Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
S2.12


__ADS_3

"Emang bisa Kak? Kalau Kakak ada di Sekolah bagaimana?" tanya Qia sembari mencebikkan bibirnya.


"Bisalah, Kakak akan berlari sekuat tenaga melesat mengalahkan Zohri yang pernah mendapatkan juara Dunia lomba Lari," jawab Rizqy sembari menepuk betisnya yang kokoh.


Qia memutar kedua Bola matanya dengan malas. Kini dia sedang menghadapi kepercayaan diri yang tinggi dari Kakaknya itu.


"Yakin? Baru beberapa meter saja Kakak berlari sudah keok apalagi ini jaraknya berkilo-kilo. Jangan membuat Abang Zohri tertawa geli, deh," sahut Qia meremehkan. Ada keceriaan di setiap kata-katanya membuat Rizqy dan Habibah tersenyum bahagia. Baru hari ini Qia meladeni pembicaraannya meskipun terdengar lirih. Ada perkembangan yang luar biasa terjadi pada Gadis itu. Semenjak dia sakit tidak ada candaan dari Gadis itu. Dia hanya berbicara sekedarnya dan terkadang menumpahkan kesedihannya saja.


"Yakin dong, apa tidak lihat betis kakakmu ini kokoh banget sudah gitu gagah dan tampan," sahut Rizqy narsis.


"Kak Rizqy bohong, wong di kejar Kak Bibah saja Kak Rizqy ketangkap waktu nyuri Tempe mendoannya. Ayo, ngaku kalah dah!"


Rizqy dan Habibah tertawa lebar mendengarkan perkataan Qia yang meremehkannya. Mereka berdua sangat bersyukur bahwa Qia kini kembali ceria dan terlihat bersemangat.


Karena keadaannya membaik, Dokter memperbolehkannya untuk pulang dan beristirahat di rumah.


Sesampainya di rumah, Qia langsung menuju kamarnya. Dia ingat dengan Cincin berlian yang diberikan oleh Keynand. Gadis itu merogoh kantong Gamisnya kemudian menemukan benda itu di sana.


Dia berjalan ke arah lemari untuk menemukan Kotak perhiasan berwarna merah berbentuk hati yang merupakan tempat Cincin itu. Tidak lama mencari Qia menemukan benda itu lalu menyimpan cincin itu di sana kemudian menaruhnya kembali di tempat semula.


Qia menghela nafas panjang. Ada kelegaan di hatinya, meskipun cinta untuk Keynand masih bertahta di sana. Dia tidak ingin berrpura-pura berhasil menghapus rasa cinta itu, pada kenyataannya sangatlah sulit. Bukan tak bisa, hanya menunggu waktu saja agar rasa itu benar-benar hilang.


"Dek, Pemuda yang menolong kamu itu tampan banget. Wajahnya teduh, senyumnya manis terus matanya sangat menenangkan. Dia terlihat sangat berpendidikan sudah gitu sopan banget."


Habibah tiba-tiba saja sudah berada di sisi Qia kemudian menceritakan tentang ketampanan seorang Pemuda yang menolong adiknya.


Qia hanya mendengarkan apa yang disampaikan oleh Kakak Iparnya itu dengan tatapan tak mengerti. Apa maksudnya Habibah menyanjung Laki-laki lain yang bukan mahromnya.


"Ehem."


Rizqy berdehem dengan berusaha menenangkan gemuruh di dalam dadanya. Jujur saja dia cemburu karena Isterinya menyanjung Laki-laki lain di hadapannya.


"Mas mendengarkannya? Apa Mas cemburu?" tanya Habibah dengan santainya. Sementara Qia tertawa melihat raut wajah Rizqy yang tak enak di pandang mata.


"Bibah, apa kamu tidak merasa bersalah menyanjung Pria lain? Sementara Suami kamu mendengarkannya? Sungguh Mas cemburu buta," jawab Rizqy dengan nada dingin. Dia ternyata jujur juga padahal sebenarnya seorang Laki-laki tidak akan pernah mau mengakui kalau mereka sedang cemburu. Mereka hanya menunjukkannya dengan ekspresinya yang cemberut.


"Mas lebay deh! Gitu saja cemburu. Aku sedang mempromosikan seorang Ustadz muda yang tampan dan soleh kepada Qia. Siapa tahu saja Qia kepincut gitu? Kalau Bibah, mah udah kepincut sama Mas Rizqy yang gagah, jadi mana mungkin berpaling," sahut Habibah berterus terang dengan alasannya menyanjung Pemuda itu.

__ADS_1


"Serius sayang? Yes yes yes. Tuh kan Suamimu yang gagah ganteng ini bakalan selalu berhasil mengalahkan Pria-Pria di luaran sana."


Qia mencebikkan bibirnya melihat kenarsisan Kakaknya itu. Sedangkan Habibah memperlihatkan gelengan Kepalanya.


"Berarti Mas sepaham dong dengan apa yang sedang aku pikirkan? Pemuda itu sayang untuk diabaikan. Dia Pemuda yang potensial. Setuju, kan?" tanya Habibah setelah sesi kenarsisan Rizqy berakhir.


"Maksudnya apa?" tanya Rizqy kebingungan. Rasa cemburu yang sudah berada di ambang mengkhawatirkan terlihat mulai terselamatkan. Rizqy tidak lagi memasang wajah sebalnya kepada Sang Isteri.


"Ayolah Mas, ini sangat mudah untuk di mengerti," sahut Habibah gemas melihat Rizqy yang menggaruk tengkuknya.


Mereka berdua saling pandang memberikan isyarat dan kode yang sangat mudah sebenarnya di pahami oleh Rizqy.


"Apa Habibah ingin menjodohkan Qia dengan Ustadz itu? Sepertinya Isteriku ini terlalu jauh berpikiran." Rizqy membatin. Dia melihat mata indah itu seperti memohon meminta persetujuannya.


Sementara Qia kebingungan dengan yang di bicarakan oleh pasangan Suami Isteri yang dengan setia menemaninya.


Siapa Ustadz yang sedang di bahas oleh kedua Kakaknya? Kenapa Ustadz itu sangat menarik perhatian mereka berdua. Qia di rundung penasaran.


"Kamu senang sekali membuat adik kita kebingungan. Lihatlah raut wajahnya begitu memprihatinkan dan jelek," ucap Rizqy sengaja mengejek adiknya.


"Saya memang Gadis memprihatinkan dan jelek, kakak puas?" timpal Qia sewot. Selain membuatnya bingung dengan pembicaraan mereka. Kakaknya itu dengan hati gembira mengejeknya. Pingin rasanya Qia mengambek selama sebulan penuh agar dendamnya terbalaskan. Tapi, tapi siapa Ustadz yang katanya tampan dan soleh itu? Kalau beneran mengambek berarti tentang Sang Ustadz bakalan terlewatkan. Ini tidak bisa dibiarkan, Qia ternyata penasaran juga dengan Sosok Pemuda yang menolongnya. Gadis itu mendengus kesal.


Secara berbarengan Rizqy dan Habibah menertawakan tingkah Qia yang menurut mereka lucu.


Qia kian cemberut dan juga kesal dengan kedua Kakaknya yang kini dengan berani menertawakannya. Sumber kekesalannya hari ini adalah Pemuda bergelar Ustadz itu. Lihat saja dia akan membuat perhitungan kepadanya. Berani-beraninya dia telah membuat Kakak Iparnya menyanjungnya. Padahal Kakak Iparnya itu pelit pujian kepada Pria lain.


***


Rasya merebahkan tubuhnya di atas Ranjang. Dia melihat teman satu kamarnya sudah terlelap dalam dekapan mimpi. Lalu mengalihkan matanya menatap langit-langit kamarnya.


Dia tenggelam dalam lamunan. Pikirannya kini terpaut pada Gadis bermata bulat besar itu. Qia berhasil menghadirkan getar-getar dalam hatinya. Namun buru-buru Pemuda itu menepisnya. Kesadarannya masih terjaga dan mengingatkan kepadanya bahwa seorang Gadis yang telah di kitbah, maka laki-laki lain tidak boleh mendekatinya. Kecuali Gadis tersebut sudah di lepas ikatan kitbahnya oleh Laki-laki yang menjadi calon Suaminya.


"Saya ingin Qia sembuh, sehingga bisa menatap indahnya dunia ini dengan senyum cerianya. Menjalani hari-harinya penuh semangat dan mewujudkan cita-cita yang menjadi motivasi hidupnya. Terlepas dengan siapa dia bersanding kelak, sebagai orang yang mengenalnya tentu mendoakan yang terbaik untuknya."


Rasya memutuskan akan mendekati Qia sebagai teman yang baik untuknya.


Lamunan Pemuda itu buyar saat deringan Handphone terdengar. Rasya mengambil Handphone lalu melihat siapa yang sedang menghubunginya. Tidak berpikir lagi dia mengangkat panggilan tersebut dengan harapan orang ingin berbicara dengannya bisa menjawab pertanyaan yang terlanjur ada di pikirannya.

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam."


Rasya membalas salam dari seseorang yang menghubunginya.


"Kamu baik-baik saja Sya? Betah di sana?"


Rasya menjawab keadaannya di sini yang sangat baik-baik saja. Dia juga merasa betah walaupun berada di Pesantren jauh dari Pusat Kota. Pemuda itu menceritakan hari-harinya yang penuh dengan nilai kehidupan.


"Syukur Alhamdulillah kalau Nune baik-baik saja di sana, Mamiq sama Inaq merasa lega."


"Nggih Inaq, jangan terlalu mencemaskan Rasya." Rasya sudah terbiasa hidup mandiri dan jauh dari orang tua meskipun Rasya sebenarnya ingin tenggelam dalam pangkuan Ibunya tapi demi asa, maka Rasya harus menahan rasa rindu dan inginnya itu.


Rasya berusaha menanangkan pikiran kedua orang tuanya yang mungkin saja mencemaskan keadaannya.


Padahal sudah sedari duduk di Bangku Sekolah Menengah Pertama dia di Pesantren jauh dari penjagaan kedua orang tuanya. Setelah lulus dari Pesantren lagi-lagi harapannya berkumpul dengan keluarga harus di tahannya karena dia terbang ke Madinah untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.


Namun kedua orang tuanya tetap saja mengkhawatirkannya dan menganggap anak bungsunya itu masih belum mampu menapaki kehidupan di luaran sana. Rasya sangat bersyukur dan selalu berterima kasih atas perhatian orang tua dan saudara-saudaranya.


Kedua orang tua dan Saudara-saudaranya adalah anugerah yang sangat berharga untuknya, maka dari itu Rasya berusaha mempersembahkan yang terbaik untuk mereka.


"Sya, Kakakmu ingin bicara."


Terdengar suara berbeda dari ujung sana. Rasya tenggelam dalam obrolan dan canda tawa bersama Kakak Laki-lakinya itu. Dia kemudian ingat dengan apa yang ingin di ketahuinya tentang Qia. Dia buru-buru menceritakan sebelum panggilan itu di akhiri.


"Kak, Rasya ketemu dengan Calon Isteri Abang Keynand. Dia tinggal di sini dan keadaannya tidak baik-baik saja, Qia sakit parah, Kak. Apa Abang Keynand mengetahuinya?"


Deg


Kakaknya terkejut dengan apa yang diceritakan oleh Rasya. Dia terdiam cukup lama dan tidak menghiraukan panggilan dari Rasya yang berulang-ulang.


"Kak Hamiiiiiz!"


Bersambung.


Jadi, Pemuda yang menolong Qia dan dipanggil Ustadz adalah Rasya. Apa teman-teman ingat siapa Rasya?


Kalau begini ceritanya Keynand akan segera menemukan Qia, dong!

__ADS_1


Terus kalau ketemu akan seperti apa?


__ADS_2