
"Apa Polisi tidak ada kerjaannya sehingga mengganggu kami yang sedang bekerja. Lihatlah ini barang legal dan isinya hanyalah makanan impor."
Martin dengan sinis mengejek Rudi. Rudi dan timnya diketahui malam ini melakukan penggerebekan terhadap aktivitas transaksi gelap yang dilakukan Martin.
Semua informasi malam ini mereka dapatkan dari Lily yang berhasil merekam pembicaraan Martin dan Wanita bernama Evelyn. Rupanya mereka terkecoh dengan seribu muslihat yang sedang di jalankan pasukan licik itu. Padahal jelas-jelas informasi yang diberikan oleh Lily sama dengan hasil penyelidikan para intel. Tapi kenapa barang-barang legal lengkap dengan dokumen perizinannya yang mereka temukan, bukan obat-obat terlarang yang para Polisi duga selama ini.
"Sebaiknya Bapak-Bapak terhormat pulang lalu tidur dan bermimpi dengan indah. Bila perlu manjakan Isteri kalian. Cuaca sedang mendukung bukan? Dingin-dingin empuk. Pergilah dan biarkan kami bekerja dengan baik."
Martin kembali mengeluarkan ejekan dan menampilkan senyumnya yang terlihat menyebalkan.
"Sial, kita gagal lagi. Apa mungkin Martin sudah mengetahui pergerakan kita?" Rudi membatin dengan seribu tanya di Otak. Dia tersenyum kecut berusaha menahan kekesalannya malam ini. Rudi dan timnya gagal menangkap kembali Martin yang merupakan musuh bebuyutannya. Tidak ada alasan untuk menangkap Martin karena bukti berhasil mereka lenyapkan.
Rudi menarik pasukannya dengan wajah masam penuh dengan amarah. Lagi-lagi mereka di pecundangi.
Apa informasi yang mereka dapatkan salah ataukah ada penghianat di tim mereka sehingga terdengar di telinga para penjahat itu membuat operasi mereka selalu gagal.
"Ada pergerakan yang nampak mencurigakan. Saya akan mengejarnya," ucap Qia memberitahu Lika dan Lily yang ikut dalam misi ini. Setelah memberitahu, Qia berlari dengan sekencang-kencangnya menuju Motor. Dia menggunakan helm lalu dengan cepat menghidupkan mesin motor tersebut kemudian mengendarainya dengan secepatnya.
Lika dan Lily saat mendengarkan apa yang dikatakan Qia langsung ikut bergerak cepat mengikuti Gadis itu yang sudah melesat jauh.
"Mas sepertinya kita di kelabui. Memang benar terjadi transaksi barang haram, Qia melihat orang yang mencurigakan meninggalkan dermaga dengan membawa sebuah barang."
Lika memberitahu Reynand saat mereka berdua sudah bergerak mengikuti Qia.
Mendengar khabar itu, Reynand memberitahu Rudi melalui isyarat agar tidak terbaca oleh siapapun.
Sedangkan Qia sudah berhasil mengejar dua orang yang sedang berboncengan. Satu orang yang di bonceng menggendong Tas Ransel yang di duga tersimpan Narkotika.
Pluk
Qia melempar Pengendara itu dengan sebuah batu yang seukuran sekepal. Beberapa kali lemparan berhasil membuat Pengendara itu pada akhirnya oleng dan tidak bisa lagi mengendalikan laju motor itu.
"Mau kabur kemana? Sebaiknya menyerah saja lalu dengan sukarela menyerahkan diri," ucap Qia sudah berdiri di hadapan dua Laki-laki muda.
Keduanya bangun lalu berdiri menghadap Qia. Kedua Pemuda itu menatap Qia dengan penuh minat dan ada senyum sinis meremehkan tercetak pada wajah mereka.
"Dari pada sibuk mengurusi kita berdua lebih baik kita bersenang-senang Nona. Bukankah kita berdua lumayan tampan, pasti Nona tergila-gila, kan?"
Salah satu Pemuda itu mengajak Qia berbicara sembari memandangnya penuh nafsu.
"Jangan banyak bicara, saya di sini untuk menghentikan langkah kalian berdua dan menyeret kamu dan kamu ke Penjera," sahut Qia sembari menunjuk satu persatu Pemuda itu.
"Hahahahaha."
__ADS_1
Terdengar tawa membahana. Tawa yang menyebalkan dan terdengar sangat mengejek. Qia kesal dengan Pemuda yang terlihat meremehkannya itu. Tanpa berpikir lagi Gadis itu langsung menyerang dan keduanya secara langsung menghadapi Qia dengan tangan kosong.
Cukup lama berkelahi, salah satu Pemuda itu mengingat sesuatu dan menyuruh salah satu temannya untuk meninggalkannya.
"Sebaiknya kamu pergi membawa barang ini. Biar saya sendiri yang bersenang-senang dengan Nona yang sok pemberani ini. Jangan sampai Nyonya dan Tuan marah karena barang-barangnya tidak sampai ke tangan mereka," ucap Pemuda itu kepada rekannya sembari melemparkan ransel itu.
Pemuda itu segera mengikuti perintah temannya. Qia tentu saja tidak membiarkan itu terjadi. Dia segera bergerak menghentikan laju kendaraan roda dua itu, tapi sayangnya di hadang oleh temannya.
"Mau apa Nona? Apa mau menggagalkan tugas kami? Tidak akan saya biarkan."
Qia mendapatkan serangan kembali dengan pukulan lumayan akurat, tapi Qia tidak gentar dengan serangan itu. Dia berhasil menangkisnya lalu berusaha menyerang kembali.
Saat mereka berkelahi, Lika dan Lily sampai di Lokasi penyergapan dua Pemuda yang di duga membawa barang-barang berbahaya.
Dor
Dor
Sreeeet
Bruk
Tidak ingin membiarkan Pemuda itu melarikan diri, Lily dari dalam Mobil menghentikan laju Motor itu dengan menembak kedua ban motor itu secara berurutan sehingga membuat Motor itu kembali terjatuh.
Lika membantu Qia sementara Lily menyerang Pemuda yang membara Ransel.
Buk
Buk
Buk
Ketiga Wanita pemberani itu bertarung melawan dua Pemuda yang ternyata sangat terlatih. Salah satu Pemuda mengeluarkan Belati dengan gerakan cepat mengarahkan Belati itu ke tubuh Lika.
"Mbak Lika awaaaas."
Qia yang melihat pergerakan itu berteriak memperingatkan Isteri dari Reynand. Saat ini dia terpental dan ambruk di tanah. Dia berusaha untuk bangun, tapi tidak mampu sebab tenaganya benar-benar terguras habis. Lika yang menyadari bahaya itu segera menghindar dari sasaran Belati yang mungkin saja bisa merobekkan bagian tubuhnya.
Praaaaang
Puk
Qia dengan sisa tenaga melemparkan batu yang di temukan di sampingnya. Batu itu mengenai tangan Pemuda itu sehingga Belati yang di pegangnya tidak kokoh lagi dalam genggamannya lalu terjatuh.
__ADS_1
Lika dengan gerakan cepat menendang bagian terlemah dari kaum Laki-laki. Tendangan itu sangat tepat sasaran dan dipastikan langsung melumpuhkan Pemuda itu. Terdengar erangan kesakitan darinya dan seketika itu Pemuda itu terjatuh.
Tidak lama kemudian terdengar suara Mobil mendekat. Beberapa orang keluar dari Mobil tersebut lalu di susul yang lainnya. Lika bernafas lega karena yang datang adalah Polisi.
"Jangan bergerak, kalian sudah di kepung,"
Polisi mengambil alih dengan menodongkan Senjata kepada dua Pemuda itu. Sangat cepat Rudi bergerak melumpuhkam Pemuda yang membawa Ransel dan satu Pemuda yang sudah tidak berdaya itu langsung di borgol tanpa perlawanan.
"Kalian tidak apa-apa?" tanya Reynand menghampiri Lika. Pun begitu juga dengan Lily yang di periksa bagian tubuhnya oleh Sang Suami, mungkin saja ada yang terkena goresan.
"Mas aku tidak apa-apa," jawab Lika yang menyadari Reynand begitu cemas atas keselamatannya.
"Bukan aku yang seharusnya di khawatirkan tapi Qia," sambungnya mengalihkan perhatiannya kepada Qia yang sedang duduk meluruskan kakinya. Dia terkena pukulan cukup keras dan terpelanting membuatnya tidak sanggup untuk bergerak. Tubuhnya terasa sakit, mungkin saja pukulan yang menggunakan tenaga dalam dari Pemuda itu menyebabkan Qia terluka lumayan parah.
"Astaghfirullah."
Reynand yang baru menyadari Qia terduduk lemah dan berusaha menahan rasa sakit di sekujur tubuh segera menghampiri Qia bersama Lika dan Lily. Lika dan Lily memapah Gadis itu menuju Mobil Reynand.
"Untung saja Qia berhasil melempar batu ke arah salah satu Pemuda itu, kalau tidak mungkin aku yang terkena sabetan belati."
Lika menceritakan kegentingan yang terjadi saat mereka bertarung. Ternyata salah satu darinya mempunyai tingkat bela diri yang tinggi. Beberapa kali Qia terkena pukulan tapi tidak menyurutkan tekadnya untuk melumpuhkan lawannya. Untung saja di saat dia mulai kehabisan tenaga Lika dan Lily datang membantu.
Qia segera di larikan ke rumah sakit bersama Reynand, Lexi, Lika dan Lily.
"Lapor, ternyata benar Ransel ini isinya Narkotika," lapor seorang Polisi kepada Rudi. Rudi meraih Ransel itu lalu memeriksa isi dari Ransel itu untuk membuktikan kebenarannya.
"Kita benar-benar di kelabui, untung saja Gadis yang bernama Qia melihat pergerakan mereka dan langsung berinisiatif untuk mengejar, jika tidak malam ini kita benar-benar membawa tangan kosong. Martin memang licik dan licin. Biarkan saja dia lolos malan ini tapi lain kali itu tidak akan terjadi. Setidaknya kita bisa menyelamatkan mereka dari bahayanya barang terkutuk ini dengan menghentikan peredarannya."
Rudi berucap dengan penuh semangat. Dia yakin akan segera menangkap Martin dan kali ini dia tidak akan pernah berhasil lolos dari jeratan hukum.
Rudi menyerahkan Ransel tersebut untuk diamankan sebagai barang bukti. Kalau di prediksi nilainya sangat fantastik. Bisa dibayangkan saat ini Martin pasti sangat murka ketika mengetahui barang dagangan tidak sampai di tangannya. Tentu dia akan menderita kerugian yang sangat besar. Apa peduli kita?
***
Lika dan Reynand memasuki kamar dalam keadaan lelah dan sangat mengantuk. Sebelum pulang ke Hotel pasangan Suami Isteri itu membawa Qia ke rumah sakit Ardiaz. Setelah mendapatkan penanganan baru keduanya meninggalkan rumah sakit dan memilih menginap di Hotel Ardiaz karena tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan pulang.
Baru saja keduanya terlelap, deringan telepon terdengar. Baik Reynand dan Lika secara kompak mengabaikan deringan tersebut. Namun bukannya berhenti, panggilan itu terus saja terdengar meminta Pemilik dari Handphone tersebut untuk segera mengangkatnya.
Reynand terpaksa bangun lalu meraih Handphone yang diingatnya berada di atas nakas.
(Apaaaaa? Keynand di tangkap Polisi di kediamannya karena kepemilikan Narkotika? Omong kosong apa ini?)
Bersambung.
__ADS_1