Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
S2.49


__ADS_3

***


Sementara di rumah Sakit, Reynand terus saja berusaha menghubungi Rizqy, tapi Handphonenya belum diaktifkan. Hal itu membuat Reynand kian cemas dan ketakutan jika saja Rizqy tidak bisa di hubungi. Suami dari Habibah Rosy itu satu-satunya harapannya .


"Abang Reynand, Kak Rizqy ke Jakarta dan kemungkinan Kak Rizqy masih di Pesawat, karena itulah Kak Rizqy tidak bisa di hubungi. Saya baru dapat informasinya dari Kak Bibah."


Qia memberitahu dengan lirih. Tubuhnya langsung terkulai lemas dengan wajah pucat penuh ketakutan. Gadis Pemilik mata bulat besar itu mondar mandir bingung harus berbuat apa. Pasalnya Rizqy-lah yang mengetahui tumbuhan obat itu, sedangkan saat ini kakaknya dalam perjalanan menuju Jakarta.


"Apa aku memelas pada Kak Rizqy untuk memintanya kembali sesampainya di sana, tapi apa mungkin Kak Rizqy akan mau? Mengingat dia begitu sentimen kepada Abang Keynand. Ya Allah bagaimana ini? Kalaupun Kak Rizqy mau balek ke Lomboq, sudah dipastikan waktunya tidak memungkinkan. Saat ini kita berburu dengan waktu untuk menyelamatkan Abang Keynand."


Pertanya-pertanyaan itu memenuhi benaknya.


Hening


Reynand pun sibuk dengan pikirannya, tapi berusaha menenangkan diri. Tidak lupa sesekali melihat Handphone berharap nomor Rizqy aktif kembali.


"Ya Tuhan bagaimana ini?" Ucap Reynand frustasi. Dia menatap Qia dan berharap Gadis itu mengetahui penawar itu.


"Apa penawarnya sudah ada, Qia?" Tanya Reynand kemudian.


"Saya tidak tahu pastinya, Kak Rizqy hanya memberikan penawar itu sebanyak lima kapsul, itupun untuk sekali pengobatan. Kak Rizqy pernah cerita, beda jenis racun, beda pula penawarnya. Bahkan ada racun yang hingga sekarang tidak di temukan obatnya artinya racun itu memang tidak ada penawarnya," jawab Qia dengan gemetaran. Dia semakin ketakutan saat mengingat apa yang diceritakab oleh Rizqy, dimana ada racun yang sangat mematikan dan racun itu tidak ada obatnya.


"Dokter Aditya, apa benar yang disampaikan oleh Qia?" tanya Reynand kini mengalihkan pertanyaannya kepada Dokter Aditya.


Saat ini mereka berkumpul di ruang kerja Dokter Aditya. Hanya ada mereka berempat, tanpa melibatkan Marisa dan Alisa. Reynand khawatir, jika mendengarkan khabar tidak baik ini akan membuat Marisa semakin syock di tambah David Ardiaz yan baru saja sampai. Dia menyusul ke Lomboq tatkala mendengar khabar buruk ini.


"Iya, tapi racun ini bukan termasuk racun yang hingga saat ini belum di temukan obatnya. Insyaa Allah racun ini ada penawarnya dan saya yakin Pak Rizqy pasti sudah mempelajari dan menemukan penawarnya, jika dia memang keturunan dari Tabib Niniq buyut Atmaje. Kenapa saya bisa seyakin ini, karena saya pernah mendengar cerita dari Kakek saya tentang kejeniusan Niniq Buyut Atmaje mengenai dunia medis dan kesehatan."


Dokter Aditya menjawab sekaligus membenarkan apa yang disampaikan oleh Qia.


"Kalau begitu ke Desa sekarang," ucap Reynand memutuskan. Dia hendak bangkit dari duduknya, namun kembali terdiam tatkala mengingat waktu tempuh menuju ke Desa tempat tinggal Rizqy.


"Kita butuh waktu kira-kira lima jam sampai Desa sana jika menggunakan kendaraan darat, itupun kalau tidak macet. Sepertinya tidak mungkin akan lancar-lancar saja dalam perjalanan, sebab jalur ke arah sana terkenal padat merayat. Kalau begitu kita menggunakan Helikopter, apa di sana ada tanah lapang untuk kita mendarat?" tanya Reynand menguraikan apa yang tengah dipikirkan.


"Kalau desa Kak Bibah berupa perbukitan dan laut, tapi kita bisa mendarat di Desa Tetangga karena di sana ada tanah lapang yang lumayan luas. Hanya saja kita harus melewati Desa Kak Bibah dengan jarak kira-kira dua kilo."


Qia menjelaskan medan yang akan mereka tempuh agar mereka sampai dengan aman.


"Tidak masalah,"ucap Reynand memutuskan. Mereka akan menggunakan jalur udara agar lebih cepat sampai ke Desa Gumbang, dari pada menggunakan Motor atau Mobil yang perkiraan waktu lebih lama kira-kira sepuluh jam pulang pergi. Beruntung cuaca dalam keadaan cerah dan bersahabat sehingga memudahkan untuk mereka berpegian ke sana.

__ADS_1


"Dokter Aditya dan Dokter Rasyid saya titip Keynand," ucap Reynand berpesan, yang dianggukan oleh kedua Dokter itu.


Tidak lupa dia meminta kepada Adly untuk stanbay di rumah sakit dan meminta anah buah Rudi untuk menjaga Keynand. Reynand juga mengerahkan bodyguard bayangan untuk menjaga saudaranya agar tidak ada kesempatan bagi mereka untuk mencelakai Keynand lagi.


Selanjutnya Reynand berpamitan ke Lika dan meminta doanya agar mereka selamat hingga pulang kembali dan mendapatkan penawar yang dicari.


Setelah Sholat Dhuzur, Reynand bersama Hamiz dan Qia menuju Bandara tempat Helikopter itu berada lalu bertolak menuju Desa Gumbang.


Satu jam lamanya di udara, Helikopter yang ditumpangi Reynand, Hamiz dan Qia mendarat dengan selamat di tanah lapang yang lumayan luas yang terletak di samping Kantor Desa.


Kedatangan Heli yang tiba-tiba memantik rasa penasaran bagi para Warga. Mereka berbondong-bondong menghampiri dengan wajah bertanya-tanya siapa gerangan yang datang. Apakah yang datang Pejabat Daerah atau Negara yang tiba-tiba menyambangi Desa terpencil? Hal itu tidak luput dari pertanyaan mereka.


Reynand turun dengan kaca mata hitam membingkai wajahnya yang tampan. Di belakangnya menyusul Hamiz dan Qia.


"Masya Allah tampan dan gagah banget. Kita kedatangan Bule."


Terdengar komentar para Gadis menyambut kehadiran rombongan Reynand. Mereka memusatkan perhatian ke arah rombongan Reynand yang baru datang, bahkan ada sebagian warga yang sibuk berfhoto berlatarkan Helikopter, mengabadikan momen langka ini. Apalagi Gunung Rinjani saat ini sedang menampakkan diri, tidak berselimutkan awan. Tentu saja terlihat sangat gagah.


Kedatangan rombongan Reynand tidak lepas juga dari perhatian seorang Pemuda yang sangat mengenal wajah salah satunya.


"Kamu Hamiz, kan? Dan ini si Bule kesasar kalau enggak salah Keynand, iya Keynand namanya?" Sapa salah satu Pemuda yang mana mungkin lupa dengan wajah Hamiz.


"Ah ternyata benar Keynand itu tajir melintir. Kendaraannya Heli, Bo!" Lanjutnya.


"Bawel banget, sih! Kelakuan kamu tidak pernah berubah. Kamu ada Mobil, kan? Cepat anter kita ke rumah Kak Rizqy," sahut Hamiz menghentikan ocehan Adrian. Untung saja mereka bertemu dengan Adrian sehingga memudahkan mereka menuju ke Desa Gumbang.


"Ada, apa kamu mau coba Mobil mewah saya? Aku juga pingin coba Heli-nya Keynand," sahutnya dengan antusias.


"Ayo, kita tidak ada waktu."


Hamiz menggeret Adrian menuju ke arah Mobil miliknya agar cepat sampai di Desa Habibah. Meskipun Adrian Pemuda songong, tapi dia bukanlah orang yang tidak punya hati. Dia manut saja saat Hamiz meminta bantuannya.


Qia menyapa warga yang mendadak berkumpul di Lapangan karena terusik dengan suara keras Helikopter yang mendarat. Setelah menyapa dengan ramah, Qia berpamitan kemudian mengikuti langkah Reynand, Hamiz dan Adrian yang menuju ke Mobil Adrian.


Mereka kemudian naik ke Mobil Adrian lalu dengan mahir dia mengemudikan kendaraannya itu.


"Masih kamu jadi Guru? Apa belum di pecat?" Tanya Hamiz. Saat ini mereka masih dalam perjalanan.


"Eh kedul, emangnya apa alasan kepegawaian pecat saya. Saya Guru yang kompeten tahu!" Jawab Adrian dengan sarkas.

__ADS_1


"Kompeten ya? Baguslah hanya saja Saya khawatir murid-murid kamu ketularan songongnya kalau di didik Guru seperti kamu. Itu membahayakan mereka, iya kan?" Sahut Hamiz tidak kalah sarkas.


Adrian tidak menanggapi malah dia sibuk memperhatikan Reynand yang tidak perkata apapun.


"Kok Bule kesasar jadi pendiam gini? Dari tadi tidak ada suaranya? Apa sedang puasa ngomong atau sekarang jadi dakok (bisu)? Udah gitu wajahnya datar dan dingin banget, kalah-kalah makhluk tak kasat mata," tanya Adrian melirik Reynand dari kaca spion.


Reynand melotot menukikkan mata Elangnya dengan tajam membuat Adrian seketika bergidik ngeri.


"Tuh kan! Bule kesasar serem banget."


Ocehan itu membuat Hamiz tertawa lebar, sedangkan Reynand berusaha menahan senyumnya. Qia di sampingnya terpaku dengan senyum tipis Reynand yang nampak sangat menawan.


"Semoga Abang Keynand baik-baik saja. Abang bertahan ya? Kita sebentar lagi akan mendapatkan penawarnya. Semoga Tuhan mempermudah usaha kita," ucan Qia dalam hati melantunkan doanya.


"Kamu salah orang. Dia bukan Abang Keynand tapi Kakaknya. Namanya Reynand Putra Ardiaz," ucap Hamiz memberitahu.


"Oh bukan Keynand si Bule kesasar, ya? Pantesan ganteng, tapi tidak lebih ganteng dan gagah dari saya," sahut Adrian percaya diri. Reynand dan Hamiz kompak memutar bola mata dengan malas.


"Saya Adrian, oh ya mau apa kalian mengunjungi Om Tua? Apa Qia enggak jadi nikah sama Si Bule Kesasar lalu membawa Kakaknya untuk diperkenalkan kepada Om Tua dan Kak Oci. Wah, keren juga si Qia ini. 'Burung mandik payu basak, Burung adik payu kakak' (tidak jadi Adik, jadinya kakak), bener-bener keren," ucap Adrian panjang lebar dengan lirikan sinis dia arahkan kepada Qia melalui kaca spion.


Pletak


Hamiz menjitak Kepala Adrian dengan keras membuat Pemuda itu mengaduh kesakitan.


"Ngomong kok enggak dipikir-pikir, bikin orang tersinggung saja. Apa susahnya bertanya dulu, jangan berkomentar seenaknya berdasarkan asumsi yang salah dan pada akhirnya tersesat. Otak kamu kudu dibersihkan biar pikirannya enggak buruk-buruk melulu," ucap Hamiz sembari menggelengkan Kepalanya tidak habis pikir dengan jalan pikiran Adrian yang selalu seenaknya menduga, tanpa memastikan terlebih dahulu.


"Gue udah punya Isteri. Isteri gue secantik Bidadari surga dan bagi gue sudah cukup satu Isteri saja, tidak ada perempuan yang mengiringinya baik terang-terangan maupun tidak kasat mata, faham, kan?"


Panjang lebar Reynand menjelaskan dan pada akhirnya membuat Adrian melongo saking tegasnya Pemilik mata tajam itu.


"Kereeeen! Ada ternyata laki-laki setia di dunia ini, tadinya sempat berpikiran apa yang anda ucapkan hanya sebatas di bibirnya saja, mengaku setia tapi di setiap tikungan ada ceweknya. Itu mah kata kiasannya lain di bibir lain pula di hati. Saya harap tidak seperti itu."


Adrian panjang lebar berkata membuat Hamiz tepuk jidat dan Qia memutar bola matanya dengan malas. Sementara Reynand kembali mempelototi Pemuda itu.


Jika dijodohkan dengan Julaekha, mereka berdua amatlah sangat cocok. Setiap waktu akan dihiasi perang kata dengan keegoisan masing-masing yang tidak ingin terkalahkan. Entah kenapa Reynand berpikiran seperti itu.


"Jangan bilang saya ketularan pikiran absurdnya. Ya Tuhan, ini tidak baik." Reynand membatin.


Bersambung.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2