
"Berikan saya alasan kenapa saya harus menerima anda?"tanya Rizqia.Dia menatap wajah lawan bicaranya dengan sedikit menunduk untuk mencari kesungguhan di sana.
Keynand reaksinya cukup terkejut. Tidak menyangka mendapatkan pertanyaan yang menurutnya penentu keberhasilannya. Jika dia salah menjawab kesempatan untuk mempersunting Gadis ini akan sia-sia.
Sungguh, pertanyaannya menegaskan kehati-hatian dari seorang Rizqia. Tentu saja dia tidak mau salah melangkah sehingga memerlukan arah yang jelas agar dia tak menyesal nantinya.
Keynand menarik nafas. Jujur, dirasakan kini adalah gelisah karena tak memiliki jawaban yang tepat.
"Qia perlukah alasan itu?" tanya Keynand pada akhirnya bersuara.
Rizqia mengangguk.
"Jujur saya tidak yakin memiliki jawaban yang tepat," ucap Keynand kemudian.
"Saya tidak ingin menjanjikan apapun untukmu, karena kemungkinan saya tidak sanggup untuk menepatinya. Namun saya ingin bersamamu menjalani hari-hari di mana kita saling menyayangi, mengerti dan memahami keinginan masing-masing. Kita hidup bertugas untuk beribadah kepada Allah SWT, kan? Itu pasti sama dengan tujuan mu juga. Mengapa kita tidak menjalani bersama-sama dalam ikatan yang halal bersama saya?" Keynand pada akhirnya dapat memberikan jawaban yang tepat dengan lancarnya. Dia memandang Rizqia sesaat kemudian mengalihkan pandangan. Seperti halnya Gadis itu menunduk, Keynand melakukan hal sama.
"Menurut Pak Keynand, dalam ikatan pernikahan apa tidak perlu yang namanya cinta? Bisa kah kita menjalaninya? Mungkin bisa, kata orang cinta itu akan tumbuh seiring kebersamaan. Terus bagaimana jika cinta itu tidak kunjung hadir?"
Ah baru kali ini Keynand mendengarkan Rizqia berbicara lebih dari satu baris. Terdengar lembut dan merdu. Di awal sangat terhipnotis dengan tutur kata lembut itu, selanjutnya dia tersadar karena itu merupakan pertanyaan yang harus di jawabnya.
Tidak bisa di elak lagi. Di antara mereka tidak ada ketertarikan apalagi yang namanya cinta. Keynand tidak memiliki rasa cinta untuk Rizqia. Tidak seperti, saat bertemu dengan Habibah Rosy. Dia langsung mendapatkan getaran itu sejenak memandang paras manisnya. Tidak bisa di pungkiri sampai saat ini, Wanita bersuami itu masih menguasai pikirannya. Hanya cinta bertepuk sebelah kanan dan tidak mungkin akan bersambut.
Sedangkan Rizqia, Gadis ini hanya karena karakternya hampir mirip dengan mendiang Isteri membuat Keynand memilihnya.
Gusar memang!
"Qia, tentu hubungan itu harus di awali dengan adanya ketertarikan lalu adanya rasa cinta masing-masing terus berakhir dengan komitmen bersama," jawab Keynand dengan jelas setelah dia terdiam cukup lama.
Rizqia menyimak dengan baik dan membiarkan Keynand melanjutkan ucapannya.
"Mengenai cinta yang tidak kunjung ada di saat rumah tangga itu berjalan, saya sama sekali tidak bisa menebak apa yang akan dilakukan," lanjutnya. Dia menghela nafas panjang seakan menandakan berakhirnya apa yang diucapkannya.
Rizqia mengangguk mengerti. Dia memandang arus lalu lintas yang lengang. Terdengar obrolan orang-orang yang masih betah berada di taman. Cukup lama dia termenung, pun begitu juga dengan Keynand yang sibuk dengan pikirannya.
"Apa ada seorang Wanita yang Pak Keynand cintai selain Ibunya Raski?" tanya Rizqia. Pertanyaan itu mampu memecahkan keheningan yang terasa cukup lama setelah masing-masing terdiam.
__ADS_1
Harus kah menjawab? Sedangkan Rizqia menunggu kejujuran itu, terlihat dari cara dia memperhatikan Laki-laki di sampingnya.
"Iya, ada Wanita yang tengah saya cintai selain mendiang Isteri," jawab Keynand berterus terang.
Rizqia mendengarkan itu membuatnya terpaku sesaat. Ada rasa senang sekaligus entah di sudut hati. Tidak tahu rasa apa itu? Gadis itu tidak sama sekali mengenalnya.
"Kenapa Pak Keynand tidak menikahinya saja."
"Saya terlambat Qia. Ketika pertama kali bertemu saya menyadari ada desiran di dalam hati dan itu sudah pasti sebuah rasa cinta. Pertemuan kedua saya mendekatinya dan berharap mendapatkan balasan cinta. Namun di saat itu baru lah saya tahu dia sudah menikah. Pertemuan di hari pertama saat itu dia belum menikah. Dan penyesalan saya mengapa tidak langsung mengejarnya hari itu juga untuk mengenalnya." Keynand berterus terang. Dia tidak ingin menutupi apa yang di rasakan saat ini. Meskipun sadar ini akan mempengaruhi keputusan Rizqia.
"Jadi begitu? Pasti Wanita itu sangat istimewa sehingga berhasil membuat seorang Keynand Putra Ardiaz jatuh cinta pada pandangan pertama," ucap Rizqia datar tak memperlihatkan gelombang apapun.
"Benar, Habibah Rosy gadis biasa dan juga tidak terlalu cantik seperti para Bidadari. Namun ada sesuatu dalam dirinya membuat para Laki-laki menyukainya. Dia sama sepertimu, Gadis yang mempesona dengan kesedehanaannya." Keynand menjawab dengan apa adanya. Setiap kata seakan menggambarkan rasa yang terlanjur ada untuk Wanita itu. Keynand kemudian berusaha mengenyah rasa yang tiba-tiba menyeruak lagi. Tersiksa memang memendam perasaan sendirian, apalagi cinta itu tidak bisa di perjuangkan.
"Habibah Rosy?" guman Rizqia terkejut selanjutnya Gadis itu kembali ke wajah datarnya.
Keynand tak memperhatikan dan tidak pula mengetahui perubahan wajah Rizqia seperkian menit saat dia menyebut nama Wanita itu.
"Jadi apa keputusan, Qia?" tanya Keynand membuyarkan lamunan Gadis di sampingnya.
Di tanya, Rizqia tidak langsung menjawab. Dia terdiam sembari mengatur nafasnya.
Keynand benar-benar terkejut. Tidak menyangka mendapatkan penolakan. Dia menatap Rizqia yang selesai berkata langsung menundukkan diri. Keynand menggambarkan kekecewaannya. Sedangkan Rizqia berusaha menentramkan hatinya.
Ini keputusan terbaik untuknya. Selain karena mereka berdua tidak memiliki perasaan cinta. Rizqia juga tidak ingin kehilangan hari-harinya lagi yang telah pergi karena depresi.
"Mengapa?" Tanya Keynand dengan riak wajah tak karuan. Dia menuntut penjelasan.
"Karena saya tidak berada di jalan hidup yang anda sedang telusuri. Untuk saat ini jalan kita tidak se arah. Saya ingin menyelesaikan kuliah dan mengejar mimpi-mimpi yang seharusnya sudah bisa saya raih sejak dulu," jawab Rizqia mengutarakan alasannya. Dia ingin fokus dengan pendidikan dan meraih apa yang ada di angannya. Gadis itu ingin menyelesaikan kuliahnya setelahnya akan memperjuangkan kariernya. Ketika impiannya itu sudah di raih, barulah memikirkan cinta kepada lawan jenis. Rizqia tidak ingin mengecewakan orang-orang yang menyayanginya. Dia juga tak ingin menyesal nantinya. Tentu tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi esok hari maupun di masa depan. Setidaknya kita punya bekal untuk menghadapi kemungkinan yang akan terjadi.
"Jika itu alasannya, saya mengerti. Tapi Qia, meskipun kamu telah menjadi seorang Isteri, saya tidak akan melarang kamu melanjutkan kuliah dan meraih cita-cita kamu. Kamu memang harus memperjuangkannya," ucap Keynand menanggapi. Dia berharap apa yang di katakannya akan mengubah keputusan Rizqia.
"Saya percaya, seorang Keynand Putra Ardiaz tidak akan mengikat langkah kaki pasangannya," sahut Rizqia lembut. Dia menyunggingkan senyum sebagai isyarat telah menempatkan kepercayaan itu kepada Keynand.
Huft
__ADS_1
Rizqia menarik nafas untuk menetralisir kelelahannya.
"Sangat mudah ujung lidah ini mengucapkan itu. Namun ternyata tidak sesederhana tatkala kita menjalani. Memang bisa seorang Wanita menjalani semua peran sekaligus. Menjadi seorang Isteri dengan segala tanggung jawabnya dari pagi buta hingga pagi buta lagi. Dan juga sebagai Mahasiswa dengan segala kegiatannya. Namun apakah hasilnya akan maksimal? tentu saja tidak." Rizqia melanjutkan ucapannya. Dia ingin Keynand mengerti keputusannya. Dia belum siap menjalani dua peran sekaligus, apalagi kondisinya yang belum benar-benar stabil. Bukan hanya depresi saja yang pernah di alaminya. Ada hal lain yang tidak bisa dia jelaskan kepada orang lain.
"Apa keputusan ini sudah final, Qia?" tanya Keynand belum mempercayai ini. Dia di tolak oleh Gadis biasa, sungguh sangat menghinanya. Selama ini tidak ada yang boleh menolaknya. Dan kini dia harus menerima kenyataan ini.
"Iya Pak Keynand, maafkan saya. Saya rasa Pak Keynand sangat mudah mendapatkan Gadis secantik dan sesoleha Bidadari," ucap Rizqia menenangkan Laki-laki di sampingnya.
"Jika saya hanya menginginkan kamu bagaimana?" tanya Keynand tidak ingin menyerah.
"Apa Pak Keynand sanggup menunggu beberapa tahun ke depan saat saya sudah menyelesaikan kuliah dan memiliki karier yang baik. Mungkin saat itu saya akan merubah keputusan," ucap Rizqia pelan terdengar meyakinkan.
"Iya," jawab Keynand pasrah.
"Kita tidak terikat, jika di perjalanan Pak Keynand menemukan seorang Gadis yang bisa membuat hati bergetar lagi, jangan ragu untuk menikahinya," balas Gadis itu demi mendengarkan jawaban Keynand.
Keynand terdiam sejenak mempertimbangkan sesuatu. Lalu dengan tegas menjawab, "Iya."
"Nanti di masa depan, saat kita di takdirkan bertemu kembali, berkata jujurlah. Jika Pak Keynand masih sendiri dan masih menginginkan Gadis tidak baik ini, maka ucapkan kalimat yang sama seperti yang di ucapkan saat ini. Dan jika Pak Keynand tidak menginginkan Gadis tidak baik ini, maka palingkan diri darinya dan anggaplah kita tidak saling mengenal." Rizqia mengucapkan kalimat panjang lebar seperti sebuah janji yang harus mereka tepati nanti.
"Iya. Terus bagaimana denganmu? di masa depan ternyata kamu tidak sendiri, apa itu tidak menyakiti saya," sahut Keynand membalikkan keadaan.
"Entah seperti apa nantinya, apapun itu kita harus bisa menerimanya. Jika memang berjodoh, seberapa lama perpisahan itu terjadi, di saat pertemuan itu kembali pasti akan bersatu juga," balas Rizqia terdengar tegas. Inilah keputusan terbaik untuk mereka berdua.
"Saya pernah depresi, sangat sulit menerima kehadiran seorang Laki-laki dan sulit percaya bahwa mereka mampu mengerti saya," lanjutnya.
"Baiklah saya mengerti," balas Keynand. Mau tidak mau dia harus menerima keputusan Rizqia.
"Sudah malam sebaiknya kita pulang. Saya akan antar kamu pulang," ucap Keynand tegas. Kali ini dia tidak mau di bantah.
Rizqia menolak dengan alasan Kakaknya akan menjemput. Semula terjadi perdebatan yang berujung Keynand pada akhirnya mengalah. Keynand meninggalkan Rizqia yang masih terduduk di sana dengan langkah pasti.
Sementara Rizqia menatap punggung Laki-laki itu. Di mana setiap langkah kaki, punggung itu semakin mengecil lalu hilang di sembunyikan gelapnya malam.
Tak terlihat lagi barulah Rizqia bangkit dari duduknya, membalikkan badan kemudian melangkah ke lain arah.
__ADS_1
"Kak, bolehkah aku meminjam bahunya," ucap Rizqia melalui sambungan.
Bersambung.