Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
116


__ADS_3

"Lakukan."


"Hah?!"


Rizqia tertawa lebar menyaksikan kepolosan Keynand. Tidak menyangka wajah tampan Keynand yang cerdas dan berwibawa ternyata bisa menampakkan kepolosannya.


"Itu artinya? Ah Qia, I Love You My Cerry."


Tanpa hitungan mundur Keynand langsung menceburkan diri pada danau tempat mereka berada kini.


Byuuuuuur


Air danau bergejolak sesaat setelah tubuh Keynand tercebur di dalamnya. Rizqia terpaku sesaat tak menyangka Keynand akan benar-benar melakukan apa yang diucapkannya. Padahal Lelaki itu sudah berpakain rapi dan siap meninggalkan Desa. Sebelum kepergiannya itu dia menyempatkan diri untuk berbicara dengan Gadis pujaan hatinya. Mengungkapkan perasaan dan mengikat Gadisnya agar tidak dimiliki orang lain.


"Abang, jangan konyol, deh? Apa yang aku suruh bukan berarti aku menjawab iya," teriak Rizqia tidak percaya dengan kekonyolan yang dilakukan oleh Keynand.


Seketika tersadar Rizqia melihat tubuh Keynand timbul tenggelam seperti orang yang hampir saja tenggelam. Hanya tangannya yang melambai seperti meminta pertolongan.


"Abaaaang, jangan ngerjain aku," teriaknya. Gadis itu panik melihat pergerakan Keynand yang berusaha berjuang untuk menyelamatkan diri dari dalamnya danau Gumbang.


"Daddyyyyy, apa yang terjadi? Kenapa bisa terjatuh? Bukannya Daddy tidak bisa berenang ya?"


Renia yang ada di tepi danau berteriak histeris menyaksikan tubuh Keynand yang tidak berdaya. Air danau seakan melemahkan tenaga Lelaki itu.


"Kak Qia tolongin Daddy, Daddy alergi air bisa-bisa Daddy tenggelam," teriak Renia kembali.


Rizqia yang mendengarkan itu tambah panik. Gadis itu tidak bisa berbuat apa-apa karena dia tidak bisa berenang. Hanya kepanikan dan rasa khawatir yang bisa dia tunjukkan. Apalagi melihat tidak adanya lagi pergerakan di bawah sana membuat Rizqia menjerit meminta tolong.


"Tolooooong."


"Toloooong."


"Abaaaaaang."


Rizqia terus saja meminta tolong dan sesekali memanggil Keynand, namun tidak ada tanda-tanda Keynand berhasil menyelamatkan diri.


Keadaan hening, Gadis itu menitikkan air mata karena ketidak berdayaannya. Tidak ada yang mendengarkan teriakannya selain Renia yang terlihat kebingungan harus berbuat apa.


Entah kenapa hari ini orang-orang mendadak hilang dari peredaran. Rizqia kian khawatir dengan pikiran buruk berkecamuk dalam otaknya.


Hening, tidak ada pergerakan bahkan air danau pun tak beriak menandakan tidak ada kehidupan di sana.


Rizqia tidak bisa berbuat apa-apa selain terus berteriak meminta tolong berharap ada yang mendengarkannya.


Gadis itu semakin ketakutan dan tanpa disadarinya derai air mata kini menguasai pipi putihnya.

__ADS_1


Aneh? Apa yang terjadi sebenarnya? Kemana Rizqy, Habibah dan Dosennya itu. Mereka semua tak mendengarkan teriakan yang menggema di Danau Gumbang. Hanya Renia yang terlihat khawatir dengan wajah ketakutan akan terjadi sesuatu dengan Daddynya.


"Abang Keynand," panggil Rizqia lirih. Kini ada rasa takut kehilangan yang menghinggapi sanubarinya. Gadis itu menyesali diri yang lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong Lelaki yang berhasil menghadirkan rasa di hati untuknya.


Rizqia menangis menatap danau yang telah berhasil mengambil Keynand dari hadapannya.


Hikz hikz hikz


Terdengar suara tangisan Rizqia. Tangisan itu membuat air danau yang tenang tiba-tiba beriak menghadirkan seseorang di permukaannya.


"Apa kamu menangis, Melong?" tanya seorang Lelaki bermata cokelat. Rambut basahnya berkilaun di terpa oleh sinar Matahari yang mulai meninggi. Wajah yang masih diselimuti bulir-bulir air terlihat berbinar-binar menatap Gadis di hadapannya. Lelaki itu tersenyum, sedetik kemudian tangannya terulur memperlihatkan sesuatu di hadapan Rizqia.


"Abang mengerjain aku?" tanya Rizqia. Gadis itu memasang wajah cemberut dan tidak lupa mendelik menunjukkan ketidak sukaannya.


"Tidak, saya hanya menyelam mencari sebuah rasa itu," jawab Keynand serius. Badan Pria itu masih mengapung di dalam danau dengan tangan masih terulur memegang Cincin.


"Apa Abang menemukannya?"


"Iya, rasa khawatir yang kamu perlihatkan cukup membuat saya percaya bahwa kamu takut kehilangan saya. Benar begitu, kan?" jawab Keynand penuh percaya diri. Dia tersenyum lebar melihat anggukan Kepala dari Gadis itu tanpa disadari olehnya.


"Eh tidak-tidak, anda terlalu percaya diri Tuan Bodak. Saya hanya khawatir orang-orang mengira bahwa saya mencelakakan anda," sahut Rizqia membantah kejujurannya.


"Benarkah? Sepertinya kamu pandai sekali menyembunyikan perasaan. Raut wajah dan bibir boleh saja bekerja sama untuk membatah. Tapi kedua mata kamu mengungkapkan kata hatimu dengan sangat jelas. Apakah kamu meragukan sendiri kata hatimu, Qia?"


Rizqia terdiam. Dia tidak bisa menyangkal apapun yang dikatakan oleh Keynand. Berbohon pun akan percuma karena sudah terpampang nyata seperti apa hatinya saat melihat Keynand tenggelam di Danau. Ia takut kehilangan Lelaki itu. Ia ingin bersamanya. Lantas sekarang harus berkata apa.


"Apakah Abang menjebakku?" pada akhirnya suara itu terdengar berupa sebuah pertanyaan. Rupanya Gadis itu merasa terjebak yang dituntut untuk membuat pengakuan.


"Apakah kamu merasa terjebak? Jika iya, maka saya tidak akan pernah membebaskan kamu. Kamu akan menjadi tawanan hatiku dan mari kita hidup bersama, Qia?" Keynand berulang-ulang kali meminta Gadis itu untuk hidup bersamanya. Sepertinya Duda itu tidak ada kata bosan untuk meyakinkan hati Gadisnya hingga dia bersedia hidup bersamanya.


"Abang, segeralah keluar dari air. Kata Renia Abang alergi air," ucap Rizqia mengalihkan pembicaraan.


Keynand mengernyitkan dahinya. Dia mendengarkan perkataan Renia yang mengatakan bahwa Daddynya alergi air. Sejurus kemudian dia menggelengkan Kepala sembari melirik Renia yang memamerkan senyum jenakanya. Gadis kecil itu telah sukses membuat Rizqia menjadi orang bod*h dan Gadis bod*h itu berhasil mengalihkan pembicaraan.


"Apa kamu percaya?" tanya Keynand berusaha menahan tawanya. Melihat wajah polos Gadis itu membuat Keynand tak enak hati.


"Saya tidak memiliki alergi terhadap apapun apalagi alergi air. Jika itu terjadi mungkin kamu tidak akan pernah melihat saya minum air putih apalagi mandi setiap harinya," lanjutnya dengan di akhiri tawa yang pada akhirnya tidak bisa di tahannya.


Hahahaha


Rizqia ikut tertawa menyadari kebodohannya.


"Apa Renia juga ikut mengambil peran dalam sandiwara ini? Betapa cerdasnya dia ternyata."


Keynand hanya mengangguk membenarkannya.

__ADS_1


"Renia spontan melakukannya. Ini semua tidak ada dalam skenario yang kita buat begitu pun dengan keinginan untuk menceburkan diri saat kamu menjawab iya," jawab Keynand jujur.


Gadis itu tersenyum canggung. Ada kelegaan di hatinya karena Keynand baik-baik saja bersamaan dengan rasa malu bercokol di hatinya. Ingin rasanya menceburkan diri karena rasa malu itu. Dan tidak di sangka semua orang bekerja sama mengerjainnya. Terlihat Habibah dan Dosennya itu muncul entah darimana dengan senyum mengembangnya. Tidak ketinggalan Raski bersorak meneriakan sesuatu. Hanya kakaknya saja yang tidak turut andil dalam konspirasi ini.


"Kak Qia, mau ya jadi Mommynya Raski." Terdengar lagi permohonan Raski yang tidak sanggup untuk di tolak oleh Gadis itu.


"Jika kamu mau terimalah Cincin ini. Mohon maaf Cincinnya bukan Cincin asli tapi percayalah cinta seorang Keynand kepada kamu tidaklah palsu," ucap Keynand melanjutkan permohonan dari anak kesayangannya.


Rizqia menatap Cincin berbahan akar itu. Ada senyum terbentuk pada bibirnya yang berwarna strawberry. Hatinya menghangat mengingat perjuangan Keynand membentuk ikatan rasa itu.


"Apa kamu tidak suka? Cincin ini hanya sementara, nantinya saya akan menggantinya dengan Cincin yang asli," ucap Keynand berusaha meyakinkan Rizqia.


"Aku menyukainya, Cincin ini lucu sekali."


Rizqia mengambil Cincin itu lalu menyematkannya di jari manisnya.


"Itu artinya kamu menerima saya, Qia?" Binar-binar kebahagiaan itu berkumpul pada kedua mata Keynand. Ingin rasanya dia memeluk tubuh Gadisnya, namun urung. Hanya senyum merekah yang tersungging menyambut anggukan Kepala Rizqia dan jawaban 'iya' yang mempertegas penerimaan Gadis itu.


"Abang, bersabarlah menungguku. Sejatinya perjuanganku untuk mewujudkan cita-cita hanya semata-mata agar aku pantas mendampingi seorang Keynand Putra Ardiaz. Aku ingin Abang bangga memiliki Isteri sepertiku," ucap Rizqia lembut. Dia kemudian menatap Keynand dengan lekat. Keynand pun melakukan hal yang sama. Debar-debar rasa itu berdetak merdu pada masing-masing hati.


Keynand mengangguk, seulas senyum menghiasi bibirnya.


"Qia, tidakkah kamu ingin mendengarkan Jantung ini yang bertalu-talu karena ulahmu."


Keynand mengikis jarak. Dia mendekat ke tubuh Gadis itu, tapi masih tetap memiliki celah.


"Maaf jika keinginan ini membuat kamu tak nyaman," lanjut Lelaki itu melihat Rizqia terdiam tak bergerak. Hanya malu yang ditunjukkan oleh Gadis itu. Keynand mengerti bahwa Rizqia tidak ingin melakukannya. Selain karena dirinya yang belum halal untuknya.


"Kalau begitu bolehkah kamu merasakannya saja," pintanya penuh harapan.


Gadis itu mengerti. Dia langsung mengulurkan tangannya menyentuh posisi Jantung yang berbalut Kemeja berwarna putih. Dad* bidang itu terekspos jelas karena air danau menyingkapnya.


Rizqia menikmati detak Jantung Keynand yang terasa bertabuh. Dia pun merasakan hal sama berdetak lebih cepat seirama dan selaras.


"Dengarlah dan rasakan my cerry apa yang saya rasakan."


Keynand menikmati kemesraan meskipun tak ada sentuhan selain tangan Gadis itu yang menempel pada letak Jantungnya yang terhalangi selembar kain.


Keynand memejamkan mata. Senyumnya terukir indah seperti mengungkapkan sesuatu. Selanjutnya terucap untaian kata yang panjang.


Rizqia mendengarkan kata perkata yang terucap dari bibir Tuan Bodaknya. Disetiap kata darinya menjanjikan kebahagiaan untuknya di setiap hari yang akan mereka lewati.


Selesai.


Terima kasih kepada teman-teman yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca kisah Gadis Untuk Sang Duda.

__ADS_1


Untuk sementara saya tidak melanjutkan tulisan ini karena kesibukan di dunia nyata. Insha Allah akan ada Session 2. Semoga berkenan untuk tetap menunggu.


Sekali lagi matur tampi asih.


__ADS_2