
"Ooooops."
Rin tanpa sadar membuka suara apa yang terjadi tadi di Kampus. Seketika itu dia mendapatkan tatapan tajam dari Rizqia.
Rin nyengir dengan isyarat permohonan maaf yang tersembunyi. Dua Gadis itu diam tak ada yang berniat menjawab.
Sembari menunggu jawaban yang tak kunjung ada. Kakak Ipar Rizqia memperhatikan mereka berdua. Wanita itu mengarahkan pandangan kepada Gadis berhijab di hadapan dengan meminta penjelasan. Rin terdiam dengan menunduk, lirikan itu dia arahkan kepada Rizqia untuk meminta persetujuan.
Tidak ada respon, Kakak Ipar Rizqia mengalihkan perhatian kepada Rizqia.
"Jadi tidak ada yang mau menjelaskan," ucap Wanita muda itu mengulang pertanyaan yang sama.
Rizqia menghela nafas panjang. Dia menata hatinya yang masih hinggap kekesalan. Dia harus menjelaskan kepada Kakak Iparnya, jika tidak ingin di hantui setiap saat dengan pertanyaan yang sama.
"Ada orang iseng mencatut nama saya dalam penjelasan materi yang kita pelajari." Rizqia pada akhirnya membuka suaranya.
Dia lalu menjelaskan dengan serinci mungkin tanpa kehilangan sebagian kata dengan apa yang telah terjadi.
Cerita itu dibenarkan oleh Rin dengan anggukan Kepala.
"Jadi begitu? Siapa dia?"
"Namanya Keynand Putra Ardiaz," jawab Rizqia datar.
"Apa? Keynand Putra Ardiaz, Direktur Hotel Ardiaz?" tanya Kakak Ipar Rizqia terkejut.
Rizqia mengangguk membenarkan pertanyaan Kakak Iparnya itu.
Raut wajahnya berubah gusar. Ada kegelisahan yang berusaha di sembunyikan oleh Wanita ayu itu.
"Tunggu, tunggu. Jadi Keynand itu bukan Mahasiswa tapi seorang Direktur?" tanya Rin memastikan apa yang di dengarnya.
"Iya, dia bukan Mahasiswa tapi Mahasiswa gadungan. Entah apa tujuannya?" jawab Rizqia dengan terang-terangan memperlihatkan kebencian.
"Wualaaah, berarti dia tidak seumuran dengan kita, pantas saja terlihat dewasa. Tadinya saya pikir Keynand itu Mahasiswa abadi, makanya pindah ke Kampus kita," ucap Rin masih tidak percaya dengan kebenaran yang baru diketahuinya.
"Iya, bukan itu saja, Keynand itu sudah menikah dan punya anak Laki-laki berumur kira-kira tiga tahunan." Rizqia melanjutkan ceritanya membuat Rin lagi-lagi terkejut.
"Apaaaa? Non Qia enggak salah informasi, kan?" teriak seorang Wanita yang terdengar cempreng. Teriakan itu sukses membuat ketiga Wanita beda usia itu terkaget.
"Bibiiiiik, bikin Qia ngelus da*da nih!" protes Rizqia dengan wajah manyunnya.
"Iya Bibik ini? Saya juga kaget terus kalau bayi saya nangis dalam perut, gimana? Saya enggak bisa menghiburnya, terus kalau rewel gimana?" timpal Rin berusaha menormalkan detak jantungnya.
Sementara Kakak Ipar Rizqia hanya tersenyum mendengarkan protes Rizqia dan Rin. Dia juga terkejut dengan kemunculan Sang Bibik yang secara tiba-tiba dan diiringi suara menggelegar.
"Idih dua gadis ini kok sewot, sih? Gitu aja protes terus bagaimana dengan saya yang juga terkejut. Apa kalian bisa menenangkan hati tua yang bergemuruh ini," sahut Sang Bibik tidak ingin mengalah.
"Bibiiiik," teriak keduanya balas dendam.
"Hahahahaha." Sang Bibik tertawa dengan riangnya.
"Sekarang sama, kan?" ucap Rizqia mengolok.
"Benar? Den Keynand yang tampan itu sudah menikah dan punya anak?" tanya Sang Bibik memastikan. Dia ikut duduk di Ranjang milik Nonanya.
__ADS_1
"Benar Bibik. Katanya sudah mencari informasi tentang Pak Keynand, tapi kok statusnya enggak tahu. Bagaimana ini?" jawab Rizqia gregetan.
Hehehehe
Sang Bibik nyengir Kuda Poni.
"Bibik hanya lihat Fhotonya yang Ganteng semua. Saking terpesonanya jadi lupa membaca deretan huruf itu, iya maaf kalau enggak tahu," sahut Bibik dengan senyum malu-malu.
"Bibik."
"Tenang Non, mulai sekarang Bibik tidak mau lagi beramah tamah dengan Pria yang bernama Keynand itu. Udah punya Isteri dan anak, masih saja nyari yang lain terus nyari daun muda lagi. Emangnya seberapa kuat Pemukulnya sehingga satu Isteri saja enggak cukup." Sang Bibik berkata dengan berapi-api menumpahkan segala ketidak sukaannya.
Tadi pagi dia memuja Keynand dan sore ini sangat membencinya. Setampan dan semapan apapun dia, tetap dirinya sangat tidak suka dengan penghianatan.
"Bibik, jangan ngomong gitu, ah! Ada anak kecil di sini," ucap Kakak Ipar Rizqia mengingatkan Sang Bibik.
Terlihat berapi-api, sangat semangat berbicara dan secara terang-terangan menunjukkan rasa kecewa dan marah itu. Itulah Sang Bibik.
"Non Pembalap membela Pria itu?" tanya Sang Bibik tidak suka.
"Bukan membela, itu tadi apa yang diucapkan, ingat enggak? Ada anak kecil yang tidak boleh mendengarkan kata-kata tabu. Nah Bibik mengucapkan dengan entengnya. Walaupun diistilahkan mustinya tidak perlulah dibahas."
Sang Bibik cengengesan mendengarkan penjelasan dari Kakak Ipar Nonanya itu.
Hehehehe
"Keliru ternyata. Maaf deh," lanjut Sang Bibik dengan memasang tampang tidak bersalahnya.
Wanita muda itu tersenyum memaklumi. Mungkin saja keceplosan saking bersemangatnya menyuarakan pendapat.
Rizqia mengangguk menjawab pertanyaan Kakak Iparnya itu. Terlihat helaan panjang dari Wanita manis itu.
"Terus bagaimana perasaan kamu? Apakah suka?" tanyanya lagi.
"Tidak, saya belum ingin mempunyai hubungan serius dengan Pria mana pun. Saya ingin meraih mimpi yang tertunda. Saya tidak ingin melewatkan lagi hari-hari yang pernah terlewat. Ini kesempatan saya kak," sahut Rizqia dengan serius.
Wanita manis itu mengangguk. Ada kelegaan yang terpancar pada wajahnya. Dia memahami bahwasannya Rizqia tidak ingin kehilangan hari-harinya lagi.
"Kakak mendukung keputusan kamu, Dek! Tapi Kakak khawatir juga sama kamu," ucap Sang Kakak Ipar dengan pandangan penuh kasih sayang.
"Khawatir kenapa?" tanya Rizqia bingung.
"Khawatir kalau kamu menutup hati untuk Laki-laki atau mati rasa pada yang namanya cinta kepada pasangan. Jangan sampai trauma itu menjadikan kamu tidak percaya dengan adanya Laki-laki yang setia di dunia ini," jawab Sang Kakak menjelaskan kekhawatirannya.
"Entahlah, Kak! Jujur, saya merasa hati ini membeku dan tidak memiliki rasa ketertarikan itu pada Pria," sahut Rizqia jujur. Tidak ingin berbohong dengan apa yang terjadi dengan hatinya saat ini. Rizqia pada akhirnya mengungkapkan apa yang dirasakannya.
"Kakak harap, apa yang terjadi dengan orang tua kita dulu tidak menjadikan kamu mati rasa. Setiap orang berhak mencintai dan dicintai karena sudah menjadi ketetapan-NYA. Mungkin saja saat ini kamu tidak ingin memiliki rasa itu. Tapi jangan sampai ke depannya kamu mengacuhkan itu. Hidup tanpa cinta dan pasangan, ibarat Bunga yang cantik dan hidup di tanah yang gersang tanpa tetesan air, tentu itu akan membuat berlahan-lahan layu lalu kering."
Sang Kakak Ipar menasehati dan memberikan gambaran dengan pilihan yang mungkin saja diambil oleh Adik Iparnya itu.
"Setidaknya tidak terluka dengan penghianatan," sahut Rizqia tak sepaham.
Sang Kakak ipar tersenyum. Dia membelai rambut Gadis berkulit putih di sampingnya. Sangat faham kalau Rizqia ingin menjauh dari rasa itu saat ini. Dengan lembut Wanita manis itu menjelaskan.
"Qia sayang, penghianatan itu memang ada dan akan terjadi. Kenapa bisa itu terjadi karena hawa nafsu Manusia yang menginginkan itu. Jika kita bisa melawannya dan menolak untuk di kendalikan oleh hawa nafsu itu tentu penghianatan tidak akan terjadi. Hanya iman yang kuat sebagai senjata untuk meredamkan segala keinginan tak baik dalam hati kita."
__ADS_1
"Tentu akan terasa sakit jika kita dihianati oleh orang yang kita cintai dan kita percaya untuk menjaga hati kita. Namun rasa sakit itu sebenarnya bisa kita jadikan kekuatan untuk menunjukkan kepada siapapun bahwa kita mampu berdiri lagi untuk bahagia. Boleh saja kita jatuh dan terpuruk, tapi jangan lupa untuk bangkit lagi lalu berdiri tegak kemudian berjalan menuju kebahagiaan itu. Tuhan sangat suka dengan orang yang tidak mau menyerah dan tidak berputus asa. Yakinlah bahwa kebahagiaan akan menanti kita setelah derita itu." Sang Kakak melanjutkan nasehatnya yang sangat panjang.
Rizqia, Rin dan Sang Bibik mendengarkan secara seksama tanpa adanya suara. Mereka meresapi dan dijadikan pedoman untuk selalu sabar dan tegar dalam menghadapi segala cobaan hidup.
"Benar kata Kakak, mbak jangan sampai hilang rasa kepada kaum adam. Kalau itu terjadi kasian banget Keynand Putra Ardiaz," ucap Rin berusaha menyegarkan suasana yang sempat terasa serius.
"Saya aja yang pernah di campakkan masih ingin merasakan cinta. Kok malah mbak yang kapok," lanjut Rin dengan memasang tampang jenakanya.
"Yeeeeee."
Rizqia mendelik membuat Rin tertawa.
"Kok kasian sama Keynand. Tidak ada kasian sama Laki-laki yang tidak setia. Pingin rasanya Bibik rujak dia," ucap Sang Bibik menengahi. Ingat sekali kalau saat ini dia marah dengan Pria itu.
"Iya juga, sih! Lupa," sahut Rin.
"Keynand itu Duda, Isterinya meninggal setelah melahirkan anak pertamanya." Rizqia memberitahu. Dia tidak ingin Sang Bibik berpikir husnudzon kepada Keynand karena ketidak tahuannya itu.
"Apaaa? Innalillahi." Sang Bibik terkaget lagi dengan raut wajah sedih tatkala mengetahui kebenaran itu.
Namun tidak sampai semenit wajah berbinar-binar nampak pada wajah tuanya. Dengan centil Sang Bibik lalu berkata. "Berarti aman dong? Bisa kita tebar pesona kepada Duda tampan itu."
"Bik inget umur dan inget sama Paman Dolah. Nanti kalau beliau cemburu bagaimana?" ucap Rizqia mengingatkan.
"Sreeeet, diam-diam caranya, kita kerja sama ya Non jangan sampai Paman Dolah tahu," ucap Sang Bibik dengan menaruh telunjuknya di Bibir. Tanda agar yang mendengarkannya tutup mulut.
Mereka tergelak dengan perkataan Sang Bibik yang dipastikan sedang berguyon. Mana mungkin serius, karena hanya Laki-laki bernama Dolah satu-satunya, tapi selingan banyak.
Setelah berhasil menyegarkan suasana. Semua diam merasai keheningan yang mulai merajai.
Sang Kakak mengakhiri keheningan dengan membuka pembicaraan. Dia memanggil Rizqia dengan lembut.
"Dek, jika memang tidak suka, berkata jujurlah kepada Pak Keynand agar dia tidak penasaran. Jika ternyata ada setitik rasa itu, maka berkata jujur juga agar tidak ada kesakitan di hati karena rasa itu. Jangan membohongi diri sendiri agar hari-hari kamu tenang seperti biasanya." Kakak Ipar Rizqia kembali berkata memberikan petunjuk apa yang harus dilakukan Adiknya itu.
Rizqia mengangguk mengerti apa yang harus dilakukannya. Dia membentuk senyum manisnya untuk meyakinkan Sang Kakak agar tidak terlalu mengkhawatirkannya. Rizqia yakin bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik. Dia ingin hari-harinya tidak terganggu, karena itulah dia harus segera menyelesaikannya.
"Iya Kak, saya mengerti apa yang harus dilakukan," ucap Rizqia kemudian dengan tegas.
****
Tiiiiin
Terdengar suara Klakson Mobil menggema di depan sebuah rumah minimalis.
"Siapa, sih? Malem-malem gini ganggu orang yang lagi rehat," ucap Wanita Paruh Baya menggerutu. Dia melangkah ke arah ruang tamu lalu menyibak Korden untuk mengintip.
"Siapa Bik?" tanya Rin yang berada di belakang punggung bersama Rizqia yang juga ikut mengintip.
"Enggak tahu. Keliatannya sih Laki-laki dengan membawa Tas besar," sahut Sang Bibik sambil mengawasi dari balik Korden.
Sejurus kemudian terdengar salam dari arah depan membuat para Wanita di sana saling pandang.
"Nah lo! Tujuannya ke rumah sini! Kira-kira siapa ya?" tanya Rin penasaran. Wanita hamil itu malam ini menginap di rumah Rizqia karena Gadis itu yang meminta. Katanya dia tidak ingin sendiri malam ini.
"Astaghfirullah, lupa Bibik," teriak Sang Bibik mengingat sesuatu.
__ADS_1
Bersambung.