
Di tempat yang berbeda, Habibah dan Rizqy sedang menikmati kebersamaan sebagai Pengantin baru. Saat ini Rizqy sedang menunggu kehadiran pujaan hatinya itu dengan membaca sebuah buku di ruang tamu.
"Sudah siap Mas, yok kita ke Masjid," ucap Habibah. Dia menghampiri Suaminya yang sedang menunggu di ruang tamu.
Rizqy tersenyum menyambut kehadiran Isterinya. Dia menaruh buku yang dibacanya pada Rak. Setelahnya memandang Isterinya dengan lekat.
Habibah terlihat cantik dengan balutan gamis berwarna Kuning gelap dengan jilbab lebar berwarna sedana. Pada tangannya tertenteng Tas yang dipastikan berisi alat Shalat.
"Ayok sayang, ini Shalat tarawih pertama kita setelah menjadi Suami Isteri. Rasanya tidak menyangka hari ini kamu berada di sisiku," ucap Rizqy. Matanya berbinar-binar menunjukkan kebahagiaan.
"Iya Mas," sahut Habibah singkat. Senyum menawannya dia pamerkan terkhusus untuk Suaminya itu.
Mereka keluar dari rumah, mengunci Pintu lalu dengan perasaan tenang mereka meninggalkannya.
Sepasang Suami Isteri itu berjalan melewati jalan setapak menuju Masjid yang jaraknya sekitar 100 meter dari rumah yang mereka tempati.
"Berjalan berdua dengan Kekasih hati, jarak jauh pun tidak berasa lelah. Mungkin itulah yang dirasakan mereka yang sedang berpacaran," ungkap Rizqy. Dia menggenggam erat tangan Habibah. Menikmati malam dengan suara gemericik air pancuran dan suara binatang malam yang memperdengarkan suara tatkala malam menghampiri.
"Mungkin? aku enggak tahu, enggak pernah ngerasainnya. Saat pacaran sama Mas Rizqy dulu, kita jarang jalan berdua apalagi Shalat tarawih bersama. Saat bulan Ramadhan, kita berdua jaga jarak, iya kan?" sahut Habibah. Dia mengenang kebersamaan mereka dulu.
"Iya, iya. Nah sekarang kita harus menikmati itu."
"Iya, kah? kalau begitu aku ingin tahu rasanya," sahut Habibah memperelat genggaman tangannya.
Mereka melanjutkan perjalanan diiringi obrolan dan canda tawa. Saat bertemu rumah penduduk, Rizqy melepaskan genggaman tangannya. Seperti biasa, di hadapan orang lain mereka mentiadakan kemesraan. Pasangan itu tidak suka mengumbar kemesraan karena sejatinya seperti itulah adapnya jika di depan umum.
"Tabek Amaq," ucap Rizqy menyapa seseorang yang sedang duduk di teras rumahnya.
"Nggih, mampir dulu untuk ngopi," sahut Pemilik rumah dengan senyum ramah.
"Lain kali Amaq," jawab Rizqy berbasa-basi. Habibah hanya tersenyum. Terlihat Lelaki Paruh baya itu mengangguk mengiringi kepergian sepasang Suami Isteri itu.
Beberapa langkah lagi mereka berdua sampai disebuah Masjid. Habibah dan Rizqy mempercepat langkah menuju tempat Wudhu. Setelah berwudhu barulah menuju Shaf masing-masing.
Di dalam Masjid sudah penuh dengan jamaah yang sangat bersemangat melaksanakan segala ibadah. Di dahulukan Shalat Sunnah yang dikerjakan secara Pribadi baru dilanjutkan Shalat wajib Isya. Selepas itu barulah Shalat tarawih dilaksanakan.
Beberapa menit berlalu, segala ibadah sudah ditunaikan. Rizqy terlihat keluar dari dalam Masjid. Dia melihat Adrian, dengan bergegas menghampiri Pemuda itu.
"Adrian, apa khabar? tumben keliatan setelah hari itu, ngilang begitu saja," sapa Rizqy dengan senyum ramahnya.
"Sibuk Om, enggak sempat mengajak orang lain mengobrol," sahut Adrian datar. Senyumnya terlihat pada bibirnya. Namun senyum itu seakan dipaksakan.
"Oh gitu!" sahut Rizqy singkat.
"Iya begitu, tidak seperti Om Rizqy yang mempunyai banyak waktu luang. Banyak yang harus saya kerjakan dan tidak punya waktu mengajak siapapun mengobrol. Persiapan sebagai Calon Suami yang mampu menafkahi Isteri dan anaknya dan tidak mengandalkan nafkah dari seorang Wanita yang berstatus Isteri," sahut Adrian terdengar seperti menyindir.
Rizqy mengernyitkan dahinya. Dia bertanya-tanya kenapa Adrian berkata seperti itu? Rizqy tak mau memusingkan hal itu. Lebih baik memberikan semangat kepada niat baik Pria di hadapannya.
__ADS_1
"Harus itu, sebagai Laki-laki sudah sepatutnya memberikan kehidupan yang sejahtera untuk kedua orang tua dan keluarganya sendiri. Contoh Suami idaman ini," ucap Rizqy sambil menepuk bahu Adrian.
"Terima kasih, sayang sekali Kak Oci tidak mendapatkan Suami idamannya. Dia malah berjuang memberikan kesejahteraan untuk Suaminya. Om hanya bisa menyemangati orang lain tapi tidak bisa menyemangati diri sendiri. Kerjaan Om hanya menanam Pohon, apa ingin mendapatkan penghargaan dari orang lain. Apa Ingin dianggap Pahlawan."
Rizqy kembali tercengang, apa maksud dari perkataan Pemuda ini. Dari kata-kata yang terucap, dia seakan tidak menyukai dirinya. Itulah yang dipikirkan oleh Rizqy. Rupanya Adrian salah faham tentangnya. Mungkin saja Pemuda itu mengira kalau Rizqy merupakan Lelaki pengangguran yang tidak memiliki pekerjaan.
Dia jadi teringat saat Adrian mempertanyakan pekerjaannya. Saat itu Habibah-lah menjawab dengan mengatakan Suaminya bekerja di Perusahaan Event Organizer.
"Saat ini Mas Rizqy jadi pengacara alias pengangguran banyak acara. Dia baru saja melepaskan jabatannya sebagai buruh angkut Kursi," jawab Habibah bergurau.
Baik Rizqy dan Habibah tidak menjelaskan apapun tentang Pekerjaannya. Orang lain hanya tahu, Rizqy bekerja di Event Organizer Wedding dan mereka tidak tahu Perusahaan EO itu milik Rizqy sendiri.
Rizqy hanya tersenyum menanggapi perkataan Adrian yang terkesan memojokkannya. Dia memilih tak menjelaskannya karena akan percuma. Rizqy menyadari Adrian tak menyukainya. Entahlah, apa alasannya? Rizqy tak ingin mengetahui itu.
"Mas ternyata ada disini?" ucap Habibah. Setelah dia berada di hadapan Rizqy dan Adrian.
"Adri juga ada disini?" sambung Habibah berbasa-basi.
"Iya," sahut Adrian singkat.
"Mas mau langsung pulang atau mau ikut Tadarusan?" tanya Habibah memastikan.
"Memangnya Om Rizqy bisa mengaji? dari tampannya saja terlihat jelas bahwa Om tidak pernah membuka lagi Alqur'an," sela Adrian dingin sebelum Rizqy menjawabnya.
"Adrian, mungkin saya tidak sepintar kamu mengajinya? tapi adakah sopan santunmu untuk tidak menyela pembicaraan orang lain," sahut Rizqy datar. Tidak ada kemarahan disetiap kata-katanya. Tenang, itulah yang ditunjukkan Pria itu.
"Bagaimana dengan Bibah? apa mau mengaji? jika mau mengaji, Mas tunggu di sini," jawab Rizqy setelah kepergian Adrian.
Habibah mengangguk, dia kembali ke Shaf perempuan. Sedangkan Rizqy bergabung dengan Para Lelaki. Sebelumnya dia mengambil Alqur'an kemudian ikut duduk di samping seorang Bapak-bapak.
Rizqy ikut menyimak, dengan seksama dia memperhatikan huruf-huruf yang diucapkan oleh orang yang sedang mengaji.
Saat terjadi kekeliruan, Rizqy dengan cepat menyela.
"Maaf, Nun sukun atau tanwin bertemu dengan huruf Lam dan Ro itu tidak di dengungkan karena itu Idgham Bilaghunnah. Bila artinya tidak/tanpa sedangkan Ghunnah maknanya berdengung. Harus dibaca dengan cara meleburkan huruf Nun sukun atau tanwin menjadi suara huruf hijaiyah sesudahnya yaitu huruf Lam atau Ro. Sedangkan Idgham Bighunnah baru di dengungkan." Rizqy menjelaskan panjang lebar dan memberikan contoh cara mengucapkannya.
"Katanya tidak boleh menyela? apa disini Om Rizqy sedang memperlihatkan Sok pintarnya," ucap Adrian mencibir.
"Mas ini benar, kok! Saya juga menangkap Adik ini salah dalam bacaan Alqur'annya," ucap seorang Bapak-bapak yang ikut menyimak.
"Maaf jika saya keliru dan salah mendengar." Rizqy memilih meminta maaf dan tidak ingin memperpanjang perdebatan.
"Nah itu sadar, jadi jangan sok tahu," sahut Adrian sinis.
"Mas Adrian, Mas ini tidak keliru dan salah dengar, kok! memang saya yang keliru membacanya. Seharusnya tidak didengungkan tapi saya dengungkan," ucap Adik itu menyudahi perdebatan yang tidak semestinya terjadi. Dia melanjutkan bacaan Alqur'annya.
Selesai Adik itu mengaji dilanjutkan orang lain yang menunggu giliran. Rizqy juga ikut mengaji, setelah beberapa juz, dia menyudahi karena hari sudah larut malam. Dan karena Habibah menghampiri, itu artinya Habibah juga sudah menyudahi bacaan Alqur'annya.
__ADS_1
Rizqy berpamitan, dibalas terima kasih karena telah berbagi ilmu meskipun ilmu yang dibagi itu tidak seberapa dan sebatas yang diketahuinya saja. Namun ilmu itu tetaplah penting dan bermanfaat bagi orang lain.
Sepasang Suami Isteri itu kembali melewati jalan setapak menuju rumah Habibah. Setelah sampai rumah, Rizqy menuju ke arah Dapur mengambil air minum lalu meneguknya hingga tandas.
"Bibah, sudah ditutup semuanya?" tanya Rizqy tatkala melihat Habibah melangkah ke arah kamar.
"Beres, Mas," sahut Habibah singkat.
"Iya sudah kita bobok, nanti kita makan sahur jangan sampai kita malah enggak denger suara Adzan pertama saking nyenyak tidurnya," ucap Rizqy sambil menggandeng tangan Habibah mengajaknya ke Peraduan.
"Rupanya Mas tahu cara membangunkan orang untuk sahur yang diajarkan Rasulullah, yakni dengan cara mengumandangkan Adzan bukan mengucapkan Sahur, sahur, sahur." Habibah berkomentar dengan senyum indahnya.
"Iya, tapi sebagian orang enggak tahu itu. Jadinya perlu membangunkan dengan cara mengucapkan sahur, sahur, sahur. Kalau Adzan saja nanti dianggap Adzan Subuh. Mereka enggak jadi, dong! makan sahurnya malah buru-buru melaksanakan Shalat," sahut Rizqy.
"Iya juga, sih!"
Setelah sampai kamar, Rizqy dan Habibah merebahkan tubuh mereka pada kasur berbahan Kapuk.
Habibah seperti biasa menaruh Kepalanya pada dada bidang Suaminya. Sedangkan Rizqy memeluk erat tubuh Isterinya untuk memberikan rasa nyaman kepadanya.
"Bibah, Mas ngerasa Adrian sepertinya tidak menyukai Mas. Apa sebabnya, ya?" tanya Rizqy sebelum benar-benar terlelap.
Habibah memandang wajah Suaminya. Ada kegelisahan yang berusaha di sembunyikannya.
"Perasaan Mas Rizqy kali?"
"Tidak, Adrian terang-terangan memperlihatkannya," sahut Rizqy serius.
Huf
Habibah menarik nafas panjang. Dia bingung harus menjelaskan kenapa Adrian bersikap seperti itu. Namun harus dijelaskan agar tidak di dengar dari orang lain. Bisa-bisa terjadi kesalah fahaman, mungkin saja hal itu bisa memperburuk hubungan mereka berdua.
"Mas, jangan marah jika aku menjawab kenapa Adrian bersikap seperti itu," ucap Habibah memastikan terlebih dahulu Suaminya itu tidak menanggapi dengan amarah.
"Kenapa musti marah? memangnya apa yang terjadi dengan Adrian?" Rizqy menjawab dengan rasa ingin tahunya.
"Bibah baru tahu ternyata Adrian memiliki perasaan dan dia pernah berkata jujur tentang perasaannya itu," ucap Habibah dengan hati-hati.
Rizqy terdiam saat mendengarkan alasan dari sikap Adrian yang tak menyukainya. Dia menggela nafas yang terdengar berat. Rizqy memperelat pelukan terasa lebih posesif.
"Mas tidak marah, Mas percaya sama kamu," ucap Rizqy setelah lama terdiam.
Bersambung.
Assalamu'alaikum. Maaf teman-teman dalam Chapter ini sedikit membahas tajwid semoga saja saya tidak keliru. Semoga ada dari teman-teman menambahkan agar bacaan kita semakin fasih.
Selamat menjalankan Ibadah puasa yang tinggal esok hari, semoga segala amal Ibadah kita di terima oleh Allah Azza Wa jalla. Aamiin.
__ADS_1
Terima kasih bagi teman-teman yang selalu setia menunggu up dan membaca karya receh ini.