
Selesai sarapan, Habibah membersihkan perabotan yang dipakainya kemudian menyimpan pada Rak yang tertempel pada dinding di Dapur. Sedangkan Rizqy menunggu di teras sembari memainkan gawainya.
Selang beberapa menit, akhirnya Habibah menyelesaikan tugasnya. Dia menghampiri Rizqy yang bersender pada dinding.
‘Mas, katanya tadi mau mengajak aku ke suatu tempat, jadi enggak?” tanya Habibah. Dia sudah duduk di samping Rizqy yang asyik dengan gawainya.
“Jadi, kamu siap-siap gih! Bawa baju ganti dan juga makanan. Mas akan mengajak kamu rafting,” sahut Rizqy mengiyakan. Dia tersenyum melihat Habibah yang kegirangan. Sebelum Gadis itu masuk, Rizqy sempat mengacak rambut indah itu. Tentu saja hal itu membuat Habibah cemberut sedangkan Rizqy meledakkan tawanya. Dia sangat bahagia menjahili Gadis itu.
Selang beberapa menit, Habibah sudah selesai dengan preparenya. Dia membawa baju ganti dan juga beberapa snack serta air mineral sebagai sangu mereka di Lokasi Rafting.
“Sudah siap,” tanya Rizqy ketika mereka berdua sudah berada dalam Mobil.
“Sudah Mas,” jawab Habibah singkat. Senyum itu tidak pernah memudar dari bibirnya. Dia sangat bahagia, Kekasihnya mengajak berwisata arum jeram. Dia sangat suka berpetualangan di alam dan baginya alam mampu menjernihkan pikiran yang kusut akibat pekerjaan yang menumpuk. Pun begitu dengan Rizqy, Lelaki itu juga sangat menyukai arum jeram. Rasanya alam memberikan begitu banyak rasa syukur dan pembelajaran. Dia sangat menikmati dinginnya air, kicauan burung-burung dan suara binatang lain. Suara alam memberikan dia ketenangan manakala kesuntukan itu mulai menghampiri.
Tidak memerlukan waktu lama, pada akhirnya Mobil Rizqy berhenti pada jalan raya. Dia memarkirkan Mobilnya disana karena Lokasinya harus dilalui dengan jalan setapak. Jalan itu berupa Pematang sawah yang menghubungkan jalan raya dengan sungai sebagai lokasi arum jeram.
Habibah segera berlarian di Pematang sawah. Baginya berjalan-jalan di pematang sawah merupakan sesuatu hal yang biasa. Dia lahir dari keluarga Petani dan hidupnya selama ini dari hasil sawahnya. Ia memiliki sebidang sawah yang ditinggalkan oleh kedua orang tuanya. Sawah itu sekarang di garap oleh kerabatnya dan mendapatkan bagian dari hasil panen mereka.
‘Bibah, hati-hati nanti kamu terpeleset,” ucap Rizqy mengingatkan Habibah. Dia sedikit khawatir melihat Gadis itu berlarian di pematang sawah yang saat ini ditumbuhi Padi yang masih menghijau.
“Jangan khawatir Mas, aku sudah terbiasa di sawah. Mas belum tahu kalau aku itu Gadis Petani,” sahut Habibah. Dia terlihat ceria, senyum itu terus saja mengembang.
Rizqy hanya tersenyum melihat keceriannya. Dia sangat menyukai segala apa yang ada pada Gadis itu. Cinta kini sedang menguasai hatinya dan cinta itu untuk Kekasihnya Habibah Rosy. Dia sangat bahagia dengan hari ini dan berharap kebahagiaan senantiasa mereka nikmati setiap hari sepanjang usia mereka. Terselip dalam hati, berharap kebersamaan ini tidak akan pernah berlalu.
Beberapa menit berjalan di pematang sawah, terdengar suara gemericik air yang menandakan bahwa sungai semakin dekat. Habibah tidak sabaran ingin segera terjun ke Sungai, bermain-main dengan air dan merendamkan tubuhnya. Dia juga tidak sabaran untuk menaiki Perahu dan mendayung Perahu itu mengikuti arus sungai yang membawa mereka ke hilir.
‘Alhamdulillah sampai juga,” ucap Habibah riang.
Rizqy yang melihat keriangan Habibah hanya menggelengkan kepala. Dia merangkul bahu itu dan mengajak ke lokasi tempat perlengkapan arum jeram berada. Disana ada beberapa instruktur dan orang-orang yang akan melakukan rafting. Ternyata bukan hanya mereka saja, disana sudah ada beberapa orang yang dengan antusias mencoba untuk berselancar di Sungai yang terlihat sangat deras.
“Kamu berani?” tanya Rizqy.
“Siapa takut, aku malah tidak sabaran untuk menjajalnya. Ini pasti seru, Mas,” jawab Habibah antusias. Dia segera meraih Pelambung dan perlengkapan lainnya sebagai Safety.
Habibah menaiki Perahu terlebih dahulu baru Rizqy berada di belakang. Dia sudah siap mendayung dan Rizqy juga sudah siap dengan dayungnya di posisi berbeda.
Byuuuuuur
Suara air sungai beradu dengan Perahu yang sudah meluncur menuju hilir mengikuti arus sungai.
Huaaaaaahahahahaha
Aaaaaaaaaaaaaaaaaa
__ADS_1
Suara teriakan dan tawa bergantian keluar dari bibir Habibah, dia sangat menikmati keseruan kali ini. Saat Perahu bertabrakan dengan bebatuan Habibah berteriak histeris membuat Rizqy tertawa. Rizqy sesekali menjahili Gadis itu dan menakuti-nakuti membuat Habibah berteriak histeris. Saat menemukan genangan air sungai yang tidak terlalu banyak bebatuan. Rizqy sengaja meng-olengkan Perahunya membuat mereka berdua terjatuh dari Perahu dan Perahu itu melaju dengan cepat meninggalkan mereka berdua.
Byuuuuur
“Mas Rizqyyyyy,” teriak Habibah panik. Dia menyemburkan diri di dasar sungai dan terseret arus. beberapa menit Gadis itu tak bergerak membuat Rizqy panik. Dia takut kalau Habibah tidak bisa bernafas karena menelan air yang terlalu banyak. Rizqy segera meraih tubuh itu dan memapahnya ke bebatuan yang ada disana.
‘Habibah bangun,” ucap Rizqy menepuk pipinya. Dia sangat khawatir melihat Habibah yang tak sadarkan diri. Dia sangat menyesal karena keusilannya membuat Gadis itu terseret arus sungai.
“Habibah,” panggil Rizqy berusaha untuk mengembalikan kesadaran Gadis itu.
“Habibah.”
“Bangun Bibah.”
Rizqy berusaha membangunkan Habibah dengan menepuk Pipinya berulang-ulang.
Hening, tak ada pergerakan sama sekali membuat Lelaki itu kian panik.
Selang beberapa menit berlalu Gadis itu menyunggingkan senyum sembari mengintip dari balik bulu matanya yang tebal. Dia melihat raut cemas dan panik pada wajah tampan itu. Dia tidak tahan untuk segera mengagetkannya.
“Ci luk baaaa,” ucap Habibah sembari memperdengarkan suara tawanya. Dia sangat bahagia karena telah berhasil menggelabui Lelaki tampan itu.
Rizqy terkaget sejurus kemudian menatap Habibah dengan raut yang sulit terbaca.
“Kamu, kamu mengerjain Mas ya? Kamu sengaja pingsang agar Mas panik. Kamu tahu, Mas sangat khawatir, Mas takut terjadi sesuatu dengan kamu Bibah.” Rizqy mengomeli Gadis itu, dia tadi sangat khawatir dan sangat menyesal karena sudah menjahilinya. Dia hampir kehilangan nafas karena melihat Gadis itu tak kunjung sadar.
Habibah hanya tertawa melihat raut wajah Rizqy yang sedih. Terlihat jelas kekhawatiran dan kecemasan terpampang nyata pada wajahnya.
“Jangan ulangi lagi, aku tidak mau terjadi sesuatu dengan kamu Bibah. Aku mencintai kamu Habibah Rosy, ketika melihat kamu tidak sadarkan diri aku semakin takut kehilangan kamu. Kamu mengerti, jangan membuat Kekasihmu ini kehilangan nafasnya.” Rizqy berucap, dia sungguh panik dan mengira kalau Habibah benar-benar pingsan karena terlalu banyak menghirup air. Dia tadi melihat Habibah terseret arus sungai lumayan jauh dan selang beberapa menit tubuh itu tak bergerak. Siapa yang tidak ketakutan melihat tubuh itu tak sadarkan diri.
“Maaf Mas, tadi aku hanya membalas kejahilan Mas Rizqy. Aku bisa berenang dan aku terbiasa hidup di sungai. Dulu sewaktu aku kecil, aku sering berenang di Sungai dan juga Pantai. Aku terbiasa menghadapi arus.” Habibah meminta maaf dan sekaligus menceritakan masa kecilnya sekilas.
“Mas maafkan, jangan ulangi lagi. Mas takut terjadi sesuatu dengan kamu Habibah,” ucap Rizqy tegas.
“Iya Mas aku janji,” sahut Habibah membentuk huruf V kemudian menautkan kelingkingnya pada kelingking Rizqy sebagai bukti perjanjian.
Rizqy mengangguk, tanpa berbasi basi lagi Rizqy kembali ******* bibir ranum itu. Dia saat ini membutuhkan pasukan oksigen untuk melegakan sesaknya. Dia menindih tubuh Habibah dan mulai menikmati sensasi yang berbeda dari bibir itu. Kali ini berada di alam terbuka, tentu pengalaman sangat luar biasa sedang terjadi. Ternyata dosa itu terasa indah, Rizqy menyadari dia melakukan sesuatu yang tak benar. Namun karena dia sangat mencintai Gadis ini membuat hasratnya tak tahan untuk menyentuhnya.
‘Mas, aku enggak mau Mas keseringan menciumku. Kita belum halal, dan kali terakhir Mas Rizqy melakukannya,” ucap Habibah memberikan ultimatum setelah dia terbebas dari pagutan Lelaki itu.
‘Mas janji, maafkan Mas. Mas akan berusaha menekan hasrat ini untuk menciummu sampai kita sah nanti. Bibir kamu sangat nikmat sehingga Mas kecanduan,” ucap Rizqy jujur. Dia membelai pipi Habibah lembut dan menatap
wajah Habibah dengan tatapan penuh cinta.
__ADS_1
“Mau lagi?” tanya Rizqy. Habibah segera menggelengkan kepalanya sembari menutupi bibirnya dengan satu tangannya.
“hahahahaha.”
Rizqy tertawa melihat tingkah lucu Habibah yang menyembunyikan miliknya.
‘Bukan ini sayang, kita main arum jeram lagi,” sahut Rizqy setelah reda tawanya.
‘Mau,” ucap Habibah cepat. Dia bangkit dari rebahannya lalu berjalan cepat menuju tepi sungai berjalan menuju start. Rizqy tertawa melihat tingkah Habibah yang terlihat menggemaskan.
Beberapa jam mereka bermain arum jeram, Rizqy dan Habibah pada akhirnya menyudahinya. Saat ini perut mereka bergejolak meminta segera dipenuhi kebutuhannya. Rizqy dan Habibah duduk di tepi sungai sembari menikmati makanan yang dibawanya. Mereka asyik menikmati makanan sembari bercanda gurau. Setelah makanan mereka habis, Rizqy merebahkan diri sembari menatap ke arah langit. Habibah juga ikut berbaring di samping Rizqy.
‘Mas, tempat ini nyaman ya?” ucap Habibah.
‘Iya, Mas suka tempat ini. Nanti setelah kita mempunyai anak, Mas akan sering membawa kamu dan anak-anak kita. Kita akan memperkenalkan anak-anak kita dengan alam dan memberikan pengetahuan kepada mereka untuk pentingnya menjaga alam.” Rizqy berucap panjang lebar. Dia sudah menyusun sketsa masa depannya bersama Habibah, Wanita yang akan mengandung dan melahirkan anak-anaknya.
“Hem, Mas ternyata romantis banget, aku tak menyangka,” sahut Habibah menatap wajah Rizqy yang teduh dan kedewasaan itu terlihat jelas disana.
“Kok tak menyangka? Memangnya dalam pikiran kamu, Mas itu seperti apa?” tanya Rizqy. Dia mengarahkan wajahnya pada Habibah yang berada di sampingnya. Pandangan mereka bertemu, menikmati ketampanan dan keindahan yang terpancar dari masing-masing rupa.
“Mas Rizqy orangnya cuek, dingin dan juga sombong. Awal kita bertemu, Mas Rizqy sangat cuek dan terkesan angkuh,” sahut Habibah mengingat pertemuan pertama mereka.
‘Kapan itu terjadi?” tanya Rizqy. Dia tidak ingat kapan mereka bertemu untuk pertama kalinya.
“Saat Mas Rizqy datang ke Induk untuk mengurus beberapa surat penting. Waktu itu saya masih Praktek dan membantu Mas Rizqy mengurusnya. Pada saat itu Mas Rizqy tidak ada senyumnya sudah begitu pendiam lagi.” Habibah menceritakan kesan pertama mereka saat pertama kali bertemu. Saat itu terasa kaku dan juga tak ada interaksi apapun.
“Hahahahaha.” Rizqy tertawa ketika mengingat itu.
“Terus aku bertemu kembali dengan Mas Rizqy, saat itu aku di rekrut dan di kontrak. Mas Rizqy ternyata sudah dipindahkan ke Kantor induk,” lanjut Habibah menceritakan awal cinta itu bersemi.
‘Iya, Mas ternyata jatuh cinta kepada Gadis yang selalu menyembunyikan diri di balik Komputer,” sahut Rizqy. Dia meraih tangan Habibah lalu memegangnya sangat erat. Dia sangat menikmati paras manis dari Gadis yang dipilihnya ini. Tidak cantik namun entah mengapa membuat hatinya sangat tenang.
“Mas memperhatikan aku? Aku pikir Mas Rizqy tidak menyadari keberadaanku.” Habibah tersenyum. Selama ini dia mengira Lelaki itu tak menghiraukan keberadaanya. Bahkan mereka seakan tak mengenal satu sama lain. Saat mereka berpapasan, terkadang mereka tak saling menyapa satu sama lain. Senyummu tak pernah terbit pada raut masing-masing. Entah kapan keakraban itu mulai terjalin, mungkin saat keusilan itu mulai dilakukan oleh Rizqy.
Habibah, secara diam-diam mencintai Lelaki bernama Lalu Rizqy Anggara. Dan tak menyangka Rizqy juga secara diam-diam memperhatikannya. Cinta itu sangat unik, berawal dari keusilan berakhir dengan rasa.
Rizqy tersenyum jika mengingat kejahilan yang sering dilakukannya. Dia menatap wajah manis yang sangat disukanya. Tangan mereka saling bertautan dan mengalirkan desiran cinta yang semakin nyata terjadi.
‘Aku seperti Anak Baru Gede yang baru tahu rasanya jatuh cinta,’ ucap Rizqy tersenyum geli.
“Dan aku anak remaja yang baru mengetahui rasanya di cintai. Aku jatuh cinta kepada Mas Rizqy, Mas Rizqy adalah cinta pertamaku dan berharap kita akan selalu bersama-sama," sahut Habibah menyambung perkataan Kekasihnya.
"Aamiin."
__ADS_1
Selesai mengucapkannya, kedua insan yang dimabuk cinta itu menggambarkan masa depan yang ingin diraih bersama. Senyum itu seakan menceritakan betapa bahagianya mereka dan tangan yang berpegangan erat merupakan harapan akan kebersamaan yang takkan terlepas.
Bersambung.