menumpahkan kelegar.


Keynand merebahkan tubuh tegap pada Kasur yang langsung tergeletak di Lantai. Riski mendudukkan diri di samping Keynand.


"Ada apa Bang?"


"Apa ada Mahasiswi bernama Baiq Rizqia Anggeraini berkuliah di kampus tempat kamu ngajar?" tanya Keynand kemudian. Dia tahu Riski penasaran sehingga langsung mengatakan alasan mendatanginya.


"Siapa Gadis itu?" tanya Riski penasaran. Tumben Keynand tertarik dengan seorang Gadis selain Habibah Rosy setelah Isterinya berpulang.


"Saya belum terlalu mengenalnya. Dia tiba-tiba hadir mengusik ketenangan saya."


Keynand menceritakan pertemuannya dengan Rizqia. Bagaimana dingin dan cueknya Gadis itu. Dan lebih parah lagi kehadirannya diabaikan olehnya.


hahahahahaha


Riski tertawa lebar mendengarkan cerita yang tak berpihak kepada Keynand.


"Sepertinya Mbak Mega Rahimakumullah telah berhasil memudarkan pesona seorang Keynand. Terbukti Habibah Rosy dan Gadis bernama Rizqia tidak tertarik sama sekali."


Seusai berkata Riski memperhatikan Keynand yang terdiam. Duda tampan itu terlihat termenung dengan entah pikirannya bermuara dimana? Mungkin saja ingatannya bersua dengan kenangan manis bersama Wanita cantik yang menghadirkan Raski untuknya.


"Saya pikir ketampanan dan harta berlimpah yang dimiliki seorang Keynand akan mampu memikat semua Gadis yang diinginkan. Tapi ternyata Rizqia tak tergoda dengan hal itu." Riski melanjutkan kata-katanya.


"Saya akan menikahinya karena itulah tujuan berada disini." Keynand menanggapi dengan serius.


Riski tersenyum lalu mulai meraih Laptopnya untuk masuk ke data Mahasiswa.


"Apa Abang jatuh cinta kepada Gadis bernama Rizqia itu?"


"Tidak," jawab Keynand singkat dan sangat yakin.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2