Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
S2.11


__ADS_3

Qia duduk pada sebuah bangku yang ada di taman. Pandangannya lurus ke depan seakan berusaha melihat masa depannya yang terlihat suram. Tidak ingin seperti itu, dia mengukuhkan tekadnya dalam hati bahwa dia akan sembuh dan segera meraih impiannya yang kini tertunda. Dia meyakinkan hatinya, hidupnya akan bahagia walaupun tidak harus bersama Keynand.


Puas melihat apa yang ada di hadapannya. Kini pandangannya dia alihkan pada dua cincin yang tersemat di jarinya. Cincin yang diberikan oleh Keynand sebagai tanda keseriusan Pria itu kepada dirinya. Cincin berbahan akar yang melingkari Jari manisnya dan cincin berlian yang sangat indah melingkari jari kelingkingnya.


"Abang Keynand, cincin ini tidak berhasil mengikat hati kita dalam hubungan yang halal. Sudah saatnya aku melepaskannya seperti halnya aku mengikhlaskan Abang bersama Wanita lain. Jujur saja, aku bisa mengatakan kepada siapapun bahwa cinta yang ku punya untukmu sangat mudah untuk tidak aku hiraukan lagi, tapi pada kenyataannya aku telah menipu semua orang dan yang terparah diriku sendiri."


Qia bermonolog dalam hening sembari menatap cincin yang berkilauan di Jarinya.


"Bahkan cincin dari Abang pun seakan tidak mau lagi melingkar di jari ini," sambung Qia. Tangannya mulai bergerak melepaskan cincin berlian itu yang terasa longgar di Jarinya. Jari-jarinya kini terlihat kurus ikut merasakan penderitaannya. Tidak mungkin Cincin berlian itu akan bertahan di sana sementara tempatnya sudah tak mampu lagi memberikan ruang yang kokoh.


Gadis bermata sayu itu kemudian menyimpan Cincin berlian itu pada Kantong Gamisnya. Suatu saat nanti, ketika hatinya sudah siap bertemu dengan Keynand dia akan mengembalikannya. Cincin itu tidak berhak dia miliki karena tuannya bukan dirinya lagi melainkan Julaekha Syarifah. Hatinya sakit menerima kenyataan ini, tapi ia harus kuat menahannya. Lama kelamaan dia akan terbiasa dengan rasa perih itu.


"Abang Keynand, rupanya harapan kita untuk hidup bersama dalam kebahagiaan yang di ridhoi Tuhan berakhir menjadi bayang. Tidak ada lagi Qia yang di cintai Keynand, dalam angan pun sepertinya sudah tidak tersisa lagi. Kini berakhir sudah apa yang menjadi inginku, karena Wanita lain yang berhasil mengambilnya."


Qia dengan cepat menyeka air matanya yang tiba-tiba saja merembes. Air mata yang berusaha mengikis luka yang teramat dalam dan menghanyutkannya dalam deras alirannya sehingga tak bersisa sama sekali lalu mengering.


Terlalu lama Gadis itu terduduk di sana, bahkan dia tidak menyadari kehadiran seorang Pemuda yang dalam diam menemani.


"Ya Allah ada apa lagi ini, kenapa tubuh ini kembali tak memiliki tenaga?"


Qia kembali merasakan tubuhnya lemas. Degub Jantungnya terasa berdetak lambat. Dia bangkit dari duduknya lalu berjalan dengan pelan menuju arah rumah. Baru saja beberapa langkah berjalan, dia merasakan tubuhnya bergetar hebat. Keringat dingin bermunculan dan Kepala mulai terasa sakit.


"Astaghfirullah."


Qia terus saja melanjutkan langkahnya dengan lantunan istigfar terucap dari bibir. Semakin jauh melangkah, semakin dia tidak sanggup untuk menahan rasa sakit.


Braaak


Pada akhirnya tubuh lemah itu ambruk tak sadarkan diri bersama pekikan dari para Santri yang tanpa sengaja melihatnya.


"Astaghfirullah, ada yang pingsan."


Beberapa orang Santriwati bergegas menghampiri tubuh Qia yang sudah terbaring di tanah.

__ADS_1


Seseorang ikut mendekat saat mendengar suara benda jatuh dan pekikan para Santriwati. Seseorang itu dengan sigap meraih tubuh itu lalu membawanya ke Pusat kesehatan yang ada di Pesantren.


"Dokter, mohon bantuannya Gadis ini pingsan," ucap Seseorang itu dengan rasa cemas yang terlihat jelas. Dia segera membaringkan tubuh Qia pada brangkar yang tersedia di sana.


Setelah membaringkan tubuh Qia, seseorang itu keluar memberikan waktu kepada Dokter untuk memeriksa keadaannya.


"Apa kalian tahu siapa dia?" Tanya Seseorang itu kepada beberapa Santriwati yang ikut bersamanya.


"Maaf Ustadz kita tidak mengenalnya. Sepertinya kakak tadi Santriwati baru di sini," jawab salah satu Santri yang mewakilkan teman-temannya.


Seseorang yang dipanggil Ustadz itu mengangguk mengerti. Dia kemudian berterima kasih kepada para Santriwati yang ikut menemani membantu Gadis yang tidak di kenal sama sekali oleh mereka.


Ceklek


Pintu terbuka kemudian menampilkan seorang Dokter Wanita dari arah dalam ruang tersebut.


"Qia tidak apa-apa, dia hanya kelelahan saja," ucap Sang Dokter menjelaskan keadaan Pasiennya.


"Terima kasih Dokter. Oh ya apa dokter mengenal Gadis itu?"


Pemuda itu terkejut, dia tidak menyangka Gadis yang baru saja di tolongnya mengidap penyakit yang sangat parah.


"Apa Dokter memiliki kontak keluarganya? Minta tolong di hubungi," ucap Pemuda itu meminta bantuan kepada Dokter Wanita yang masih setia menemaninya.


"Baik Ustadz."


Sang Dokter menghubungi Umi Ika untuk memberitahu keadaan Qia kepada keluarganya. Umi Ika terdengar cemas karena tidak menyangka tubuh Qia sangatlah lemah. Selama melakukan Rukyah, Qia tidak pernah sampai tidak sadarkan diri. Dia hanya terkulai lemah dengan tetap berbaring beberapa saat untuk mengembalikan tenaganya.


Apa yang terjadi dengan Gadis itu sehingga sampai pingsan? Pertanyaan itu terlontar begitu saja saat berbicara dengan Dokter.


"Jangan khawatir Qia Gadis yang kuat. Dia pasti berhasil melewati semua ini," ucap Sang Dokter menenangkan Pemuda di hadapannya yang terlihat cemas.


"Sepertinya Ustadz sangat mencemaskan keadaan Qia. Jangan bilang ada sesuatu yang terjadi di hati Ustadz saat bertemu dengan Qia untuk pertama kalinya, kan?" Sambung Sang Dokter menebak arti dari kegelisahan yang di tunjukkan oleh Pemuda yang ada di hadapannya.

__ADS_1


Dia menggelengkan kepala membatah anggapan Sang Dokter. Pemuda itu tahu kalau Qia sudah ada yang mengkitbahnya, jadi mana mungkin dia memiliki ketertarikan kepada Gadis itu. Dia ingat siapa Qia sebenarnya dan dia sangat mengenal Laki-laki yang menjadi Calon Suaminya.


"Benar begitu Ustadz? Tapi berkata jujurlah jangan pernah membohongi orang lain," ucap Sang Dokter membuat Pemuda itu terkejut dan bingung dengan arah bicara Dokter Wanita di hadapannya. Pemuda itu kemudian menanggapi perkataan itu dengan senyum ramah.


Saat mereka asyik mengobrol, terdengar suara langkah mendekat. Setelahnya terdengar suara salam yang di balas secara bersamaan oleh Sang Dokter dan Pemuda itu.


"Dokter bagaimana keadaan adik saya?" tanya Rizqy.


"Alhamdulillah Qia tidak apa-apa hanya kelelahan saja," jawab Sang Dokter diiringi dengan senyum ramahnya.


"Syukur Alhamdulillah, tadi saya berkeliling mencari Qia begitu menyadari sudah terlalu lama meninggalkan rumah. Saya sangat khawatir, karena baru kali ini Qia berjalan cukup jauh semenjak dia sakit," tutur Habibah yang terlihat sangat mencemaskan keadaan Qia.


Mereka berdua kemudian minta izin untuk membesuk Qia yang masih terbaring lemah di dalam. Sementara Dokter berpamitan untuk melanjutkan tugasnya bersama Pemuda yang menolong Qia.


Sebelumnya Sang Dokter sempat memperkenalkan Pemuda itu kepada Rizqy dan Habibah sebagai orang yang menyelamatkan adik mereka.


Rizqy dan Habibah masuk ke ruang rawat Qia. Mereka melihat Qia sudah membuka mata.


"Qia apa yang terjadi? Kenapa sampai pingsan? Seharusnya Kak Bibah menemani kamu jalan-jalan bukannya membiarkan kamu sendirian, maafkan Kak Bibah," ucap Habibah sedih. Ada rasa cemas dan sesal terlihat pada kedua mata indah itu.


"Kak, Qia tidak apa-apa. Hanya terlalu bersemangat ingin sembuh jadi tidak menyadari kondisi badan belum benar-benar fit."


Qia sangat bahagia kedua Kakaknya sangat memperhatikan keselamatannya. Namun di sisi lain, dia merasa menjadi adik yang tak berguna karena selalu saja membuat kedua Kakaknya itu mencemaskannya. Dia benar-benar payah dan dia tidak suka dengan keadaannya ini. Ada tekad kuat dalam diri Gadis itu agar segera bebas dari belenggu jahat ini.


"Dek lain kali kalau kamu pergi sendiri terus merasa kecapean segera hubungi Kakak. Kakak akan melesat menghampiri dimana pun berada," ucap Rizqy dengan tegas.


Qia menatap kakaknya dengan gemas kemudian menggelengkan Kepalanya tidak percaya. Dia tahu Kakaknya sangatlah sibuk, jadi mana mungkin dengan segera menolongnya.


"Emang bisa Kak? Kalau Kakak ada di Sekolah bagaimana?" tanya Qia sembari mencebikkan bibirnya. Gadis itu memperlihatkan ketidak percayaannya itu.


Bersambung.


Hai teman-teman.

__ADS_1


Terima kasih saya ucapkan kepada teman-teman yang sudah menyediakan waktunya untuk membaca karya ini.


__ADS_2