
Suara Cangkrik menandakan malam. Di sebuah gubuk yang berada di tengah sawah terlihat sepasang Suami Isteri sedang menyulam kemesraan.
Sang Suami menyandarkan punggungnya pada sandaran Ranjang sedangkan Sang Isteri merebahkan Kepala pada dada bidang Sang Suami.
Keduanya terdiam dengan satu titik di hadapannya. Hanya tangan keduanya bergerak memainkan sesuatu. Tangan kekar itu membelai rambut panjang Wanitanya sedangkan tangan lembut itu membelai dada bidang itu.
"Hem."
Habibah merdehem kemudian mendongakkan wajahnya menatap ke atas. Mendengarkan suara deheman Lelaki itu memalingkan wajah ke wajah Habibah yang sedang menatapnya dengan sangat dalam.
"Apa yang sedang Mas pikirkan?" tanya Habibah mengawali pembicaraan.
"Tidak ada, Mas hanya menikmati keheningan ini dan detak Jantung kita yang berirama cinta. Rasanya sangat mendamaikan," sahut Rizqy lembut dengan memancarkan sayang yang sangat terang. Beberapa menit kemudian dia tersenyum melihat rona merah yang di pancarkan paras Sang Isteri. Dia mengecup lembut bibir mewarna alami itu. Sejenak mereka berpagutan meluapkan rasa.
"Untuk apa memikirkan hal lain sementara yang di pikirkan ada di samping Mas. Saat kita berjarak barulah Mas sangat memikirkan kamu karena rindu," imbuh Rizqy setelah mereka usai berbagi kenikmatan.
"Aku terharu Mas," ucap Habibah merasa bahagia. Dia memperelat pelukan dan kembali menikmati detak jantung Suami yang seirama dengan miliknya.
"Mas, apa kita tidak terlalu keras dengan Qia? Apa Mas serius tidak merestui Qia dengan Pak Keynand?" tanya Habibah mengganti pembahasan.
Rizqy terdiam, tangannya tak lelah mengelus Kepala Habibah.
"Itu demi kebaikan Adik kita? Biarlah Qia menyelesaikan kuliahnya dulu. Satu saja yang di pikirkannya, jangan memberikan pikiran yang bercabang-cabang. Belum saatnya," jawab Rizqy setelah keluar dari kebisuan sejenak.
"Iya, aku pun setuju. Terus jika seandainya Qia ternyata memiliki rasa kepada Pak Keynand, apa restu itu tetap takkan ada?"
Pertanyaan itu dengan tegas di jawab anggukan oleh Rizqy tanpa berpikir lagi.
"Iya, tidak akan ada restu untuk Qia bersama Keynand. Lagipula mereka tidak saling mencintai."
Habibah menatap Rizqy dengan bingung. Dia pikir, Keynand mengajak Rizqia menikah karena Pria itu jatuh cinta kepada Rizqia. Terus, kenapa mengajak anak Gadis orang untuk berumah tangga jika ketertarikan itu tidak ada sama sekali. Apa Pria bernama Keynand sedang meracau atau sedang mengerjain anak Gadis orang? sungguh tidak masuk akal ini.
"Jadi Pak Keynand sebenarnya tidak memiliki perasaan cinta kepada Qia? Terus apa maksudnya dia ingin menikahi Qia? Apa dia sedang ngigau?" Akhirnya Habibah berhasil mengeluarkan apa yang dipikirkannya.
"Mas juga tidak mengerti maksudnya. Lagipula Qia juga tidak memiliki perasaan kepada Keynand. Mas sudah menanyakannya kepada Qia. Meskipun dia menjawab dengan keraguan bahwa tidak ada cinta untuk Keynand. Cukup melegakan juga. Setidaknya Mas tidak merasa bersalah karena melarangnya berhubungan dengan Keynand."
Rizqy menceritakan pembicaraan dengan Rizqia malam itu. Sebenarnya dia sadar bahwa adiknya mungkin saja tertarik dengan Keynand. Tidak di pungkiri itu, tidak ada yang mampu menolak pesona Keynand apalagi di dukung kemapanan yang melekat padanya.
Hanya saja kadar ketertarikan itu sangat kecil. Rizqia masih di bayangi masa lalu yang suram. Pastinya dia meyakini hatinya bahwa cinta dan kesetiaan itu tidak ada.
"Ragu? Apa itu artinya Qia sebenarkan jatuh cinta kepada Pak Keynand?" tanya Habibah memperjelas apa yang di bicarakan oleh Suaminya.
"Mas menduga itu, tapi tidak pasti juga. Mas merasa cinta itu mungkin saja ada, tapi trauma itu yang mendominasi hati Qia. Rasa itu kalah dengan ketidak percayaannya terhadap Pria," jawab Rizqy terdengar parau.
__ADS_1
"Penghianatan Mamiq dan Wina membuat Qia seperti ini. Mamiq yang sangat di hormatinya, panutan dan sekaligus idolanya. Siapa sangka, Pria yang menjadi figur laki-laki setia dan penuh cinta dengan tega menghianati Mama. Siapa yang tak merasa sakit sebegitu parahnya di hianati oleh Ayah kandung sendiri. Qia waktu itu belum sanggup menerimanya. Terlebih saat kita di fitnah dan terusir dari tempat bernaung selama ini. Puncaknya saat Mama tak sanggup lagi bertahan untuk hidup. Kejadian itu melekat di benak Qia seakan mengendalikan hatinya untuk tidak percaya dengan Laki-laki."
Rizqy berhenti bercerita, dadanya sangat sesak terasa kini. Dia menghirup udara sepuas-puasnya untuk melapangkan itu.
Sorot mata teduh itu terlihat sangat rapuh penuh misteri. Pria bernama Rizqy itu bisa dalam sekejap menjadi orang yang lembut dan bisa jadi dalam sekejap menjadi Pria yang sangat berbahaya. Tidak di tunjukkan, lebih suka bereaksi dalam senyap tak terdeteksi.
"Keynand harus hati-hati," guman Rizqy pelan yang berhasil di dengar oleh telinga Habibah.
"Maksudnya?"
Rizqy salah tingkah sambil menggaruk tengguknya. Dia tak mengira ucapannya terdengar oleh Habibah.
Habibah menatap mata teduh Suaminya dengar sorot mata meminta penjelasan.
"Horor banget, jadi atuuuuut, Mas," ucap Rizqy di akhiri kekehan.
Habibah cemberut tak mendapatkan penjelasan dari Suaminya. Apa maksudnya? Kenapa Keynand harus berhati-hati. Suaminya ternyata penuh dengan misteri.
Cup
Rizqy mengecup mata yang menyimpan kekesalan itu secara bergiliran.
"Mas Rizqy, bukan ini yang aku mau," sahut Habibah kesal secara terang-terangan.
"Mas, aku sedang halangan," bisik Habibah saat tubuh mereka menempel.
"Mas ingat, Mas hanya ingin memeluk kamu seperti ini," sahut Rizqy lirih.
"Sayang, lupakan ucapan Mas tadi, jangan meminta untuk Mas menjelaskannya," ucap Rizqy terdengar tegas dan tak ingin di bantah.
"Iya, Bibah mengerti," jawab Habibah tidak ingin memaksa. Dia tak melonggarkan pelukan karena rasanya begitu nyaman.
"Apa Mas tidak menyukai Pak Keynand?" tanya Habibah. Rasa ingin tahu merajai hatinya kini. Apa mungkin karena alasan itu membuat Rizqy sangat sulit menghadirkan restu di hatinya untuk Pria itu.
"Tidak ada alasan untuk tidak menyukainya," jawab Rizqy tanpa ragu-ragu.
"Terus kenapa Mas tidak merestui Qia berhubungan dengan Pak Keynand?" Tanyanya kembali membuat wajah itu berubah datar dan dingin.
"Apa perlu Mas menjawabnya? Itu pertanyaan kedua yang tidak harus kamu mengetahui jawabannya. Tentu ada alasannya mengapa, tapi Mas tidak bisa menjelaskannya," jawab Rizqy. Kembali ketegasan terdengar di sana. Membuat Habibah terdiam tak mampu berkata-kata. Rasa penasaran itu kian menumpuk saja.
Habibah menarik nafas panjang. Ternyata, Suaminya menyimpan banyak rahasia yang tidak ingin di ketahuinya. Dia tidak akan memaksa bila Suaminya belum siap menceritakan apa yang tersimpan dalam rahasia itu. Mungkin inilah yang terbaik.
Rizqy melihat gurat kekecewaan pada wajah Isterinya.
__ADS_1
"Udah enggak usah di pikirin." Usai berkata dia meremas kedua pipi Habibah dengan lembut. Tak hanya pipi mulusnya yang menjadi sasarannya. Hatinya juga mendapatkan godaan yang membuat Wanita itu tersipu malu.
Sepasang Suami Isteri itu larut dalam candaan, bersaing dengan dendangan Cangkrik yang semakin ramai saja.
"Bibah, seandainya kalian tahu apa yang pernah di lakukan Keynand, pasti kamu akan membencinya. Dia ingin menukar kamu dengan uang yang di milikinya. Menurutmu apakah Mas akan menyerahkan Qia kepada orang yang pernah merendahkan kita? Tidak sama sekali! Jangan meminta restu itu ada untuknya, karena tidak akan pernah ada. Keangkuhannya dulu membuat Mas menutupnya. Restu itu tidak akan ada untuk satu orang yang bernama Keynand Putra Ardiaz." Rizqy membatin. Dia tidak ingin dua Wanita yang di cintainya mengetahui ini. Biarlah dia sendiri menanggung kesakitan, dari pada Isteri dan adiknya menanggung rasa yang sama.
"Sudah malam sayang, tidurlah," ucap Rizqy setelah melewati beberapa menit ke dalam keheningan, usai mereka lelah bercanda.
Habibah mengangguk. Dia mencari posisi yang nyaman untuk mengistirahatkan raganya.
Rizqy di sisinya tak beranjak sama sekali. Dia memeluk tubuh Isterinya dan kemudian bersama-sama terbuai dalam mimpi.
Belum saja terlelap, ada nada panggilan dari Handphone milik Rizqy. Rizqy membuka mata, dia melihat Habibah yang tidak terusik sama sekali dengan deringan itu.
Rizqy bergegas menyambar Handphone yang di simpannya di atas Meja, lalu mengangkatnya.
(Apa aku sedang mengganggumu Rizqy Anggara?)
Rizqy berusaha mengingat suara yang menghubunginya. Ketika ingat suara manja itu milik siapa, dia kemudian menyunggingkan senyum sinisnya.
(Kenapa? apa kamu kangen?)
Balas Rizqy yang tangannya sibuk mengelus Pipi Isterinya.
(Iya)
(Benar, kan? kamu tidak akan sanggup melupakanku, tapi sayangnya aku sudah tidak tertarik sama kamu)
Klik
Rizqy menutup Handphone secara sepihak. Dia menaruh benda teknologi itu di atas Meja. Lalu menatap wajah Habibah dengan penuh cinta. Sejurus kemudian dia mengecup lembut bibir merekah milik Sang Isteri. Habibah menggeliat sebentar membuat Rizqy tersenyum geli.
"Sabar, sayang! langkah Mas untuk menghancurkan seseorang itu ternyata sangatlah panjang. Mau tidak mau kita harus bersembunyi seperti ini," ucap Rizqy pelan takut ucapannya akan mengganggu tidur nyenyak Habibah.
***
"Tadi itu Pak Keynand, kan? Ada urusan apa dia di kampus?" tanya Rizqia. Dia saat ini sedang merebahkan diri. Pandangannya lurus ke langit-langit kamar seolah titik itu memberikannya jawaban.
"Tidak mungkin juga sebenarnya Pak Keynand mencari saya? Untuk apa coba?" tanyanya lagi seakan menjawab pertanyaannya.
"Qia jangan berharap apapun, tidak ada Laki-laki setia di dunia ini. Awalnya saja mereka menunjukkan keseriusan. Setelah dapat mereka akan memperlihatkan siapa dirinya. Kamu akan di sia-siakan dan di hianati." Sisi lain dirinya mengingatkan Gadis itu.
"Benar, tidak usah memikirkan Pak Keynand lagi. Kita lihat saja apa yang akan terjadi esoknya? Apakah dia masih bertahan dengan keinginan itu atau malah berubah haluan, entahlah?" Rizqia menanggapi kata hatinya.
__ADS_1
Bersambung.