Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
S2.19


__ADS_3

"Ah ya, aku ingat. Rasulullah adalah kota ilmunya dan Pintunya adalah Ali Bin Abi Thalib dan Ali Bin Abi Thalib merupakan orang pertama menghapal Al-Qur'an setelah Rasulullah. Benar, bukan?"


Rasya mendecak kagum. Dia benar-benar terkesima dengan pengetahuan yang dimiliki Gadis di sampingnya.


"Jawaban Kak Qia sangat benar dan 1000 persen akurat," jawab Rasya antusias dengan wajah berbinar-binar.


"Tidak menyangka Kak Qia tahu tokoh-tokoh islam, benar-benar salut saya. Saya pikir Kak Qia tahunya Oppa-oppa Ganteng dari negeri Ginseng. Biasanya gitu, kan? Para Gadis zaman sekarang, tahunya Boy band dan para aktor," lanjut Rasya membuat Qia tersenyum tipis.


"Saya juga kagum sama kamu, anak muda yang tidak sama sekali tertarik dengan kehidupan bebas," sahut Qia memuji Sosok Rasya.


"Terima kasih. Sebaiknya kita langsung membahas apa hubungan Ali Bin Abi Thalib dengan balas dendam yang saya maksudkan."


Rasya terdiam sejenak. Dia menghela nafasnya panjang kemudian menghembuskannya. Setelah mendapatkan kemantapan hatinya untuk berbicara selanjutnya Pemuda itu mulai menerangkan.


"Kita tahu Ali Bin Abi Thalib adalah sosok yang ikhlas, keikhlasannya mungkin saja bisa menjadi inspirasi bagi kita ataupun mencontohnya dalam kehidupan kita yang pastinya akan tertepa suatu cobaan atau ujian. Terkhususnya Kak Qia yang sedang patah hati. Bukankah beliau pernah patah hati dan memilih mengikhlaskan tatkala Gadis pujaan hatinya dipersunting oleh Laki-laki lain. Karena keikhlasannya itu pada akhirnya beliau dikaruniakan kebahagiaan bersama pujaan hatinya."


Usai berkata, Rasya melirik Qia yang sepertinya berusaha mencerna apa yang disampaikan olehnya.


"Saya seorang Wanita, jadi mana mungkin bisa seikhlas beliau. Bisakah yang menjadi inspirasi tokoh Wanita saja?" ucap Qia sedikit sendu. Dia sejujurnya mengagumi dan sangat menyukai Kisah Ali Bin Abi Thalib dan Fatimah Azzahra. Hanya saja rasanya hati tidak mungkin seikhlas keduanya dalam menjalani hari-hari yang penuh dengan kebahagiaan dan ujian ataupun cobaan yang menyertainya.


"Sumber inspirasi itu berasal dari siapapun. Yang perlu kita ikuti dan mengambil pelajaran adalah sesuatu yang baik dan tentu bisa membuat kita bersemangat menjalani hari-hari," ucap Rasya meyakinkan.


"Benar juga. Oh ya, apa kaitannya beliau dengan balas dendam?" tanya Qia penasaran. Dia merasa Rasya belum mencapai apa yang sebenarnya pokok dari pembicaraan mereka yang berasal dari dua kata yaitu balas dendam.


"Penasaran, yaaa?"


Bukannya menjawab, Rasya kembali membuat wajah Gadis itu bermuka masam. Entah kenapa Rasya sangat senang melihat wajah cemberut yang dinampakkan oleh Gadis, lucu.


"Pantas saja, Abang Keynand klepek-klepek, cantik gini. Kak Qia lebih pantas untuk Abang Keynand dari pada Wanita jadi-jadian itu," batin Rasya.

__ADS_1


"Kok malah diam? Jangan bertele-tele membuat para pembaca bosan entar," ucap Qia mengingat Pemuda itu yang masih saja asyik memperhatikannya melalui pandangan yang sedikit menunduk.


"Emang kita berada dalam dunia novel? Cerita kita tidak asyik ya? Ah sayang sekali," sahut Rasya sedih.


"Rasyaaaaa." Qia sedikit berteriak membuat Rasya terlonjak kaget lalu berpura-pura memegang Jantungnya.


"Duh Jantung saya, please help me."


"Kamu kenapa, Sya?" Qia panik melihat Rasya yang memegang Jantungnya dan wajahnya meringis.


"Normal," sahut Rasya tanpa merasa bersalam.


Qia mengomeli teman baru itu yang ditanggapi tawa kecil oleh Rasya.


"Okay kita kembali ke pokok bahasan kita saat ini, balas dendam," ucap Rasya kembali serius.


"Balas dendam terbaik adalah menjadikan dirimu lebih baik?" Qia mengucapkan kembali apa yang sampaikan oleh Rasya. Gadis itu terdiam berusaha untuk mencerna apa yang di kutip oleh Rasya dari salah satu tokoh yang merupakan tokoh yang terkenal cerdas dan soleh. Sejenak terdiam, wajah Qia kemudian terlihat berseri-seri. Wajah tirus dan pucat berlahan-lahan memperlihatkan cahayanya yang semula redup. Qia merasakan kembali gairah hidup yang meletup-letup yang semula nyaris padam.


"Kamu benar Syaaaa," ucap Qia bersemangat dengan bibir membentuk sebuah senyum yang sangat indah.


Rasya ikut bahagia melihat wajah riang Qia. Dia ikut tersenyum melihat binar-binar semangat pada mata Qia yang sayu karena penyakitnya.


"Itu yang saya maksudkan, balas dendam yang dipastikan akan berakhir bahagia karena akhir perjuangan akan ada syukur itu. Pasti nantinya kita akan bertanya dengan senyuman tak percaya, bahwa kita bisa melewati keterpurukan itu dengan sangat baik. Bagaimana mungkin itu terjadi? Kok bisa? Jawabannya mungkin saja dan pasti bisa. Karena Tuhan sebenarnya telah memberikan kekuatan kepada kita untuk bertahan dan bangkit kembali melewati segala ujian itu. Setiap ada cobaan pasti ada jalan untuk mengatasinya bagi mereka yang berpikir." Rasya melanjutkan dengan memberikan motivasi yang membuat Qia benar-benar terkesima. Dia memicingkan matanya memperhatikan wajah teduh dan terlihat polos. Jika sekilas melihat, Rasya bukanlah Pemuda dambaan Gadis modern di zaman ini. Dia terlihat sederhana bahkan tidak ada keren-kerennya sama sekali, meskipun memiliki wajah yang lumayan tampan. Tampilannya memang seperti Santri-santri pada umumnya yang menggunakan baju Koko, Celana jingkrang dan kopiah. Namun kali ini penampilan Rasya sedikit berbeda, dia menggunakan Kemeja lengan panjang berwarna biru dengan Celana kain berwarna hitam di atas mata kaki yang di sebut Cingkrang.


"Tadinya saya kira balas dendam yang kamu maksudkan seperti balas dendam para Mafia dan Ceo kejam yang terkenal sadis," ucap Qia lugas. Ada rasa tidak enak hati tatkala mengatakan itu karena prasangka buruknya kepada Rasya. Dia mengira Rasya akan mengenalkan pada sesuatu yang menyesatkan.


"Nah ini nih! Korban novel. Masak iya saya mau mengajak Kak Qia terjun payung enggak pakai parasut, mati mengenaskan dong entar," ucap Rasya bercanda.


"Kamu tuh ada-ada saja," sahut Qia di akhiri dengan tawa kecilnya.

__ADS_1


"Senang rasanya buat Kak Qia akhirnya tertawa," batin Rasya kemudian ikut tertawa menertawakan kalimat ambigu yang diucapkannya.


"Jadi apa yang harus dilakukan?" tanya Qia setelah tawa keduanya mereda.


"Kak Qia harus benar-benar sembuh dari penyakit yang sedang di derita. Berjuanglah untuk sembuh, karena hanya penderitanya yang menentukan apakah benar-benar ingin sembuh atau putus asa. Para Dokter dan Umi Ika hanya mengobati, sedangkan keyakinan dan semangat Kak Qia untuk sembuh menjadikan pengobatan itu berhasil. Dan Kak Qia harus yakin atas kekuasaan Tuhan yang Maha menyembuhkan," jawab Rasya panjang lebar.


Qia mengangguk mengerti. Apa yang disampaikan oleh Rasya benar adanya. Dia tidak boleh terpuruk lalu menyerah dengan keadaan. Itu sama artinya menempatkan diri dalam keengganan hidup. Bukankah hidup ini sungguh sangat berharga untuk diberikan kesempatan meraih bahagia di dunia dan akhirat. Sungguh sangat merugi dan sia-sia apabila membiarkan hidup ini dibayang-banyangi keputusaan lalu tenggelam di dalamnya. Lebih baik kita bangkit lalu berusaha memperbaiki kualitas diri kita menjadi lebih baik. Terlalu bodoh jika terus-terusan menangis dan terluka hanya karena kita mengingkari takdir. Apa gunanya dengan adanya pribahasa mati satu tumbuh seribu. Tidak inginkah membiarkan cinta itu bersemi kembali pada seseorang yang benar-benar menjadi takdirnya.


Qia ingin mengakhiri deritanya dengan berusaha menemukan kebahagiaan yang seharusnya miliknya.


"Sya, apa yang kamu sampaikan sangat benar," ucap Qia setelah keheningan itu meraja rela.


Rasya hanya tersenyum dengan memberikan satu kepalan tangan di samping bahunya memberikan survive.


"Fighting, Rasya yakin Kak Qia pasti bisa," ucap Rasya begitu bersemangat seakan mengalirkan kepada Qia yang berlahan-lahan mengangguk.


Setelahnya keheningan kembali menguasai mereka. Ada rasa canggung terjadi di antara mereka saat pandangan mata itu sejenak menyelami perasaan masing-masing.


"Apa kamu menyukaiku Rasya?"


Deg


Pertanyaan Gadis di sampingnya membuat kinerja jantungnya mendadak tidak berfungsi dengan benar. Rasya grogi tak karuan dan merasakan wajahnya berekspresi dengan tidak jelas. Antara keterkejutkan, rasa senang dan kebingungan berbaur menjadi satu.


Rasya memberikan jawaban dengan senyuman diiringi dengan anggukan yang sangat meyakinkan.


***


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2