
Rahang Reynand mengeras mendengarkan percakapan mesra seseorang dengan Isterinya. Melihat itu tentu membuat Gadis tersenyum bahagia.
"Setelah ini Lika akan di seret keluar lalu di hempaskan ke jalanan. Aku akan mengabadikan momen seru ini," batin Gadis bersorak.
Keynand terlihat bingung. Hal itu tidak luput dari penglihatan Gadis. Sementara Lika terlihat tenang tak ada tanda-tanda dia mengkhawatirkan dirinya.
"Kamu sekarang berada di pinggiran Meja, sedikit senggol saja bakalan terjatuh. Masih saja bersikap tenang seolah-olah tidak akan terjadi apa-apa. Nikmati saja dulu sebelum badai itu menghantam tubuh kamu sehingga tidak bisa lagi bergerak lalu hancur." Gadis bermonolog sembari menatap Lika dengan sinisnya.
"Lika, kenapa kamu biarkan orang lain masuk ke Dapur kita lalu merekam pembicaraan kamu. Dia siapa?"
"apaaa?"
Ucapan Reynand membuat Gadis melongo. Seharusnya dia membentak Isterinya itu. Tapi tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya. Kata-kata Reynand terdengar lembut dengan susunan kalimat yang justru menyudutkannya.
"Mas, saya tidak tahu kalau Bu Gadis berani masuk ke area Dapur tanpa izin. Tadinya dia menunggu di Ruang tamu terus karena aku harus memasak jadinya aku tinggal. Bu Gadis juga tidak keberatan untuk menunggu Mas Reynand." Lika menjawab dengan menjelaskan tujuan dari kehadiran Gadis di rumah mereka.
"Menunggu Mas, untuk apa?" tanya Reynand heran.
Lika ingin menjelaskan, baru saja hendak berbicara Gadis terlebih dahulu bersuara dan tak membiarkan Lika menjawab serta melakukan pembelaan.
"Mas Reynand, aku minta maaf enggak sengaja masuk ke Dapur. Tadinya aku ingin ke Toilet, karena mendengar pembicaraan mbak Lika membuat aku urung. Maafkan Gadis Mas, ini aku lakukan untuk hati Mas. Aku tidak ingin Mas dibohongi oleh Isteri Mas sendiri. Isteri Mas berselingkuh." Gadis panjang lebar menjelaskan untuk membela dirinya dari kelancangan memasuki Dapur.
"Siapa anda? kenapa tidak ada sopannya. Saya sedang berbicara dengan Isteri saya, paham!"
Tegas dan tajam. Kalimat itu seakan menohok. Tidak menyangka Reynand ternyata sekasar itu. Tubuh Gadis bergetar, namun tidak mungkin akan mundur sebelum dia berhasil menaklukkan hati Pengusaha itu. Satu hal dia ingat bahwa Reynand kangen dengannya. Hanya saja saat ini Pria itu sedang berakting. Itu yang diyakini oleh Gadis.
"Mas?"
Keynand terheran. Dia melihat Reynand dengan pandangan entah. Sedetik kemudian beralih menatap Gadis dengan tatapan sulit dimengerti.
"Nampaknya akrab sekali. Abang Reynand tidak akan pernah mengizinkan seorang Wanita memanggilnya dengan panggilan yang hanya Isterinya yang boleh memanggilnya. Panggilan 'mas' hanya mbak Lika yang boleh menggunakannya. Ada hubungan apa mbak dengan Abang saya?" Keynand bertanya. Dia merasa heran dengan Wanita di hadapannya.
"Aku pacarnya Mas Reynand," jawab Gadis dengan malu-malu.
"Madhaaa?" Keynand terlonjak kaget. Pun begitu dengan Reynand. Tidak menyangka Wanita ini seberani ini. Mereka berdua benar-benar syock.
"Abang? serius abang menghianati mbak Lika?"
Reynand mempelototi adiknya itu lalu menggelengkan kepalanya membantah.
"Kapan jadiannya? kenal juga enggak. Mungkin dalam angannya," jawab Reynand ketus.
Reynand berlalu meninggalkan lelucon yang tidak menarik sama sekali.
"Mas tunggu, bukannya Mas berjanji mau membelikan aku gelang sebagai permintaan maaf karena salah menyebut nama. Kenapa Mas bisa lupa? bukankah mas kangen juga sehingga aku nekat ke sini." Gadis menghadang Reynand dengan kalimat jujurnya. Dia sudah kepalang melangkah sehingga tidak mau pulang tanpa hasil.
Reynand menghentikan langkahnya. Dia berbalik arah menatap Gadis dengan tatapan yang siap mencabik tubuh Wanita itu.
"Handphone saya di sabotasi," ucap Reynand ketus. Usai berkata dia kemudian melangkah masuk tanpa menghiraukan suasana hati Wanita itu. Sejatinya itu bukan urusannya.
Reynand seperti melupakan sesuatu. Dia berhenti melangkah lalu membalikkan tubuhnya. Pandangannya dia arahkan kepada Gadis yang berdiri terpaku dengan tajam.
"Jangan pernah memanggil saya dengan panggilan 'mas', anda itu bukan siapa-siapa saya." Setelah berkata Reynand membalikkan tubuhnya lalu melangkah meninggalkan lelucon yang tak masuk akal ini.
"Maaf Bu Gadis saya permisi," ucap Lika berpamitan. Wanita itu bergegas menyusul Suaminya. Lika tahu, Reynand pasti akan mencarinya karena itulah dengan cepat dia berada di sekitarnya.
"Apa?"
__ADS_1
Gadis meringis. Dia tidak menyangka Reynand seketus itu. Apakah dia harus gagal kali ini? tidak! Gadis berteriak dalam hati. Tadinya dia pikir akan mudah menghancurkan hati Lika dengan pengakuannya. Lika terlihat lembut dan polos. Sepertinya Wanita itu sangat mudah diperdaya. Itu yang ada dalam pikiran Gadis sehingga dia berani melangkah.
Namun nyatanya Lika tidak mudah di tumbangkan. Ternyata dia kuat dan tegas. Reynand juga bukan Pria yang mudah di taklukkan. Dia pikir Reynand akan mudah tergoda dengan kecantikan seorang Wanita. Iya, Reynand sama saja dengan Pria di luaran sana yang dengan mudah berpaling. Nyatanya anggapannya salah, Pria itu tak bergeming dengan rayuan apalagi kerlingan mata.
Tentu, Gadis tidak pernah tahu bahwa Reynand pernah di jebak dengan obat perangsang. Pria itu berhasil menaklukkan hasr*tnya dan mempertahankan kesuciannya sebagai Laki-laki. Baginya, bukan hanya Wanita yang harus menjaga kesuciannya, Pria juga wajib.
"Mbak, sebaiknya mbak pulang. Sudah menjelang magrib, tidak baik anak gadis berkeliaran. Satu hal lagi tidak baik juga seorang Wanita mendatangi rumah seorang Pria meskipun seandainya itu pacarnya. Mbak harus menjaga maru'ahnya sebagai seorang Wanita."
Keynand berucap panjang lebar terdengar seperti nasehat. Nasehat Keynand menyadarkan Gadis dari lamunannya.
Lagi-lagi Gadis meringis. Dia sudah gagal untuk mewujudkan angannya. Harusnya dia mundur, namun segera ditepis. Dia tidak ingin berhenti berjuang hingga Pria incarannya luluh lalu memilihnya.
Wanita itu menatap Keynand dengan kesal. Dia tidak suka menerima kekalahan.
"Suka tidak suka aku akan menjadi Kakak Iparmu dan setelah itu akan aku depak kamu dari Direktur Hotel Ardiaz. Ini janji seorang Gadis," ucap Gadis menekan kata-katanya.
Keynand menggelengkan kepalanya tak percaya dengan kata-katanya yang terdengar jumawa.
"Sebaiknya mbak ke psikolog. Satu hal lagi Mbak Lika tidak pernah berselingkuh. Tidak mungkin Lika berselingkuh dengan Suaminya sendiri. Umar itu adalah Reynand."
Gadis tidak percaya dengan apa yang disampaikan oleh Pria tampan itu.
Keynand tak peduli. Duda itu meninggalkan Gadis yang mematung sejurus kemudian melangkah pergi dengan mengepalkan tangannya dan memikirkan langkah selanjutnya.
***
"Siapa, sih? Wanita tadi? kok nekat banget. Dia juga ingin melengserkan kedudukan saya sebagai Direktur Hotel Ardiaz. Apa suaranya semacam titah Ratu sehingga harus dilaksanakan atau dia punya hak vekto. Heran!"
Keynand panjang lebar mengeluarkan keluh kesahnya. Drama tadi membuatnya pusing dan terheran. Dia beberapa kali menggelengkan kepala mengekspresikan keheranannya.
Saat ini mereka sedang menikmati berbuka. Tidak ada yang menanggapi karena terlalu fokus dengan hidangan yang ada di meja makan.
"Kok kalimatnya sepotong saik? potongan selanjutnya mana? apa karena tidak enak hati?" tanya Keynand begitu menyadari Saik Inah tidak melanjutkan ucapannya.
"Maaf, Saik duluan," ucap Saik Inah berpamitan sembari membawa piring kotornya.
"Tidak apa-apa Saik Inah, saya juga heran. Ternyata pesona Suami saya tidak sama sekali memudar bahkan menjadi incaran para Wanita cantik," sahut Lika terdengar gusar. Dia menghela nafas panjang. Helaan kali ini terasa berat. Dia percaya bahwa Reynand bukan Pria yang mudah ditaklukkan apalagi gampang tergoda oleh kecantikan maupun kesexian seorang Wanita. Hanya saja tipu muslihat bisa membuat hilangnya kepercayaan itu. Itu yang harus dipupuk dan dipertahankan.
"Mas memang tampan dari lahir meskipun sekarang buruk rupa tapi tetap saja ketampanan itu akan melekat. Buktinya Mas berhasil mendapatkan Mandalika, Putri tercantik yang dimiliki Daerah ini. Kalian baru tahu, kan? Pria yang cintai oleh Putri Mandalika adalah aku, Reynand Putra Ardiaz."
Reynand sempat-sempatnya menyanjung dirinya. Dia mengerlingkan mata menggoda Isterinya.
"Aseeeeem." Keynand berkomentar. Komentar itu menerbitkan tawa di bibir Reynand.
"Pantas saja Abang memberikan harapan pada si dia. Iya, di akui wajah Abang tak seindah Gunung tatkala di pandang dari jauh, tapi sebenarnya bukan itu daya tariknya sekarang melainkan pemukul kepunyaan Abang sangat luar biasa ampuh. Itu mungkin yang di incar oleh si dia, duh mana tahan." Keynand meledek. Dia melihat senyum malu yang dinampakkan oleh Lika sementara Reynand mempelototi adiknya yang tak berakhlak. Untung saja anak-anak sudah masuk ke kamar masing-masing.
"Udah ah Mas mau ke masjid." Reynand mengakhiri makan sekaligus obrolan. Lika juga mengikuti langkah Suaminya.
"Kabor lu?" ucap Keynand di akhiri kekehan.
"Enggak, gue masih denger suara adzan. Oh ya Panah yang gue punya ada Endenya, nah Senjata yang elu punya mau diarahkan kemana? puasa terus kali ya?" Reynand melepaskan guyonan telak kepada adik kesayangan itu. Dia tertawa bahagia melihat tampang Keynand yang kacau.
"Mas udah ah, becanda kok bikin Keynand cemberut. Aku percaya Suamiku ini selalu ingin menang."
"Iya dong! harus itu. Hanya satu yang membuat Mas mengaku kalah dan itu dilakukan oleh kamu," sahut Reynand tersenyum.
"Apa?"
__ADS_1
Reynand membisikkan ke telinga Lika membuat Wanita hamil itu seketika tersipu menampilkan warna stroberi matang di kedua Pipinya.
"Cantik sekali Isteriku." Reynand mencubit hidung itu saking gemasnya.
"Cukup kamu untukku, Lika." Reynand membatin.
***
Sementara di tempat yang berbeda sepasang Suami Isteri menikmati kebersamaan di ruang rawat inap. Meskipun keadaan Rizqy sudah pulih, tapi Dokter yang merawatnya belum mengizinkan pasiennya itu untuk pulang dan berobat jalan. Rasa bosan itu menghampiri Pria itu dan beberapa kali mengutarakan kepada Isterinya.
"Sabar mas, ini demi kesehatan mas Rizqy juga," hibur Habibah.
"Mas enggak enak terus-terusan merepotkan kamu. Apalagi murid-murid kamu abaikan karena merawat Mas," sahut Rizqy.
"Kok repot, sih? Mas Rizqy suami aku, aku merasa tidak direpotin oleh Suami sendiri."Habibah mengakhiri kalimatnya dengan mengulas senyum tulusnya.
Wanita itu berusaha menenangkan Suaminya karena dia sadar Rizqy tidak suka berdiam diri. Dia maniak dalam bekerja. Dia suka menjelajahi alam dan segala kegiatan positif dia ikuti. Sekarang dia hanya berbaring di ranjang rumah sakit. Hidupnya seakan diikat dan tidak bisa melangkah dengan bebas.
Sehat itu mahal, bersyukurlah Tuhan memberikan kesehatan untuk kita. itulah yang diingat oleh Pria itu sehingga menjalani hidupnya lebih bermanfaat lagi untuknya, keluarga dan orang lain.
"Makan dulu, mas. Ini Ikan tokok alias Ikan gabus di habisin biar lukanya cepat kering," ucap Habibah memberikan suapan kepada Rizqy. Habibah mengabaikan keluh kesah Suaminya. Pulihnya Suami kini menjadi fokusnya.
Rizqy, tetap menikmati makanan meskipun sudah merasa hambar. Apalagi Ikan Tokok yang menjadi menu wajib di setiap waktu makan. Kebayang betapa enek terasa. Namun dia selalu melahapnya demi Isterinya. Dia sangat menghargai apapun yang diberikan dan dilakukan oleh Habibah. Toh itu demi kesehatannya.
Saat dia menyelesaikan makanannya, terdengar panggilan dari salah satu Handphone. Panggilan itu membuyarkan kekhusukan pasangan Suami itu.
(Kakak baik-baik saja, dek! Kakak hanya kecapekan, jangan khawatirkan kakak)
(Kakak enggak bo'ong, kan? bikin Adek takut saja)
(Kalau enggak percaya tanya saja sama Kak Habibah)
(Enggak percaya, palingan Kak Rizqy sama Kak Habibah kerjasama untuk bohongi adek agar adek enggak khawatirin Kak Rizqy. Mana Kak Habibah)
Mendengar itu Habibah hanya tersenyum. Dia tahu Gadis itu sangat mengkhawatirkan Rizqy. Tentu saja karena hanya Rizqy keluarganya. Jika terjadi sesuatu dengan Rizqy, entah apa yang akan terjadi dengan hidupnya.
Habibah mengambil alih pembicaraan. Dia mendengarkan segala kata yang diucapkan oleh adik iparnya itu.
(Iya Dek, ini Kak Habibah)
(Kak Bibah, beneran Kak Rizqy hanya kecapekan?)
(Iya cantik, adek tenang saja ya? Kak Bibah bakalan rawat dengan baik agar kakaknya cepat pulih terus mulai sekarang Kak Bibah bakalan pantau terus, kalau Kak Rizqy telat makan bakalan langsung mencak-mencak terus kalau Kak Rizqy malas makan Kak Bibah langsung suapin biar jadi Bayi lagi terus kalau Kak Rizqy begadang Kak Bibah enggak bakalan izinin tidur di kamar biar Kak Rizqy di teras saja)
"Hah, nangis dong Juniornya."
(Hahahaha. Mulai sekarang Kak Rizqy harus patuhi segala apa yang diperintahkan oleh Kak Bibah, okay?)
(Iya Dek)
Selanjutnya dua wanita itu larut dalam obrolan. Hal itu membuat Rizqy cemberut karena diabaikan.
Tidak bisa dipungkiri, ketika Wanita sedang mengobrol maka mereka akan menunjukkan powernya.
"Masih lama, kah?" tanya Rizqy mulai bosan.
"bentar lagi, Adek lagi cerita tentang Cowok idaman," sahut Habibah dengan ekspresi senang.
__ADS_1
"Kakak tidak izinin ia membicarakan cowok. Belum waktunya, masih kecil juga," ucap Rizqy tegas.
Bersambung.