
"Kak Bibah, apa Qia salah?" Tanya Gadis itu lirih.
Habibah menggelengkan Kepala. Dia meraih wajah Rizqia lalu membingkainya sembari menatapnya penuh dengan kasih sayang.
"Jatuh cinta pada seseorang tidaklah salah. Hanya saja terkadang cinta itu datang pada waktu yang tidak tepat dan dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk di rajut. Seperti kondisi yang sedang Qia alami saat ini. Cinta datang disaat Qia belum siap berkomitmen karena terbentur oleh cita-cita yang ingin di gapai. Selain itu juga ternyata dihadapkan oleh tidak adanya restu dari Mas Rizqy," jawab Habibah menjelaskan. Dia membentuk seulas senyum menggoda Gadis di sampingnya membuat Rizqia tersipu malu.
"Cieee cieee ciee pada akhirnya jatuh cinta, nih? Sama Duda tampan nan menawan. Memang ya, Pesona Duda yang bernama Keynand itu mampu mengalahkan para Pejaka," lanjut Wanita itu menggoda dengan kata-kata.
"Ih kak Bibah ini sukanya godain Qia. Aqiu kan jadi malu." Rizqia tidak mampu lagi menyembunyikan rona di wajahnya. Meskipun saat ini dia masih merasakan kepedihan itu, tapi di saat mendapatkan godaan dari Habibah ada rasa malu menyeruak dari dirinya. Itulah Gadis yang dilanda cinta pasti ada rasa malu yang tercipta. Malu karena memiliki rasa pada lawan jenis, apalagi di ketahui oleh orang lain.
"Tapi Kak sepertinya hanya Qia yang memendam perasaan sementara Abang Keynand tidak memiliki perasaan itu. Rasa ini tak bersambut dan tak memiliki tempat di hatinya. Sebenarnya Qia tidak ingin memiliki perasaan ini Kak. Namun kenapa akhir-akhir ini sering sekali memikirkannya. Tutur kata, sikap dan tingkah lakunya seakan telah menguasai pikiran ini."
Rizqia mencurahkan apa yang dirasakannya. Ada kelegaan yang terasa saat menceritakan ini semua kepada Kakak Iparnya itu. Dia juga menceritakan tuduhan Keynand kepada dirinya. Tuduhan itu membuat rasa sakit yang begitu dalam. Dia juga menceritakan isu yang merebak di Kampus mengenai kedekatan Keynand dengan Julaekha Syarifah. Isu itu entah dari mana berasal tapi sangat terbukti di saat dia beberapa kali melihat Keynand di Kampus.
Habibah terdiam sejenak usai mendengar cerita Rizqia. Dia bingung harus berkata apa karena dia mengetahui perasaan Julaekha Syarifah kepada Keynand. Sahabatnya itu pernah menceritakan ini semua. Hanya saja dia tidak menyangka Julaekha Syarifah berhasil memenangkan hati Duda tampan itu. Padahal dia mengaku tidak lagi ingin mengejar Keynand.
Habibah juga tidak percaya bahwa Keynand mampu mengucapkan kalimat menyakitkan seperti yang di dengar oleh adik dan Suaminya. Namun itulah kebenaran yang tidak bisa lagi di bantah.
"Dek, apa yang kita dengar belum tentu itu benar. Kecuali kalau ada pengakuan dari kedua belah pihak. Baik itu dari Pak Keynand dan juga dari Dosennya Qia. Bisa jadi ini prasangka orang-orang yang melihat mereka kebetulan sedang berdua. Bisa saja niatnya Keynand bukan untuk bertemu dengan Ibu Julaekha Syarifah, tapi ada urusan lain," ucap Habibah menenangkan hati Rizqia. Dia tidak ingin seperti dirinya yang begitu saja percaya dengan apa yang di dengar tanpa meminta penjelasan dari Rizqy kala itu. Membuatnya harus terpisah cukup lama darinya.
"Apa seperti itu, kak? Kalau berita itu benar bagaimana?" Tanya Rizqia lirih. Ada kegusaran yang tiba-tiba saja menderanya.
Habibah terdiam. Lagi-lagi dia tidak mampu menjawab. Dia tidak ingin menjawab sekenanya yang akan membuat Rizqia menjadi sedih.
"Saat ini kita hanya menduga, belum kita dengar pengakuan dari mereka, kan? Jadi jangan dipikirkan dulu. Qia tenangkan diri, kembali ke rencana untuk meraih cita-cita. Mengenai jodoh, jika Keynand jodoh Qia seberapa hebat rintangan itu pasti bisa di lalui kemudian bersatu dalam ikatan halal."
Rizqia tersenyum mendengar jawaban dari Habibah. Dia membenarkan apa yang diucapkannya. Bukankah dia saat ini ingin meraih impiannya dulu sehingga menolak keinginan Keynand. Kenapa malah sekarang menjadi dilema dan galau seperti ini.
"Oh ya, Dek! sepertinya Pak Keynand cemburu sehingga membuat dia marah lalu menuduh Qia yang bukan-bukan. Ada kesalah fahaman yang terjadi di sini. Itu artinya Pak Keynand sebenarnya memiliki perasaan yang sama juga dengan yang Qia rasakan. Hanya saja dia tidak mau mengakui. Mungkin saja itu disebabkan oleh gengsi dan juga ditaklukkan oleh egonya," ucap Habibah menafsirkan sikap yang dinampakkan oleh Keynand.
"Jadi begitu, kak?"
Habibah mengangguk, dia kemudian melanjutkan penjelasannya.
"Seperti kata orang bijak, Wanita itu sangat sulit di mengerti, begitu juga dengan Laki-laki sulit kita fahami. Terkadang mereka mengungkapkan perasaan dengan marah-marah. Ada suka ngegombal, ada yang romantis bahkan ada yang cuek Bebek tapi di hatinya tersimpan rasa cinta itu."
__ADS_1
"Seperti Kak Rizqy ya? cuek dan tidak peduli tapi diam-diam memperhatikan dan melindungi. Kisah Kak Rizqy sama Kak Bibah memang so sweet banget," sahut Rizqia di akhiri dengan godaan kepada Kakak Iparnya itu.
Habibah tersenyum menanggapi itu. Ada rona merah berhasil dilihat oleh sepasang mata belo milik Rizqia.
Tidak ada lagi pembicaraan, Habibah berpamitan dan meminta Rizqia untuk beristirahat sebelum Subuh menjelang. Habibah kemudian keluar dari kamar Adik iparnya setelah memastikan Gadis itu memejamkan mata.
Habibah melangkah ke arah kamarnya. Sesampainya di sana dia menemukan Rizqy yang masih terjaga. Suaminya tengah fokus dengan sesuatu yang ada di Laptop.
"Kok lama?" Tanya Rizqy.
Habibah tak langsung menjawab. Dia melangkah ke arah Divan lalu mendudukkan diri di sampingnya.
"Maafkan aku Mas, tadi Qia curhat sehingga lama di sana," jawab Habibah lembut.
Rizqy menatap Isterinya dengan lekat. Tidak ada kemarahan di sana. Hanya ada tatapan menyejukkan hati.
"Apa mas marah?"
"Tidak."
"Lalu kenapa pergi begitu saja meninggalkan kami?" Tanya Habibah dengan hati-hati. Dia takut pertanyaannya mengganggu pikiran Suaminya itu.
"Terus apa Mas sudah tenang?"
"Tidak, karena kamu tidak berada di sisi Mas," jawab Rizqy menampakkan kecemberutan.
"Ih Mas, bisa-bisanya ngambek. Sini-sini aku peluk biar hatinya tenang dan berseri-seri," ucap Habibah dengan senyum cerianya.
Dia mendekat ke arah Suaminya lalu dengan gerakan agresif memeluk tubuh Suaminya.
Ada senyum menang tersungging di bibir Rizqy saat mendapatkan sentuhan hangat itu.
"Ini belum cukup, terasa sedikit Mas maunya banyak," bisik Rizqy lembut di telinga Sang Istri.
"Mas ini serakah banget, baiklah kita berdoa dulu."
__ADS_1
Senyum itu semakin mengembang bersama binar-binar kebahagiaan.
Usai doa terucap ketenangan itu terasa saat hati dan fisik saling menyentuh dalam kemesraan.
***
("Qia pindah? Dari mana Abang Keynand tahu?") Tanya Riski dari ujung telepon.
(Dari tetangganya, kata tetangganya itu Qia ikut pindah ke desa karena Rizqy pindah tugas ke Desa tempat tinggal Isterinya)
(Sebentar, saya tanyakan ini dulu ke pihak Kampus. Mungkin saja Qia hanya liburan ke Desa. Tidak mungkin juga tiba-tiba pindah kuliah karena tinggal beberapa semester lagi. Sangat di sayangkan jika Qia mengambil keputusan itu)
Jawaban dari Riski membuat Keynand sedikit lega. Jika benar Rizqia hanya berlibur ke Desa dan tidak ikut pindah, maka dia akan memburunya ke sana. Meskipun tidak mengetahui di mana letak Desa itu, dia tidak peduli.
Selang beberapa menit menunggu, Riski memberitahu informasi yang membuat Keynand bersorak. Rizqia masih tercatat sebagai Mahasiswa di Kampus Mentaram bahkan dia sudah mengajukan KRSnya. Itu artinya Gadis itu tidak pindah ikut dengan Kakaknya. Berarti tetangganya itu memberikan informasi yang keliru. Itu gunanya kita tidak buru-buru langsung menyimpulkan apa yang kita dengar itu adalah suatu kebenaran. Mungkin saja ada kebenaran lain di baliknya. Maka karena itulah kita harus mengkonfirmasinya terlebih dahulu. Itulah yang dipikirkan oleh Keynand. Dia belajar dari kesalahannya terhadap Rizqia.
Malamnya Keynand bertandang ke rumah Kakaknya. Dia sudah mantap dengan rencananya menggunjungi Desa tempat Habibah tinggal. Kali ini Keynand akan mengajak Renia dan Raski ikut serta. Selain untuk berlibur di akhir pekan dia ingin meminta maaf kepada Rizqy dan Rizqia atas tuduhan yang sangat keterlaluan itu.
"Apa enggak ngerepotin Abang? Ini bawa dua-duanya lo! Apalagi mereka berdua aktif banget, entar rempong lo!" ucap Lika di sela-sela menikmati makan malam.
"Nah itu juga yang saya khawatirkan. Keynand orangnya enggak telaten dan sabaran gitu! Bisa-bisa entar dua bocah ini di telantarin," timpal Reynand tidak percaya begitu saja dengan Keynand.
"Abang ini, kok enggak percaya banget sama gue. Gue itu Daddy yang hebat dan sangat di andalkan. Insyaa Allah Renia dan Raski bakalan aman bersama Daddynya meskipun seaktif apapun mereka. Lagian juga saya enggak sendiri kesana, akan ada Baby Sitter profesional yang akan menemani, jadi tenang saja," sahut Keynand berusaha meyakinkan pasangan Suami Isteri itu.
Reynand dan Lika saling tatap. Mereka berdiskusi melalui sorot mata.
"Abang mau bawa Baby Sitter? Apa itu tidak membuat masalah Abang semakin runyam, ya?" tanya Lika khawatir.
"Iya, kamu sedang ada masalah dengan Rizqy terus kita menduga ada seseorang yang berniat ingin menghancurkan salah satu di antara kalian. Kalau kalian membawa orang lain itu akan membuka gerbang informasi yang luas untuk mereka. Bisa saja informasi itu bisa dia manfaatkan untuk benar-benar menghancurkan kamu maupun Rizqy," lanjut Reynand mengingatkan Keynand agar tidak gegabah.
"Tidak ada yang tahu saya akan mencari Rizqy dan Rizqia. Saya ke sana dengan dalih mengecek lokasi tambak Udang yang di miliki Perusahaan Hermawan. Pak Andra sudah mengizinkan untuk berkunjung ke salah satu Tambak Udang yang ternyata berada di Desa Habibah," jawab Keynand dengan santainya. Dia sudah mengatur siasat ini agar orang-orang yang berniat jahat kepadanya tidak menaruh curiga. Dia juga tidak melakukan apapun terhadap orang suruhannya dan berpura-pura mempercayainya.
"Jadi Babby Sitternya siapa?" tanya Lika penasaran dengan pernyataan Keynand.
Keynand tidak langsung menjawab. Dia tersenyum simpul lalu melahap habis makanannya.
__ADS_1
"Sebentar lagi dia akan datang dan di pastikan akan langsung ngomel-ngomel setibanya di sini," ucap Keynand kemudian setelah menghabiskan makanannya.
Bersambung.