Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
65


__ADS_3

"Biar Menantu saya ini tidak bingung alangkah baiknya saya menjelaskan kalau Nine itu maksudnya Perempuan," ucap Mamiq Ali Hasan menimpali.


"Itu maksudnya, saya sudah tahu kalau Nine itu Perempuan, sengaja berpura-pura polos gitu!" sahut Reynand dengan senyum merekahnya.


"Alasan, ngaku saja sebenarnya Abang tidak tahu tapi malu mengakuinya. Lidah boleh saja membantah namun raut yang tadi dinampakkan tidak bisa menipu," ucap Keynand.


Mereka kembali tergelak karena melihat perdebatan dua Saudara itu.


"Tujuan kita ke sini untuk melihat Bayinya Fitri, dong ayok?" ucap Lika mengingatkan.


"Iya, iya kok malah kita asyik di sini." Ibu Fatimah menyahuti.


Mereka kemudian melangkah ke arah ruang perawatan setelah diberitahu oleh Adly.


Sesampainya disana, mereka larut dalam kebahagiaan menyambut kehadiran anggota baru di keluarga Adly dan Fitri. Terutama Adly, Koki tampan itu tidak henti-hentinya berucap syukur karena Isteri dan anaknya dalam keadaan selamat dan sehat.


Senyumnya kian mengembang tatkala menyaksikan Putri cantiknya tertidur pulas pada Box bayi yang di letakkan di samping Ibunya.


"Cantiknya."


Secara bergiliran mereka melihat Bayi mungil tersebut dengan diiringi doa agar kelak menjadi anak yang Soleh dan Sholeha.


Setelah puas menikmati kebersamaan dengan Bayi mungil itu, mereka pulang dari rumah Sakit untuk beristirahat. Hanya mengisakan Siti Munawarah dan Adly yang akan menjaga Fitri. Sementara Orang tua Fitri menginformasikan bahwa akan datang berkunjung besok pagi.


"Sebaiknya kita nginep di Hotel saja, terlalu malam kalau kembali ke rumah," ucap Reynand mengusulkan. Dia mengkhawatirkan Mertuanya jika langsung pulang ke Desa Suka, apalagi sudah larut malam dengan jarak yang lumayan jauh. Tidak ingin su'udzon tapi tetap harus waspada. Meskipun sekarang tidak se rawan dulu tapi tetap saja kejahatan bisa saja terjadi.


"Baiklah agar aman," sahut Mamiq Ali Hasan setuju, dianggukan oleh Fatimah.


Mereka menuju ke Hotel Ardiaz karena sudah tidak bisa lagi menahan rasa kantuk. Ingin rasanya segera mengistirahatkan tubuh lelah setelah beraktivitas seharian.


Sesampainya di Hotel Ardiaz, Keynand langsung meminta kamar untuk Orang tua Lika sedangkan Lika dan Reynand sudah memiliki kamar Pribadi di Hotel Ardiaz sehingga langsung bisa menuju ke kamarnya.


"Kok hanya satu kamar? Saya tidur di mana? Masa di Sofa Lobby?" Tanya Riski begitu sadar hanya satu kamar yang di pesan oleh Keynand.


"Kamu bisa tidur sama Inaq dan Mamiq, kan?" sahut Keynand dengan menampilkan senyum jahilnya.


"Emangnya saya masih bayi apa?" Riski cemberut. Dia melangkah ke arah Sofa yang berada di Lobby lalu merebahkan tubuhnya.


"Ngambek dia," ucap Keynand diiringi dengan tawa.


"Biarkan saja, mau tidur di Emperan atau pada Kasur yang nyaman, Riski mah bakalan tetap nyenyak tidurnya. Dalam kondisi apapun dia sudah terbiasa," ucap Lika memberitahu.


Ali dan Fatimah membenarkan. Wanita paruh baya itu menghampiri Riski lalu menyelimuti Putranya itu dengan Selimut yang di bawanya dari rumah. Setelahnya dia menyusul Suaminya yang melangkah ke arah kamar. Terlihat juga Reynand dan Lika berjalan menuju kamar. Setelah berjalan cukup jauh pasangan Suami Isteri itu tidak terlihat oleh penglihatan Fatimah.


***


"Mas Reynand," panggil Lika lirih. Saat ini dia berada dalam peluk hangat Suaminya.


"Hem."

__ADS_1


Reynand menatap wajah Isterinya yang memandangnya sangat lekat. Lika terlihat ragu untuk menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya. Sedangkan Reynand menunggu apa yang akan di utarakan oleh Lika sembari membelai wajah lembut itu dan sesekali mengelus rambutnya.


"Mas, anak kedua kita ini pinginnya lahir Laki-laki atau perempuan?" pada akhirnya Lika berhasil bersuara.


Reynand terdiam dengan masih memandang ke wajah Lika dengan memikirkan suatu jawaban.


"Anak Laki-laki dan Perempuan sama kedudukannya, jadi Mas akan menerima dengan penuh rasa syukur," jawab Reynand kemudian.


"Bagaimana jika aku melahirkan anak perempuan lagi?" tanya Lika.


"Mas akan menyambutnya dengan sangat bahagia," sahut Reynand dengan binar-binar kebahagiaan disana. Tidak ada rasa kecewa melainkan keriangan yang nampak dipelupuk mata.


"Mas, jika aku tidak bisa melahirkan anak Laki-laki untuk Mas Reynand, apa yang Mas akan lakukan?" tanya Lika lagi.


"Mas tidak akan melakukan apa-apa selain coba lagi hingga kita beruntung mendapatkan anak Laki-laki."


Reynand bingung dengan pertanyaan-pertanyaan Lika yang tidak semestinya dibicarakan.


"Ada apa, sih?" tanya Reynand sembari memperelat pelukan.


"Tidak ada apa-apa, hanya saja kepikiran kalau ternyata aku tidak bisa melahirkan anak Laki-laki sementara Hotel Ardiaz membutuhkan Anak Laki-laki sebagai Pemimpinnya. Terus aku sangat yakin di hati Mas sebenarnya menginginkan anak Laki-laki, kan?" Lika mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya.


"Sayang ngomong apa, sih? Jangan membahas sesuatu yang belum saja terjadi itu tidak baik. Mau Laki-laki ataupun perempuan keduanya bisa menjadi Pemimpin. Walaupun kamu melahirkan sebelas anak perempuan tetap Mas akan menerima dengan bahagia. Memangnya Renia Putri kita tidak bisa jadi pemimpin? Renia pasti bisa dan Mas yakin akan hal itu karena Mas tidak akan pernah membedakan anak-ana kita, baik dia Laki-laki dan Perempuan. Mereka akan memiliki hak dan tanggung jawab yang sama." Reynand menerangkan panjang lebar.


"Terima kasih Mas, kenapa aku jadi parno gara-gara baca novel. Dalam cerita itu hanya karena mengandung anak Perempuan langsung di ceraikan padahal itu belum pasti kebenarannya," sahut Lika menjelaskan mengapa ia tiba-tiba menanyakan hal itu. Rupanya dia terbawa suasana sehingga akan mengira terjadi pada hidupnya.


Reynand tertegun sesaat mendengarkan pengakuan itu. Setelahnya dia tidak bisa lagi menahan tawanya. Kok bisa-bisanya Isterinya terbawa suasana padahal dia tahu cerita itu hanyalah fiksi.


Lika tersenyum kikuh dengan menyembunyikan rasa malunya.


"Mas bukan Orang yang tidak punya hati sayang, menuntut Isteri harus memiliki anak Laki-laki sebagai penerus kesuksesannya. Renia dan anak-anak perenpuan kita lainnya bisa diandalkan untuk menjadi penerus yang akan melanjutkan perjuangan Mas. Jika kita ternyata di anugerahi anak perempuan semua, Mas akan menerimanya dengan ikhlas karena itu merupakan ketetapanNYA. Udah jangan mikir yang aneh-aneh deh," ucap Reynand. Dia tersenyum sekaligus menggelengkan Kepalanya.


"Kamu itu ada-ada saja," lanjutnya. Tangannya tidak tahan ingin mencubit hidung mungil itu. Dengan tangan terbiasa pada akhirnya Reynand mencubit hidung Lika dengan gemas selanjutnya pipi chubbynya tidak luput dari tangan jahilnya itu.


"Maaaaaas." Lika berteriak histeris.


Hahahahaha


Reynand tidak bisa lagi menahan tawa melihat penderitaan Isterinya itu. Dia kemudian mendekap tubuh itu dengan hangat.


"Maaf, habisnya Mas gregetan," ucap Reynand.


"Iya dah dimaafkan tapi ada syaratnya," ucap Lika berpura-pura merajuk.


"Syarat? kok pake syarat segala? memaafkan itu harus ikhlas sayang."


"Iya udah kalau Mas keberatan?" Lika semakin merajuk. Dia melepaskan pelukannya kemudian menjauh dari Tubuh Suaminya. Dia membalikkan tubuh mengarahkan pandangannya ke arah Tembok.


"Siapa yang keberatan? Mas enggak bilang gitu, lo?"

__ADS_1


"Mas Reynand emang enggak bilang gitu, tapi kalimatnya tadi seakan bilang gitu? saya ikhlas memaafkan Mas, kok!"


Usai berkata dia membalikkan badannya. Dia tidak tahan mengabaikan Suaminya apalagi tidak menatapnya saat berduaan.


"Kenapa? kangen ya? pingin selalu lihat wajah Suamimu ini, ya?" Reynand menyambut Lika dengan godaan.


"Mas ini geer banget, sih?" ucap Lika. Dia beringsut dari Ranjang kemudian melangkah keluar.


"Loh kok pergi?"


"Tadinya aku mau minta tolong buatin Teh sebagai syarat memaafkan Mas tapi Mas sepertinya keberatan jadinya buat sendiri, deh!"


Setelah berkata Lika membalikkan badan lalu hilang di balik Pintu yang di tutupnya. Dia melangkah ke arah Dapur. Di kamarnya ini ada Dapur yang khusus dibuat oleh Reynand agar Lika bisa memasak jika menginap di Hotel Ardiaz.


Sesampainya di Dapur Lika mulai merebus Air agar bisa menikmati secangkir Teh yang diinginkannya.


Wanita hamil itu mendudukkan diri pada Kursi yang tersedia. Matanya mengarah ke arah Teko dan bibirnya terlihat bergerak melantunkan Shalawat.


Saat khusuk dalam Shalawatnya, tanpa di sadari olehnya Reynand sudah berada di sampingnya. Tangan itu langsung bergerak mengelus perut Lika sambil melantunkan doa dalam hati.


Lika sangat menikmati sentuhan itu, dia larut dalam ketenangan yang dirasakannya.


"Mas airnya sudah mendidih," ucap Lika begitu terdengar suara beriak dari air yang di rebusnya.


Lika hendak beranjak untuk mematikan Kompor. Namun Reynand menahannya.


"Kamu duduk saja biar Mas yang akan membuat Teh untuk kamu," ucap Reynand menahan langkah Lika.


"Baby ingin menikmati Teh buatan Ayah, ya? tunggu ya sayang, Ayah buatin," lanjut Reynand berbicara pada Perut Lika setelahnya mencium perut itu.


"Emangnya Mas bisa bedain mana Gula dan Garam?" tanya Lika merasa khawatir.


"Tahulah, tinggal Mas cicipin. Kalau rasanya Asin sudah pasti itu Garam." Reynand berkata sambil tangannya bergerak mematikan Kompor. Dia kemudian meraih Gelas yang tersimpan di Lemari lalu mengambil wadah tempat Gula dan Garam di simpan.


Reynand terlihat mencoba isi dari Wadah yang di ambilnya untuk memastikan apa itu Gula atau Garam.


"Asiiin," ucap Reynand. Dia kembali menaruh Wadah itu dan mengambil Wadah lain yang warnanya sama dengan warna garam.


"Nah ini pasti Gula jadi tidak perlu di Tes lagi," ucap Reynand. Dia mengambil dua sendok Gula lalu menaruhnya di Gelas setelahnya menuangkan air panas ke dalam Gelas berisi Gula.


Lika mengamati apa yang dilakukan Suaminya dengan senyum terus mengembang. Saat ini Reynand sedang mengaduk Teh buatannya.


"Sayang Teh buatan Suamimu ini sudah jadi, selamat menikmati," ucap Reynand menaruh Segelas Teh di Meja.


"Terima kasih Suamiku, tapi kok Tehnya enggak ada? ini teh air gula bukan air Teh?" sahut Lika sembari mengulum senyum. Reynand memang lupa mengambil Teh celup yang tersimpan di Lemari. Dia hanya memasukkan Gula dan air kemudian mengaduknya.


"Lupa sayang," sahut Reynand menepuk jidatnya. Tidak lama kemudian terdengar suara tawa renyah menemani kebersamaan mereka.


"Ganggu woiiii."

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2