Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
91


__ADS_3

Pagi menjelang, terdengar suara Ayam berkokok menyambut datangnya pagi. Rizqia, Gadis berkulit putih itu sudah terbangun sebelum adzan berkumandang. Sudah terbiasa dia bangun lebih awal, jadi semua ini tidak menjadi berat baginya. Di mana sebagian Gadis di luaran sana saat ini mungkin saja masih dalam bergelung selimut. Tidak dengan Qia, tidak ada bermalas-malasan dalam kamus hidupnya.


Sudah terbiasa apalagi semenjak berkenalan dengan Rin, menjadikan Gadis itu lebih bersemangat menyambut pagi. Dia akan membantu Sahabatnya itu untuk mempersiapkan dagangannya. Terkadang menemaninya berjualan jika tidak terburu-buru ke kampus.


Di Minggu pagi ini terlihat Rizqia tengah sibuk membersihkan Pekarangan yang di tumbuhi berbagai jenis bunga dan sayur mayur.


"Non Qiaaaaaa." Teriakan Sang Bibik dari dalam rumah, sontak membuat Rizqia menghentikan aktivitas karena mendapatkan panggilan yang tak biasa.


"Bik, saya di siniiii." Gadis itu kemudian menimpali karena Wanita paruh baya itu tak kunjung menampakkan diri. Hanya lengkingan suara yang beberapa kali menghampiri


"Non Qia, ternyata ada di sini rupanya? Tadi Bibik ke halaman belakang tak kira sedang berjemur di sana," ucap Sang Bibik tatkala berjumpa dengan Rizqia.


"Ada apa Bik? Sepertinya penting banget?"


"Oh ya hampir saja tak ingat. Ini ada telepon dari orang yang bernama Father K."


Sang Bibik menyodorkan Handphone yang di genggam dengan erat. Wanita itu tak buru-buru beranjak karena ada rasa penasaran dari hatinya. Sorot matanya bertanya saat Rizqia mengambil alih benda itu.


"Itu bukan Mamiq, kan?" Tanya Sang Bibik tak sabaran. Dia melihat Rizqia tidak melakukan pergerakan untuk meresponnya. Dia hanya menatapnya dengan dua pikiran, antara menerima dan menolak. Sadar Sang bibik bertanya, Rizqia lalu menggelengkan Kepala.


"Mamiq takkan pernah ingat dengan anak-anaknya. Beliau terlalu asyik di kemong oleh Isteri muda. Mamiq lupa dengan usianya dan mungkin saja dalam pikirannya hanya urusan dunia saja. Apakah saya salah bila mengatakan kalau Mamiq tak ingat mati?" jawab Rizqia. Dalam kalimat panjangnya tersimpan kegeraman sekaligus kesedihan.


"Maaf Non, iya udah di angkat, gih! Kasian dari tadi nelpon terus," ucap Sang Bibik merasa tak enak hati. Kali ini Wanita paruh baya itu tidak mengajak Rizqia bercanda.


Gadis itu menyetujui dengan langsung mengangkat Telepon dari Seseorang.


(Qia sedang apa? Bagaimana khabarnya?)


Tanya seseorang yang sebelumnya mengucapkan salam dan dibalas salam oleh Gadis itu.


(Alhamdulillah saya baik-baik saja. Pak Keynand, bagaimana?)


(Baik juga)


Keheningan terjadi, dari arah seberang tak terdengar suara lagi selain helaan nafas yang tak ringan. Sementara Rizqia ikut tak bersuara. Dia menunggu apa yang ingin di bicarakan oleh Keynand sehingga menghubunginya. Gadis itu larut dalam kediaman bersama helaan nafas Keynand yang beberapa kali menyentuh pendengaran.


(Qia)


(Iya)

__ADS_1


Terdiam lagi. Kecanggungan itu sangat kentara seakan menggambarkan hati Pria itu. Iya, dia kini gagu. Lidahnya seakan sulit mengeluarkan sepatah kata untuk mengutarakan apa yang tersirat di hati. Lisan ternyata tidak sanggup untuk melaksanakan tugasnya sebagai penerjemah bahasa kalbu. Bila di tebak, hati Keynand kini sedang merindu.


(Qia, kamu lagi ngapain?)


Akhirnya basa-basi yang sekiranya mampu ujung Lidah ini melaksanakan tugasnya dengan benar.


(Lagi bersihin Kebun, Pak Keynand)


(Rajin sekali, oh ya jangan panggil saya Pak Keynand. Itu kedengarannya tidak akrab banget. Ada kesungkanan terbentuk di sana. Lagi pula saya tidak ingin jadi Bapak angkat kamu tapi melainkan ingin menjadi Suami kamu, bagaimana kamu setuju, kan?)


(Saya harus panggil Pak Keynand apa?)


(Panggil Abang Keynand Ganteng saja. Kita sepakat, okay?)


(Hem, tidak! saya hanya sepakat memanggil dengan paggilan Abang Keynand saja tanpa di gelari dengan sanjungan)


(Gitu ya? Pelit, kalau saya ngambek bagaimana?)


(Enggak ngapain-ngapain? Saya biarin saja nantinya berhenti sendiri karena kelelahan. Abang Keynand bukan Raski)


(Ternyata memang pelit)


Usai berkata Keynand terkekeh menyadari apa yang diucapkan oleh Rizqia. Dia menggoda Gadis itu sehingga berhasil membuatnya tertawa kecil.


Terdengar pembelaan Rizqia dari sangkaan Keynand yang mengatainya pelit.


(Hahahahaha)


Tawa itu menggema. Rizqia menerbitkan senyum manis yang tentu saja tidak di lihat oleh Keynand. Sayang sekali Keynand tak menikmati senyum langka itu.


Dia mengerti apa yang di maksudkan oleh Gadis itu. Besar Kepala, tentu saja takkan sanggup leher memikul beban di luar kapasitasnya.


(Seperti halnya rindu yang di gaungkan oleh Dilan yang katanya berat. Jujur saya tidak sanggup memikulnya bila hanya saya saja yang membawanya. Bagaimana kalau kita bersama-sama memikulnya? Maukah, Qia?)


Rizqia terdiam. Sungguh, kalimat panjang Keynand membuatnya membeku seketika.


"Apa-apaan ini? Apa dia sedang menggombal?" batinnya.


(Rumit, saya belum bisa mengurainya. Dan mohon maaf saya tidak bisa menjelaskannya mengapa)

__ADS_1


Keynand mengerti. Lagi-lagi Rizqia tak ingin membahas soal rasa. Rupanya Gadis itu sangat menyukai rasa tawar, dan menolak manisnya kebersamaan yang di tawarkan oleh Keynand.


Obrolan mereka berakhir tatkala Matahari mulai terasa menyengat.


***


Hari-hari berlalu Keynand di sibukkan dengan pekerjaannya. Pun begitu dengan Rizqia yang tengah sibuk dengan ujian semesternya.


Biasanya ketika waktu longgar, Keynand akan berlari ke Mentaram hanya demi melihat senyum Rizqia dari kejauhan. Cukup melihatnya saja, rasa senang itu menjalarinya apalagi bersua, bisa jadi akan berbuncah-bucah. Tak ingin menganggu Rizqia di dalam ketenangannya, Keynand lebih memilih untuk tidak menemuinya.


Sedangkan Rizqy semakin perhatian kepada Adik satu-satunya itu. Kerap kali dia menemani Rizqia, entah itu berbelanja ataupun menemaninya berolah raga. Hanya di akhir pekan dia tak mendampinginya karena tiga hari itu di peruntukkan untuk Sang Isteri. Mau bagaimana lagi, demi keamanan keduanya Rizqy harus menekan keinginan se rumah dengan Sang Isteri.


"Pak Rizqy, ada tamu," ucap Staffnya memberitahu. Saat ini dia tengah sibuk dengan dokumen-dokumen Pengadaannya. Dia lupa bagaimana rasanya bercengkerama dengan rekan-rekannya saat Jam istirahat berlangsung. Dia hanya bisa menyapa dan mengobrol sebentar saat mereka selesai melaksanakan Shalat.


"Silahkan Bu Wina." Terdengar Staffnya mempersilahkan tamunya.


Dari namanya yang disebut, Rizqy tidak perlu menebak siapa Wanita itu. Hanya saja dia heran, kenapa seorang Pejabat penting mendatangi dirinya yang hanya menduduki posisi terendah di jajaran kursi kepemimpinan.


Bersamaan suara itu berhenti, masuklah seorang Wanita cantik, berbalut baju seragam yang sama dengan dirinya. Wanita itu nampak anggun berhias riasan tipis dengan potongan rambut sebahu.


"Tamu kehormatan rupanya datang. Silahkan Ibu Wina Winata," sambut Rizqy bersikap hormat hanya untuk menghargai kedudukan Wanita itu.


Wanita yang di panggil Wina Winata itu mengangguk. Seulas senyum tipis menghiasi Bibir berwarna merah mawar.


"Apa yang bisa saya bantu? Suatu kehormatan bagi saya di sambangi oleh seorang Wanita hebat seperti Ibu Wina," ucap Rizqy berbasi-basi. Nada bicaranya sesopan mungkin dan terkesan formal.


"Begini caramu menyambut Mama tirimu Rizqy Anggara," jawab Wina dengan nada sinis.


"Lantas saya harus seperti apa? Mencium tangan dengan takzim? Oh ya anda ke sini sebagai siapa? Ibu Pejabat Negara atau sebagai Isteri dari Laki-laki bernama Lalu Wira Aryadi, kah?" tanya Rizqy dengan bernada datar dan terkesan dingin.


"Kamu memang tidak sopan. Menyebut nama Mamiq sendiri seperti menyebut orang lain," sahut Wina dengan nada kesal. Riak wajahnya menunjukkan ketidak sukaan itu.


"Anda terlalu membawanya dalam perasaan. Saya hanya menyebut nama Suami anda dengan benar. Jelaskan di mana letak ketidak sopanan itu?" Timpal Rizqy. Dia mengulum senyum saat melihat kekesalan di wajah cantik itu.


"Beliau Mamiqmu dan aku Mama tiri kamu, jadi bersikaplah seperti seorang anak yang tahu seperti apa menghargai orang tuanya."


Kalimat bijak itu terdengar geli di telinga Rizqy. Ingin tertawa, tapi mengingat siapa dia, Rizqy memilih tersenyum. Pembicaraan apa ini?


"Saya tidak melupakannya. Lalu Wira Aryadi memang Mamiq saya, tidak bisa di bantah itu. Sedangkan anda, anda hanya Isteri dari Lalu Wira Aryadi. Itu artinya anda bukan siapa-siapa saya." Rizqy menyahuti dengan kalimat yang terang-terangan memperlihatkan ketidak sukaannya.

__ADS_1


"Apa kamu belum terima kalau saya ini Mama tiri kamu Rizqy? Apa kamu masih mengharapkan kebersamaan kita kembali? Aku bisa mewujudkannya. Aku tahu di hatimu hanya ada aku. Sadari itu Rizqy dan jangan menutupinya dengan kemunafikan itu."


Bersambung


__ADS_2