Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
Chapter 34


__ADS_3

Setelah kepergian Warga, Rizqy akhirnya bisa bernafas lega. Pun begitu juga dengan Habibah. Mereka berdua mengucapkan rasa syukur sebab terbebas dari prasangka buruk orang lain.


"Mas, aku mau ke Dapur dulu," pamit Habibah. Di ruang tamu tertinggal Pria bertopi hitam. Dia tak diizinkan meninggalkan tempat. Saat ini dia sedang menunggu pesakitan yang akan dilakukan oleh Rizqy, orang yang diusiknya.


Rizqy tersenyum sembari menganggukkan Kepalanya. Melihat itu Habibah segera beranjak. Wanita itu tak ingin mengetahui apa yang hendak dilakukan oleh Suaminya sehingga memilih menyibukkan diri di Dapur.


"Ikut saya."


Rizqy memegang tangan Pria itu dengan erat lalu membawanya ke salah satu ruangan. Tak membantah Pria itu mengikuti langkah Kaki Pemilik rumah.


"Diam disini, jangan pernah mencoba untuk kabur," ucap Rizqy mengancam pria itu. Memastikan ikatannya erat pada Kaki dan tangannya. Dia beranjak keluar meninggalkannya dengan raungan tak jelas yang pastinya meminta untuk dilepas.


Rizqy melangkah ke arah Dapur, begitu dekat dengan Habibah langsung dipeluk badan ramping itu.


"Masak apa?"


"Mas, bikin kaget saja," sahut Habibah menghentikan kegiatannya sejenak. Menoleh ke wajah Rizqy yang sedang bermanja-manja dibahunya.


"Kamu masih kaget juga? padahal dari tadi malam kita dikagetin, seharusnya Jantungnya kuat dong?" sahut Rizqy sambil memperelat pelukannya.


"Memangnya Jantung saya terbuat dari besi. Besi saja bisa berkarat apalagi Jantung yang hanya segumpal daging, pasti dag dig dug di peluk sama Lelaki tampan," sahut Habibah. Dia menyembunyikan senyum dan rona merah di kedua Pipinya. Tersipu dia alihkan dengan melanjutkan memasak.


"Hem wangi sekali."


"Terima kasih. Mas, jangan ganggu lagi don? kalau masih ganggu juga, Mas enggak dapat jatah lo!" Habibah mengancam Rizqy yang masih saja menempel, tidak ada tanda-tanda dia melepaskan diri.


"Okay."


Rizqy melepaskan pelukan, lalu melangkah ke meja makan untuk menempatkan diri di Kursi. Habibah segera membagi Nasi Goreng yang dibuatnya menjadi tiga bagian lalu menatanya di Meja makan.


"Kok ada tiga? satunya ini untuk siapa?" tanya Rizqy heran.


"Untuk tamu kita, masak kita tidak memberinya makanan. Entar kalau terjadi sesuatu dengannya, bagaimana? kita juga yang salah," sahut Habibah menjelaskan tentang satu Piring Nasi yang ikut disajikan di Meja makan.


"Mas cemburu lo! Pria jahat itu beruntung banget menikmati masakan Isteriku ini," sahut Rizqy kesal. Dia beranjak dari duduknya menghampiri Habibah. Dengan gerakan cepat menyantap bibir merekah itu. Sejenak mereka menikmati rasa manis itu. Malu yang dirasakan Habibah tapi mau bagaimana lagi, itu yang disukai Suaminya.


"Jangan lupa, incip-incip Bibir kamu dulu baru masakannya. Kamu milikku jadi jangan pernah memberikan kepada orang lain jika nanti Mas terlebih dulu meninggalkan dunia ini." Rizqy berucap tegas setelahnya kembali ke tempat duduknya semula.


Habibah mengernyitkan dahi berusaha mencerna perkataan Suaminya. Dia menatap Pria yang tengah asyik menyuap Nasi Goreng. Tampak lahap dan sangat menikmatinya.


"Bagaimana kalau aku terlebih dahulu? apa yang akan Mas lakukan?" tanya Habibah serius.


Rizqy mejeda suapannya, menatap Habibah dengan hangat.


"Tentu Mas akan menikah lagi," sahut Rizqy santai. Ada sebuah senyum yang mengembang dengan binar kebahagiaan terpancar pada kedua mata itu.


"Egois," ucap Habibah terdengar kesal.


"Hahahaha."


Rizqy memperdengarkan tawanya. Dia sangat menikmati wajah cemberut yang dinampakkan Isterinya.


"Kata orang, seorang Wanita akan bersama Suami yang menemani saat terakhirnya atau Suami terakhirnya. Jika kamu menikah lagi bukan Mas dong Suami terakhirnya. Tidakkah kamu ingin bersama Mas di syurga nanti?" Rizqy menuturkan alasannya. Setelah berucap kembali menyuap makanannya. Mata itu tak lepas dari wajah Habibah. Dia menunggu jawaban dari Wanitanya. Habibah terlihat tertarik dengan apa yang diucapkan Suaminya.


"Benar begitu?"


"Wallahu a'lam. Tapi kalau tak ingin, bagaimana kalau kita selalu bersama-sama?" jawab Rizqy serius mengandung pertanyaan.

__ADS_1


Habibah terdiam tapi dia mengaminkan apa yang diucapkan oleh Suaminya.


"Kita serahkan kepada kehendak Tuhan, kita tidak tahu apa yang akan terjadi esoknya," jawab Habibah lembut.


Rizqy tersenyum, dia menyelesaikan suapan terakhirnya. Dengan cepat mengunyah Nasi goreng setelah halus lantas menelan. Dia mengambil air putih hingga tandas baru berucap hamdalah.


"Mas mau ngasik tamu kita sarapan dulu," ucap Rizqy beranjak meninggalkan Meja makan, yang dianggukkan oleh Habibah.


Rizqy melangkah ke sebuah ruangan. Dia membuka Pintu lalu dengan gerakan cepat menuju Pria bertopi hitam yang kini menjadi sanderanya.


"Makanlah, kamu beruntung dapat merasakan masakan Isteri saya. Sejujurnya saya tidak suka dia berbelas kasihan kepada orang yang tega mengambil bagian dalam muslihat jahat kalian. Apa kamu tidak ingat, secanggih apapun tipu muslihat kalian, Tuhan akan menghalangi dan melindungi orang dikehendaki." Rizqy berucap panjang lebar. Bukan amarah tapi kata-kata datar yang terdengar seperti nasehat.


Pria bertopi hitam menunduk, ada penyesalan menyusup masuk direlung hatinya. Dia hanya diam menyimak apa yang diucapkan Rizqy. Tangannya sibuk menyuap makanan yang terasa lezat di lidahnya. Terbukti dengan lahapnya dia memakan Nasi Goreng itu.


"Ada sebuah cerita. Ada seorang Maling masuk ke rumah seseorang. Empunya rumah mengetahuinya, dengan tenang dia menyambut kedatangan Tamu tak di undang itu. Memberikannya makanan dan minuman. Mengajak nya mengobrol dengan pembicaraan yang bermakna. Tamu tak di undang itu merasa tidak enak hati dan tak tega dengan Pemilik rumah yang sudah berbaik hati menjamunya. Dia mengurungkan niat jahatnya lalu pergi dengan tangan kosong. Tapi dia mendapatkan pelajaran berharga dari kejadian itu." Rizqy bercerita tentang kisah yang beredar di Masyarakat. Entah cerita itu milik siapa, benar atau hanya fiktif. Bisa disimpulkan, siapapun dia selayaknya diperlakukan dengan baik.


Namun tidak semua orang bisa seperti Pemilik rumah dan juga seperti Tamu tak undang itu yang tidak jadi melakukan kejahatan. Rupanya dia punya hati untuk tidak membalas kebaikan dengan melaksanakan niat awalnya, mencuri.


"Saya tahu kamu orang suruhan. Kamu melakukan ini demi keberlangsungan hidup keluargamu. Kamu pasti tahu rezeki yang kamu peroleh dari hasil memfitnah orang itu tidak berkah. Sebanyakpun yang kamu dapatkan dan sebanyak itu pula kamu tidak merasakan nikmatnya. Karena kenapa? karena tidak berkah. Saya harap kamu faham." Rizqy kembali berucap. Dia menatap Pria itu dengan ketenangan yang tak dibuat-buat.


Pria bertopi hitam itu semakin menunduk. Dia kini sudah menyelesaikan sarapannya. Tak menyangka, orang yang ia ganggu sebaik ini. Dalam pikiran, dia akan mendapatkan siksaan dan ancaman yang membuat tubuhnya tak berfungsi normal kembali. Ternyata tak sesuai dengan ketakutannya.


"Maafkan saya Pak Rizqy," ucap Pria bertopi hitam itu lirih pada akhirnya dia berhasil mengeluarkan kata-kata.


"Kesalahan apa yang telah kamu perbuat sehingga saya harus memaafkan?" tanya Rizqy.


Glek


Pria itu menelan rasa pahit, dia menyadari pertanyaan itu seperti menjebaknya. Rizqy tentu tahu kesalahannya tapi dia menginginkan informasi yang sebenarnya.


"Saya tidak akan memaafkan orang tanpa tahu jelas apa kesalahan yang dilakukan. Jika kamu ingin bebas maka utarakan dengan jelas apa kesalahan yang telah kamu berbuat kepada saya." Rizqy melanjutkan pertanyaannya.


"Okay jika tak berani bersuara, tidak mengapa. Saya tidak akan mengancam tapi kamu pasti tahu apa yang akan terjadi. Ketenanganmu yang akan tersandra."


Pria bertopi hitam itu semakin gelisah. Afmosfer yang semula tenang terasa mencekamnya. Dia menyadari sedang berhadapan dengan siapa. Lalu Rizqy Anggara, tak tahu siapa dia? kekuatan apa yang dia miliki sehingga berani menekan dan menolak kecurangan. Dengan tegas dia menolak sesuatu yang tidak sesuai dengan ketentuan.


Pria ini, tak semua orang seperti dia dan tak semua orang mau seperti dia. Siapa dia sebenarnya? apa keuntungan yang dia dapatkan dari sikap keras kepalanya. Tidak lain adalah orang-orang yang tak menyukainya.


"Ini menyangkut Nyonya W."


Pria bertopi hitam itu pada akhirnya berucap. Dia menjelaskan apa yang diketahuinya dengan sejelas-jelasnya.


Mendengarkan itu, Rizqy berusaha menunjukkan ketenangannya. Dugaannya sangat benar hanya saja sulit mendekati Wanita bergelar Nyonya W. Dia harus berjuang keras demi mendapatkan lirikan mata sendunya. Dia ingin menyentuh Wanita itu agar hidupnya bahagia. Walaupun harus berjuang keras dan menghabiskan waktu yang lama demi mengumpulkan sesuatu agar mampu menyentuhnya.


"Pada akhirnya nanti saya pasti menyentuhmu Nyonya W." Rizqy membatin dengan mengembangkan senyumnya.


Setelah cukup mendapatkan informasi. Rizqy membebaskan Pria bertopi hitam itu. Membiarkan menjalani kehidupan yang baik dan memastikan dia berpihak dengan dirinya.


"Mas, enggak ke Kantor?" tanya Habibah duduk di samping Rizqy selepas Pria bertopi itu pergi.


"Mas cuti, kita kan mau nyumbe terus berbulan madu di Desa. Beberapa hari ke depan Mas ingin tinggal di Desa. Menikmati hari-hari bersama kamu," jawab Rizqy. Selesai berkata dia mentoel hidung mancung itu. Menikmati paras manis Isterinya.


"Oh begitu?"


"Kamu disini saja, temani Mas untuk menyelesaikan dokumen," pinta Rizqy kembali fokus ke Laptop.


Habibah mengangguk, dia meraih dokumen yang tergeletak di Meja. Dia membuka lembar perlempar dengan teliti.

__ADS_1


Kedua Insan itu fokus dengan kegiatan masing-masing. Sesekali Rizqy meraih pinggang ramping itu dengan erat, setelah puas baru melepaskannya. Terkadang dia juga mengelus kepala dan menyapu kening itu dengan kecupan. Meskipun Rizqy fokus dengan pekerjaannya. Namun dia sangat menyadari keberadaan Isterinya dan tak sama sekali mengabaikannya.


"Akhirnya selesai juga satu dokumen," ucap Rizqy melemaskan otot-ototnya. Setelah merasa rileks dia melirik Habibah, mengedipkan mata tanpa ba bi bu dia meraih tengkuk lalu mendaratkan kecupannya. Habibah terkesiap tak siap, tapi dengan ikhlas dia meladeni apa yang diinginkan Suami.


Puas, Rizqy melepaskan pagutannya. Mengelus bibir itu dengan lembut, setelah tak tersisa mata jernihnya kembali ke Laptopnya.


Habibah seketika terkekeh tatkala menyadari apa yang dilakukan Rizqy, seperti sebuah acara di Televisi. Kembali ke Laptop setelah jeda iklan.


"Kenapa ketawa?" tanya Rizqy penasaran.


"Ini lihat Aya Minna menyaksikan Marc Markes Crash di Sirkuit Mandalika dari atas bukit. Ndak sanggup beli tiket dia, mahal katanya."


Kedubraaaaak


(Idik gamak Inaq, Habibah jujur banget jadi malu tiang. Bukan enggak sanggup, pasalnya nonton di atas bukit lebih asyik dan seru, jangkauannya luas. Ngeles ceritanya nih, tiang. hehehe)


"Kirain ada apa-apa? bukannya Mas Kiki tidak mempersulit pencairan Penghasilan tambahan dia, kan? seharusnya si Aya Minna itu bisa dong beli tiketnya?" Rizqy berkata sembari mengernyitkan dahinya heran.


"Mas Kiki, bukannya Mas, kan?" tanya Habibah ikut keheranan.


"Bukan, kembaran."


Nah kembali ke Rizqy Anggara.


"Sekarang terangkan yang membuat kamu ketawa?" tanya Rizqy serius.


"Lucu aja, kita rasanya seperti sebuah acara. Mas fokus dengan Laptop dan Mas juga fokus dengan aku. Rasanya aku seperti iklan lewat. Saat Mas menjeda, saat itu Mas menyentuhku. Aku jadi geli sendiri." Habibah menjawab dengan rasa malu yang sangat kentara. Sejujurnya dia sangat suka tapi lama kelamaan, apakah itu tidak mengganggu konsentrasi Suaminya. Itu yang ada dalam pikirannya.


Rizqy tersenyum, dia mengalihkan lagi perhatiannya kepada Habibah.


"Kamu Isteriku, sudah sepantasnya Mas menghargai keberadaanmu," sahut Rizqy tulus.


Habibah terharu, ingin rasanya menumpahkan air mata namun rasanya terlalu cengeng jika itu dilakukan.


"Terima kasih Mas." Hanya itu yang mampu terucap mewakilkan perasaan.


"Sama-sama sayang."


Rizqy kembali fokus, pun begitu dengan Habibah kembali pada Dokumen yang sedang ditelitinya. Dia merasa ada yang salah dengan dokumen yang sedang diperiksanya. Ada perbedaan yang jelas antara hasil koreksi Rizqy dengan apa yang tertera pada dokumen itu. Apa itu kesalahan ketik? Habibah meragukan itu?.


"Mas, aku melihat angka-angka seperti sedang menyembunyikan tabir kebohongan," ucap Habibah terpokus dengan selembar kertas yang dipegangnya.


Rizqy mengalihkan perhatiannya kepada angka yang ditandai dengan Pensil. Ada perbedaan harga dan juga perbedaan nilai pajak dengan catatan yang di koreksi olehnya.


Mata Rizqy membeliak, ada yang salah dengan dokumen itu. Apa mungkin salah satu Stafnya hendak berlaku curang dengan memanipulasi data.


Untung saja Habibah jeli, kalau tidak bisa saja menjadi temuan.


Rizqy sadar, Kaki satunya berada di Penjara dan satunya terbebas di luar. Sedikit saja kesalahan fatal maka dia akan terdorong lalu tersungkur ke dalam Penjara. Karena itulah dia sangat hati-hati menentukan siapa yang akan mengerjakan Pengadaan itu.


Bersambung.


Sudah segini dulu ya? mau istirahat, karena baru nyampe rumah dari Sirkuit Mandalika. Tadi nonton MotoGP sambil bermain hujan-hujanan. Petir menyambar dan suara guntur memekakkan telinga. Demi melihat balapan, kita jabanin. Maklum saya suka nonton MotoGP. Biasanya nonton di televisi, rasanya bersyukur banget bisa nonton secara langsung.


Jadi ingat waktu masih Mahasiswi dulu, pingin banget punya Sirkuit MotoGP di Lomboq biar bisa ngelihat Dani Pedrosa, Lorenzo dan Rosi. Sayang sekali mereka sudah pensiun. Tak apa, yang penting punya Sirkuit. Alhamdulillah.


Kenapa saya jadi cerita, ampure alias maaf.

__ADS_1


Jangan lupa Like, komen dan dukungannya.


matur tampi asih.


__ADS_2