
Deg
Habibah menatap Rizqy yang sedang menikmati makanannya. Terpancar keseriusan dan harapan disana.
"Maksudnya? Mas mau nikah lagi?" tanya Habibah serius.
Rizqy menghentikan suapannya. Kini perhatiannya dialihkan kepada Habibah yang menunggu jawaban dengan harap cemas. Rizqy tersenyum bahagia sejurus kemudian menganggukkan kepala sebagai jawaban.
"Iya jika kamu mengizinkan dengan senang hati Mas akan merealisasi sesegera mungkin." Rizqy melanjutkan dengan perkataan untuk menegaskan keinginannya.
Habibah menghentikan menyantap makanannya. Entah kenapa keinginan Suaminya yang tiba-tiba membuatnya tak berselera. Hatinya sangat sakit dengan apa yang diucapkan oleh Rizqy. Dia terang-terangan meminta agar mengikhlaskannya berbagi hati. Sungguh tega ternyata Suaminya.
"Mas tega." Habibah berucap lirih berusaha menahan gejolak hatinya. Dia tidak percaya Suaminya sedang berusaha menghancurkan hatinya.
"Mas tidak tega melihatnya, Mas merasa mampu untuk berbagi dan Mas yakin kamu juga mampu untuk ikhlas," sahut Rizqy serius. Dia berusaha menyembunyikan senyum bahagianya.
"Mas tidak lagi becanda, kan?" Habibah berusaha menahan air matanya yang seakan ingin tumpah. Apa yang terjadi sebenarnya? mengapa tiba-tiba Suaminya telah terpikat oleh Gadis lain. Apa gara-gara karena memikat burung. Itu jelas-jelas tidak masuk akal.
"Kamu tahu kalau perkara ini Mas tidak becanda. Jadi Mas mohon izinkan Masmu ini untuk berbagi. Mas mohon sayang, kabulkan ya? kita sama-sama akan mendapatlan pahala dan mereka pun akan mendapatkan kebahagiaan," sahut Rizqy serius. Dia menatap Habibah penuh harap agar keinginannya, Habibah izinkan.
Habibah terdiam, dia tidak sanggup mendengarkan lagi keinginan Suaminya. Baru beberapa hari pernikahan mereka berumur tapi mengapa dengan cepat Rizqy ingin berbagi kehidupan dengan Wanita lain.
Wanita itu beranjak pergi meninggalkan Suaminya. Membawa kesakitan di ulu hatinya.
"Habibah, kenapa kamu sayang?" Rizqy menghampiri. Dia meraih tubuh itu lalu membawanya dalam pelukan.
Hangat, kehangatan itu masih terasa. Dia berusaha memberontak namun Rizqy semakin erat mendekapnya.
"Kamu nangis sayang? kenapa, terharu ya?" ucap Rizqy menyeka air mata Habibah dengan lembut. Dia tersenyum, binar rasa yang sangat hangat masih terlihat disana.
"Mas, kenapa tega ingin berbagi hati dengan Gadis lain?" tanya Habibah terisak-isak. Dia berusaha menekan dadanya yang sesak.
"Memangnya Pak Ahmad itu ada anak Gadisnya, Kok beliau enggak bilang?" tanya Rizqy dengan membentuk senyum jahilnya.
"Hah?"
hahahahaha
Rizqy tergelak, tidak menyangka sandiwaranya sukses membuat Isterinya berkeyakinan bahwa dia hendak mendua.
Habibah menatap Suaminya dengan raut bingung sekaligus terluka.
Rizqy tak menjelaskan, dia lebih memilih memagutkan diri pada bibir merekah itu untuk menyalurkan rasa yang selalu ada untuk Gadisnya. Habibah masih bingung, dia hanya menerima saja apapun yang kini terjadi tanpa bisa menolak dan tak mampu melawan.
Setelah puas, Rizqy melepaskannya.
"Mas izin untuk berbagi hati bukan berbagi cinta ataupun berbagi Suami. Kapan Mas bilang begitu?" Rizqy menjelaskan maksud dari perkataan yang membuatnya melancarkan aksi pranknya.
"Tadi Mas bilang jika aku mengizinkan maka sesegera mungkin akan merealisasikannya," sahut Habibah dengan raut kecewa.
"Itu benar, tidak ada yang salah kok! tapi Mas tidak menegaskan izin untuk apa? Mas tidak mengatakan izin untuk menikah lagi," sahut Rizqy.
Habibah mencerna segala kata yang diucapkan oleh Suaminnya. Memang benar, tidak secara spesifik dia mengatakan itu tapi perkataan seakan menjurus ke arah sana, izin untuk berbagi dan mendua.
__ADS_1
"Jika kamu mengizinkan Mas untuk menikah lagi, Mas okay kok. Tapi kamu yang harus mencari Gadis untuk Mas. Kalau tidak mau berbagi Suami Mas juga tidak ingin membagi cinta untuk orang lain. Mas tidak mau menyakiti hati kamu sayang." Rizqy melanjutkan penjelasan.
"Jadi Mas mengerjain aku?" tanya Habibah kesal.
"Bukankah kamu yang mengarahkan," sahut Rizqy tersenyum jahil.
"Jahat."
"Maaf."
Rizqy meraih kembali tubuh Isterinya, menuntunnya di sebuah Sofa. Mereka duduk berdua disana, Rizqy merebahkan diri pada pangkuan Isterinya. Dia menatap wajah teduh itu dengan pancaran penuh cinta.
Dia memejamkan mata dan dalam mata tertutup dia kembali dalam ingatan yang pahit.
"Mas dulu pernah jatuh cinta kepada seorang Gadis waktu zaman kuliah. Bisa dikatakan cinta pertama Mas. Hubungan kita terjalin serius bahkan berencana untuk menikah selepas kuliah. Namun apa yang terjadi, Mas mempergoki dia selingkuh dengan Sahabat baik Mas. Bahkan Mas melihat dengan mata kepala sendiri bahwa dia berhubungan Suami Isteri tanpa ikatan halal. Melihat itu Mas membatalkan pernikahan. Dia tidak terima dan menyalahkan Mas yang tidak mampu memberikan kebahagiaan untuknya. Mas berusaha menjaga dan tak menyentuhnya hingga benar-benar halal. Rupanya dia menginginkan kebebasan itu."
Rizqy mulai bercerita. Tatapannya tak lepas dari wajah Habibah. Wanita itu membelai rambut Rizqy. Tangan lembut itu membuat Rizqy nyaman dan merasa tenang.
"Itu sebabnya Mas menutup diri dari lawan jenis. Dulu aku mendengar gosip kalau Mas patah hati gara-gara ditinggal menikah oleh Calon Isterinya, apa benar Mas?" Habibah pada akhirnya menanyakan gosip yang pernah menerpa Suaminya.
"Jadi kamu mendengar gosip itu?"
Habibah mengangguk.
"Tidak sepenuhnya benar, tidak juga memungkiri kalau Mas ternyata patah hati dan takut menjalani hubungan dengan seorang Gadis. Pada akhirnya ada seorang Gadis yang mampu menyentuh hati seorang Rizqy dan menginginkannya. Gadis itu kamu," ucap Rizqy berterus terang.
"Kenapa Mas masih menyimpan cinta untuk aku padahal selama lima tahun kita berpisah. Dan selama berpisah dengan mbak Jessi, Mas tidak mencari penggantiku?" tanya Habibah. Dia penasaran dengan perasaan cinta Suaminya selama lima tahun berlalu.
"Entah kenapa Mas sangat mempercayai bahwa kamu mampu menjaga diri apalagi melihat perubahan kamu waktu pertama kali kita bertemu kembali. Kamu nampak anggun dan cantik dengan balutan hijab yang kamu kenakan. Mas semakin jatuh cinta." Jujur, Rizqy mengakui selama berpisah dengan Habibah dia tidak mampu melepaskan diri dari Gadisnya itu.
Rizqy terdiam, dia menarik nafas panjang lalu membuangnya perlahan sebagai cara menenangkan diri.
Cukup lama Rizqy terdiam, dia masih saja menatap wajah Habibah selekat mungkin. Tangan Habibah masih setia membelai rambut Rizqy.
"Wina Winanta adalah mantan Mas," ucap Rizqy pada akhirnya bersuara. Ada kegetiran yang berusaha ditekannya.
Habibah terkejut, dia tidak menyangka Wanita itu adalah mantan dari Suaminya.
"Wina Winanta?"
"Iya, kamu pasti tidak menyangka semua ini, kan? Mas juga dulu juga tidak menyangka tapi itulah kenyataannya. Wina tidak terima kalau Mas membatalkan pernikahan. Dia dendam karena itulah dia mendekati Mamiq dan berusaha merayunya dengan berbegai cara hingga pada akhirnya terjebak hingga sekarang. Karena penghianatan Mamiq membuat Mama depresi. Apalagi kelakuan Wina yang mengambil alih semuanya, membuat Mama kian terpuruk. Puncak rasa sakit yang kita alami terjadi pada saat Mamiq mengusir kami dan lebih memilih Wanita itu. Wanita itu berhasil menghancurkan rumah tangga orang tua Mas. Pada akhirnya Mama meninggal karena tidak mampu menanggung derita."
Rizqy mengakhiri ceritanya, tanpa sadar sudut matanya mengalirkan air mata. Dia selama ini berusaha kuat tapi kenyataannya dia sangat rapuh.
Dia menyeka air mata agar tak terlihat oleh Isterinya.
"Sayang, Mas tidak ingin menghianati kamu apalagi menghadirkan orang ketiga dalam rumah tangga kita. Mas tahu bagaimana rasanya dihianati, terluka dan kecewa karena ketidak setiaan itu. Sebisa mungkin Mas akan menjaga kebersamaan kita dan berharap Tuhan akan senantiasa menjaga keutuhan rumah tangga kita." Rizqy mengutarakan harapannya yang ingin diraih bersama Habibah.
"Aamiin."
Hanya itu yang mampu terucap karena Habibah tidak mampu memendung perasaan. Sebisa mungkin dia menghalau tapi pada akhirnya tumpah. Dia menangis sebagai cara meluapkan ketakutan karena cintanya kepada Rizqy.
"Mas, Really?"
__ADS_1
"Iya, really In Syaa Allah." Dengan cepat menjawab.
"Mas tidak akan menjanjikan hal-hal yang muluk kepada kamu tapi Mas berusaha membahagiakanmu. Mas harap kamu mengerti jika ternyata tidak sesuai dengan apa yang kamu inginkan," lanjutnya berjanji.
"Iya, aku bersedia hidup apa adanya asalkan bersama Mas Rizqy."
Rizqy tersenyum, pandangan dia belum alihkan dari wajah Habibah seolah disana pusat hidupnya.
"Aku mencintaimu Habibah, peganglah hati ini yang tersimpan cinta untukmu." Lalu Rizqy berkata. Hatinya itu tulus mengatakan itu, karena dia ingin melakukan itu. Lega rasanya menempatkan rasa hanya untuk Habibah.
Air mata itu kembali tumpah, tak tahan dia menunduk menyatukan diri. Bibir itu menempel menjadi satu. Rizqy menyambutnya dengan ingin lebih.
Ah manis manakala segala rasa itu meluap dalam sentuhan.
Hangat, sudut hati Rizqy merasakannya. Dia memejamkan mata menikmati ciuman yang dilakukan Sang Isteri semakin lama semakin liar tak terkendali.
Ah Habibah, apa yang telah kamu lakukan? kamu berhasil mengalirkan rasa itu hingga ketulang-tulang yang sejatinya remuk. Meleburkan gumpalan kesakitan yang sejak lama bersemayan di hati. Mengikis segala beban yang dengan tega menghimpit dada ini selama ini. Kamu tahu, kini terasa longgar.
Lelah dengan hidupku yang diam menyimpan luka. Hadirmu kini membalut itu walaupun tak sepenuhnya rasa perih itu pergi. Tapi aku yakin semakin hari semakin terkikis seiring kebersamaan kita.
Temani aku sayang, dampingi diri ini yang berpura-pura kuat tapi ternyata rapuh di dalam. Aku hanya ingin kamu mendampingiku yang sebenarnya berteman dalam bahaya.
Kamu harus sanggup sayang jika suatu hari nanti terjadi apa-apa dengan diriku. Pegang aku dengan sekuat yang kamu mampu.
Kalimat panjang itu menggema namun tak terdengar oleh Habibah. Dia semakin memperdalam sentuhan itu pada bibir Suaminya yang hangat.
Bersamaan air mata yang menetes, nikmat itu berpadu. Rizqy tanpa sadar meneteskan air mata. Entah apa artinya? apa dia sedang melepaskan kesakitan dan luka yang di derita selama ini.
Dia kehilangan ibunya, itulah pukulan yang terberat untuknya. Bukan dia tak ikhlas, dia tentu mengetahui itu merupakan ketetapan-NYA. Namun penderitaan Ibunya yang membuatnya sangat terluka. Ibunya menderita karena begitu hebat beliau memegang cinta. Wanita itu sangat mencintai seorang Pria sehingga membuatnya hilang arah lalu terpuruk kemudian membawa pergi deritanya. Mungkin itu lebih baik untuknya, setidaknya terlepas dari luka karena penghianatan Sang Suami tercinta.
Rizqy mengingat itu, dia menangis karena belum mampu memberikan kebahagiaan untuk Ibu.
Namanya dia sebut dalam hati bersamaan rasa sesak yang tiba-tiba menyeruak. Tak tahan suara itu terdengar terisak di telinga. Lantunan doa terucap dalam hati untuk Ibu tercintanya itu.
Habibah melepaskan pagutan. Meskipun Rizqy tak mau melepaskan. Dia mencari, Habibah menyadari itu. Wanita itu kembali memenuhi hasrat itu karena dia menyadari Suaminya tidak lagi baik-baik saja.
"Mas, aku tahu Mas sedang menangis namun tak ingin aku mengetahuinya. Aku tahu Mas menyimpan luka serapat mungkin." Habibah membatin. Dia tak melepaskan diri dari keinginan Suaminya. Mungkin itu caranya meluapkan rasa sakit di hatinya yang sejak bertahun-tahun menyelimutinya.
Hap hap hap.
Pada akhirnya pagutan penuh emosional itu lepas. Rizqy tersenyum disambut senyum hangat dari Habibah. Tangan lembut Wanita itu menghapus jejak kenikmatan yang menempel pada bibir itu, basah.
Dia juga menyeka air mata yang tergenang di pelupuk mata Suaminya.
"Tidak apa-apa Mas Rizqy menangis. Aku akan menghapusnya untuk Mas, setidaknya tetesan itu menghilangkan rasa sakit itu."
Rizqy mengangguk sembari menikmati tangan halus yang menguasai wajahnya.
"Mas lelah, ingin tidur," ucap Rizqy membentuk senyum. Setelah berkata dia memejamkan mata.
"Aku akan menemani Mas," ucap Habibah sembari mengelus wajah Rizqy dengan lembut. Membiarkan Pria itu terbuai dalam mimpi.
"Mas aku belum mengerti maksud dari kata berbagi hati? Apa yang ingin Mas lakukan?" tanya itu belum sempat dia sampaikan kepada Rizqy.
__ADS_1
Bersambung.