
"Nanti kita pikirkan jodoh Keynand, Dad. Yang harus kita pikirkan sekarang kesembuhan Rizqy. Rizqy hingga saat ini masih belum sadar dari komanya. Rizqy, Habibah dan Qia sekarang menjadi tanggung jawab Keluarga Ardiaz, apakah Daddy tidak keberatan?" tanya Reynand dengan tatapan serius ke manik Sang Daddy.
"Tentu saja, mereka bertiga telah resmi menjadi bagian dari keluarga Ardiaz," jawab David dengan hangat penuh dengan penerimaan.
"Terima kasih, Dad."
Reynand kembali memeluk tubuh David dengan penuh perasaan dan keharuan.
Sementara Wanita yang bernamakan dirinya Julaekha Syarifah terbukti dan tidak terbantahkan lagi bahwa dia adalah Evelyn Sanjaya. Semua bukti-bukti yang berhasil di temukan oleh Rizqy kesemuanya adalah benar dan asli. Julaekha Syarifah adalah Evelyn Sanjaya berdasarkan ciri-ciri fisik Evelyn Sanjaya yang tentu saja tidak bisa dihilangkan meskipun wajahnya sudah berubah menjadi wajah Julaekha Syarifah. Selain itu juga dari pihak kepolisian juga melakukan tes DNA ulang dan hasilnya tidak sama dengan kedua orang tua Julaekha Syarifah. Julaekha Syarifah alias Evelyn Sanjaya resmi di tahan dengan tuntutan hukum berlapis-lapis. Jika ada hukuman lebih berat dari hukuman mati dan seumur hidup, mungkin Hakim akan memutuskan hukuman itu, mengingat betapa jahatnya Wanita itu.
"Jadi ini orang yang telah mencuri wajah mbak Julaekha Syarifah. Apa wajah kamu jelek, keriput atau banyak panu, kudis dan korengnya, makanya mengambil wajah cantik Wanita lain, pake identitas wanita lain pula. Dasar, enggak ada akhlaknya. Enggak bersyukur kamu." Dipta mengomeli Evelyn saat bertemu dan berhadapan dengannya.
"Namanya juga rubah, mana dia tahu yang namanya bersyukur terus kalau dia punya akhlak, Wanita sholeha, dong namanya! Bukan penjahat dan tukang fitnah apalagi sindikat obat-obat terlarang, terlalu berani nih cewek, sebaiknya kita apakan ya?" Sahut Adly dengan berpikir keras.
"Yakin kamu mau mikirin nih cewek licik? Kalau saya mah ogah, pingin tak siksa dia seumur hidup kalau boleh, sih? Hukuman mati itu enggak pantas untuknya, sakitnya cuma sekali saja. Pinginnya sih berkali-kali hingga tidak sanggup lagi untuk hidup lalu memilih mengakhiri hidupnya sendiri," sahut Dipta panjang lebar dengan geram.
"Sadis juga kamu Dip, enggak sangka saya," ucap Hamiz dengan wajah cerah seakan mendukungnya.
"Bagaimana tidak sadis, Wanita ini telah berani memfitnah Abang Keynand terus mencoba merayu Abang Juna dan Abang Lexi. Untung saja Abang Juna dan Abang Lexi lagi tebal imannya coba kalau setipis tisu, bisa khilaf mereka berdua," sahut Dipta tak mengontrol segala ucapannya.
"Walaupun seandainya iman saya setipis tisu, saya mikir kali Dipta. Mana mau saya sama Wanita sekelas Evelyn Sanjaya, Miss Word aja saya tolak apalagi Wanita ini," sahut Juna dingin dengan sorot mata tajam mendelik ke arah Evelyn Sanjaya.
"Serius Bang Jun? Emangnya kenal sama Miss word yang sekarang? Apa dia melamar kamu?" tanya Dipta kini mengalihkan perhatiannya ke wajah Juna.
"Kenal," jawab Juna singkat.
Dipta terlihat berpikir keras seakan tidak percaya.
"Udah enggak usah dipikirin, kamu enggak bakalan ketemu sama tuh Miss Word. Dia sekarang berada di Negaranya, pulang kampung karena saya udah tolak," lanjut Juna serius tidak terlihat seperti orang bergurau, padahal sejatinya itu hanya akalannya saja.
"Keduuuuul."
__ADS_1
Juna terkekeh melihat Dipta cemberut saat dia menyadari dirinya sedang di kibuli.
"Terus apa khabar dengan, Bang Lexi? Kenapa dia sampai tidak tergoda dengan nih cewek? Apa peletnya luntur? Atau apa karena takut sama Pistol milik Mbak Lili ya? Makanya pilih aman?"
Pertanyaan itu datangnya dari Adly. Rasanya dia sangat kepo ingin tahu apa yang dilakukan dua Pria tampan dan kaya raya itu dalam menghadapi Wanita penggoda.
"Kenapa jadi buka-bukaan gini, sih? Kita kan awalnya menemani Dipta ngomelin Wanita jahat ini," sahut Lexi dengan santainya.
"Hanya ingin tahu saja."
"Baiklah, saya mengemukakan pendapat. Saya juga ogah kali sama nih Wanita jahat. Isteri saya saja cantiknya enggak ketulungan, mana mau melepaskan berlian hanya untuk batu apung seperti Wanita ini. Itu mah tolol namanya." Lexi menambahkan. Dia ingat bagaimana gencarnya Evelyn datang ke kantornya untuk berusaha menggodanya. Baru saja terlihat dalam radius yang sangat jauh, Evelyn langsung terjungkal tidak bisa mendekatinya. Apalagi adanya Sang Isteri sebagai Bodyguard cantik yang menakutinya dengan Senjata tradisional tulup membuat Wanita itu lari tunggang langgang. Tulup merupakan senjata tradisional yang berarti sumpitan atau di tiup. Biasanya digunakan untuk berburu.
"Nah tuh denger! Biar enggak kepedean dan ngerasa diri paling okay. Kamu itu bikin kesel aja," ucap Dipta masih saja menumpahkan kekesalan.
Evelyn hanya terdiam dengan tangan terkepal. Terlihat sekali ingin menghantam orang-orang yang telah mengejeknya. Sorot matanya penuh amarah dan dendam.
"Kenapa mata kamu? Pingin keluar dari tempatnya? Keluarkan saja biar kamu sekalian enggak punya mata."
Hamiz memanasi Dipta yang membuat Laki-laki berpipi bakpao itu kian semangat mengomeli Evelyn Sanjaya.
"Gara-gara Wanita ini sepertinya kiamat bakalan di percepat." Evan tidak tahan hanya untuk diam saja. Dia ikut berkomentar membuat Lexi yang ada di sampingnya mempersilahkan untuk memberikan siraman rohani. Siapa tahu saja Wanita itu mau bertobat, meskipun rasanya sangat sulit. Mungkin hatinya sudah tertutup, hanya Tuhanlah yang mempunyai kuasa untuk membuka hati Manusia untuk mau beriman. Itupun tergantung kehendak-NYA.
"Sudah teman-teman, saatnya Wanita ini di kerangkeng." Rudi menyudahi omelan Dipta yang takkan berujung jika tidak segera di hentikan.
Puas mengomeli Wanita itu, Lexi dan para sahabatnya meninggalkan gedung pengadilan.
***
Keynand memasuki Rumah milik Reynand, Sang Kakak. Dia tidak langsung pulang ke Kota Raya, sebab selama dirinya di tahan Raski berada di rumah Reynand.
Dia sangat rindu sehingga tidak tahan lagi ingin berjumpa dengan anak kesayangannya itu.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum. Daddy pulang, Nak."
Dari arah kamar keluar Raski bersama Renia dan Andreas. Ketiga bocah itu berlari mendekati Keynand begitu tahu yang ada di hadapannya adalah Daddy mereka.
"Daddy, Raski kangen, kenapa Daddy baru pulang? Kata Ayah, Daddy ditugaskan di luar kota untuk buat Resort. Resortnya sudah jadi ya Daddy?"
Raski tidak henti-hentinya bertanya tentang apa yang diterangkan oleh Reynand.
Selama Keynand di tahan, Reynand dan Lika menjauhkan anak-anak dari Handphone dan media sosial. Dia mengatakan bahwa Sang Daddy sedang melakukan perjalanan bisnis di luar kota dalam waktu yang cukup lama. Raski nampak mengerti dan beruntungnya di lingkungannya tidak ada yang mengungkit perihal tertangkapnya Keynand, meskipun mereka tahu itu. Reynand sudah mewanti-wanti para Tetangga agar tidak membicarakan hal itu dihadapan anak-anak. Untungnya para tetangga sangat mengerti, sebab mereka sungkan terhadap Reynand yang begitu baik dan selalu membantu mereka dalam segala hal.
"Iya sayang, Resort yang dibuat untuk Dadek Raski sudah jadi, makanya sekarang Daddy sudah ada di sini."
Keynand pada akhirnya ikut membenarnya pernyataan Raski. Sekalian saja dia akan merealisasikan kebohongan itu dengan sesuatu yang nyata. Dia akan membangun Resort itu yang akan dipersembahkan untuk Raski.
Keynand memeluk tubuh Raski penuh dengan kerinduan. Dia melepaskan rindu itu sepuas-puasnya, di mana selama beberapa bulan dia jauh dari Putranya dan hanya mengingat wajah tampan putranya itu dalam benaknya.
"Renia juga pingin di peluk," rengek Renia yang sudah merentangkan tangannya.
"Andreas juga jangan dilupain, Dong! Jauh-jauh dari Jakarta ke sininya biar bisa ketemu sama Daddy Keynand, eh malah di anggurin," ucap Andreas cemberut.
"Hahahaha."
Keynand tertawa lebar. Dia meraih tubuh ketiga anak-anak itu dalam satu dekapan hangat.
Seluruh keluarga yang ada di sana tersenyum hangat sembari menyeka air mata yang tanpa sadar menetes.
Enah yang berada di tengah-tengah keluarga Ardiaz juga ikut tersenyum bahagia. Gadis berkaca mata itu menatap Keynand sangat lekat penuh rasa. Dalam mata indahnya yang tertutup kaca mata tersimpan binar-binar cinta yang berusaha di sembunyikannya.
"Ya Tuhan jantung ini terdengar bertalu-talu. Aku tidak bisa memungkiri lagi, bahwa aku mencintai Keynand Putra Ardiaz. Nikahi aku, Pak!" batin Enah, Gadis yang merupakan Baby Sitter Raski. Dia tersenyum tak ingin mengalihkan pandangannya dari Sosok tampan pujaan hatinya itu.
Bersambung.
__ADS_1