Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
S2.82


__ADS_3

"Jangan pernah membantah Mamiq, Qia. Sampai kapanpun Mamiq tidak akan merestui hubungan kamu dengan Laki-laki ini. Kalau kamu tetap ingin menikah dengan Laki-laki ini Mamiq lebih suka melihat kamu menjadi Perawan tua," ucap Wira dengan tegas.


Rizqia menarik nafas panjang. Ternyata sangat lelah berdebat dengan Ayah kandungnya sendiri. Dan sepertinya Ayahnya itu akan tetap berpegang teguh pada pendiriannya.


Keynand tidak bisa berbuat apa-apa selain diam. Dia akan memikirkan nanti bagaimana caranya menaklukkan Ayah kandung dari Gadis pujaan hatinya itu. Untuk sekarang lebih baik dia diam seakan menyetujui keputusan Calon Mertuanya. Perjuangan tetap akan berlanjut dengan cara dan usaha yang berbeda. Tuhanlah yang punya kuasa membolak balikkan hati Manusia. Usaha terakhir adalah berdoa, mengharapkan Tuhan melembutkan hati Ayah dari Rizqia agar mau menerimanya.


"Kecuali kalau Keynand mau mengambil alih BAA Garden lalu memberikan BAA Garden kepada Wina Winata dan perusahaan itu atas nama Wina Winata, baru Mamiq dengan senang hati merestui kalian berdua dan Mamiq sendiri yang akan menikahkan kalian berdua. Apa kamu mau Keynand? Saya yakin kamu sanggup melakukannya, bagaimana Keynand?"


Permintaan Wira membuat Keynand dan Rizqia terkejut. Mereka berdua saling pandang tidak percaya dengan permintaan tidak masuk akal Laki-laki di hadapannya. Tidak di sangka Wira ingin menukar restunya dengan harta kekayaan yang sejatinya hanya untuk menyenangkan Wanitanya. Ternyata Usaha Wira hanya demi Wina Winata bukan untuk darah dagingnya sendiri.


Wira bangun dari duduknya. Dia sengaja pergi membiarkan keduanya berpikir dan setelahnya Keynand dan Putrinya pasti akan mengabulkan permintaannya. Tidak ada cara lain selain itu. Mau tidak mau Keynand akan melakukannya, itu yang ada dalam pikiran Wira.


"Mamiq, tunggu sebentar saya akan berbicara," panggil Keynand terdengar serius.


Wira menghentikan langkahnya. Dia tersenyum dengan sangat yakin Keynand akan menyanggupi. Keynand tidak punya pilihan lain selain menurutinya, jika ingin memiliki Rizqia.


"Apa kamu akan melakukannya, Keynand?" Tanya Wira setelah membalikkan tubuhnya. Matanya langsung bersirobok dengan mata Keynand yang terlihat amat sangat tenang.


Keynand tersenyum penuh arti lalu menggelengkan Kepalanya.


"Saya tidak akan menghianati Kak Rizqi, Kiano dan juga Qia. Perusahaan itu adalah hak mereka dan saya tidak akan mengorbankan perjuangan Mama mereka hanya untuk Ibu sambung yang telah melukai hati mereka berempat. Direstui atau tanpa restu Mamiq, saya akan tetap menikahi Rizqia. Saya datang menemui Mamiq karena kami berdua menghormati keberadaan Mamiq yang merupakan Ayah kandung dari Qia. Tidak lebih dari itu sebenarnya. Kalau seandainya saya dan Qia mendapatkan restu dari Mamiq tentu kami amat sangat bersyukur, tapi jika tidak kami dapatkan kami tetap akan melanjutkan pernikahan. Bukankah masih ada Kakaknya Qia dan Mamiq Rari maupun Mamiq Kake yang pastinya akan bersedia menjadi Wali nikah Qia. Tidak harus Mamiq kandung, kan?"


Sudah cukup. Keynand tidak mau lagi berkata-kata setelah menyampaikan keputusannya. Rizqia pun terlihat tidak ingin berdebat lagi. Percuma, hanya kelelahan saja yang di dapat. Wira akan tetap dengan keputusannya dan keinginannya itu. Mata hati sudah tertutup, tidak lagi mengingat anak-anaknya. Hanya ada Wina dalam pandangannya dan dia merasa benar melakukan itu untuk Isterinya.


Keynand dan Rizqia memilih berpamitan berhubung waktu jam besuk sudah diingatkan oleh Sipir. Mereka berdua meninggalkan Wira yang diliputi kemarahan.


***


"Are you okay, Qia?" tanya Keynand sembari melirik Gadis itu sebentar lalu kembali fokus dengan jalanan di depannya.


"Aku baik-baik saja, Bang. Hanya saja aku kecewa dengan Mamiq. Usaha kita ternyata sia-sia."


Rizqia kemudian menarik nafas panjang mengurangi sesak yang sedari tadi dirasakannya. Pembicaraannya dengan Ayah kandungnya ternyata membuatnya mengelus dada. Bukan keakraban dan kedekatan yang tercapai, tapi malah kerenggangan yang sepertinya lebih berpihak.


Mobil Keynand melaju menuju Rumah Sakit Ardiaz. Di sanalah keluarga dan orang-orang yang menyayangi Rizqia, merekalah Rizqy dan Habibah.


Beberapa jam berkendara, Mobil Keynand memasuki kawasan Hotel Ardiaz.


"Apa kamu butuh healing Qia? Tidak salahnya kita tertawa sejenak menghilangkan mumetnya otak ini?" ucap Keynand saat Mobil yang dikemudikan Keynand terpakir di Basement parkir hotel.


"Apa perlu?" tanya Rizqia nampak ragu.


"Perlu, dong! Tenang saja aku bisa menjadi apapun yang kamu butuhkan, mungkin kali ini Tuan Bodakmu ini akan menjadi pelawak," sahut Keynand percaya diri.


Rizqia mengikuti langkah kaki Keynand yang mengajaknya ke puncak tertinggi Hotel Ardiaz. Sesampainya di sana Rizqia terpukau dengan apa yang tersedia di sana. Sebuah kolam renang lengkap dengan fasilitasnya. Ada kursi santai yang bentuknya panjang tempat bersantai ria dan ada satu kamar tidur yang viewnya langsung mengarah ke lautan lepas dan bukit-bukit yang berdiri kokoh dan berseri. Sangat mewah dan nyaman. Di sana juga terdapat taman yang menambah segarnya mata memandang.


"Terlalu dini aku mengajakmu ke sini, Qia. Ini kawasan pribadi Abang," ucap Keynand memberitahu.


"Kawasan pribadi? Itu artinya tempat Abang dan Mommynya Raski menghabiskan waktu bersama, apa seperti itu?" Tanya Rizqia menatap Keynand sebentar lalu mengalihkan pandangannya pada keindahan di sana.


Keynand tidak langsung menjawab. Dia memilih mengambil air mineral dari Kulkas lalu memberikan kepada Rizqia.

__ADS_1


"Apa kamu lapar?" tanya Keynand setelah mineral itu beralih ke tangan Rizqia.


Gelengan dia dapatkan dari Gadis pemilik mata indah itu. Lalu terdengar suara air di teguk hingga tersisa setengah. Keynand pun melakukan hal sama, menyisakan setengah.


"Aku tidak selera makan, masih menunggu jawaban dari Abang atas pertanyaan tadi," jawab Rizqia penasaran.


"Jadi begitu? Tempat ini Abang buat khusus untuk kamu, Gadis bermata belo yang akan menjadi Isteri Abang. Tempat kita menghabiskan waktu bersama, bercanda, bercerita, beribadah dan bercinta saling melenguh penuh kenikmatan. Kita berdua akan berlomba-lomba mengeluarkan suara yang terdengar sangat sensual."


Keynand berbicara dengan lancar, tanpa beban dan tanpa tata krama.


Lelaki itu tertawa lepas saat menyaksikan rona merah di kedua pipi putih Rizqia. Rupanya Gadis itu sangat mengerti kalimat terakhir yang terucap dari Keynand, walaupun Rizqia terlihat sangat polos.


"Maaf, Abang khilaf. Belum saatnya kita berbicara dewasa." Keynand tertawa lepas melihat Rizqia yang kian malu.


"Kawasan ini untuk kamu dan aku? Tidak ada Wanita lain dan juga honey. Honey memiliki tempat yang berbeda dan tidak sama dengan apa yang aku berikan kepada kamu. Aku hanya tidak ingin ada kecemburuan yang kamu rasakan terhadap Mommynya Raski, bagaimana pun juga Mommynya Raski adalah Isteriku."


Manis sekali. Rizqia terharu dengan apa yang terucap dari Lelaki tampan di hadapannya. Lihatlah binar cinta itu masih terlihat jelas di pelupuk mata Keynand tatkala teringat mendiang Isterinya. Ternyata cinta itu masih tumbuh untuk Meja Fajrina, dan cinta yang sama juga teruntuk untuknya.


"Evelyn Sanjaya? Bagaimana Abang memperlakukannya? Tentu memiliki tempat spesial juga?" tanya Rizqia serius. Dia ingin memastikan seberapa berartinya mantan Isteri Keynand dalam hidupnya.


"Tidak ada, Wanita itu tidak memiliki tempat di dalam hidup Keynand. Wanita itu haram untuk di kenang. Sementara Mommynya Raski merupakan Isteri Abang dan halal Abang ingat. Abang dan Mommy Raski hanya dipisahkan oleh kematian. Apa kamu cemburu, Qia? Abang minta maaf. Jangan meminta Abang untuk melupakan Mommynya Raski."


Wajah Keynand terlihat memelas dengan nada sendu.


Rizqia menjawab dengan anggukan lalu senyum tulus mengembang di bibirnya.


"Tentu saja tidak, aku malah senang menjadi adiknya dan berharap kelak di akherat mbak Ega menyambutku dengan penuh cinta. Kita akan bersama-sama di Syurga bersama Bidadara, Suami terakhir mbak Ega dan juga aku," sahut Rizqia dengan wajah berbinar-binar. Terlihat sangat hidup penuh keanggunan.


Rizqia mengamini harapan Keynand yang terdengar sangat tulus.


"Katanya ingin membuat saya tertawa, tapi kok Pelawaknya malah bersedih. Piyeee iki?" ucap Rizqia melihat Keynand masih diselimuti kesedihan.


"Pelawaknya gagal ketawa, nih!" sahut Keynand terlihat ceria kembali.


Keduanya lalu larut dalam obrolan dan canda tawa bersama hingga sama-sama merasa lega.


"Apa kamu tidak ingin berenang, Qia?" tanya Keynand, saat mereka kembali terdiam setelah tawa itu tidak terdengar lagi.


"Maunya sih! Tapi aku malu," jawab Rizqia dengan wajah tertunduk.


"Berenanglah, Abang akan keluar dari sini. Abang tidak akan mengganggu privasi kamu. Nanti saja kalau kita sudah halal baru Abang akan menemani kamu berenang."


Usai berkata Keynand bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju dapur yang ada di sana. Keynand membuat Jus Mangga untuk Rizqia, lalu meletakkan pada Meja yang tersedia di pinggir kolam.


"Abang ke ruang kerja dulu. Bersenang-senanglah," ucap Keynand berpamitan.


Rizqia menceburkan diri setelah mengganti gamisnya dengan pakaian renang muslim yang sudah di siapkan oleh Keynand.


Tidak menyangka Keynand seniat itu. Semua kebutuhan Wanita ada di sebuah ruangan yang di siapkan oleh Keynand. Mulai dari gamis hingga pakaian dalam.


Puas berenang, Rizqia membersihkan diri pada kamar mandi yang ada di ruang tersebut. Pada sebuah ruangan tersedia tempat untuk menjemur pakaian basah dan juga ruang ganti.

__ADS_1


Setelah membersihkan diri dan mencuci pakaian yang digunakannya lalu menjemurnya, Rizqia kemudian menuju ruang ganti.


"Masyaa Allah, ini mah lengkap banget. Ada gamis, jilbab, beberapa tunik dan juga rok. Mulai dari murah hingga dengan harga mahal tapi tidak berlebihan," ucap Rizqia sembari memilih pakaian mana yang akan digunakannya.


Fhasion yang digunakan Keynand tidaklah berlebihan. Dia tidak pernah menampakkan kemewahan apalagi menggunakan barang branded. Hanya beberapa barang branded yang dia punya. Itu pun dia gunakan jika ada pertemuan dengan orang-orang yang berada dalam lingkup kalangan atas. Sedangkan sehari-harinya dia menggunakan barang-barang yang sederhana. Keynand sangat pintar menempatkan dirinya. Ada tempatnya harus bermewah-mewahan dan ada tempatnya juga menggunakan sesuatu yang sederhana.


Usai berganti pakaian dengan gamis yang terlihat sederhana, tapi sangat nyaman di gunakannya kemudian Rizqia menuju Musholla. Dia melaksanakan shalat asar lalu di lanjutkan membaca Al-qur'an.


"Assalamu'alaikum."


Salam terucap dari Keynand yang baru selesai melaksanakan ibadah Shalat asar di masjid.


"Wa'alaikumussalam."


Balas Rizqia dari arah Musholla. Dia menaruh Al-qur'an pada Rak yang tersedia di sana lalu melepas Mukena yang masih di gunakannya kemudian menggantungnya pada gantungan yang ada di sana.


"Apa sekarang sudah ada selera untuk makan? Aku akan memasak untukmu?" ucap Keynand saat Rizqia sudah ada di hadapannya.


Rizqia menganggukkan Kepala sembari tersenyum malu.


"Baiklah, jika tadi Abang jadi Pelawak yang gagal, kali ini Tuan Bodakmu ini akan menjadi Chef yang anti gagal," lanjutnya sembari mengajak Rizqia ke kitchen.


Keynand meminta Pemilik mata belo itu untuk duduk pada kursi yang tersedia di sana. Lalu Keynand mulai beraksi memperlihatkan keahliannya memasak.


Tidak butuh waktu lama, makanan ala Italy tersaji di sana lengkap dengan telur dadarnya.


"Spagetti dan telur dadar?" ucap Rizqia berbinar-binar.


"Tadinya Abang ingin masak nasi terus masak sayur bening sawi mangkok sama buat sambal tomat tapi bahan-bahannya enggak ada, jadi masak ini saja," sahut Keynand.


"Tidak apa-apa."


Rizqia menyuap spagetti yang di buat orang Keynand, kebetulan dia sangat lapar sehingga mengabaikan rasa malunya.


"Masyaa Allah, Spagettinya enak banget. Tidak menyangka Tuan Bodak pinter sekali memasaknya?" ucap Rizqia memuji masakan yang dibuat oleh Direktur Hotel Ardiaz itu.


"Alhamdulillah kalau kamu suka. Chef Keynand gitu loh!" seru Keynand sembari tersenyum bahagia.


Usai menikmati hidangan yang seadanya dan di waktu yang tidak biasanya, Keynand dan Rizqia duduk santai menghadap ke lautan lepas menikmati keindahan yang Tuhan ciptakan.


"Apa itu artinya kamu setuju menikah dengan Abang, Qia?" tanya Keynand setelah keheningan itu cukup lama menemani mereka.


"Iya, tapi aku menunggu Kak Rizqy sadar dari komanya. Apapun keputusan Kak Rizqy maka aku akan menerimanya," jawab Rizqia dengan pandangan serius.


"Jika Kak Rizqy menolak Abang, apa yang akan kamu lakukan?"


Rizqia tidak langsung menjawab. Raut wajahnya berubah sendu. Ada keraguan dan kegelisahan yang nampak di sana.


"Mungkin aku akan melaksanakan apapun yang menjadi keputusan Kak Rizqy."


Suara itu terdengar sangat sendu seakan mengabarkan seperti apa perasaannya saat ini.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2