Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
Chapter 18


__ADS_3

Deg


Jantung Habibah bergemuruh ketika mendengar nama seseorang dipanggil oleh MC Wanita yang dikenalnya.


Lalu Rizqy Anggara, nama itu menggema di telinganya. Dia bersama para peserta terfokus memandang seorang Pria yang berjalan menuju Podium. Tubuh tinggi dan tegapnya terlihat gagah dengan balutan pakaian seragam berwarna Keki.


Rizqy sudah sampai di Podium. Dia memandang ke arah peserta, seulas senyum tersungging pada bibir berwarna merah, terlihat sangat segar. Semua mata berpusat kepada Rizqy yang berdiri kokoh disana. Netra jernihnya menyimpan kecerdasan yang tak di ragukan lagi.


"Hebat," ucap Habibah dalam hati. Jika dia memperkirakan, Rizqy mendapatkan posisi sekarang ini dalam pangkat termuda dari yang dipersyaratkan. Dia tidah butuh mencapai Penata untuk meraih itu. Dia hanya menempatkan diri pada pangkat minimal maka jabatan itu bisa diraihnya.


Rizqy memperbaiki posisi Microphone yang terpasang pada Podium. Terlihat pada bergelangan tangannya bertengger gelang Kokka. Hati Habibah seketika itu dilema. Dia sangat mengenal gelang tersebut. Gelang Couple yang dia juga memilikinya. Gelang itu berliontin RR terbuat dari emas putih murni dengan ukuran mungil. Habibah bisa melihat Liontin RR itu masih bertahta disana. RR itu merupakan singkatan Rizqy dan Rosy.


Rizqy memulai dengan terlebih dahulu membaca basmalah dan salam yang dijawab oleh para peserta dan selanjutnya melafazkan Shalawat. Setelah itu baru mulai menyampaikan laporan tentang hal pelatihan Pengembangan UKM.


"Saya merasa surprise, kali ini pelatihan di ikuti oleh Para UKM yang baru saja tumbuh dan berharap kedepan akan lebih berkembang menuju kemajuan yang kuat. Tidak bisa dipungkiri bahwasannya UKM adalah Tulang punggung Perekonomian Nasional. Dan lebih membanggakan, Tulang Punggung itu di gerakkan oleh para Wanita yang luar biasa hebatnya. Benar, berdasarkan data, Pelatihan ini di dominasi oleh Kaum Hawa dan harus menerima kenyataan bahwa saat ini kaum Adam termarjinalkan. Tidak heran, jika mengingat sejarah, melirik ke belakang. Kita memiliki Tokoh Wanita yang sangat hebat, cerdas dan juga memiliki akhlak yang sangat suci sehingga di juluki 'Perempuan yang suci'. Kita pasti tahu siapa Wanita itu? Beliau adalah seorang Saudagar kaya raya, Ummul Mukminin dan salah satu yang dijamin masuk Syurga. Saya yakin kita semua mengetahui Wanita hebat yang menjadi Ummul mukminin bagi para Wanita sepanjang jaman. Siapa?"


Rizqy terdiam dan membiarkan para peserta mengingat dan menjawab.


"Beliau adalah Khadijah binti Khuwailid. Isteri Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam."


Habibah menjawab sangat jelas di tengah-tengah keheningan yang tercipta. Dia berada di barisan tengah namun Rizqy tidak melihat dengan jelas siapa Wanita yang sedang menjawab.


"Betul, Khadijah binti Khuwailid. Beliau saudagar hebat yang berhasil menempatkan diri dalam sejarah dan kisahnya tercatat dalam Al Hadits. Sudah sepatutnya kita sebagai Tulang punggung Perekonomian meneladani Beliau yang merupakan salah satu Ummul Mukminin, Ibu Para Mukmin."


Rizqy menjeda sambutannya, dia menghela nafas untuk melegakan parunya. Kemudian dia melanjutkan.


"Saya berharap kita bisa mengambil ilmu yang akan kita simak bersama-sama, menerapkan ilmu tersebut dalam usaha kita sehingga terus berkembang dan bertahan. Demikian yang bisa saya sampaikan. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.."


Rizqy mengakhiri laporannya lalu kembali ke tempat semula. Kemudian acara di lanjutkan dengan pemaparan materi. Sebelum itu para peserta di persilahkan untuk menikmati Snack dan Coffe atau istilahnya Coffee break sebelum acara dilanjutkan.


Habibah mengambil Snack dan segelas Teh. Dia kembali ke tempat duduk lalu dengan santai menikmati makanannya. Dia melihat ke arah depan, disana ada Rizqy yang tengah asyik mengerjakan sesuatu. Dia terlihat serius, tangannya menari di Keyboard Laptop sementara matanya fokus di layar.


Habibah tersenyum, dia tahu Pria itu workaholic. Dia konyol, jahil dan juga iseng. Kesenangannya adalah mengganggu orang tapi dia menjadi serius jika berhubungan dengan pekerjaan.


Beberapa menit kemudian, Coffee break berakhir. Para peserta kembali ke Room menempati kursi masing-masing.


Kini pemaparan segera di mulai, pemaparan pertama di sampaikan oleh Lalu Rizqy Anggara. Dia berdiri di depan, memulai untuk memaparkan materi yang berhubungan dengan program pengembangan UKM mulai dari bantuan modal, peralatan dan pembinaan atau pendampingan yang di ajarkan oleh para tanaga ahli. Tenaga Ahli itu merupakan ASN dengan Jabatan Fungsional dan Tenaga Expert itu tersedia pada instansi yang membidangi UKM.


Setelah pemaparan dari Kepala Seksi Pelatihan, selanjutnya materi dilanjutkan oleh Narasumber dari Kementerian.


Saat pemaparan materi disampaikan. Para UKM fokus menyimak dan terlihat sesekali menulis sesuatu pada Note book yang disediakan oleh Panitia. Pun begitu dengan Habibah, Gadis itu sibuk menulis sesuatu hal penting yang berhasil di dengar oleh telinga.


Selang 120 menit berlangsung, pemaparan materi selesai disampaikan selanjutnya adalah Sesi tanya jawab.


Sang MC kembali memegang acara, dia menyampaikan bahwasannya pada Sesi pertama diberikan kesempatan untuk tiga Pewawancara. Dia mempersilahkan mengajukan pertanyaan kepada para Peserta untuk ditujukan kepada kedua Narasumber.


"Saatnya tanya jawab, silahkan bagi ingin bertanya dan berbagi ilmu. Kami memberikan kesempatan kepada tiga orang untuk bertanya," ucap Sang MC memulai sesi tanya jawab.


Saat sesi tanya jawab baru ada dua UKM bertanya. Semuanya bertanya pada kedua Narasumber yang terkait pengolahan pangan yang baik agar produk yang dihasilkan berkualitas dan bermutu.

__ADS_1


"Selanjutnya, baru dua orang yang bertanya. Silahkan untuk satu orang lagi," ucap Sang MC mempersilahkan para UKM untuk bertanya.


Habibah mengacungkan tangannya. Dia berdiri seketika itu seseorang menghampiri untuk menyodorkan microphone.


"Silahkan mbak, mau bertanya kepada siapa?" tanya Sang MC.


"Saya mau bertanya kepada Bapak Rizqy dan juga Narasumber. Sebelumnya saya mau memperkenalkan Kelompok Usaha kami. Jadi kami mendirikan kelompok usaha bernama Kelompok usaha HR sekitar tiga tahun yang lalu. Berawal dari kecil-kecilan dan sekarang Alhamdulillah mulai terlihat usaha kita. Kami memproduksi Abon Ikan laut, Terasi, Nugget dan olahan dari Kacang Mete. Kebetulan Desa kami berada di daerah pesisir dan juga penghasil Kacang mete, sehingga bahan baku cukup tersedia dan memenuhi kebutuhan kami. Maaf saya jadi bercerita. Jadi, perkenalkan nama saya Habibah Rosy." Habibah mengakhiri ceritanya dengan memperkenalkan diri.


Mendengarkan nama pewawancara selanjutnya, Rizqy yang terlihat menunduk dan sibuk dengan Laptopnya seketika itu mendongakkan wajah. Netranya langsung berpapasan dengan netra Habibah yang tengah berdiri sembari memegang Microphone. Pandangannya menjurus ke arah depan. Rizqy menyipitkan mata untuk memastikan apa yang dilihatnya. Di hadapannya berdiri seorang Gadis yang sangat dikenalnya. Namun Gadis itu berbeda dengan Gadisnya yang dulu. Kini Habibah menjelma menjadi seorang Pengusaha. Dia nampak anggun dengan Hijab lebarnya yang menutupi seluruh auratnya.


"Habibah Rosy," ucap Rizqy tak terdengar.


"Saya bertanya kepada Pak Rizqy maksud saya Bapak Lalu Rizqy Anggara, SE., M.Si. Begini Pak Rizqy, jadi menurut pemaparan tadi bahwa pada instansi terkait, ada bantuan berupa bantuan modal dan juga peralatan serta pendampingan untuk UKM terlebih untuk UKM yang baru memulai usahanya. Pertanyaan saya, apakah bantuan itu diperuntukkan untuk seluruh usaha terlepas dia mempunyai kepentingan atau tidak? Jika memang bantuan itu diperuntukkan untuk seluruh UKM. Mengapa kita yang kecil, mohon maaf yang tidak mempunyai kepentingan seakan diabaikan dan tak mempunyai kesempatan untuk mendapatkan hal yang sama dengan yang mempunyai kepentingan. Saya hanya menanyakan hal itu. Semoga Pak Rizqy memberikan penjelasan yang dapat kita mengerti. Mungkin hal ini juga menjadi pertanyaan bagi UKM kecil yang tidak mempunyai siapapun selain diri mereka sendiri."


Habibah panjang lebar mencurahkan isi hati dan pertanyaan sebagian orang yang tak sepeser pun mendapatkan dukungan untuk mengembangkan usaha mereka. Dia juga bertanya kepada Narasumber terkait keamanan produk agar mereka mampu memproduksi olahan makanan sehingga aman di konsumsi oleh komsumen.


Setelah cukup tiga yang bertanya. Selanjutkan narasumber menjawab pertanyaan secara berurutan.


"Selanjutnya saya mencoba menjawab pertanyaan ketiga dari Kube HR. jadi begini, kami berusaha sebisa mungkin untuk menjangkau seluruh UKM agar mendapatkan hak yang sama. Terlepas mereka memiliki kepentingan atau tidaknya. Namun kita tidak bisa seratus persen merangkul semuanya mengingat keterbatasan anggaran yang kami miliki terlebih anggaran tersebut berupa Pokir yang dititipkan kepada Instansi kami. Selebihnya anggaran murni yang instansi kami dapatkan cukup kecil sehingga yang mendapatkan bantuan baru sebagian. Sebagai solusi kita memberikannya secara bertahap agar seluruh UKM yang terdata dapat merasakannya. Jangan sampai seperti kiasan 'satu nganget, satunya ngengat kelapahan ( Satu makan, satunya melihat sembari menahan lapar ). Kami sebisa mungkin merangkul semuanya. Memberikan bantuan kepada UKM yang mengajukan proposal ke instansi kami. Tanpa proposal yang para UKM ajukan, kami belum tahu akan eksistensi para UKM dan apa saja yang mereka butuhkan. Selain itu kami akan melakukan Survey dan verifikasi kelompok usaha dari Proposal yang masuk. Apa benar usaha itu ada dan apa layak mendapatkan bantuan yang ada pada anggaran instansi kami. Silahkan anda membuat proposal dan kami usahakan sesegera mungkin untuk menindak lanjuti. Tanpa adanya proposal dari kelompok anda, mana mungkin kami memproses sesuatu yang tidak ada. ...!"


Habibah mengacungkan tangannya untuk menyela penjelasan Rizqy.


"Permisi Pak Rizqy, maaf saya menyela penjelasan anda. Tadi anda mengatakan kami hanya menindak lanjuti proposal yang ada, benar begitu?"


"Iya, kami bekerja berdasarkan proposal yang masuk pada instansi kami. Seperti itu Ibu Habibah. Saya harus memanggil anda Ibu Habidah atau mbak Habibah. Maaf saya mempertanyakan hal ini agar anda tidak tersinggung." Rizqy menjawab sekaligus mempertanyakan panggilan yang tepat untuk Wanita ini. Rizqy seakan sengaja mengajukan hal itu hanya untuk mengetahui statusnya.


"Apa penting? Pak Rizqy boleh memanggil saya Ibu atau mbak. Saya tidak masalah dengan hal itu. Atau jangan-jangan Pak Rizqy sengaja?. Saya curiga dengan pertanyaan anda, apa mungkin anda ingin tahu status saya. Jika itu, Pak Rizqy boleh memanggil saya dengan panggilan Mbak sebab saya belum menikah. Oh ya, apa Pak Rizqy berniat untuk mencarikan saya jodoh, saya mempersilahkan dan membuka peluang untuk itu." Habibah menjawab dengan sedikit berkelakar. Dia tersenyum sumringah menampilkan wajah manisnya yang lembut dan bersahaja.


"Kenapa membias kesana kemari, sebaiknya kita fokus ke diskusi kita. Apa mbak Habibah sengaja untuk menarik perhatian saya?" ucap Rizqy mengembalikan pembahasan ke semula.


"Maaf Pak Rizqy, saya tidak bermaksud menarik perhatian anda. Saya hanya menjawab pertanyaan anda. Bukankah anda yang memancing sedangkan saya hanya mengikuti umpan yang anda lemparkan. Kembali ke propasal, saya pernah mengajukan proposal dua tahun yang lalu. Kami menunggu namun tidak ada yang datang dari Tim Instansi anda untuk melakukan survey. Selanjutkan kami kembali mencoba setahun yang lalu tapi hingga sekarang tidak ada tanggapan. Jadi, menurut Pak Rizqy, kelompok kami tidak mengerti bagaimana caranya mengajukan permohonan?. Kami hanya mengajukan bantuan Peralatan untuk mendukung usaha kami karena kemampuan keuangan kami belum mampu untuk membeli alat yang dibutuhkan. Karena tidak ada tanggapan, kami legowo saja sembari menabung untuk memiliki peralatan yang kami butuhkan. Benar menurut kiasan yang Pak Rizqy sampaikan. Kami seumpama ilalang yang berdampingan dengan Bunga mawar. Ilalang terabaikan karena tak punya kepentingan sedangkan Mawar diperhatikan karena punya kepentingan. Senilai dengan Vespa antik yang berharga dengan Ceketer yang tak berharga, bukankah seperti itu Pak Rizqy?"


Habibah melanjutkan perdebatan dengan mengungkit apa yang terjadi dimasa lalu. Meskipun hanya menyebut Vespa, wajah Rizqy berubah gelisah. Dia menatap Habibah dengan tatapan yang sulit di mengerti. Setelah itu Rizqy menguasai diri. Terlihat ketenangan menyelimuti Pria itu. Itulah karakter Rizqy, tenang dan juga sabar. Tapi jika ketenangannya terusik dia bisa mengamuk dan memecahkan apa saja yang ada di hadapannya.


Rizqy melanjutkan diskusi mereka dengan jawaban yang bisa di terima oleh Para Peserta Pelatihan.


Beberapa Jam berlalu, pelatihan untuk hari ini di sudahi dan akan dilanjutkan esok harinya. Para Peserta kembali ke tempat masing-masing. Bagi UKM yang berwilayah Pulau Sumbawa dan beralamat jauh dari Mentaram, mereka diberikan akomodasi dan penginapan.


***


Habibah sebagai peserta, dia menempati satu kamar Hotel. Dia saat ini sedang menikmati fasilitas Hotel Ardiaz Mentaram. Dia menikmati ritual mandinya. Saat ini Habibah meredamkan tubuhnya pada Bathtub sekaligus bermain busa. Dia tersenyum bahagia menikmati kemewahan yang baru kali ini dirasakan. Setelah beberapa menit memanjakan diri, Habibah keluar dari Bathtub. Dia meraih Handuk lalu mengeringkan Rambut panjangnya yang menjuntai hingga sepinggang.


Selesai mengeringkan Rambut dan tubuhnya. Habibah mengambil Baju kaos berlengan panjang dan bawahan Rok. Dia segera memakai pakaian tersebut. Meraih alat Shalat lalu menggelar Sajadah untuk menunaikan Shalat Magrib. Selesai Shalat Magrib, Habibah mengaji sembari menunggu waktu Isya tiba.


Seusai melaksanakan kewajibannya, Habibah keluar menuju Restaurant Hotel. Dia hendak menikmati santap malam yang di sediakan oleh Panitia. Saat dia menikmati makan malam, dia tidak menyadari sepasang mata memperhatikannya.


Beberapa menit Gadis itu menikmati makan malamnya. Dia meneguk minumannya hingga tandas lalu menaruh gelas itu di samping Piring yang sudah kosong. Tingkah laku Gadis itu tidak lepas dari mata seorang Pria yang diam-diam memperhatikannya. Habibah bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju kamarnya.


Saat dia sampai ambang pintu yang terbuka. Seseorang mendorong tubuh Habibah. Meraih Cardlok yang di pegangnnya kemudian menempatkan pada tempatnya.

__ADS_1


"Mas Rizqy?"


Habibah terkaget begitu menyadari ada seseorang mendorong lalu meraih Cardlok yang di pegang. Dia menyadari Pria itu adalah Rizqy. Tanpa berbasa basi lagi, Rizqy melempar tubuh Habibah pada Ranjang lalu menindihnya tak memberikan kesempatan pada Gadis itu untuk memberontak. Habibah berusaha untuk melepaskan diri tapi Pria itu menguncinya. Tubuh Habibah kini berada dalam kendali Rizqy. Tubuh mereka berdua menempel tak berjarak.


"Kamu kemana Habibah? kenapa kamu menghilang? kenapa kamu meninggalkan pernikahan kita? Apa kamu lari dengan Pria lain? apa kamu tergoda dengan pria lain dan menyerahkan milikku untuk dia jamah?" Rizqy memberondong Habibah dengan pertanyaan. Sorot matanya menyimpan kemarahan, luka dan frustasi. Habibah bisa melihat binar cinta Pria itu masih bermuara disana untuknya meskipun terlihat rapuh.


"Apa kamu tergoda dengan Pria lain lalu meninggalkan Mas? jawab Bibah!" Rizqy bertanya lagi dengan nada tinggi. Habibah masih mendengarkan kelembutan dibalik nada tinggi dan kasar itu.


Habibah hanya menggelengkan kepala sebagai bantahan atas tuduhan yang di lontarkan oleh Rizqy.


"Mengapa Pria ini beranggapan saya pergi karena tergoda oleh Pria lain? Apa Mas Rizqy sengaja memutar balikkan kenyataan agar dirinya tak dipersalahkan. Mas Rizqy memang luar biasa hebat." Habibah bermonolog dalam diam.


"Jelaskan Habibah, kenapa kamu pergi? Kemana saja selama lima tahun?"


"Mas Rizqy, aku tidak seperti yang Mas tuduhkan. Aku tidak tergoda dengan Pria lain apalagi menyerahkan sesuatu yang berharga sebelum Kabul itu terucap," sahut Habibah membantah. Saat ini dia ketakutan melihat raut Rizqy yang menyimpan hasratnya bertahun-tahun.


"Oh ya? kenapa aku tidak mempercayainya? sudah aku katakan, kamu itu milikku, hanya milik Rizqy Anggara tapi kenapa kamu melarikan diri. Setelah lima tahun berlalu dan kamu sekarang kembali. Apa aku harus percaya jika kamu bisa menjaga milikku dengan baik Habibah. Kamu harus membuktikan bahwa kamu masih Kekasihku yang dulu," ucap Rizqy tidak mempercayai setiap kata yang diucapkan Habibah.


"Mas, aku pergi bukan karena tergoda oleh Pria lain. Aku pergi karena kesalahan Mas sendiri. Coba Mas tanyakan pada diri Mas, apa yang Mas pernah lakukan." Habibah menjawab sembari mengingatkan Pria itu. Ingatan itu kembali membuka luka lama. Habibah berusaha menekan perasaannya yang sakit bersamaan beban tubuh Rizqy yang kian menghimpit.


"Aku tidak ingin mendengarkan penjelasan yang itu. Aku akan percaya dengan kamu Habibah jika kamu memberikan sesuatu untukku," ucap Rizqy tidak mau meneliti kesalahannya.


"Mas Rizqy, Maksud Mas apa?" tanya Habibah bingung sekaligus kecemasan yang kini menyerang pertahanannya.


"Kegadisan kamu Habibah. Aku menginginkan kegadisan kamu. Jika aku menikmati tubuhmu ini maka aku akan tahu apa kamu masih Gadis atau tidaknya," ucap Rizqy tegas. Dia menatap wajah Habibah penuh hasrat.


Habibah tentu saja terkejut dengan perubahan yang terjadi pada Pria ini. Dia tidak menyangka Rizqy menginginkan Mahkotanya sebagai cara untuk menjelaskan tuduhan itu tidak benar.


Habibah menggelengkan kepala untuk menolak itu semua. Sementara Rizqy tersenyum smirk. Senyum itu seolah siap untuk merenggut apa yang dimiliki Kekasihnya.


***


Kamar bernuansa Biru menjadi saksi kegadisan Habibah terenggut oleh keperkasaan seorang Rizqy Anggara. Habibah mencengkeram seprai untuk meringankan kesakitan yang kini menguasai tubuhnya. Sebelum ini, Rizqy menikmati bibirnya yang ranum, menjejakkan pada tebing cokelat miliknya. Dia merasakan kesakitan sekaligus nikmat saat Rizqy membubuhkan stempel kepemilikannya. Pria itu juga berhasil menapaki sepasang Gunung dan memanjakan diri disana.


Habibah menjerit saat Rizqy berhasil menghentakkan diri.


"Aaaaaawwww."


"Tenang sayang setelah ini kamu akan suka."


Rizqy melajukan langkahnya. Semula berlahan makin lama semakin cepat. Habibah terombang ambing dalam kenikmatan yang baru kini dirasakannya. Dia sesekali mengeluarkan suara Sexynya membuat Rizqy kian semangat untuk memberikan rasa nikmat untuk Habibah.


Saat mencapai puncak kenikmatan. Bibir Rizqy terlihat bergerak mengucapkan sesuatu. Dia melakukan pelepasan dan berakhir dengan ambruknya tubuh Pria itu disisi Habibah yang polos.


Rizqy segera meraih selimut lalu menutupi tubuh Habibah dan juga tubuh polosnya. Pria itu tersenyum, pada wajahnya tergambar kepuasan.


"Terima kasih Habibah, kamu luar biasa."


Selesai berkata, Rizqy memejamkan mata sebagai cara untuk mengembalikan staminanya yang habis terkuras.

__ADS_1


Bersambung.


Kaboooooor sebelum readernya menyerang. hehehehe


__ADS_2